"Apa? Kamu pasti berbohong!"
"Untuk apa aku berbohong! Peristiwa malam itu tak akan pernah aku lupakan!"
"Sialan...kamu benar-benar sialan! Bisa-bisanya kamu menjebak aku!"
"Apa menjebak kamu? Kamu pikir aku serendah itu?"
Kelvin Marino adalah sosok lelaki yang belum pernah Jessica Renata temui sebelumnya. Malam itu adalah pangkal mula semua kejadian yang mengubah karier dan hidupnya.
Seperti apa kelanjutannya...???
Apakah Kelvin dan Jessica akan berjodoh meski banyak perbedaan diantara mereka?
Apakah mereka bisa bersatu dan berjuang mempertahankan hubungan mereka atau justru mereka akan berpisah?
Hai para readers.....ini karya kedua aku
Semoga kalian suka dengan karyaku....
Ikuti terus kelanjutan ceritanya dan jangan lupa untuk vote dan like sebanyak-banyaknya...
Terimakasih semua....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwi_02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kakek
Kelvin memasuki sebuah rumah besar dengan 2 pilar besar berwarna putih menjadi penyangga rumah itu. Kelvin memarkir mobilnya tepat di depan pintu rumah yang begitu besar itu.
Sekilas Jesica melongo melihat rumah yang begitu besar dihadapannya. Seperti tak percaya dia berada di rumah yang lebih layak disebut istana itu biasanya hanya bisa dia tonton di sinetron-sinetron televisi.
"Ayo turun!" kata Kelvin yang sudah berdiri di samping Jesica, saking terpana dengan kemewahan rumah itu sampai-sampai Jesica tak sadar Kelvin sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"I..ini...rumah kakek kamu?" kata Jesica gugup.
"Iya, dia ada di dalam, ayo masuk biar aku gandeng supaya kamu gak jatuh!"
Kelvin mengulurkan tangannya membantu Jesica turun dari mobilnya. Heels dengan tinggi 8 centimeter itu cukup membuatnya kesulitan berjalan normal.
Terlihat 2 orang asisten rumah tangga berdiri di depan pintu mempersilahkan mereka masuk.
"Silahkan masuk mas Kelvin!"
"Kakek mana?" tanya Kelvin sambil mengamati sekeliling mencari keberadaan kakeknya.
"Tuan ada di taman belakang, mari saya antar!"
Asisten rumah tangga di rumah itu mengantarkan mereka ke sebuah taman yang berada di belakang rumah itu. Taman yang luas dengan berbagai tanaman hias dengan pot besar berwarna putih. Nampaknya sang penghuni rumah sangat menyukai gaya klasik dengan warna monokrom, oleh sebab itu rumah itu nampak megah dan tetap elegan.
Nampak dari kejauhan seorang kakek duduk di sebuah bangku taman seorang diri. Kakek itu sedang duduk menikmati segelas kopi.
Kelvin menghampiri kakek itu masih dengan menggandeng Jesica di sampingnya.
"Sore kek!" sapa Kelvin.
Kakek itu memutar pandangannya ke arah Kelvin dan Jesica. Sepintas menatap mereka berdua yang bergandengan tangan. Jesica yang tersadar Kelvin masih memegang tangannya langsung sesegera mungkin melepaskan tangannya dari Kelvin karena Jesica merasa canggung di depan kakek Kelvin.
"Kakek sedang apa di sini?'
"Kakek cuma cari angin saja!"
"Selamat ulang tahun ya kek, ini Kelvin bawakan hadiah buat kakek!"
Kelvin memberikan sebungkus kado yang sudah dia persiapkan.
"Terimakasih Vin, terimakasih karna kamu selalu ingat hari ulang tahun kakek!"
Sejenak kakek memeluk Kelvin erat seolah dia benar-benar menyayangi cucunya itu.
"Oh iya kek kenalin ini aku bawa temen aku!"
"Ini siapa Vin?" tanya kakek sambil melihat sosok wanita yang ada di depannya.
"Hallo kek saya Jesica, temennya Kelvin!" sapa Jesica sambil mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan kakek.
"Saya Wijaya Kusuma, kakeknya Kelvin, sepertinya saya belum pernah lihat kamu sama Kelvin!"
"Oh iya kek kita baru kenal!" kata Kelvin gelagapan.
"Jadi gini kek, aku minta maaf karna gara-gara aku Kelvin gak bisa bawain kue ulang tahun buat kakek!" kata Jesica menjelaskan, walaupun sebenarnya ada rasa takut dibenaknya.
"Iya kek sebenarnya aku udah nyiapin kue buat kakek tapi tadi gak sengaja insiden kecil yang bikin kue itu rusak! Jadi Kelvin minta maaf gak bisa bawain kue itu buat kakek!"
"Jesica bener-bener gak sengaja ngrusakin kue itu, saya bener-bener minta maaf!"
Melihat tatapan kakek Wijaya membuat Jesica sedikit merasa takut, karena tatapannya terlihat tajam dan terlihat garis wajah tegas yang membuat kakek Wijaya terkesan seperti berwajah galak.
"Sudah sudah, kakek kan bukan anak kecil lagi yang kalo ulang tahun harus tiup lilin dan potong kue. Lagi pula kakek kan sudah berumur 70 tahun jadi sudah tidak cocok lagi ada acara ulang tahun seperti ini! Bagi kakek Kelvin ingat ulang tahun kakek saja sudah cukup membuat kakek bahagia, apalagi sekarang Kelvin sepertinya sudah menemukan wanita pilihannya!"
