Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Kekacauan.
Cherry mengeluarkan uang untuk membayar makanan mereka, tapi Bang Dante menyingkirkan uang milik Cherry dan langsung membayar tagihan makan mereka.
:
Di rumah kost, Bang Dante meminta Cherry mengemasi seluruh barangnya. Kini status Shanli pasti akan menjadi Nyonya Julang Wengkar dan pastinya pria tersebut juga akan sering bertandang ke kost untuk menemui Shanli.
"Kalau Cherry keluar dari kost ini, Cherry mau tinggal dimana, Om???"
"Di hotel saja. Hanya seminggu, paling lama dua minggu, nggak lama." Jawab Bang Dante.
"Itu lama, Om. Cherry nggak punya uang sebanyak itu. Sudah lah, tinggal disini saja." Kata Cherry.
"Memangnya berapa sisa uangmu??" Tanya Bang Dante.
"Empat belas ribu." Cherry mengeluarkan uang dari dompet kecilnya yang usang. Jumlah empat ribu pun semuanya hanya coin.
"Simpan saja, saya geli lihatnya..!!" Perintah Bang Dante yang sebenarnya tidak tega melihat keadaan Cherry. "Saya lihat, kamu selalu membayar tagihan makan dan barang kalian kalau di luar. Kalian berdua sama-sama bekerja, kan??"
Pertanyaan itu tidak muncul begitu saja. Sempat beberapa kali ia melihat Cherry yang membayar tagihan apapun. Sampai pernah tadi saat makan bersama, Cherry hendak membayar tagihan makan itu juga.
"Iya, tapi Shanli punya cita-cita punya sesuatu. Jadi uang dari konten kami berdua, di tabung untuk beli motor dia." Jawab Cherry.
Kening Bang Dante berkerut mendengarnya. "Kau sendiri?? Tidak punya cita-cita???"
"Ada. Cherry pengen sepeda kayuh. Karena Cherry nggak bisa kendarainya. Cherry pengen kemana-mana naik sepeda, warna pink dan ungu yang ada keranjangnya. Bisa Cherry isi bunga dan sayuran dari pasar.
Sungguh Bang Dante trenyuh mendengar impian sederhana dari gadis sederhana. Andai Elang tau betapa tulusnya hati gadis itu, ia mungkin tidak akan mau melirik gadis lain.
"Kalau uangmu tinggal empat belas ribu, bagaimana kamu nanti makan malam??" Tanya Bang Dante semakin penasaran.
"Bisa buat mie. Masih ada mie dua biji, telur sebutir di dapur."
Kening Bang Dante kembali berkerut. "Besok???????"
"Puasa donk. Besok hari Kamis, uangnya untuk bekalnya Shanli."
'Astaghfirullah hal adzim, dek. Kepolosanmu ini sungguh di luar dugaan, lebih parah dari apa yang saya takutkan. Asal kau tau, saya semakin ragu untuk membiarkanmu sendiri.'
"Cepat kemasi barangmu, kita pergi sekarang..!!" Ajak Bang Dante.
"Bagaimana dengan Shanli???" Tak hentinya gadis polos ini mencemaskan sahabatnya.
"Seharusnya, selama ada Elang.. Dia akan baik-baik saja. Sama sepertimu. Selama saya ada disini, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu." Kata Bang Dante.
Bang Dante menghela napas panjang, menatap gadis di hadapannya itu dengan campuran rasa haru, kagum, dan tak sanggup yang begitu dalam. Hatinya terasa dihantam berkali-kali oleh kesederhanaan dan ketulusan Cherry yang sungguh di luar dugaan — gadis itu rela menahan lapar, rela menunda mimpinya sendiri, hanya demi sahabatnya. Sementara orang yang seharusnya menjaganya justru buta melihat betapa berharganya hati ini.
"Shanli..... Shanliiii..!!!!" Berkali-kali Bang Dante mengulang nama itu pelan, namun tegas. "Seperti yang saya bilang.. Selama bersama Elang, dia akan baik-baik saja. Shanli sudah punya tempat untuk bersandar. Dia sudah punya seseorang yang akan menjaganya, memastikan dia tak kekurangan apapun. Kau pun harus dapat hal yang sama. Kau juga pantas untuk bahagia, juga pantas tidak perlu berpikir dari mana uang untuk makan besok, atau harus berpuasa demi orang lain."
...
Cherry melihat ke arah sekitar. Kamar itu memang sangat bagus, luas, tenang dan menyenangkan. Ia melihat satu persatu detail kamar tersebut.
"Suka atau tidak??"
"Suka, Om. Malah sangat suka." Jawab Cherry.
