Kehidupan yang dijalani Acha tidak pernah benar baik baik saja . kekacauan hidupnya dimulai saat Acha melihat dan menyaksikan bapak dan ibunya terkapar bersimbah darah dijalanan akibat ulah penabrak mobil yang tidak bertanggung jawab .
Dewangga yang mencoba berpura pura mendekati Acha untuk tidak ketahuan bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kedua orang tua Acha tiada memberanikan diri untuk menikahinya , walau dengan sangat terpaksa .
Acha yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Dewangga dan Sang Mertua , benar benar syok dan tidak menyangka. selama ini dia hidup dengan seorang pembunuh kedua orang tuanya .
Acha memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dewangga setelah mengetahui itu semua , dan disaat itu pula , terciptala buah hati mereka di dalam rahim Acha .
tanpa Acha sadari , Dewangga telah jatuh pada pesonanya . Akankan Dewangga jujur mengenai dirinya yang telah memyebabkan kedua orang tua Acha meninggal ?
Bagaimanakah nasib pernikahan Dewangga dan Acha ? simak terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dona rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dewa yang saat ini sudah sampai di kantor pun hanya bisa tersenyum sinis saat mendapati pesan masuk dari Istrinya , Renata .
Apa katanya , pergi untuk pemotretan ke daerah Tangerang? Bahkan Dewa pun semalam menghubungi ART nya untuk menanyakan apakah Renata sudah sampai rumah atau belum . Tetapi kenyataannya , Renata malah tidak pulang ke rumah sama sekali . Lantas kemana perginya Renata semalam?
Dewa geram sekali dengan sifat Renata . Apa yang kurang darinya? Kaya? Hartanya bahkan tidak akan habis sampai tujuh turunan . Tetapi , kenapa semakin kesini sifatnya malah semakin liar . Semakin Dewa memberikan kebebasan , semakin menjadi pula Renata .
"Cari tau Renata di mana semalam berada Tam?." Iya , Dewa menghubungi Tama Asisten sekaligus sahabatnya .
Tama yang mendapat telfon seperti itu menjadi senang . "Akhirnya lo sadar juga Wa . Lihatlah wanita licik , akan gue bongkar kelakuan busuk lo satu persatu di depan Dewa . Tidak akan gue biarin lo menguasai harta keluarga Karta Wijaya."
"Selamat pagi Pak Dewa." Ucap Luvita yang saat ini sudah di depan Dewa . Luvita Anggraeni , orang ke dua kepercayaan Dewa yang mengurus masalah perusahaan selagi Dewa dan Tama tidak ada .
"Pagi Vita . Apa saja jadwal saya saat ini." ucap Dewa yang saat ini tengah masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya .
"Jadwal Bapak untuk saat ini di jam 10 nanti akan ada Meeting evaluasi bulanan dengan beberapa departemen Pak . Dan di jam 1 siang , kita kedatangan klien dari Bangkok untuk membahas kerja sama untuk pembangunan Hotel yang ada di Makasar Pak . Selebihnya Bapak free sampai malam." ucap Luvita dengan lugas .
"Ada berkas yang harus saya tanda tangani? " tanya Dewa yang saat ini sudah membuka laptopnya .
"Ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Bapak . Saya taruh berkasnya di meja Pak . Kalau begitu saya pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan saya , Pak." Ucap Luvita yang segera bergegas keluar dari dalam ruangan Dewa .
"Selamat selamat." ucap Luvita sambil mengusap dadanya pelan-pelan saat sudah berada di luar ruangan Dewa . Ya , saat berhadapan tadi muka Bosnya sudah tidak bersahabat .
Dewa memijit pelipisnya yang berdenyut sedari tadi . Dewa bahkan lupa untuk sekedar sarapan saat berangkat tadi . Dirinya terlalu kalut saat ini , fikirannya melayang kemana-mana . Apakah dia harus menikahi Acha? Padahal Dewa tidak mencintainya . Apakah dengan menikahi Acha sudah benar . Dewa takut jika nantinya akan berdampak pada mental Acha .
"Ya Tuhan harus bagaimana ini?." Ucap Dewa seraya menengadahkan kepalanya di kursi kebesarannya .
****
Acha yang saat ini berada di rumah lamanya sudah di sibukan dengan perkakas dapur . Dia tidak boleh berlarut dalam kesedihan . Walaupun saat ini hampa yang di rasakan Acha , tetapi Acha tidak boleh sedih . Bagaimana jika Bapak dan Ibunya melihat dari sana? Sedih? Pasti akan bertambah sedih . Sebisa mungkin Acha menguatkan dirinya untuk tegar menerima keadaan ini .
Dia teringan akan ucapan kelaurga Karta Wijaya . Lebih tepatnya Ravendra yang bilang bahwa Bapak dan dirinya adalah sahabat lama dari kampungnya dulu . Bagaimana bisa? Kenyataan yang Acha terima saat ini membuatnya pusing .
Sambil terus memasukan nasinya ke dalam mulut , walaupun tidak berselera . Tanpa terasa air mata Acha luruh lagi saat mengingat sosok Ibu dan Bapaknya . Mengapa harus tragis cara mereka berdua untuk meninggalkan Acha . Acha mengusap kembali pipinya , dan berusaha tersenyum . Bagaimana pun dia harus bisa menerima kenyataan pahit bahwa Ibu dan Bapaknya sudah tidak ada lagi di dunia ini .
