Setelah kematian sang suami yang berprofesi sebagai pilot, Ranum memilih untuk hidup menjanda dan lebih mengutamakan karier. Kesuksesan pun dapat dia raih dengan mudah, tetapi berbanding terbalik dengan perasaannya. Dia tak pernah melepaskan pakaian berwarna hitam selama menjalani hidup sendiri. Hal itu menjadikan Ranum seperti sebuah pelangi yang tanpa warna. Namun, pertemuannya dengan Pramoedya Aryatama yang merupakan mantan kekasih saat remaja, telah berhasil membuat dia kembali bergairah. Dari sana pula, satu per satu kisah kelam masa lalu yang selama ini menjadi rahasia mulai terungkap, dan membuat Ranum mengetahui siapa dia yang sebenarnya.
"Jika warna pelangi itu telah pergi, maka biarkan aku yang membawanya kembali."
(Pramoedya Aryatama/Arya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 ~ Kembali ke Pelukan Arya
Nurmaida tampak tidak menyesal telah menampar Ranum sekeras itu. Ia justru merasa puas karena telah memberi putri bungsunya itu sebuah pelajaran, agar Ranum dapat lebih memahami apa yang ia inginkan.
"Lihatlah! Ibu bahkan sekarang berani menamparku hanya demi seorang pria yang belum tentu dapat membuatku bahagia!" Teriak Ranum histeris.
"Kenapa Ibu tidak membiarkan aku tenang? Beri aku waktu sejenak untuk berpikir! Tetapi Ibu tidak bisa melakukan hal sekecil itu untukku! Ibu terus memaksakan kehendak Ibu padaku! Apakah Ibu tidak sadar, jika Ibu sudah melakukan ketidakadilan padaku?" Ranum marah. Pada akhirnnya ia tidak dapat menahan emosinya lagi.
"Ini semua karena kesalahanmu sendiri! Andai saja kamu mau mengerti maksud dan keinginan Ibu, ini semua tidak akan terjadi!" Bentak Nurmaida. Emosi wanita paruh baya itu ternyata belum hilang juga.
"Baiklah. Salahkan aku terus!" Ranum masih dengan nada bicaranya yang keras.
Ia kemudian menuju lemari pakaiannya dan mengambil sebuah cardigan rajut dari sana. Meraih tasnya, ia keluar dari kamar dan meninggalkan Nurmaida sendirian.
Namun, wanita itu tidaklah tinggal diam. Ia segera mengejar Ranum. "Mau kemana kamu?" Tanyanya masih dengan amarah yang tinggi. Ranum tidak mempedulikannya. Ia terus melangkah meninggalkan ibunya sendirian.
"Ranum!" Panggil Nurmaida keras.
Ranum tidak menggubrisnya sama sekali. Ia pun masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobil itu dengan cepat.
Bagaimanapun juga, Nurmaida adalah seorang ibu. Ia pastinya khawatir karena Ranum berkendara dalam keadaan marah.
Benar saja, Ranum memang menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia benar-benar kesal hari ini. Ia tidak tahu harus kemana. Ia terus menjalankan mobilnya tanpa arah, hingga sampailah ia di depan bengkel milik Arya.
Ranum tertegun.
Kenapa aku kembali kemari? Pikirnya dalam hati.
Ia lalu menyandarkan kepalanya, sementara tangannya masih diatas kemudi. Pipinya masih terasa sakit akibat tamparan keras Nurmaida tadi.
Ranum kemudian menurunkan kaca jendela mobilnya. Bengkel itu sudah tutup. Namun, ia memilih untuk tetap turun dari mobilnya.
Tanpa stiletto ataupun dress cantik yang biasa ia kenakan. Hanya sebuah hot pants jeans berwarna hitam dengan atasan tanktop hitam yang dilapisi cardigan rajut berwarna milo dan sebuah sandal jepit. Rambutnya pun tidak serapi biasanya.
Ranum berdiri dan bersandar pada mobil sedan hitam miliknya. Melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap rolling door yang tertutup rapat itu. Lama ia berdiri disana. Ia sendiri bingung dengan apa yang akan dilakukannya sekarang.
Selang beberapa saat, ada tiga orang pria lewat di hadapannya. Tentu saja mereka tidak akan melewatkan untuk tidak menggoda gadis cantik dengan kaki jenjang dan mulus itu. Namun, Ranum tidak mempedulikan mereka. Ia juga sepertinya tidak merasa takut, apa lagi ia hanya seorang diri.
Mereka belum tahu jika Ranum adalah pemilik sabuk hitam taekwondo.
