Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Tok- Tok - Tok.
"Maaf Nyonya, di bawah ada teman Nona Sherin." kata Hasan ketika Nismara dan Miranti menoleh bebarengan ke arahnya.
"Teman sekolah?" tanya Nismara sambil berdiri. Miranti mengekor.
"Iya, Nya. Dia bilang mau menyerahkan barang-barang Nona Sherin, dan dia ingin menyerahkan secara langsung pada Nyonya." Sahut Hasan dengan sopan.
Nismara dan Miranti saling pandang.
"Okey. Saya temui dia, makasih Pak Hasan."
Hasan sedikit membungkukkan badan untuk membalas ucapan majikannya. Kemudian membiarkan Nismara dan Miranti untuk melewati dirinya terlebih dahulu. Baru Dia berjalan di belakang dua perempuan cantik itu. Di ujung tangga, Hasan segera melesat masuk ke dalam. Sedang Nismara dan Miranti menuju ke depan.
Di ruang tamu, ada seorang gadis yang tengah duduk gelisah. Dia memakai seragam sekolah yang sama dengan Sherin dulu.
Mata Nismara menyelidik. Rasanya dia baru pernah melihat wajah gadis itu. Sherin terkadang memboyong beberapa teman-temannya untuk membuat onar di rumahnya, tapi gadis ini terlihat berpenampilan beda dengan kebanyakan teman Sherin.
"Tan- te, selamat so- re." Gadis itu berdiri ketika melihat Nismara dan Miranti mendekat, lalu mengangguk dengan canggung.
"Sore, siapa ya? Kamu teman Sherin?"
"Bukan, eh iya, eh......" Gadis itu memandang takut-takut.
"Duduklah dulu!" Nismara tersenyum.
Dan Gadis itu menghempaskan tubuhnya dengan menunduk, tapi ekor matanya tidak berhenti melirik ke kanan dan ke kiri.
"Nama kamu siapa?" Nismara mengulang pertanyaannya. Dan kali ini dia tidak akan bertanya sekaligus. Agaknya gadis di depannya sedang merasa sangat gelisah.
"Saya Syarifah, Tan. Tapi saya bukan teman Kak Sherin." sahutnya cepat.
"Maksudnya?" Miranti menimpali. Dia juga heran dengan pengakuan gadis itu.
"Saya adik kelas dari Kak Sherin dan saya terpaksa mengantar ini karena pesan dari Kak Sherin dulu." Gadis itu meletakkan sebuah tas tangan. Kemudian dia langsung bergegas melangkahkan kaki hendak pergi.
"Eh, sebentar!"
Gadis itu malah lari menuju pintu.
Nismara buru-buru mengajar. Beruntung karena rok Gadis itu panjang, langkahnya tidak bisa terlalu gesit.
"Tunggu, kenapa kamu lari?" Nismara telah berhasil menahan Syarifah pergi.
"Tolong biarkan saya pergi. Yang penting barang Kak Sherin sudah saya serahkan." Gadis itu tiba-tiba menangis. " Saya nggak mau mati. Tolong lepaskan saya!"
"Hai, kamu ini ngomong apa sih Syarifah?" sentak Miranti. Lama-lama dia gregetan juga melihat Syarifah terus memberontak di tangan Nismara. " Kamu pikir kita mau bunuh kamu apa gimana? Aneh!!!!"
Nismara dan Syarifah langsung mematung. Kaget mendengar Miranti dengan suara menggelegar itu.
"Ma- maaf, aku kelepasan, Nis." Miranti berkata sambil melayangkan pandangannya pada tuan rumah. Lalu dia duduk lagi. "Dan Kamu itu aneh sekali Syarifah. Drama banget!"
Nismara menyeringai, kemudian menatap Syarifah. " Syarifah kami ini cuma mau tanya aja lo. Tapi gerak-gerik kamu kok malah mencurigakan. Atau jangan-jangan kamu tahu sesuatu tentang kematian Sherin?"
"Eng- Nggak, Tan, a- aku nggak tahu apa-apa." jawab Gadis itu masih dengan nada takut.
"Misi Nyonya, Bu Miranti." Titin datang dengan nampan di tangan ada tiga gelas jeruk peras segar di atas nampan. Salah satu asisten rumah tangga Nismara itu melirik sekilas ke arah majikannya yang terlihat mencekal tangan seorang gadis. Nismara buru-buru melepaskan cengkramannya.
"Duduklah, Syarifah. Setidaknya minum dulu, sebagai ungkapan terima kasih saya atas kebaikan hati kamu sudah mau repot mengantar tas milik Syahrini." kata Nismara sambil mengelus pundak Syarifah.
"Makasih ya, Mbak Titin." Nismara berkata saat Titin mengundurkan diri sambil sedikit membungkuk.
"Ya, silakan nyonya. Permisi." Titin masuk ke dalam rumah dengan cepat.
" Duduklah Syarifah!" kata Miranti, sebab Dia melihat kaki Syarifah masih terancam-rancang untuk pergi. Lalu suara Miranti naik satu oktaf. "Duduklah! Kami nggak segan-segan laporin kamu ke polisi kalau perilakumu mencurigakan loh."
Baik Syarifah maupun Nismara terkesiap sekali lagi dengan ancaman Miranti. Gadis yang tampak memujat itu tidak punya pilihan lain, akhirnya dia duduk berlahan. Nismara pun kembali ke tempat duduknya.