"Maksud kakek?"
"Kelvin, apa kamu pikir kakek ini anak kecil apa bisa kamu bohongi, kakek tahu kalau kalian berdua sebenarnya sudah berpacaran!"
Jesica terkejut mendengar perkataan kakek Wijaya, kesialan apalagi yang menimpanya saat ini, sepertinya ini sudah diluar rencana yang mereka buat, karena tujuannya ke sini adalah untuk menjelaskan perkara kue ulang tahun tadi bukan untuk diperkenalkan sebagai pacar.
"Sepertinya kakek salah paham!" celetuk Jesica tiba-tiba.
Kelvin langsung mendekati Jesica dan merangkul pinggul Jesica di depan kakek Wijaya.
"Apa-apaan sih ini?Lepasin gak!!" kata Jesica setengah berbisik sambil melotot ke arah Kelvin.
"Please, kali ini aku mohon sekali ini aja nolongin aku!" kata Kelvin berbisik di telinga Jesica.
"Kakek gak nyangka ternyata Kelvin berani juga bisa memperkenalkan wanita seperti ini. Dulu kakek pikir Kelvin itu gak pernah serius sama cewek, ganti sama si ini sama itu, padahal kakek juga gak pernah tahu yang sebenarnya pacar Kelvin siapa karna gak pernah dikenalin ke kakek!"
Jesica melotot ke arah Kelvin seolah melakukan protes kenapa dia dilibatkan dalam permasalaham seperti ini. Namun Kelvin seolah malah bersikap santai dengan protes Jesica itu dan justru malah membuat kakeknya yakin kalo Kelvin benar-benar serius dengan Jesica.
"Sepertinya kakek salah paham!" jawab jesica mencoba menjelaskan namun Kelvin tiba-tiba mencium pipinya di depan kakek.
"Kamu jangan gitu dong sayang, kan memang benar kan kita pacaran. Kamu kok kayak malu-malu gitu sih di depan kakek!"
Jesica kaget Kelvin tiba-tiba menciumnya, rasanya dia Inging menampar Kelvin yang sudah berbuat seenaknya padanya. Namun dia tahan demi menjaga perasaan kakek Wijaya.
"Kamu udah bener-bener gila dan kurang ajar, kamu mau jebak aku apalagi!" bisik Jesica dengan nada sengit menahan amarahnya pada Kelvin.
"Kakek punya penyakit jantung, aku gak mau di hati bahagianya dia kecewa apalagi dia merasa sedih. Aku cuma pengen buat kakek ku bahagia, apalagi di hari ulang tahunnya," jawab Kelvin.
"Kalian itu, bisa-bisanya bisik-bisik dan bermesraan di depan kakek!" kata Wijaya.
Kelvin yang dari tadi merangkul pinggang Jesica memang terlihat mesra di depan kakek Wijaya.
"Ah kakek kayak gak pernah muda aja sih!" jawab Kelvin sambil mengeratkan pelukannya.
"Kamu itu, bisa-bisanya bermesraan di depan kakek, tapi kakek senang melihat kamu berani memperkenalkan wanita pada kakek itu berarti kamu juga sudah melupakan Maya mantan kamu itu!"
"Maya? Jangan sebut-sebut nama itu lagi kek, aku benar-benar sudah melupakannya, apalagi sekarang sudah ada Jesica, iya kan sayang!" kata Kelvin sambil tersenyum menatap Jesica.
Jesica hanya membalasnya dengan tersenyum kecut pada Kelvin, dia benar-benar merasa terjebak dengan keadaan ini. Seolah dia benar-benar sudah terlalu jauh terlibat masalah dengan Kelvin.
"Kamu memang benar-benar jago akting, bahkan bukan hanya di filmmu tapi juga dalam kehidupanmu!" bisik Jesica kesal.
"Ya sudah jangan bahas itu lagi, sebaiknya kita makan dulu saja. Tadi sudah disiapkan makanan untuk kalian, pasti kalian juga sudah lapar kan!"
Kakek Wijaya mengajak mereka ke ruang makan, Kelvin dan Jesica pun mengikutinya dari belakang.
"Lepasin gak, aku risih dipeluk kayak gini terus!" kata Jesica ketus, pasalnya dari tadi Kelvin memeluknya erat membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Gak, gak bakal aku lepasin!"
"Bener-bener yah nih orang, nyebelin banget!" kata Jesica kesal, saking kesalnya dia mencubit tangan Kelvin.
"AW....sakit tahu!!!" kata Kelvin berteriak.
Kakek Wijaya menoleh ke arah mereka berdua yang dari tadi ribut.
"Ada apa?"
"Eh nggak kek, gak papa, cuman ini tadi tanganku digigit sama semut! Semutnya gede banget, jadi kayaknya tangan aku benjol deh!" kata Kelvin sambil mengelus tangan bekas cubitan Jesica.
"Gak usah lebay deh, cuma dicubit gitu aja udah kesakitan kayak gitu! Dasar cowok manja!" bisik Jesica dengan mata melotot.
Jesica mengikuti kakek Wijaya dan meninggalkan Kelvin yang meringis kesakitan.
"Eh tunggu....apa kamu bilang? Enak aja gue di bilang cowok manja!" protes Kelvin pada Jesica yang sudah menjauh mengikuti kakek Wijaya.