Indonesia
NovelToon NovelToon
Different For a Reason

Different For a Reason

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Barat / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rido Aji Darmawan

Gerbang-gerbang dimensi, satu hari pernah terbuka di Bumi secara bersamaan dan tersebar ke seluruh negara.

Puluhan juta pasukan monster berbondong-bondong keluar, memangsa semua manusia tanpa pandang bulu.

Jutaan Unique melawan mati-matian, demi melindungi warga sipil.

Peperangan besar pun digelar secara masif di seluruh penjuru Bumi.

Banyak Unique yang tewas di tangan petinggi-petinggi bangsa monster. Begitupun sebaliknya.

Peperangan ini seperti tidak ada habisnya. Sampai peristiwa 'the silent year' terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rido Aji Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Agen Dari Kantor WUA Di Jakarta: Chapter 9

“Ges, lihat di atas sana! Apakah dia yang akan melawan Ampong?”

Salah satu Unique bertanya kepada orang kekar di barisan para pilar. “Arifin, apakah dia yang akan melawan Ampong?”

Pria kekar berkulit sawo matang tersebut menoleh ke belakang. “Kurang tepat. Yang benar, kami berlima yang akan melawannya bersamaan.”

“APA?!” Mereka tercengang kompak.

Slamet menengok ke gurunya pelan. “Kak Grav, apakah tidak apa-apa seperti ini? Sepertinya kita membuat gaduh.”

“Udah tenang aja. Mereka dulu yang mulai,” pungkasnya dengan wajah dingin.

“Siapa orang itu? Berani-beraninya melawan 5 pilar? Dia orang mana sih?”

Mendengar rekan-rekannya bingung kenapa orang itu berani banget sama 5 pilar, Imelda langsung berkata, “Hei kalian, bisa diam tidak? Orang yang diatas sana adalah Gravito Noir. Dialah yang akan kami berlima hadapi.”

“APAAAAAAAAAAA?!” Bola mata seakan mencuat ke depan.

“Ja-jadi dia … Gravito yang terkenal itu? Anj!”

“Bre, cepetan ambil hp! Foto tu orang terus sebar ke sosmed! Biar semua orang tahu.”

Para Unique bergegas memotret Gravito, karena belum pernah ada yang melihat sosok Gravito sebelumnya.

Hanya mereka yang ada di markas hari ini, yang tahu seperti apa sosok orang terkenal itu.

Slamet melihat ke kerumunan di bawah sana. “Kak Grav, mereka mengambil fotomu.”

Mendengar kalimat muridnya, dia melongok ke arah puluhan hp yang sedang diarahkan kepadanya. “Biarin aja. Asalkan kenyamananku di pulau tidak terganggu, aku tidak masalah.”

Daniel yang melihat suasana semakin gaduh, langsung menyuruh para Unique untuk tenang dan tidak berisik.

“Mari Tuan Gravito, saya antar ke ruangan latihan yang tadi untuk arena bertarung kalian. Kalian berlima, bersiap di ruang latihan! Dan untuk sisanya, kalian boleh melihat. Tapi tolong tenang dan jangan berisik. Pertarungan akan dilakukan di ruang latihan utama! Kalian mengerti?!”

“Mengerti Pak Daniel,” jawab mereka serentak.

Setelah sampai ke ruang latihan utama yang digunakan oleh Daniel dan Gravito bertarung tadi, sekarang digunakan lagi untuk pertarungannya melawan 5 pilar.

Gravito sudah berada di sudutnya. Begitu juga dengan 5 pilar, yang sudah siap dengan formasinya.

Entah apa yang direncanakan oleh 5 pilar, tapi formasinya cukup aneh di mata Gravito.

Arifin paling depan, sayap kanan ada Raphael, sayap kiri ada Ampong, dan Hazen ada di belakang Arifin dengan jarak agak jauh, lalu Imelda mengambil jarak di belakang Hazen.

“Baiklah, aku Daniel Webster yang akan menjadi wasitnya. Pertarungan ini hanyalah pertarungan persahabatan.”

“Jadi jangan sampai ada yang mati. Kalau sudah tidak mampu, silahkan angkat tangan dan menyerah.”

“Pertarungan akan dimulai setelah hitungan mundur sistem. Persiapkan diri kalian sekarang!”

Seusai Daniel berbicara, para 5 pilar memanggil kekuatannya masing-masing.

Arifin memanggil armor yang sangat tebal dan besar menutupi dirinya, dan mendadak muncul perisai besar dan sebuah kapak yang dipanggul oleh Arifin di pundaknya. Seperti pertahanan yang sangat kokoh.