Ranum hanya mendelik pada ketiga pria yang mencoba merayunya itu. Dalam hati ia menggumam, "Haruskah ku lampiaskan amarahku kepada mereka? Pasti menyenangkan jika aku dapat menendang kantong semar mereka dengan keras," Ranum pun senyum-senyum sendiri.
Namun sayang, sebelum ia benar-benar mewujudkan apa yang ia pikirkan, terdengar suara panggilan yang rasanya ia kenal. Ranum menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Arya berdiri dengan gagahnya. Masih dengan kaos oblong warna gelap dengan celana jeansnya yang sobek-sobek, ia tampak menjinjing sebuah kresek berwarna putih.
Melihat kehadiran Arya, ketiga pria itupun akhirnya pergi. Sementara Ranum tersenyum melihat pria itu.
"Kenapa sendirian disini?" Tanya Arya seraya menghampiri Ranum.
Ranum tidak menjawab. Ia hanya menatap Arya dengan tatapan aneh. Sementara Arya hanya memicingkan matanya. "Mau masuk?" Tanyanya.
Ranum masih menatapnya dengan mulut tertutup rapat, ketika Arya membuka rolling door itu. Ia lalu mengajak Ranum untuk masuk.
Ranum menurut saja, ia mengikuti Arya masuk ke dalam bengkel itu dan naik ke lantai atas. Arya meletakan kantong kresek yang ia bawa tadi di atas meja. Sementara Ranum masih berdiri menatapnya. Arya tidak mempedulikan Ranum untuk sesaat. Ia sibuk dengan nasi goreng yang baru ia beli.
"Jika tahu kamu akan kemari, aku pasti akan membeli dua bungkus," ucapnya seraya meletakan piring dengan isi nasi goreng itu.
Ranum masih belum mengeluarkan sepatah katapun, dan itu membuat Arya menjadi heran.
Ia kemudian mengajak Ranum untuk duduk di tempat Ranum duduk tadi siang.
"Ada apa?" Tanya Arya pelan. Ia seperti seorang ayah yang bertanya kepada putrinya.
"Aku tidak tahu kenapa mobilku ternyata malah berhenti di depan bengkelmu. Padahal baru tadi siang aku baru dari sini," gumam Ranum pelan.
"Apakah ada masalah?" Tanya Arya lagi.
Ranum menatapnya. Mata indahnya tampak sayu. Pipi sebelah kirinya tampak agak memerah.
"Pipi kamu kenapa?" Tanya Arya yang penasaran dengan keadaan Ranum.
Tanpa sebuah kata permisi, Ranum tiba-tiba menghambur ke dalam pelukan Arya, dan membuat pria itu kebingungan. Ia seperti tidak tahu harus bagaimana, tetapi pada akhirnya ia pun membalas pelukan itu.
"Ada apa?" Bisiknya membuat hati Ranum bergetar.
Perlahan Ranum melepaskan pelukannya. Ia sadar dan seharusnya jangan bersikap terburu-buru seperti itu.
"Aku hanya sedikit kacau hari ini," jawab Ranum pelan.
"Mau bercerita padaku?" Tanya Arya.
Ranum menatapnya. Ya Tuhan, wajah itu seribu kali lebih menggoda daripada nasi goreng spesial yang tersaji di dalam piring itu.
"Aku bertengkar hebat dengan ibuku," jawab Ranum pelan. Tanpa canggung ia bicara kepada Arya.
"Kenapa bisa sampai bertengkar?" Selidik Arya.
"Semuanya karena teman baikmu itu," jawab Ranum dengan kesal.
"Farhan?" Tanya Arya lagi.
Ranum mengangguk pelan. Arya tersenyum. Ia menatap Ranum dengan wajah cemberutnya.
"Apa yang sudah dilakukan Farhan sehingga kalian berdua bisa bertengkar hebat?" Tanya Arya dengan santai. Ia seperti tidak menanggapi serius meski wajah Ranum sudah sangat kusut seperti kertas koran bekas.
"Saat pulang dari sini, ternyata Farhan sudah berada di rumahku. Ia menungguku, dan aku tidak tahu apa maksudnya melakukan hal seperti itu?" Keluh Ranum.
Arya tidak menjawab. Ia masih menatap mantan pacarnya itu.
Ranum kemudian menceritakan semua yang terjadi, pertengkaran antara dirinya dan Nurmaida sampai akhirnya ia mendapat hadiah sebuah tamparan di pipinya.
"Aku tahu, aku salah karena berkata seperti itu kepada ibuku. Akan tegapi saat itu aku benar-benar kesal padanya. Aku merasa ibu sudah sangat keterlaluan mencampuri kehidupanku. Aku tidak suka hal itu," jelas Ranum. Ia tetap mencari pembenaran atas dirinya.
