Padanya aku belajar akan kehidupan. Sikapnya, cara bicara dan tindakannya selalu menarik bagiku. Kedua mata ini tidak dapat berpaling seakan-akan diprogram hanya untuk memandang sosok itu.
Sosok masa lalu yang membawa banyak perubahan bagi diriku. Aku berharap agar selalu dapat bersamanya. Walapun setiap kisah kita diisi dengan adu argumen. Tetapi terkadang, waktu membawa aku untuk melihat sisi dewasa dan tegasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bananah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pekara es cendol
Aqila membaca laporan keuangan dengan saksama. Remaja itu duduk sendiri karena alex ada urusan sebenatar. Aqila yang memang tidak sibuk tidak masalah untuk mengawas kafe seharian. Wanita muda itu membalik beberapa lembar kertas dan mencata hal-hal yang penting di buku kecil yang selalu ada di tasnya.
"Permisi bu ini pesanan anda"ujar seorang karyawan sopan. Aqila memperhatikan orang tersebut dengan saksama. Masih muda dan mungkin seumuran dengan bang Alex.
"Pagi saya Aqila aja. Kak pasti lebih tua dari saya."aqila pergi menuju meja yang terdapat beberapa makana. Sangat tepat dengan keadaan perutnya yang sudah lapar dari tadi.
"Baik Aqila, kalau begitu saja izin keluar dulu"pamitnya lalu keluar. Aqila makan dalam keheningan sampai tiba-tiba hpnya berbunyi. Disana terdapat nama 'cowok aneh'.
"Tumben"setelah itu dia mengangat panggilan tersebut.
"Dimana?" Tanya orang seberang datar. Perempuan itu minum air terlebih dahulu sebelem bicara.
"Aku tidak percaya dicari ketos sma majapahit" fauzi yang sebagai lawan bicaranya terdengar berdapas kasar. Dia terdengan lelah menghadapi sifat cerwet Aqila.
"Birisik"seru orang diseberang. aqila tersenyum puas dapat membuat pemuada itu kesal. Siapa suruh buat dia kesal. Baru kenal sudah buat seorang Aqila darah tinggi. Malah karena dia Aqila tidak dapat makan tahu gore pak joko. Ingat Aqila masih kesal akan hal itu.
"Kamu coba lembut dikit kalau bicata sama perempuan"seru prempuan itu sembari keluar ruangan untuk mencari udara segar. Dia mulai bosan di dalam ruangan. Jadi dia milih untuk pergi ke taman yang tidak jahu dari kafe. Biasanya sore-sore gini banyak penagang kaki lima yang lagi mangkal.
"Emang lo cewek?"Aqila berhenti sejenak dikasir.
"Saya pergi, nanti kalau bang Alex nyari bilang aja di taman." kata Aqila kepada kasir sebelum keluar kafe.
"Hello pak ketos mata anda sudah rabun. Kalau demikian mau dibelikan kaca mata biar bisa lihat dengan jelas." seru Aqila kesal. Dia kira Aqila apaan sampai.
"Udah"balas orang disana. Ingin rasanya Aqila bungkam itu mulut. Siapa coba yang diluan gajak ribut.
"Besok bertemu di perpus buat belajar"setelah itu Fauzi memanikan panggilan sepihak. Aqila yang sudah kesal teriak tidak jelas. Orang-orang menatapnya kasihan dan mengejek.
"Papa... papa lihat kak yang ada disana" sang ayah melihat orang yang ditunjuk sang anak. Ternyata sang anak menunjuk Aqila yang masih belum sadar dari kebodohanya.
"Jagan ditunjuk nanti dia marah lagi. Nanti kalau kamu besar jagan kaya kak tu ya"ujar sang ayah lembut.
"Memang kaka itu kenapa?"tanya sang anak polos. Sang ayah jadi gelagapan sendiri. Dia binggung harus berkata apa kepada sang anak.
"Hallo cantik." ujar Aqila yang tiba -tiba muncul. Anak keci itu mendekat dengan sang ayah karena taku. Tangan kecilnya memeluk sang ayah erat. Aqila menatap hal itu hiri. Dia tidak pernah ingat kapan terakhir kali dia berlindung di balik sang ayah.
"Jagan takut kak baik ko." ujar Aqila kikuk. Apalagi sang ayah sudah siap badan untuk melindungi sang putri tentunya.