Di barisan sayap, Raphael sudah siap dengan sebuah Blade di genggamannya. Ampong pun sudah memegang dua daggernya.

Imelda memanggil panah Cendrawasih miliknya. Lalu Hazen yang ada di tengah, memegang sebuah tongkat yang mengalirkan energi ke dirinya dan 4 pilar lainnya.

Energi dari Hazen membentuk seperti sebuah baju perang yang semakin memperkokoh defense mereka.

Daniel menatap lima pilar, kemudian berpaling menatap Gravito seraya memasukkan tangan kanan ke saku. Mr Gravito, aku tahu kau kuat. Tapi sebaiknya Anda tidak meremehkan formasi ini.

Di sudutnya, Gravito memasang ekspresi aneh. Anak-anak muda jaman sekarang, banyak yang menyebut mimik tersebut, dengan sebutan “muka julid”.

“Formasi aneh apa ini? Jelek amat. Aku akan mencoba melawan mereka tanpa menggunakan Zirah. Sudah lama aku ga main dengan blade hitamku.”

Penyakitnya terkadang kambuh tanpa disengaja. Biasanya penyakit ini kambuh karena Gravito sedang badmood atau ada orang yang mengganggu waktu mancingnya.

Penyakit Gravito adalah angkuh dan meremehkan lawannya. Berulang kali Aslan mengingatkan tentang kebiasaan buruknya ini.

Karena menurut Aslan, kalau Gravito tidak fokus dan menyombongkan diri, dia bisa terbunuh di medan perang.

“Formasi ini kan … kayak di game moba!” Slamet terkejut.

“Kak Arifin sebagai tanker, 2 yang di barisan sayap sebagai assassin dan fighter, lalu Kak Hazen bertugas support, dan yang terakhir Kak Imelda sebagai marksman (penembak jitu).”

“Hei lihat, Arifin sudah mulai maju tuh!”

“Eh ini bisa di pause sebentar ga sih? Ga afdhol kalo liat orang berantem tanpa makan popcorn.”

“Lu mau beli popcorn? Gue nitip Indomie di warung mbak Laras ya bre!”

Arifin memperlihatkan langkah pertamanya, dengan berlari kencang ke arah lawan di depan sana. Gravito pun di sudutnya sudah siap menanti.

Sraa! Seketika muncul blade hitam di tangan kanannya.

“Si bongsor itu kenapa pd amat sih? Nih rasain!”

Gravito mengangkat blade hitamnya, lalu menebas dari jarak jauh. Blarr!

Tebasan Gravito menghasilkan energi hitam mengarah ke Arifin. Tapi tebasan itu mampu ditangkis oleh Arifin selama 2 detik, lalu dipentalkan ke arah samping.

“Di tangkis?” Gravito heran.

Kuat juga si tapir ini. Bukankah mereka tidak ada yang masuk 200 besar? Harusnya tebasanku tadi setidaknya menggores tubuhnya. 

Apakah karena si jangkrik yang ada di tengah itu? Sepertinya memang begitu. Berarti aku harus jatuhkan dia duluan.

Setelah menetapkan rencana, Gravito langsung melesat blink ke arah Hazen secepat kilat.

“Kena kau jangkrik!”

Trang! Blade Gravito beradu dengan dua daggernya Ampong.

Ampong adalah satu-satunya orang yang masih bisa membaca gerakan Gravito setelah menerima buff dari Hazen. Itu pun cukup susah baginya.

“Tidak akan kubiarkan! Raphael sekarang!”

Mata Gravito tiba-tiba diam terkejut seraya melebar. Ada hawa membunuh yang sangat pekat dari arah belakang kiri. “Sial.”

Tebasan Raphael berhasil dihindarinya dengan cepat. Gravito melesat menghindar ke arah kanan.

Sesaat setelah dia melompat menghindari tebasan Raphael, Imelda yang sedari tadi menunggu momen untuk menyergap Gravito, akhirnya datang juga.

Perempuan Papua itu melompat sangat tinggi bak Cendrawasih yang sedang terbang.

Memancarkan cahaya aura bulu Cendrawasih yang sangat indah. Sesampainya di udara, Imelda hendak melepaskan serangan ultimate nya ke Gravito.

“Terima ini Gravito!”

Serangan anak panah Imelda telak mengenai tubuhnya, sangat indah dan melesat seperti kilat.

Ledakan yang dihasilkan sangatlah besar dan indah pada waktu yang bersamaan. Serangan secepat ini, tidak akan mampu dihasilkan Imelda tanpa buff dari Hazen.