"Soal makan nggak usah bingung. Nanti ada yang mengantar makanmu. Pilih saja apa yang kamu mau. Soal kuliah, kalau saya tidak bisa jemput, kamu pulang di antar jemput ajudan saya, kalau terpaksa tetap tidak bisa, nanti orang dari hotel ini yang mengantarmu..!!" Kata Bang Dante. "Kamu tidak perlu bilang Shanli, dimana kamu tinggal. Cukup katakan kalau kamu sudah dapat tempat yang cocok."
Cherry mengangguk menurut, perlahan ia memahami situasi tapi belum begitu pintar mengambil tindakan.
"Paham betul atau tidak??"
"Iya, Om. Cherry paham."
"Oke, tidurlah. Saya balik ke mess dulu..!! Besok di antar ajudan saya, ya. Saya ada rapat di luar kota, malam baru selesai." Pamit Bang Dante sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Ini uang sakumu, cepat masukan di kantongmu..!!"
"Tapi.."
"Masuk kan..!!" Perintah Bang Dante lalu menutup pintu kamar.
***
"Ya ampun, Cher.. Kita baru bertemu sekarang. Kenapa kamu susah sekali di hubungi. Semalam kamu tidur dimana???" Tanya Shanli.
"Ada lah, tempat nyaman. Kamu pulang sendiri ya, maaf aku buru-buru." Cherry berjalan cepat masuk ke dalam sebuah mobil hitam doff.
Shanli seperti pernah melihat mobil tersebut dan ia mengingatnya, Bang Dante pernah mengendarainya.
"Pak.. Kejar mobil itu..!!" Pintanya langsung menghentikan seorang tukang ojek.
:
Shanli ternganga ternyata Cherry masuk ke dalam salah satu kamar menggunakan kunci private. Tak hanya itu, semua orang menundukkan kepala dengan sopan dan wajah tegang seolah Cherry adalah sosok yang di takuti.
"Selamat malam ibu..!! Sesuai request ibu tadi pagi, kami akan antar makan malamnya langsung ke kamar." Kata salah seorang karyawan.
"Iya. Terima kasih, ya." Jawab Cherry.
Shanli melangkah lebih cepat lagi. "Cherry...!!!!" Panggil Shanli.
Para pegawai hotel langsung menghentikan langkah Shanli, apalagi kini bagian keamanan menatapnya dengan tajam. "Mau kemana???"
"Saya di undang Cherry kesini. Kenapa tidak boleh masuk??" Kata Shanli.
Para pihak keamanan saling menatap.
...
Bang Dante memegang tengkuknya yang terasa berat. Saat memasuki lobby hotel, para karyawan menyambutnya.
"Selamat malam, bapak. Apa bapak butuh sesuatu??" Sapa salah seorang karyawan senior yang lain.
"Kopi hitam ya. Ke kamar saya..!!" Kata Bang Dante. "Makan malam istri saya sudah di antar??" Tanya Bang Dante memastikan.
"Sudah Pak.. Sama tambahan hiasan kelopak bunga mawar merah dan bucket bunga untuk beliau." Jawab Karyawan tersebut.
"Oke."
~
"Dek.." Tangan Bang Dante meletakan bungkusan martabak lalu melepas seragam luarnya.
Kakinya berjalan melangkah menuju tempat tidur. Tidak tega membangunkan Cherry tapi ada hal yang harus di bicarakan.
"Bangun sebentar bisa, dek. Setelah itu tidur lagi..!!" Pintanya sambil mengacak rambut gadis itu dengan lembut.
Tapi saat Bang Dante menyalakan lampu tidur, ia melihat sosok lain. Shanli bangun sambil mengucek matanya.
"Om Dante?????"
"Shanliiii.. Kenapa kamu bisa tidur disini????????" Bentak Bang Dante dengan suara menggelegar.
:
Bang Dante mengurut pangkal hidungnya. Disana Bang Elang masih berusaha menenangkan calon istrinya yang ketakutan karena amarah sahabatnya.
"Apa harus tarik urat begitu??? Kau sudah dencar sendiri kalau Cherry yang mau Shanli tidur disini. Lagian, berapa sih harga kamar dan semua yang kamu keluarkan?????" Ujar Bang Elang tidak terima, Shanli di permalukan. "Shanli hamil, Dante."
"Hamil karena ulahmu, to. Kenapa saya ikut menanggungnya???" Ucap Bang Dante tenang. "Saya tempatkan istri saya disini untuk memanjakan istri saya sendiri. Kenapa istrimu lancang masuk ke kamar pribadi saya. Kau tau, kan... Kamar nomer 608 ini milik saya. Lantas apa jawabanmu untuk istrimu yang lancang ini???"
Tak lama Cherry datang, ia ketakutan. Wajah Bang Dante sungguh datar tanpa ekspresi.
"Duduk..!!" Perintah Bang Dante datar namun terasa menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya.
Cherry duduk tak jauh dari Bang Dante. Ia tau pria itu sedang kesal.
"Kau cerita, bagaimana bisa Shanli ada di kamar ini..!!!!"
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara