Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
"Sialan, sistem ini benar-benar tidak pernah salah kalau urusan cari masalah," gerutu Arya panik setengah mati.
Ia mondar-mandir di dalam ruangan sempit itu sambil memegang kepalanya yang pening.
Vanya justru berdiri dengan tenang sambil menyunggingkan senyum kemenangan di bibirnya.
"Kenapa panik begitu? Bukankah ini kesempatan bagus untuk melihat sejauh mana kekuatan manusia rendahan sepertimu?" cibir Vanya mengejek.
"Paniklah! Yang datang itu pasukan elit kerajaan, bukan preman pasar kemarin!" bentak Arya kesal.
"Sudahlah, biarkan mereka datang dan kubuat kepala mereka terpisah dari badan," ucap Vanya dingin penuh darah.
[Peringatan Keras: Pasukan elit kerajaan telah memasuki area radius sembilan puluh meter dari kediaman Host.]
Suara dengungan sistem itu kembali berputar kencang tanpa henti di dalam kepala Arya.
"Sial, mereka datang lebih cepat dari perkiraan," gumam Arya semakin pucat pasi.
Ia melangkah ke dekat jendela kecil dan mengintip keluar melalui celah gorden yang kotor.
Tap... tap... tap...
Suara derap sepatu berzirah besi mulai terdengar bergemuruh memenuhi gang sempit.
Puluhan prajurit berpakaian zirah lengkap dengan lambang istana mengepung area kontrakan kecil itu.
"Wah, gawat darurat, kita benar-benar sudah dikurung dari segala penjuru," ucap Arya lemas.
Vanya melangkah mendekati jendela lalu mengintip sekilas dengan tatapan meremehkan.
"Hanya puluhan prajurit rendahan berzirah tipis, mereka bahkan tidak layak dijadikan mainan," komentar Vanya santai.
"Mainan kepalamu peang! Kalau mereka membakar tempat ini kita bakal mati panggang!" protes Arya sewot.
"Kalau begitu kita keluar dan hancurkan mereka sekarang juga," usul Vanya tanpa beban.
"Jangan gegabah! Kalau kamu mengamuk pakai kekuatan penuh, identitasmu sebagai Ratu Iblis bakal ketahuan seluruh negeri!" larang Arya tegas.
Vanya menatap Arya dengan sebelah alis terangkat tinggi tanda heran.
"Sejak kapan kamu peduli dengan identitasku?" tanya Vanya menyelidik.
"Bukannya peduli sama kamu, tapi kalau identitasmu ketahuan, urusannya bakal makin panjang dan aku nggak bisa hidup tenang!" jawab Arya jujur.
Vanya terdiam sejenak, menatap lurus ke arah Arya yang tampak sibuk memikirkan jalan keluar.
Brak...
Suara hantaman keras terdengar dari pintu gerbang kecil di depan gang kontrakan.
"Arya! Keluar kamu pengkhianat kerajaan! Tempat ini sudah kami kepung total!" teriak suara komandan pasukan dari luar.
Arya menghela napas panjang, menyadari tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri lewat belakang.
"Mau tidak mau kita harus menghadapi mereka," kata Arya pasrah sambil memegang tas pijitnya.
Vanya menyeringai lebar, aura dingin mulai mengalir keluar dari telapak tangannya.
"Baguslah, biarkan aku yang membuka jalan keluar untukmu," ucap Vanya berbahaya.
Arya menoleh cepat lalu mencengkeram pergelangan tangan Vanya untuk menghentikannya.
"Jangan gunakan kekuatan iblismu secara terang-terangan, gunakan cara lain," perintah Arya serius.
"Cara apa lagi yang bisa dipakai menghadapi puluhan prajurit berpedang?" tanya Vanya bingung.
"Ikuti saja rencana konyolku, jangan membantah kalau tidak mau celaka," jawab Arya meyakinkan.
Vanya mendengus kesal namun ia memilih menuruti perkataan Arya untuk saat ini.
Kriet...
Arya membuka pintu depan kontrakannya perlahan-lahan ke samping.
Di luar, puluhan prajurit elit menodongkan tombak tajam tepat ke arah wajah Arya.
"Angkat tanganmu! Jangan bergerak atau tubuhmu bakal jadi sate!" bentak sang komandan pasukan galak.
Arya mengangkat kedua tangannya ke atas sambil tersenyum cengengesan tanpa rasa takut.
"Wah, rame banget pagi-pagi, mau daftar jadi pelanggan pijit saya ya, Komandan?" sapa Arya santai.
Komandan pasukan berbadan besar itu memelototkan matanya geram mendengar ucapan mengejek Arya.
"Kurang ajar! Tangkap dia dan hancurkan bangunan ini sekarang juga!" perintah komandan murka.
Prajurit terdepan langsung maju serempak untuk meringkus tubuh Arya.
Arya menarik napas dalam-dalam, bersiap menggunakan teknik pijit tempur tingkat tinggi dari sistem.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi pertempuran skala besar.]
[Mendapatkan dorongan energi tempur sementara dari sistem!]
Suara dengungan sistem itu langsung memenuhi kepala Arya, memberikan aliran tenaga luar biasa di ototnya.
Arya melompat maju ke depan menyambut terjangan prajurit pertama dengan gesit.
Bugh...
Satu pukulan telak mendarat pas di titik saraf rahang prajurit tersebut.
Prajurit itu langsung terjatuh pingsan seketika tanpa sempat melawan balik.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia lolos!" teriak komandan panik melihat anak buahnya tumbang.
Vanya berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan di dada, memperhatikan aksi Arya dengan tatapan tertarik.
"Lumayan juga gerakan manusia itu setelah mendapat dorongan sistem," batin Vanya mengakui dalam hati.
Arya terus melancarkan gerakan cepat, menekan titik-titik akupuntur vital prajurit yang menyerangnya.
Brak... dugh...
Suara baku hantam terdengar nyaring di gang sempit kontrakan.
Puluhan prajurit elit istana kocar-kacir menghadapi teknik pijit tempur aneh yang tidak biasa itu.
Komandan pasukan itu melihat anak buahnya tumbang satu persatu langsung dikuasai amarah besar.
"Keparat! Biar aku sendiri yang mencincang tukang pijit keparat ini!" murka sang komandan.
Ia menghunus pedang panjangnya tinggi-tinggi lalu menerjang ke arah Arya dengan kecepatan penuh.
Arya menyipitkan matanya tajam, melihat celah kosong di pertahanan sang komandan.
Ssh...
Desisan angin tajam meluncur deras mengarah ke leher Arya.