Menceritakan seorang gadis yang mengalami jatuh cinta, jatuh cinta yang berujung sakit hati, bukan karena di khianati tapi karena keluarga. cinta sejenak yang ia alami dan rasakan membuatnya harus memadamkan rasa dihatinya, rasa yang harus dipaksa berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citraa_28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Bimbang
...Pertemuan singkat itu bisa membuat ku terhenyut seketika, runtuh dan tak berdaya, bibir ku seperti ingin menolak, namun hatiku berkata tidak. Harapan ku menjadi kenyataan untuk bersama dirinya, tapi dengan waktu singkat itu, perasaan ku merasa mengganjal tapi apa itu aku pun tak tahu....
(naya)
Duduk di taman kampus, menatap kosong kedepan, helaan nafas panjang seakan pertanda ada sebuah beban yang menimpanya. Beban yang seharusnya ia pikul dengan gembira, justru menjadi beban yang sulit ia genggam, memikulnya pun seperti oleng tak seimbang. 'ada apa ini' pikiran naya berkecambuk tak karuan.
Bimbang, itulah yang dirasakan naya sekarang, pikiran dan hatinya seolah tak sejalan. ada sesuatu yang ia pendam, tapi sulit untuk ia katakan.
di tengah lamunan itu arumi datang dari belakang, melihat temannya yang tidak sadar dengan kedatangannya, tersirat ide jahil yang muncul di benaknya. hitungan 1, 2, dan "dorrrr" ucap arumi dengan memegang kedua pundak naya.
Naya yang sudah terbiasa dengan kelakuan jahil temannya itu hanya memutar bola matanya malas, tidak kaget sedikitpun. "kamu ngagetin 10 kali juga aku nggak bakal kaget Arumi, aku udah hafal sama ide jahil kamu itu".
Arumi tersenyum cengengesan dan duduk di di samping naya, memperhatikan wajah naya yang sepertinya sedang ada yang ia pikirkan. " kamu kenapa nay, ada masalah" tanya Arumi.
Naya seketika langsung menghadap ke arah Arumi dan menatapnya dengan serius. "Arumi kamu kan sahabat aku, aku mau nanya sama kamu tentang sesuatu yang sangatt penting, dan kamu harus jawab dengan baik atau sesuai dengan pengalaman kamu". Arumi mengangguk serius dengan ucapan naya.
" oke, jadi gini kalau misalnya ada cowo yang deketin kamu, kamu gimana"
"yaaa, tergantung cowo nya, kalau dia ganteng, banyak duit, royal, tanpa pikir panjang juga kalau di tawarin jadi istrinya aku mau". Ini apakah naya bertanya dengan orang yang salah atau benar, arumi kalau soal cowo dia jagonya, tapi jangan lupakan tentang apa yang di punya si cowo itu, itulah arumu, sangat realistis.
" jawaban yang menjengkelkan" batin naya, tapi dia tidak punya tempat untuk memberikan solusi kepadanya selain arumi. "bukan gitu arumi ku sayang, jadi gini, kalau misalnya ada nih cowo yang deketin kamu secara tiba tiba, dan udah mengklaim kalau kamu itu miliknya, kamu harus apa".
" emang ada yaa cowo kayak gitu " bukannya menjawab arumi malah melontarkan pertanyaan, yang membuat naya sampai mengelus dada. "kalau nggak ada ngapain aku nanya" batin naya.
"kan misalnya arumi"
"kalau gitu sih, semisalnya aku nyaman sama cowo itu, nggak ada masalah juga, yang penting dia bisa memenuhi semuaa kebutuhan aku"
"oh gitu yaa, jawaban yang realistis"
"tapi tunggu, kenapa kamu tiba tiba nanya tentang cowo sama aku, padahal sebelum sebelumnya nggak pernah, ohhh atau jangan jangan, kamu lagi di deketin sama cowo yaa, hayoo ngaku".
"Ha, eng-gak kok, aku cuman nanya doang kok" Belum saatnya arumi tahu, bisa bisa kedekatan antara naya dan sagara bisa bocor di kampus, dan naya belum siap jika hal itu terjadi.
