Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu ketika Bulan menuntun Talita hendak menuju meja makan, terpaksa belok arah karena mendengar deru mobil. Bulan bersama Lita membuka pintu depan. Datang wanita paruh baya bersama wanita muda tampak dari belakang sedang menurunkan koper.
"Siapa itu sayang?" Tanya Bulan melirik Talita di sebelahnya.
"Sepertinya Nenek sama Tante Sherly, aku kesana dulu ya, Mah," Talita berlari-lari kecil tidak menunggu jawaban Rembulan mendekati dua wanita itu.
"Nenek... Tante..." seru Talita berdiri di belakang mereka menyambutnya dengan senyum lebar.
"Talita..." seru keduanya lalu si nenek membungkuk memegang pipi cucunya. "Bagaimana kabar Bunda sayang?" Lanjutnya sudah tidak sabar melihat putri pertamanya.
"Bunda lagi di kamar, ayo masuk Nek... Tante..." Talita menarik tangan keduanya.
Dua wanita itu meninggalkan koper di belakang kendaraan berharap art di rumah itu yang akan membawa ke dalam.
Mata wanita paruh baya itu menyapu sekitar dengan tatapan liar, seketika berhenti kepada sosok wanita cantik yang masih mengenakan daster tapi tetap saja anggun.
"Tunggu! Siapa wanita itu?" Tanya wanita lima puluh tahun itu menahan tangan wanita muda, hingga tertinggal oleh Lita yang sudah berlari lebih dulu ke arah Bulan.
"Paling art Kak Mentari yang baru Mah," jawab wanita muda di samping nenek mendengus pelan, memeluk erat tas mahalnya, lalu menendang pelan keramik teras seolah ditujukan kepada Rembulan yang ia pikir pembantu baru.
"Mama yakin bukan pembantu deh, derajat wanita itu sepertinya lebih biru daripada kita," bisiknya mengakui hal itu.
"Kita lihat saja Mah, jangan-jangan Dia memanfaatkan keadaan dan ambil kesempatan untuk merebut Kak Bintang dari sisi Kak Mentari yang sedang sakit," tutur Sherly menyeringai tajam ke arah Bulan.
"Kamu benar," Ratih curiga jika Bulan menginginkan harta Bintang yang banyak itu.
Keduanya pun berjalan ke arah Bulan dengan wajah angkuh dan penuh curiga.
"Siapa kamu?" Tanyanya mencoba untuk tidak menunjukkan kecurigaan terlebih dahulu.
"Ini Mamah aku, Nek."
Bulan belum sempat menjawab, Talita mendahului.
"Mama?!" Tandas Ratih dan Sherly, lalu saling pandang tidak tahu apa maksud Talita.
"Ya Mama aku Nenek..." ulang Lita merangkul lengan Rembulan manja.
"Siapa kamu?!" Ratih memastikan dengan nada tinggi, menatap Bulan angkuh. Ternyata kecurigaannya benar bahwa ada wanita yang mengganggu keharmonisan rumah tangga putri pertamanya.
"Selamat pagi Bu... nama saya Rembulan," Bulan mengangguk santun, tangannya mengusap bahu Talita yang mulai bersembunyi di belakang punggungnya, tampak takut dan kaget mendengar bentakan wanita yang ia panggil nenek.
"Sherly! kita masuk, sepertinya ada yang tidak beres!" Ujar Ibu Ratih dengan wajah sinis, melangkah cepat hingga menabrak lengan Bulan.
Bulan hanya termangu di tempat, bayangan akan terjadi kekacauan pagi ini sudah di depan mata. Dari wajah wanita yang bernama Sherly itu mirip sekali dengan Mentari jelas sudah tahu jika mereka ibu dan adik kandungnya.
Bulan ingat benar ketika sekolah dulu, Mentari tinggal di rumah neneknya karena saat itu mama dan papanya tinggal di negara Asia, tentu saja Bulan tidak mengenal mereka.
Sherly menyeringai menatap Bulan tidak suka, lalu menyusul Ratih ibunya.
"Talita, kita masuk yuk..." Bulan menuntun Talita masuk. Dia bersikap yang sewajarnya di depan Talita, walau perasaan khawatir mencengkeram dadanya.
"Talita makan sama Mbak Entin dulu ya, Tante Bulan mau ganti baju dulu," kata Bulan ketika melihat Entin sedang menyapu lantai.
"Iya Mah... Kok aku suruh panggil Tante lagi..." protes Talita yang sudah nyaman dengan panggilan itu.
Bulan hanya mengangguk tersenyum, Talita hendak memanggil apapun tidak akan dia permasalahkan.
Apa yang akan terjadi dengan sikap keluarga Mentari kepadanya terjadilah. Toh mereka sudah mendengar panggilan Talita kepadanya. Bulan yakin cepat atau lambat orang tua Mentari akan mengetahui jika ia menikah dengan Bintang tentu saja ini akan menimbulkan masalah besar dan dirinya yang disalahkan.
"Mentari sudah diantar sarapan Tin?" Tanya Bulan menghentikan langkah Entin yang menuntun Talita ke meja makan
"Sudah Dok, sekarang sedang di suapi Tuan," jawab Entin seperti yang ia lihat saat keluar tadi.
Bulan mengangguk lalu berjalan ke kamar hendak ganti pakaian. Waktu sudah jam tujuh ia tidak mau terlambat ke rumah sakit.
Tiba di luar pintu kamar, Bulan menghentikan langkah kakinya. Memandangi seluruh pakaian dan barang-barang miliknya berserakan di lantai. Jelas Bulan tahu siapa pelakunya.
Bulan menjatuhkan lututnya di lantai, air matanya jatuh membasahi koper. Sungguh tidak berharganya ia berada di rumah ini. Inilah awal penderitaan dimulai, bayangan hari-harinya akan mengalami hal buruk semacam ini sudah berada di pikiran.
"Hahaha..." tawa Sherly yang berdiri di tengah pintu terdengar nyaring.
Bulan seketika mengangkat wajahnya yang berderai air mata, menatap ekpresi wajah Sherly seolah puas dengan apa yang telah dilakukan.
Belum hilang rasa kecewa karena ulah Sherly, muncul Ratih yang menatapnya sinis.
"Bu, Dek... Kalau tidak suka barang-barang saya berada di kamar ini tinggal bilang saja pasti saya bawa keluar kok, tidak dibuang-buang seperti ini," tegas Rembulan sambil memasukkan pakaian ke dalam koper.
Selanjutnya membereskan alat make up dengan dada sesak, bedak padat sudah pecah dan tumpah ke lantai, lipstik pun sudah terpisah dari tutupnya, bahkan parfum kesayangan pecah hingga aroma nya menyebar keseluruh lorong. Jelas botol beling tersebut dibanting dengan keras karena beling halus berserakan di lantai.
"Itu karena kamu lancang!" Bentak Ratih mendelik merah.
"Saya tidur di kamar ini karena di suruh Mentari Bu..." Bulan masih berusaha membela diri.
"Tapi saya tidak setuju! Kamar ini akan kami pakai untuk beristirahat. Tidak pantas ditempati wanita asing sepertimu!" potong Ratih.
"Benar sekali, loe jangan ngarang cerita! Kakak gue tahu kok, kalau kami mau datang ke rumah ini!" Balas Sherly sinis. Dari dulu setiap keluarga datang ke rumah ini pasti tidur di kamar. Walau lebih besar dari kamar utama tapi lebih luas dibandingkan kamar yang lain.
"Sebaiknya kamu tidur di belakang bersama art!" Tandas Sherly menyilang tangan di dada, disambut tawa Ratih menatap barang-barang Bulan yang berserakan itu merasa puas. Kakinya menendang tas kecil tempat make up hingga jatuh tepat di wajah Rembulan.
Saat kejadian itu derap langkah kaki yang bergerak cepat datang mendekat. Dia adalah Bintang yang sudah mengenakan baju kantor, keributan itu rupanya terdengar dari kamar.
"Ada apa ini Mah? Sherly?" Tanya Bintang menatap mertua dan adik iparnya bergantian, lalu pindah ke lantai yang seperti kapal pecah. Berakhir ke wajah Bulan yang masih terdengar isaknya.
"Sebelum kami jawab, jawab dulu pertanyaan saya. Siapa wanita asing ini! Bintang?!"
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