"Minum dulu, Syarifah. Ayo, Mir, kita temani Syarifah minum." Nismara berucap. Satu tangannya sudah mengangkat gelas dan meminumnya. Dua tamu Nismara pun melakukan hal yang sama.
"Nah, Syarifah, Tante mau tanya kenapa kamu tadi bilang nggak mau mati? Pasti kamu tahu sesuatu tentang kematian Sherin kan?" Nismara bertanya saat mereka sama-sama selesai minum.
Syarifah menunduk, sedetik kemudian menggeleng. "Sa- saya dua hari ini di bayang-bayangi Kak Sherin, Tan."
"Hah, dibayang-bayangi gimana?" Nismara mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Syarifah.
"A- ada han- hantu Kak She- Sherin." Syarifah menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Serius?" Nismara dan Miranti kompak berseru.
"I- iya, Tan. Tiap malam ada bayangan di jendela kamar saya, lalu disusul suara Kak Sherin, dia bilang balikin tas gue ke rumah, balikin tas gue ke rumah. Gitu....." suara Syarifah parau.
Nismara melotot sempurna begitupun juga Meranti.
"Kamu yakin itu suara Sherin?" cetus Miranti.
"Iya, Tan, sa- saya yakin seyakin-yakinnya, itu suara Kak Sherin. Ta- tapi Saya tidak berani buka jendela, jadi saya hanya lihat ada bayangan saja."
Nismu berdiri lalu pindah duduk ke sebelah Syarifah. " Coba ceritakan awalnya kenapa tas itu ada di kamu."
"Iya, kan katanya Kamu adik kelasnya, dan bukan teman Sherin." timpal Miranti cepat.
Syarifah meremas-remas tangannya sendiri, dia melirik pada Miranti. Seperti nya dia takut dibentak lagi oleh Miranti.
"Cerita kan, Syarifah. Tolong jujur saja jangan ada yang ditutup-tutupi. Saya maminya Sherin, jadi nggak apa-apa kan kalau mau tahu tentang anak sendiri?" Nismara mencoba membujuk. "Pasti kamu juga tahu sharing itu meninggal karena..... bu- bunuh diri."
Rasanya berat sekali suara Nismara saat mengucapkan dua kata terakhir dalam ucapannya barusan.
Syarifah menelan saliva lalu melirik. Masih dengan ekspresi takut-takut.
"Kalau itu tante Miranti, tantenya Sherin. Mungkin kamu pernah lihat dia di sekolah kan? Karena tante Miranti yang mengurusi sekolah Sherin, termasuk kalau dulu lagi bandel." lanjut Nismara sambil tertawa ringan. Berharap Syarifah menjadi lebih tenang dan nyaman. "Sherin lebih dekat dengan tantenya daripada maminya karena saya sibuk."
Miranti memutar bola matanya dengan malas. "Ayo cerita Syarifah. Itu maminya Sherin sendiri yang minta, nanti kalau kamu nggak mau, kamu didatangi arwah Sherin lagi lho, mau kamu?"
"Enggak, Tante. Aku nggak mau." sahut Syarifah cepat.
Nismara dan Miranti menyeringai.
Syarifah menatap Nismara dan Miranti sekilas. "Jadi waktu itu, kalau nggak salah dua atau tiga hari sebelum Kak Sherin meninggal, Saya baru datang di gerbang sekolah. Saya papasan dengan sebuah mobil, tiba-tiba jendela mobil terbuka, yang ternyata ada Kak Sherin di dalamnya. Kak Sherin melempar tas itu ke saya dan berteriak pada saya. 'Titip!"
Syarifah berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Wajah nya menengadah beberapa detik lalu menunduk lagi, ketika melihat dua pasang mata menatap dengan tajam ke arahnya. "Tas itu saya simpan di loker saya, Karena setelah itu saya nggak pernah ketemu Kak Sherin. Saya coba cari kak Sherin di kelasnya, tapi katanya Kak Sherin udah lama nggak masuk, tiba-tiba besoknya saya mendengar Kak Sherin meninggal dunia."
Lagi-lagi Syarifah berhenti untuk mengambil nafas. Nismara dan Miranti.
"Saya juga sudah coba titip ke Kak Joana, tapi dia nggak mau dititipin. Padahal Kak Joana itu saya lihat bareng satu mobil sama Kak Sherin waktu itu. Kak Joana dia nggak tahu di mana Kak Sherin." ucap Syarifah melanjutkan ceritanya.
"Joana itu Jojo?" Nismara melempar pertanyaan.
"Iya." Syarifah dan Miranti menjawab hampir bersamaan.
"Bukan nya dia sahabat Sherin? Aku beberapa kali melihat dia di rumah ini." Nismara menegaskan sekali lagi. "Eh, tunggu, aku juga melihat dia melayat waktu itu. Iya kan, Mir? Bareng dengan pihak sekolah kalau nggak salah."
Miranti mengangguk. "Kok aneh dia nggak mau dititipin tas Sherin."
"Terus maksudnya dia bilang nggak tahu di mana Sherin itu apa?" timpal Nismara.
Syarifah terdiam. Dia menganggap dua perempuan dewasa itu tidak sedang bertanya padanya. Tampak nya mereka hanya mengulas cerita yang baru saja dia utarakan.