Arumi memicingkan matanya menatap curiga ke arah naya, dengan pertanyaan tiba tiba dari naya, Arumi yakin ada sesuatu yang naya sembunyikan darinya.
"Kasih tahu nggak ya sama naya, tapi jangan dulu deh, siapa tau sagara cuman bercanda dan nggak serius" pikir naya. "udah ah ayo ke kelas, nggak usah natap aku seperti penjahat gitu arumi".
" mencurigakan " batin Arumi. "kayaknya dugaan aku bener ya, kamu lagi dekat sama cowo, siapa sih cowonya" tuding arumi.
"kan aku udah bilang nggak ada arumi yang cantik, stop deh nuduh nuduh aku kayak gitu, okee". naya memang tidak ahli dalam berbohong dan menyembunyikan sesuatu apalagi kepada arumi yang notabennya memiliki jiwa kepo tingkat dewa.
Di kelas dosen yang seharusnya masuk ke kelas naya dan arumi tiba tiba berhalangan hadir, dan mereka hanya di kasih tugas. " tuh dosen kenapa suka banget sih mendadak ngabarinnya, tahu gitu kan aku nggak ke kampus tadi, nyebelin banget jadi dosen heran" arumi menggerutu tidak jelas, pasalnya hari ini mereka hanya ada satu mata kuliah, dan itupun dosennya tiba tiba tidak hadir, membuat arumi naik darah.
"udah sih sabar, namanya juga dosen" ucap naya menenangkan sahabatnya itu.
"kamu nanti kalo jadi dosen jangan gitu ya nay, kasihan tahu sama mahasiswa udah jauh jauh datang malah nggak jadi masuk".
naya hanya terkekeh mendengar ucapan arumi, jadi dosen, lulus S1 aja udah alhamdulillah, itu yang ada di dalam pikiran naya sekarang, ia belum kepikiran untuk lanjut S2, karena menurut nya, otak nya butuh istirahat dari pelajaran yang membuat pikirannya buntu.
"bosen banget sih, ke kantin yukk" ajak arumi.
"mending kita ke perpus baca buku".
"ya nay, aku laper gara gara tuh dosen nggak datang aku kan jadi emosi, nah karena emosi itu kan menguras energi dan membuat kita itu jadi lapar, hehehe, jadi kantin aja ya, aku traktir deh" ucap arumi pasrah.
"nah kalo gini kan enak, kuyy lah ke kantin, baik banget emang sahabat aku yang satu ini". Naya membereskan buku buku nya ke dalam tas, siapa coba yang nggak mau di kasih yang gratis pasti nggak akan nolak.
"yeee, dengar di traktir aja langsung mau, untung teman" gumam arumi dengan wajah kesalnya.
naya memandang wajah arumi yang cemberut, membuatnya tersenyum kikuk. "kenapa mukanya kayak gitu, ohh nggak ikhlas mau traktir temannya".
"ikhlas nay ikhlas lahir batin" tampak muka arumi yang semakin kesal membuat naya tak tahan menahan tawanya.
naya dan arumi pergi menuju kantin, di tengah jalan, naya tidak sengaja menatap mata seorang pria dan pria itu juga menatap ke arah naya. tatapan teduh itu membuat jantung naya berdetak kencang, dengan cepat ia langsung mengalihkan pandangannya dari pria itu. "nih kenapa jantung lemah banget sih, baru di tatap gitu doang langsung deg deg gan setengah mati, kenapa jadi gini sih" batin naya.
sesampainya dikantin, arumi langsung memesan pesanan mereka, "nay kamu kenapa dari tadi diam aja".
" nggak papa, mending kita makan, pesanannya udah datang tuh" dan benar saja, tidak lama arumi memesan makanan mereka, pesanannya sudah tiba.
"wow, pesanannya cepat yaa, makasih ibu, aku kasih bintang lima deh kantin ibu karena udah memuaskan pelanggan dengan layanan yang cepat" ucap arumi, dengan bangga.
"arumi bisa aja, tapi makasih atas pujiannya yaa" ucap ibu kantin.
"sama sama ibu".