"Lalu, sekarang kamu lebih memilih melarikan diri dari rumah, daripada harus duduk berdua dengan ibumu dan berbicara baik-baik?" Arya terdengar seperti menyindir sikap Ranum yang salah.
"Kami tidak akan bisa bicara dengan baik-baik. Ibu akan selalu marah setiap kali kami membahas masalah seperti ini. Ini bukanlah pertengkaran pertama kami," jelas Ranum lagi.
"Wah, parah juga ya," ucap Arya dengan santai.
"Kamu sudah tahu apa yang diinginkan ibumu, kenapa juga harus selalu kamu tentang?
Seandainya kamu mau mengatakan "iya", aku yakin tidak akan ada pertengkaran di antara kalian," lanjutnya.
Ranum terdiam. Tubuhnya sangat lelah. Tadinya ia ingin merebahkan dirinya sejenak, tapi Nurmaida malah mengajaknya berdebat hingga ia yang tadinya tidak berniat keluar lagi dan sekarang malah berada di tempat Arya.
"Kata "iya" itulah yang sangat sulit untuk aku ucapkan," gumam Ranum pelan.
Terdengar Arya menggumam pelan.
"Ayo kita makan dulu! Aku sangat lapar," ajaknya.
Ranum menatap seporsi nasi goreng yang ada di dalam piring itu. Ia memang lapar, namun apa iya mereka harus makan sepiring berdua.
"Tidak usah. Kamu makan saja sendiri," tolak Ranum pelan.
Arya lalu meraih tangan Ranum dan meletakan sebuah sendok didalamnya.
"Apa perlu aku suapi?" Goda Arya.
Ranum masih menatapnya dengan tatapan yang bercampur dengan sebuah perasaan yang aneh.
"Kamu itu dari dulu sampai sekarang masih manja dan keras kepala. Sangat sulit dikendalikan," ucap Arya sambil memasukan sendok berisi nasi goreng itu kedalam mulutnya yang dipenuhi jenggot dan kumis itu. Ranum mengikutinya. Ia memasukan satu suapan, meski tidak sebanyak suapan Arya tadi.
"Makan yang banyak, aku lihat pinggangmu sangat kecil," ucap Arya lagi, membuat Ranum tersenyum malu. Itu artinya, Arya memerhatikannya sampai sedetail itu. Ia kembali memasukan satu suapan lagi.
Seusai makan malam dengan sepiring berdua, mereka kemudian duduk-duduk di tangga menuju lantai bawah, yaitu bengkel. Lampu berwarna kuning yang terpasang di dalam bengkel, membuat suasana di sana menjadi temaram.
"Apa yang biasanya kamu lakukan setelah selesai bekerja?" Tanya Ranum.
"Biasanya ada beberapa temanku yang datang kemari. Kami hanya berkumpul, bermain kartu atau ... ya ... sekadar bersenda gurau. Tumben mereka belum kemari," jawab Arya datar.
"Jadi, jika tidak ada seorang pun yang datang kemari, maka kamu sendirian disini?" Tanya Ranum lagi.
Arya menoleh kepadanya dan menyunggingkan sebuah senyum kecil di bibirnya yang nyaris tidak terlihat.
"Sejak kapan kamu mulai memelihara jenggot seperti itu?" Tanya Ranum pelan, suaranya hanya terdengar seperti sebuah ******* saja. Sememtara Arya masih menatapnya dengan matanya yang teduh.
"Sudah lama. Kenapa?" Arya balik bertanya dengan suara pelan juga. Ranum hanya tersenyum manis dan menggeleng pelan.
"Kamu tidak suka pria berjenggot?" Pancing Arya.
Ranum menggigit bibir bawahnya perlahan dan Arya memerhatikan hal itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Ranum pun menantinya sambil memejamkan mata. Padahal Arya belum melakukan apapun kepadanya, tetapi tubuhnya sudah bergetar hebat. Dadanya berbebar-debar.
Perasaan itu semakin kuat, ketika Ranum mulai merasakan napas Arya yang menghangat di wajahnya.
"Ayo! Arya. Lakukan!" Pinta Ranum dalam batinnya.
Sementara itu, wajah Arya sudah semakin mendekat ketika tiba-tiba terdengar sebuah seruan dari luar.
Terdengar beberapa orang pria berbincang di luar bengkel dan mereka memanggil nama Arya seraya membuka rolling door itu.
Tampaklah sekitar empat orang pria di sana. Mereka saling pandang karena melihat Arya tengah duduk berdua dengan Ranum di tangga.
Tentu saja, Ranum menjadi pusat perhatian mereka. Wajahnya yang cantik dengan tampilannya yang seksi malam itu, telah membuat mata para pria itu tidak berkedip dibuatnya.
Arya dapat menyadari hal itu.
