Indonesia
NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Bubble🫧

Pout for Me, Little Mouse.

Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trophy Wife

"KeyLana Reinhardt," Leon memanggil dengan nada ramah yang mempesona sambil mengulurkan tangan.

Menarik perhatian orang-orang di dekatnya dalam kewaspadaan dan penasaran.

"Namamu Keylana Reinhardt, bukan?" Leoan mengulurkan tangannya untuk jabat tangan.

Kerumunan mendadak diam mengingat reputasi Leon, yang lainnya memilih pergi diam-diam. menyisakan beberapa orang yang cukup peduli atau penasaran.

"Senang bertemu anda, Saya Keylana." Lana tersenyum, tidak membalas uluran tangan pria itu.

Tangan Leon yang terulur mejadi sedikit kaku di udara. Leon tidak segera menarik tangannya, Membiarkannya diantara mereka sebelum menurunkannya perlahan. Para penonton tampak sedikit tercengang.

Senyumannya yang penuh arti melebar bukannya memudar. Tidak terganggu oleh penolakan halus Lana.

"Leon Gruber."

Leon memperkenalkan dirinya tanpa menunggu undangan. Menyelipkan tangannya yang ditolak ke dalam saku.

"Herr Gruber, ya? Senang bertemu anda. Sepertinya anda adalah tamu Herr Donnersmarck. Ataukah Kakek?"

Nadanya tetap ramah walau penolakan awal. Mata lana tidak cukup bodoh untuk melihat cara pria itu menatapnya, Antara musuh atau merepotkan.

Seringai Leon melebar di sudut bibirnya. Dia melirik ke belakang dari atas bahunya ke arah Julian yang berdiri di lantai dua menatap mereka sambil mencengkeram gelasnya, lalu kembali pada Lana.

"Donnersmarck," Leon menyesap sampanye, matanya tetap terpaku pada lana dengan senyum arogan sekaligus tertarik.

"Dan Anda jelas bukan sembarang tamu."

Leon melangkah maju sedikit. Ia melihat bagaimana wajah Keylana yang tersenyum untuk pertunjukan panggung tapi dibelakangnya memiliki kewaspadaan dan perhitungan.

"Meskipun harus aku katakan, Aku lebih menyukai 'udara' di sekelilingmu."

Suaranya lebih rendah, hanya diperuntukkan untuk mereka berdua, membatasi pengetahuan penonton.

Lana tidak mundur. Ia memiringkan tubuhnya untuk menoleh ke meja di sampingnya, meletakkan sampanye di tangannya. Membuat pertukaran mereka terlihat setelah upaya Leon memblokirnya.

"Menarik," gumam Leon, seringainya tidak pudar. Ia membiarkan lana membuat jarak. Bersandar pada pilar di dekatnya, menyilangkan tangan dengan santai. Matanya tetap terkunci pada lana.

"Jangan coba menantangku, Keylana." Seringainya menjadi hilang, matanya seperti predator. "Aku telah menarik berhasil menarik gadis dengan sifat dua kali lebih angkuh darimu."

"Gadis yang seperti itu? Kau hanya salah tempat... dan salah paham. Jika kau mencoba membuktikan diri, Cobalah tarik jenis yang berbeda dari yang biasanya kau temui." Tantang lana dengan mata terkunci padanya, Tangannya masih memegang pegangan gelas.

"Contohnya, Model dada tertutup."

Mata Leon melebar sejenak lalu tersenyum lebih lebar hingga giginya terlihat. Leon menyentuh dagunya sebagai tanda ketertarikan dan rasa hormat.

"Katakan padaku, burung kecil," Leon menyilangkan tangan. "Apakah kamu selalu tidak mudah terkesan?"

"Seharusnya kau tau,"

Leon tertawa rendah. Tak percaya mendengar balasannya dari sarkasme menjadi acuh tiba-tiba. Meletakkan tangan di dahinya, pundaknya bergetar.

"Baiklah, baiklah."

Leon mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. Menyeringai dengan penuh minat melihat lana.

"Jadi, Nona Reinhardt. Sebagai kesopanan, apakah kau mengizinkanku untuk mengejarmu mulai sekarang?"

"Pergilah ke neraka."

Tawa Leon kembali dengan suara yang menarik beberapa mata yang tadinya berpaling saat suasana menjadi lebih tegang.

"Benar. Kamu jelas tidak tertarik dengan pesonaku." Leon menyesap minumannya, matanya melihat Lana seperti ingin menerjang lalu menangkapnya.

Valeri terganga menyaksikan percakapan itu dari lantai dua, tidak menyangka bahwa lana bisa menang melawan argumen Leon dengan cara paling menawan.