“Apakah berhasil?” tanya Raphael.

“Belum,” jawab Ampong.

Daniel yang sedari tadi menonton dari atas bersama Slamet di sebelahnya, hanya terdiam menyaksikan Gravito menerima serangan para 5 pilar.

Mr Gravito, sepertinya kau kecolongan.

Slamet menyaksikan pertarungan gurunya dengan mimik serius.

Inikah kekuatan 5 pilar ketika bekerja sama? Bahkan Kak Grav sepertinya tersudut. Tapi … ada yang aneh. Kenapa Kak Grav nggak menggunakan kekuatan gravitasinya ya?

“Kalian lihat tadi kan? Itulah kekuatan 5 pilar kita!”

“Iya, sangat keren! Aku belum pernah melihat kerjasama yang seperti ini.”

“Kalian berlima! Terus Semangat! Ampong! Ampong! Ampong!”

Semua Unique yang berkumpul saling bersorak menyemangati 5 pilar. Terutama Ampong yang dikenal sebagai yang terkuat diantara 5 pilar.

“Cih! Mereka kayak ga ada kerjaan aja. Apakah mereka pikir pertarungan ini sudah selesai?” Ampong menatap kesal ke arah teman-temannya yang saling bersorak itu.

Disisi lain, siluet Gravito mulai tampak di area kepulan asap putih.

Perlahan, asap tadi mulai menghilang menyisakan lantai arena yang rusak parah. Kini tampak pakaiannya robek-robek bak gelandangan.

Kendati demikian, tubuhnya tak mengalami luka parah. Serangan tadi, hanya membuat lecet yang tak berarti.

“Wah wah … aku benar-benar babak belur nih. Hei kalian berlima! Hanya ini kemampuan kalian?”

“Pantesan dulu kalian kalah sama monster yang mengamuk di Jakarta. Kalian lemah dan memalukan! Dah pulang aja sana, minum cucu cuci kaki terus bobok.”

Penyakitnya mulai semakin parah. Gravito mengucapkan perkataan di atas, dengan menggunakan tatapan merendahkan.

Benar-benar kelihatan jelas sifat angkuh dari ekspresinya. Sepertinya, gara-gara jadwal mancingnya terganggu.

Aslan melihat bahwa kepribadian muridnya ini, bisa berakibat fatal di medan perang.

Secuplik info untukmu, Gravito sendiri sangat benci apabila ada yang mengganggu waktu menyendirinya di tengah laut.

Mungkin karena kepribadiannya yang dominan introvert. Semua introvert akan sangat marah kalau waktu menyendirinya terganggu.

“Aku baru tahu kalau Gravito sesombong ini,” ucap Imelda dengan ekspresi tidak percaya.

“Tenang Mel, kita lakukan formasi kedua,” pungkas pilar Kalimantan.

Entah apa maksudnya, Ampong tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ke atas yang sedang mengepal.

Keempat pilar lain, sekilas seperti melirik ke tangan Ampong. Apakah itu semacam kode?

Arifin yang tadi berada di depan, sekarang berlari menuju ke dekatnya. Pilar lainnya juga melakukan hal yang sama.

Setelah berhasil berdiri di dekatnya, sekonyong-konyong kelima pilar menyentuh pundak Ampong.

“Gravito, dengan ini akan kupastikan kau jatuh.”

“Aku memanggilmu, Zorgon.”

Mendadak kabut hitam muncul sangat pekat sekali. Benar-benar pekat dan kelam bagaikan malam gulita tanpa pencahayaan sedikitpun.

Semua arena pertarungan yang berbentuk persegi panjang yang sangat luas itu, tertutupi oleh kabut gelap ini.

“Hei, kalian berlima mau main petak umpet?” tuturnya masih angkuh.

Jrash!

“Brengsek! Dimana kau?”

Duakh! Gubrak!

Dia terjatuh karena ditabrak oleh sesuatu.

“Sialan! Siapa itu?”

Gravito segera berdiri, dan mencoba melihat sekitar. Tetapi semakin dilihat, dia malah kesakitan.

Karena mata didesain untuk menangkap cahaya, sedangkan kabut tersebut, hanya berisi buntalan gelita.

“Hei Gravito, aku di belakangmu!” bisikan lirih Ampong.

“Kena kau brengsek!”

Tebasan Gravito ke arah belakang tidak mengenai apapun.

“Aku bilang, aku di belakangmu.”

Zrash!

Lagi-lagi tebasannya tidak mengenai apapun.