Tok
Tok
Tok
Suara pintu berbunyi dari luar . Acha sempat berfikri siapa gerangan yang pagi ini yang datang untuk bertamu ke rumahnya? Dengan segera Acha berjalan menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya pagi ini .
"Nyonya Shiren." Ucap Acha kaget saat melihat siapa yang datang sepagi ini .
Shiren mendengus saat Acha memanggilnya dengan sebutan Nyonya . "Mama , panggil saya Mama Acha . Susah sekali rasanya untuk Kamu memangil saya dengan sebutan Mama." Jawab Shiren .
Acha menghela nafasnya . "Ma.. Mama ada apa pagi-pagi ke sini? Mama tau darimana jika Acha tinggal di sini? Pasti Tuan , Eh Om ravendra ya Ma yang kasih tau Mama."
"Boleh Mama masuk Acha? kaki Mama pegel ini harus berdiri terus."
"Eh .. Silahkan masuk Ma . Tapi , kondisi rumah Acha seperti ini Ma . Mama mungkin tidak akan betah." Jawab Acha sambil mempersilahkan Shiren masuk .
"Kata siapa Mama tidak betah?." Jawab Shiren yang saat ini sudah duduk di kursi ruang tamu Acha .
"Acha pamit ke dapur untuk bikinkan Mama minum ya Ma."
"Jangan Acha , kamu di sini aja ya . Mama mau ngobrol sama Kamu boleh?."
Acha akhirnya duduk bersebelahan dengan Shiren saat ini . "Cha , tinggal di rumah Mama dan Papa ya." Ucap Shiren yang saat ini tengah memegang tangan Acha .
Acha tersentak saat mendengar bahwa dirinya harus tinggal bersama dengan keluarga Karta Wijaya .
"Maaf jika Mama mengatakan ini secara mendadak Acha . Tapi , Mama mohon dengan sangat sama Acha . Acha mau ya tinggal sama Mama . Mama kepikiran Acha terus." Shiren tidak menampik jika rasa bersalah terus menghantui dirinya saat ini . Walaupun Dewa yang menabrak tetapi sebagai seorang Ibu , Shiren merasakan rasa itu . Dia merasa di bayang-bayang rasa bersalah setiap malam .
Acha masih diam tidak menjawab apapun . Dia masih bingung , bagaimana mungkin dirinya harus tinggal di rumah besar milik Karta Wijaya .
"Mama mohon Acha , tinggal sama Mama dan Papa ya."
"Tapi Ma , Apa harus dengan tinggal bersama kalian? Acha tidak enak dengan Anak Mama." Jawab Acha kepada Shiren .
"Dewa tidak akan sering pulang ke rumah utama Cha . Dia sudah mempunyai Istri , pastiny dia selalu pulang ke rumahnya sendiri."
"Mas Dewa sudah punya Istri Ma?." Ucap Acha sambil menutup mulutnya dengan tangannya sendiri . "Maaf Ma , Acha lancang memanggil anak Mama dengan sebutan seperti itu."
"Tidak apa-apa sayang . Iya Acha , Dewa sudah menpunyai Istri . Tetapi Mama tidak suka , sampai detik ini pun nyatanya mereka berdua belum di karunia Anak . Mama kesepian di rumah Cha."
Acha merasa iba kepada Shiren saat mendengar ucapannya saat ini .
"Kasih Acha waktu ya Ma buat berfikir."
"Berifikir untuk apalagi Cha? Acha tidak mau tinggal bareng Mama dan Papa?."
"Bukan .. Bukan begitu Ma . Acha , Acha takut anak Mama marah . Acha takut Mas Dewa marah jika Acha tinggal sama Mama." Ucap Acha yang merasa di liputi rasa takut .
"Percaya sama Mama , Dewa tidak akan marah." Seraya menggenggam jemari Acha untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja jika Acha mau tinggal di rumahnya .
Acha menghela nafasnya , tidak akan mungkin bagi dirinya akan mendebat Shiren lagi pagi ini . "Oke Acha mau tinggal di rumah Mama dan Om "
"Papa Acha , panggil Papa . Jangan Om lagi bisa?." Shiren gemas dengan Acha saat ini .
"Acha siapin dulu keperluan apa yang akan Acha bawa ya Ma." Ucap Acha sambil berdiri dari duduknya .
"Tidak usah sayang , Mama sudah menyiapkan semuanya . Kamu cukup bawa diri saja untuk datang ke sana."
Acha kaget saat mendengar ucapan Shiren . Apa katanya? Menyiapkan semuanya? Bagaimana bisa?
"Tidak usah merasa kaget seperti itu."
"Kalau begitu , Acha bawa buku-buku kuliah Acha saja Ma . Sebentar ya Ma , Mama tunggu di sini dulu." Jawab Acha sambil meninggalkan Shiren sendirian di ruang tamu miliknya .
Shiren menggangguk saat Acah berbicara seperti itu . Sepeninggal Acha , Shiren berjalan menuju dinding yang terpajang sebuah foto keluarga amat bahagia .
"Maafkan Dewa Hadi , maafkan Dewa yang sudah membuat kekacauan seperti ini . Acha aku bawa ya , Di . Akan kurawat Acha seperti anakku sendiri . Maafkan Dewa sekali lagi , Di . Berkat ulah Dewa , Kamu dan Istrimu meninggal di tempat dan membuat Acha menderita . Akan kupastikan Acha tidak akan pernah menderita lagi kali ini , itu janjiku , Di ." Ucap Shiren dalam hati .
Bersambung . . .