"Apakah kamu mendengarnya?" Tangannya memegang pagar."Dia baru saja menyuruhnya pergi ke neraka!"

Rahang Julian tampak mengeras. Matanya yang tertuju pada mereka terbakar seolah akan meledak kapan saja, tangannya mencengkram erat gelasnya.

Ia sudah melihat semua percakapan itu baik yang bisa ia dengar atau melihat mereka berbicara hal yang tidak bisa ia dengar dari jarak ini.

Tanpa berkata apa-apa lagi padanya, Julian berjalan tanpa mengalihkan pandangannya, menuruni tangga menuju lantai ballroom utama.

"Kemana kamu pergi?!" Valeri memperhatikan langkah Julian yang pergi.

Langkah panjang Julian membawanya ke arah dua orang itu dengan cepat karena kekesalannya. Ia

berhenti tepat di belakang Leon, Menepuk bahu pria pirang itu.

"Gruber"

Suaranya tegas, lantang dan menyimpan dendam.

"Aku yakin kau melupakan pesta sebenarnya."

Leon berbalik perlahan, seringai menantang tersungging di bibirnya.

"Donnersmarck." Leon membalas dengan wajah mengejek.

"Senang melihatmu di sini. Datang untuk mengambil properti Anda?"

Matanya melirik lana di belakangnya dengan senyuman penuh arti, Membuat Rahang Julian sekelas batu menahan amarahnya.

Ketegangan di antara mereka terlihat jelas tanpa harus diperjelas. Leon tetap dengan senyum licik dan Julian seolah akan memakan Leon hidup-hidup.

Lana maju melewati Leon dan memeluk lengan Julian tiba-tiba.

"Kakek sudah mundur, sebaiknya aku segera kembali."

Tindakan lana membawa sedikit angin sejuk bagi Julian, Tindakan akting di acara sosial ini tentu saja diperlukan setelah upaya pendekatan leon yang terang-terangan di acara yang dihadiri oleh orang-orang penting.

Lana menyelipkan sapu tangan milik Julian kembali ke saku.

"Ayo, Aku butuh tumpangan."

Tindakan sederhana mengembalikan saputangan terasa akrab dan intim. Tinju Julian mengendur.

Itu adalah upaya untuk menenangkan situasi. Namun, kecemburuan Julian itu bukanlah akting.

Julian mendekap lana ke sisinya, Matanya tidak pernah lepas dari mata Leon dengan kebencian yang intens

"Panggilan tugas," Katanya angkuh.

"Tidak seperti beberapa orang yang sepertinya senang membuat masalah kemanapun mereka pergi." Julian menggunakan penghinaan langsung.

"Atau pergi mengadu pada ibu seperti bayi kecil?" Balas Leon yang senyumnya tegang karena kesal.

"Sayangnya pirang tidak berhasil merebut permen milik bayi kecil."

Wajah Leon berkerut jengkel lalu tersenyum dingin.

"Hati-hati, Julian. Kecemburuan tidak cocok padamu."

Julian tidak membalas, membimbing lana menjauh dari Leon.

"Ayo." gumamnya, suaranya menjadi lembut walaupun bahunya masih tegang.

Leon menyeringai melihat mereka sambil memutar-mutar sisa sampanyenya.

"Sungguh tidak cocok."

Valeri yang telah melihat semuanya turun sambil mendekat ke arah leon.

"Mengesankan. Julian seolah akan membunuhmu detik itu juga."

Leon meneguk habis sampanyenya sebelum meletakkan gelas kosongnya di atas nampan pelayan yang lewat.

"Mungkin, tapi kecemburuan jelas hanya dikhususkan untuk Lana."

Leon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, Matanya melihat ke arah pintu.

"Menurutmu dia benar-benar jatuh cinta padanya?"

Valeri menyentuh bahu Leon dengan gelisah. Leon tertawa pendek tanpa melirik Valeri.

"Cinta? Tidak, sayang. itu terlalu rumit bagi Julian."

Leon mengambil segelas sampanye segar dari nampan pelayan lain.

"Dia menganggapnya sebagai sesuatu miliknya, yang berharga - Trophy Wife yang sempurna untuk melengkapi keluarganya yang mungkin kurang sempurna."

Leon menyesap sampanyenya sambil berpikir.

"Tapi harus aku akui, mungkin Keylana akan menahan pria itu lebih lama dari wanita lainnya."

Valeri mengangguk dengan cemas seolah meyakinkan dirinya sendiri. Leon bergumam pada dirinya sendiri, matanya berkilat.

"Pertunjukkan ini menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar pernikahan masyarakat yang membosankan."

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!