"Jagan macam-macam kamu. Saya bisa aja lapok ke pihak berwajib."seru sang ayah kasar.
"Maaf paman. Saya hanya ingin melurusakan kesalah paham. Saya tidak gila ko, tadi itu saya kesal dengan sesorang makan itu saya seperti tadi." jelas Aqila jujur. Dia merasa tidak nyama saat ini.
Pria tadi mulai santai dan menghadap Aqila. Dia memposiskan anaknya agar tidak usah taku lagi. Tetapi, sang anak tidak percaya. Anak perempuan itu semakin mendekat ke arah sang ayah.
"Tidak apa paman. Saya pamit dulu"ujar Aqila berusaha tersenyum walaupun terkesan dipaksakan. Di berjalan dengan lesu dan lemas. Selamat Fauzi kau berhasim membuat Aqila badmood.
Tak sengaja Aqila melihat pedangan es cendol yang dikerumuni anak-anak. Seketika matanya berbinar menginginkan es tersebut. Degan tidak sabar Aqila melangkah menuju pedangang itu. Dia terlihat antusias sembari menunggu para bocil yang saling dorong tidak mau mengalah. Sedangkan sang pedang berusaha sabar memghadapi mereka semua.
Tak berselang lama satu persatu anak-anak pergi setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kini giliran Aqila yang sedari tadi diam menatap es cendol dengan minat.
"Bang es cendol satu tidak usah pakai cincau"seru Aqila antusia. Remaja itu memperhatikan setiap tidakan yang dilakukan pedagang tersebut sampai selesai.
"Ini neng esnya"ujar akang cendol itu.
"Berapa bang"seru Aqila sembari memeriksa kantongnya.
"10 ribu aja neng"jawab akang cendol sembari membersikan gerobak. Aqila yang belum kunjung menemukan uang menjadi panik. Abang cendol menatap Aqila curiga. Terlihat dari lirikannya.
"Maaf bang uang saya ketinggalan." seru Aqila pelan. Sungguh dia kini sangat malu. Terlebih lagi melihat tatapan menghina dari tukang cendol.
"Neng kalau tidak ada uang jagan sok-sok kesini. Gaya elit tapi bayar cendol sulit." ujar pedagang itu menghina.
"Bang, bukanya saya sengaja tidak mau bayar. Tapi uangan saya tertinggal. Abang jagan menghina seperti itu dong." balas Aqila marah.
Suara besar remaja itu menarik perhatian orang-orang yang ada. Sehingga mereka segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Lah mengapa situ yang marah seharusnya saya dong."ujar abang cendol tidak mau kalah. Dia menuju ke arah Aqila yang berdiri dengan angkuh.
"Lagian situ, orang bicara jujur malah dihina"
"Makanya bayar dagangan saya" ujar abang cendol keras. Semua orang saling lirik satu dan yang lainta. Terlihat sekali mereka mengatai Aqila. Remaja itu berusaha tetap tenang dan sabar. Retina hitamnya tak sengaja melihat seorang yang dia kenal.
"OY...COWOK ANEH" seru Aqila antusias. Tapi sayangnya sang objek masih terus berjalan santai.
"Apa neng bilang." ujar pedangan marah karena dibilang cowok aneh.
"Saya tidak panggil situ. jagan geer"balas Aqila malas.
"WOY... FAUZI"teriak Aqila sekali lagi. Beruntung laki-laki itu peka dan segera menuju orang yang memanggilnya.
"Tolong bayarkan aku, nanti ganti." seru Aqila berbisik agar tidak banyak yang tahu. Fauzi yang mengerti situsai segera mengeluarkan uanga 50 ribu dari dompenya. Dia segera memberikanya kepada perempuan yang ada didepanya sekarang.
"Ini, buatkan aku dua"seru Aqila ketus. Pedagang tersebut mengambilng uang tersebut dengan kasar dan kembali ke tepat semula.
Orang-orang mulai membubarkan diri. Semua kembali dengan urusan masing-masing. Tak lama pesanan Aqila sudah siap. Aqila memberikan satu Es cendol kapada Fauzi yang masih berdiri seperti patung. Dia melihat sekitar taman intes. Mereka jalan menuju bangku taman yang tidak jahu disana.
aku mampir nih,like dan komen mendarat ya
mampir juga "sepotong sayap patah" di tunggu like dan komentar nya🥳