"Mereka senang melihat pahamu," bisiknya kepada Ranum dengan agak mengeluh. Arya kemudian beranjak ke atas dan mengambilkan tas milik Ranum.
Sementara Ranum, ia harus menghadapi tatapan nakal teman-teman Arya sendirian. Meski tidak nyaman, namun ia masih berdiri kemudian mengikuti Arya menuruni anak tangga.
Arya memegang pergelangan tangannya dengan erat, dan entah kenapa karena Ranum sangat menyukai hal itu. Apakah Ranum mulai membuka hatinya untuk pria lain, selain mendiang Vincent?
Mereka berjalan diiringi sorakan nakal teman-teman Arya. Sedangkan Arya terlihat biasa saja, wajahnya datar tanpa ekspresi sama sekali.
Ya Tuhan, kenapa Arya bisa berubah menjadi se seksi ini? Pikir Ranum.
Hingga akhirnya Ranum masuk ke dalam mobilnya, ekspresi datar Arya masih tampak dengan jelas.
"Langsung pulang dan tidurlah! Jangan begadang!" Pesan Arya.
Ranum hanya tersenyum. Ia senang dengan perhatian Arya kepadanya. Meskipun ia belum dapat mentafsirkan arti dari perhatian itu.
"Selamat malam," ucap Ranum pelan dengan mata berbinar. Ia seakan lupa akan pertengkaran dengan ibunya tadi. Arya mengangguk pelan. "Selamat malam," balasnya datar.
Ranum lalu menutup kaca mobilnya. Sesaat kemudian Honda Accord itu pun melaju meninggalkan Arya dengan tatapan nanarnya.
Sejenak Arya terpaku. Sesaat kemudian ia tersadar jika teman-temannya sudah menunggunya di dalam. Ia harus bersiap untuk menghadapi ocehan-ocehan mereka.
Sementara Ranum, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Wajahnya tampak jauh lebih ceria dibanding ketika tadi saat ia meninggalkan rumah. Ia senang, karena ia tidak menemui orang yang salah. Keresahan hatinya sedikit berkurang. Sejujurnya jika ia merasa sangat gugup. Perasaan yang sama seperti yang dirasakannya ketika ia bersama Vincent dulu.
Ada apa ini? Apakah Arya telah berhasil membuat kebekuan hatinya menjadi lumer kembali?Secepat itukah?
Sementara ia dan Arya baru bertemu lagi setelah sekian lama, dan tentunya mereka masih harus beradaptasi lagi. Akan tetapi, sejujurnya ia merasa sangat nyaman berada di dekat pria berambut gondrong itu.
Sesaat kemudian, mobil Ranum sudah memasuki halaman rumahnya yang berlantai tiga. Setelah memasukan kembali mobilnya ke dalam garasi, ia kemudian masuk. Sementara Nurmaida sudah menunggunya.
"Darimana?" Tanyanya dengan nada bicara yang biasa, tidak seperti tadi.
"Mencari angin," jawab Ranum pelan. Ia masih ingat dengan tamparan ibunya tadi.
Suasana hening sejenak setelah akhirnya Nurmaida menghampiri Ranum dan memeluknya. Mau tidak mau, Ranum kemudian membalas pelukan ibunya. Nurmaida juga melayangkan ciuman hangat di kening putri bungsunya itu.
"Maafkan Ibu, karena tadi sudah menamparmu
dengan keras," ucapnya sedih.
Ranum mengangguk. "Maafkan juga kata-kataku yang tidak sopan kepada Ibu" balas Ranum pelan.
"Sudahlah! Jangan dibahas lagi! Dari tadi Ibu sangat mencemaskanmu. Kamu pergi dengan marah dan Ibu sangat tahu bagaimana caramu mengemudi," ucap Nurmaida lagi. Kini ia merasa lega karena Ranum sudah kembali.
"Sudah sana, tidur dan istirahatlah! Atau mungkin kamu mau makan dulu? Tetapi sekarang sudah lewat jam makan malam," lanjut Nurmaida.
"Aku sudah makan tadi," jawab Ranum.
"Dimana?" Tanya Nurmaida.
"Di tempat Arya." Ranum tertegun. Tanpa sadar ia telah menyebut nama Arya di depan Nurmaida. Setelah ini, ibunya pasti akan banyak bertanya tentang pria itu.
aku bacanya juni 2025 kak
semangat berkarya kakak..
btw, ig nya apa?
dan yg jlas kata2 itu sngt tepat untk almh nurmaida itu sendri,,sumph thor ak bnar2 mnntikan kpn ajal dtng mnjmputny,,menjijikan
oh astaga thor,berdebar2 rasa ny😁😁😁
jelaslah banyak yg mau😄😄😄