Setelah puas mempermainkan kesombongannya, Ampong bersiap-siap dengan ultimate-nya.

“Orang sombong sepertimu, pantas menerima ini.”

Dua dagger yang dipegang Ampong, dia lemparkan ke dua arah dengan cepatnya. Satu ke sisi kanan Gravito, dan satu lagi ke sisi kiri.

Saat melesat ke dua arah, dagger tadi mengkloning dirinya menjadi ratusan dagger. Lalu berbelok menghujam keras bak kilat menuju Gravito.

Tsrat-tsrat-tsrat-tsrat!

“ARRGH! SAKIT! SIALAN!”

“Raphael sekaranglah saatnya. Gunakan ultimate-mu.”

Di dalam kegelapan kabut yang sangat kelam itu, Gravito sedikit melihat cahaya ungu dari kejauhan.

Detik ini, Gravito sedang membenarkan posisi berdirinya menghadap cahaya tersebut, sembari darahnya sedikit menetes.

“Sial, cahaya apa lagi itu?”

Raphael saat ini agak membungkuk, mengarahkan ujung bilah blade besarnya ke belakang. Cahaya ungu terkumpul ke blade tersebut kian membesar.

“Terima ini dasar binatang sombong!”

BLAARRR!

Tebasan Blade yang menghasilkan energi sangat besar berwarna ungu, sedang melesat ke arah Gravito berdiri.

“Sialan 5 sapi itu .…”

BLEDARRR!

Tebasan itu tepat sasaran mengenai tubuh Gravito.

“Mel, apakah kamu masih bisa menggunakan ultimate-mu sekali lagi?”

“Aku masih bisa melakukannya sekali lagi.”

“Bagus, serang dia sekali lagi dengan ultimate-mu!”

Imelda melakukan lompatan ke udara sekali lagi hendak melepaskan ultimate.

CHUASH! GLARRR!

Serangan panah Cendrawasih, melesat cepat ke arah binatang sombong yang sedang terkapar di kegelapan kabut.

“Hei, kalian tahu apa yang terjadi di sana?”

“Mana aku tahu? Lu ga liat tuh kabut besar banget.”

“Hei lihat! Ada cahaya ungu!”

“Lihat juga tuh, ada cahaya kuning bercampur putih!”

“Sebenarnya apa yang mereka lakukan di dalam sana?”

Kilatan demi kilatan cahaya, juga disadari Daniel Webster. Sorot mata pensiunan tersebut begitu serius, seraya melipat tangan di dada.

Mr Gravito pasti sedang bingung. Kenapa para pilar bisa mengetahui posisinya, sedangkan dia tidak mampu melihat posisi mereka.

Ini adalah Zorgon milik Ampong. 

Semacam ruang penghalang yang cukup sulit dihancurkan. Karena kau akan kesusahan menemukan ujung maupun penggunanya.

Ampong mampu melihat di dalam gelapnya domain tersebut, karena mereka sudah menjadi satu kesatuan.

Dia juga bisa mengizinkan siapa saja, agar sanggup melihat di dalam Zorgon hanya dengan memberikan sentuhan.

Satu hal lagi, kabut gelap yang kau lihat ini, bukanlah ukuran aslinya. Ampong sanggup melebarkannya hingga 3 km dengan ketinggian 1 km, apabila mendapat buff dari Hazen.

Formasi ini sudah dilatih bertahun-tahun. Mereka yang sombong dan tidak waspada, kemungkinan besar akan kalah.

1
White Shadow
kerenn 😳
Amegatari
seru banget, semangat kak
ridohabit: terimakasih supportnya 🫡
total 1 replies
Amegatari
masih inget mau mancing 😂😂
anggita
zakaria💥... slamet🔥
anggita
oke thor smoga novelnya sukses banyak pembacanya. klo mau promo bisa ke tempat kami, bebas👌
ridohabit: siap kak Anggit 😍
total 1 replies
Amegatari
😂😂 kalau di negara lain lagi berantem begitu ada yg bawa popcorn nggak wkwkw
anggita
kasih hadiah bunga🌹dan like👍
anggita
WUA.. World Unique Association
anggita
gravito... daruma💥
anggita
ilustrasi tokohnya keren👍
ridohabit: dang! kak anggit ke sini
total 1 replies
Amegatari
seru banget
ridohabit: terimakasih atas supportnya, saya sangat mengapresiasi hal ini
total 1 replies
Amegatari
bagus banget thor ceritanya, keren imajinasi nya, nanti lanjut baca lagi
Amegatari
nama karakter lainnya bagus Bagus 😭 kenapa ada Slamet disini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!