"Saya yang akan menikahi Nina" Ucapan Spontan Bara membuat keluarga Nina menatapnya dalam diam. Terlebih Nina sendiri yang tak percaya mendengar ucapan Bara barusan, Apa-apaan pria itu? mereka tidaklah saling mengenal dengan baik.
"Nggak! Nina nggak mau nikah sama Om Bara Yah." tolak Nina. Tatapan sang Ayah begitu sayu menatapnya.
"Bagaimana ayah bisa percaya dengan orang lain jika disini ada orang baik?"
"Nina nggak kenal Om Bara Yah, lagipula Ayah nggak kenal siapa Om Bara. Gimana bisa Ayah bilang kalau Om Bara itu Baik?" Ayah Nina tersenyum tipis sekali.
"Dari sini." Ia menunjuk bagian Dadanya, yang mengartikan bahwa dirinya tahu Bara baik karena Hatinya yang mengatakan.
"Waktu ayah nggak Lama Nak, Ayah mau kamu bersama orang yang tepat. Yang bisa Ayah percaya..." ucap Ayah Nina Lirih.
"Jangan bilang yang nggak-nggak Yah... Nina nggak mau nikah sama Om Bara"
"Lalu kamu mau mengharapkan Romi yang nggak mau mengharapkan kamu?" Nina menangis sedih.
#Sequel-Love Story
#Love St
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cindy Heni Windasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau cepet ya?
"Om Bara udah ihhh... Maafin Nina." ucapnya dengan menggoyangkan tangan Bara seperti anak kecil.
"Nggak mau."
"Syaratnya yang lain aja dong, jangan yang itu yayayaya..." bujuknya. Entah kenapa malah jadi seperti ini ending dari sedih-sedih mereka tadi. Bara memang sengaja agar Nina tidak terlalu memikirkan kesedihan nya.
"Nggak mau."
"Yaudah Nina milih ga dimaafin kalau gitu." Ucap Nina dengan santai yang membuat Bara melongo. Gadis itu berdiri dan hendak pergi entah kemana membuat Bara langsung menahannya.
"Mau kemana?"
"Siap-siap mau sholat magrib lah." Jawabnya ketus.
"Yaudah syarat lain." ucap Bara santai. Nina kembali duduk ditepi ranjang dengan menatap Bara.
"Apa syarat nya."
"Kita buat Cucu buat Mami sama Papi."
"Yaudah ayo." Bara kicep mendengar jawaban Nina. Ia tak menyangka gadis itu langsung ayo saja dengan syarat yang ini.
"Mau sekarang?" tanya Nina dengan santainya tanpa takut sedikitpun. Bara masih mematung ditempatnya, kenapa gadis itu begitu barbar sekali.
"Om mau sekarang? Atau nanti aja nih?" Nina memeluk lengan Bara dan membuat Bara menatapnya dengan tak percaya. Apakah gadis itu menggodanya? Ia merasakan lengannya yang diapit dua benda kenyal membuatnya menggelengkan kepalanya.
"Ekhemm... Kita sholat dulu, udah masuk waktu magrib." ucap Bara membuat Nina mengangguk saja. Baru langsung berlari menuju kamar mandi. Mampus Lo Bara!!!! Istrinya malah dengan santainya menerima syarat kedua yang Bara ajukan. Padahal niatnya ingin menggoda Nina saja. Namun seperti nya gadis itu terlihat biasa aja. Setelah dirinya mengambil Wudhu ia berbalik dan terkejut melihat Nina yang sudah ada dibelakang nya.
"Allahu Akbar... " Bara benar-benar terkejut. Nina tertawa melihat Bara yang terkejut, pria itu langsung keluar dari kamar mandi. Kini bergantian Nina yang mengambil air wudhu.
"Kita sholat di musholla bawah." ucap Bara langsung pergi dari sana. Ia kelantai utama dan melihat Bi asih yang menyiapkan sajadah untuk Bara dan Nina.
"Makasih bi." ucap Bara.
"Sama-sama Pak." Bara memasang sarungnya seraya menunggu Nina turun kebawah. Namun gadis lama sekali. Sampai pada akhirnya ia mendengar suara langkah kaki yang membuatnya menoleh. Wajah cantik yang tadinya cerah kini terlihat muram.
"Maaf udah nunggu lama, Mas sholat aja sama BI asih. Nina lagi ada tamu." ucap Nina tak semangat.
"Siapa tamunya?" konyol sekali pertanyaan Bara.
"Tamu wanita itumah Pak, Datang bulan." ucap Bi asih membuat Bara baru mengerti. Ia segera memulai sholat itu sementara Nina duduk di kursi meja makan dengan lemas. Sudah menjadi hal lumrah bagi wanita jadi sedang datang bulan ini perutnya terasa diremas-remas.
"Ya Allah sakit banget..." lirih Nina. Gadis yang awalnya ceria kini hanya bisa meringis kesakitan. Ia meletakan kepalanya diatas meja, menahan rasa sakit yang dirinya rasakan setiap datang bulan.
Bara baru saja selesai sholat, Ia merapikan sajadah dan Sarungnya digantungan khusus yang ada dimushola kecil rumahnya. Kemudian ia berjalan menuju dapur disana ia melihat Nina yang meringkuk, alias menelungkupkan kepalanya diatas meja makan. Ia duduk disebelah nya dan memegang tubuh Nina, ia terkejut karena tubuhnya terasa panas sekali.
"Kamu demam?" Nina menoleh menatap Bara. Wajahnya pucat sekali membuat Bara panik.
"Bi... Panggil dokter Bi." ucap Bara panik, bi asih yang masih mengenakan mukenapun berlari menghampiri Bara dan Nina.
"Neng sakit perutnya?" tanya Bu asih. Rasanya untuk menjawab saja Nina tak sanggup, ia hanya mengangguk pelan seraya menangis.
"Bibi buatin wedang Pak, Nanti mendingan sakitnya. Itu udah hal lumrah kalau wanita lagi haid." jelas Bi asih tapi tak membuat rasa khawatirnya hilang.
"Sakit banget?" tanya Bara.
"Om mau rasain nggak?" ucapan Nina membuat Bara menghembuskan nafasnya. Ia mengambil ponsel Nina dan men-shareching di internet bagaimana cara meredakan nyeri wanita datang bulan. setelah menemukan caranya, Bara langsung mengetikan sesuatu di ponsel milik Nina. Ia mengirim pesan pada Dika agar membeli alat yang sengaja fotonya ia kirimkan.
"Om ngapain."
"Nggak jadi deh kita bikin dedek" ucap Bara mencairkan suasana. Nina cemberut mendengar nya.
"Maaf ya, Nina belum bisa menuhi syarat dari Om." wajahnya tampak sedih membuat Bara gemas. Ia mengelus puncak kepala istrinya itu.
"Badan kamu panas banget gini, saya pasang pengompres ya biar dingin." Nina mengangguk pelan. Bara segera beranjak dan mencari kotak obat. Ia mengambil plester gel untuk mengompres demam. Ditempelkannya benda itu dikening Nina, gadis itu mengangkat kepalanya.
"Mau makan... Laper." ucapnya membuat Bara tersenyum. Mereka akhirnya makan malam berdua. Orang tua Bara sore tadi harus pulang karena Tirta ada kumpulan ibu-ibu sosialitanya.
"Makan yang banyak." ucap Bara dengan mengambilkan ayam goreng pada piring Nina.
Setelah makan malam Nina memilih untuk kekamar saja, ia ingin berbaring karena pinggangnya terasa begitu sakit. Sementara Bara sibuk dengan pekerjaan nya, pria itu duduk di sofa kamar dan berkutat dengan laptop nya.
Nina mengecek ponselnya dan mendapati chat dari Keira. Wanita itu menanyakan apakah dirinya sudah bisa masuk ke toko, jika belum Keira akan mencarikan orang untuk menggantikan dirinya sementara saja. Karena jika ada pesanan ada ekstra tambahan pekerjaan biasanya. Tanpa pikir panjang Nina menjawab bahwa dirinya akan masuk kerja besok.
"Om.."
"Om Bara..." Panggil Nina lagi.
"Om Bara..." panggilnya ketiga kali, pria itu tanpa menoleh sedikitpun. Ia menghembuskan nafasnya kesal, ia beranjak dari ranjang dan menghampiri Bara.
"Mas.."
"Hmmm." Bibir Nina menurut saat mendengar jawaban dari Bara.
"Besok aku kerja ya."
"Bukannya kamu masih sakit?" tanya Bara tanpa menatap gadis disebelahnya.
"ah besok juga udah nggak papa. Udah biasa inimah." jawabnya agar Bara mengACC keinginan nya.
"Kalau saya sih... No."
"Kok gitu?"
"Yaaa... karena saya maunya kamu dirumah nggak perlu kerja."
"Mulai lagi deh... Pokoknya besok aku berangkat kerja. Titik." Nina kembali keranjang besar itu dan merebahkan tubuhnya disana. Ia menutupi dirinya menggunakan selimut, Bara yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.