Hidup Prisca menjadi tidak baik-baik saja semenjak Burhan melakukan sesuatu di luar batas. Burhan yang merupakan ayah tiri dari Prisca, begitu tega merenggut hal paling berharga milik Prisca. Tepatnya ketika dua bulan lagi pernikahan Prisca dan Nares akan digelar. Prisca yang tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya membuat suatu kebohongan pada Nares.
Pernikahan tetap berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Hingga pada suatu ketika, Burhan datang dan mengacaukan semuanya. Burhan memprovokasi Nares dengan tragedi yang terjadi dua bulan sebelum pernikahan, sehingga kebohongan Prisca menjadi terbongkar. Lantas, bagaimana sikap Nares pada Prisca di dalam pernikahan yang ternodai kebohongan? Apakah ia akan bisa menerima istri yang sudah tidak bermahkota? Dan apakah Prisca akan tetap diam sekaligus ketakutan pada semua sikap buruk sang ayah tiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Burhan
Burhan seolah sedang duduk dengan tenang. Kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis, beberapa perabot perkantoran, termasuk juga sebuah komputer menjadi kawannya saat ini. Namun ketenangan yang terlihat itu, tidak mewakilkan gejolak di dalam hatinya. Ia merasa sangat gelisah sekaligus dibuat penasaran, tentang apa yang dilakukan oleh Prisca saat ini. Ia pun masih takut jika Prisca malah melaporkan aksi jahatnya pada Nares, kekasih yang saat ini telah menjadi suami anak tirinya itu.
Malam itu, Burhan pikir Prisca sudah terpengaruh dengan sugesti buruk yang ia berikan. Yang ia duga, Prisca akan lantas tunduk dan diam, serta selamanya akan mengurung diri di kamar itu. Dan ia juga mengira bahwa ketika hassratnya kembali menggelora, ia tidak akan kesulitan lagi dalam meminta jatah dari putri tirinya itu.
Namun, ... apa yang terjadi saat ini? Prisca yang bagi Burhan sangat istimewa tersebut justru sempat melarikan diri dan bahkan benar-benar merealisasikan pernikahan dengan sang kekasih! Lantas, bagaimana jika Prisca juga membangkang ucapan serta titah yang sudah Burhan katakan sebelum Prisca sempat kabar pada saat itu? Apa yang akan ia lakukan jika pada akhirnya Prisca malah membuka kedok jahatnya ke mata dunia?
Burhan memejamkan matanya sembari mengusap-usap kedua jemarinya satu sama lain. "Tidak mungkin," katanya dalam bentuk gumaman lirih. "Aku akan mencari tahu bagaimana dia hidup bersama suaminya saat ini, serta mengawasinya sekali lagi. Selama keadaan masih tenang, pasti dia belum mengatakan apa pun. Lagi pula, jika dia ingin tetap menjalani kehidupan rumah tangga yang sempurna, dia tidak akan berani membuka apa yang terjadi di antara kami pada siapa pun."
Kala keyakinan itu tumbuh, sebuah senyum sinis pun terlukis. Wajah Burhan yang terkesan manis dan lembut di mata Laksmi, mendadak menjadi garang serta menyeramkan. Meski sempat dilanda kegelisahan, ketika teringat akan rasa cinta Prisca terhadap Nares sangat besar dan tentunya putri tirinya itu amat menginginkan kesuksesan biduk rumah tangga yang baru terjalin dua tiga hari ini sejak ijab qobul dilaksanakan, Burhan menjadi lebih tenang. Burhan yakin Prisca akan terus bungkam.
Hingga kesenangan itu harus usai saat ponselnya mendadak berdering. Nama kontak bertulis 'Istri' terlihat di sana, dan sukses mengendurkan senyuman Burhan.
"Wanita tua yang rewel ini, menggangguku saja!" keluhnya.
Namun meski malas, Burhan tetap bergegas menerima telepon dari sang istri. Kendati memang kerap membuatnya malas, sosok Laksmi masih sangat penting baginya. Ibu dari gadis yang pernah ia paksa untuk menuruti permintaan nafsunya itu, ibarat mesin ATM berjalan dan juga kucing penurut.
"Halo, Sayangku," sapa Burhan semanis mungkin.
Dari kejauhan sana, Laksmi menjawab, "Mas, hari ini aku akan pulang malam. Sebentar lagi jam pulang, 'kan, tapi aku tetap tidak bisa pulang cepat. Maafkan aku."
Bukankah itu adalah hal bagus? Batin Burhan.
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa, mm ... memangnya kamu ada acara apa? Lembur atau arisan?" selidik Burhan.
"Tidak. Aku hendak ke rumah baru Prisca, ingin tahu bagaimana kondisinya sekarang, setelah belakangan ini dia tampak drop. Meski dia menolak bertemu, aku tetap tidak bisa tenang kalau belum memastikan keadaan dan bagaimana tempat tinggal barunya bersama suaminya itu."
Sebuah seringai kembali menarik kedua sudut bibir Burhan. Matanya pun kembali menyorot lebih tajam. "Baiklah, Sayang. Semoga kedatanganmu diterima dengan baik oleh putri kita. Tapi, sepertinya aku belum bisa menemani kamu, lantaran Prisca masih saja menerima keberadaanku. Yang penting kamu hati-hati ya!"
"Iya, Mas Sayang. Maaf, ya! Termasuk maaf soal Prisca yang sampai melarang kamu datang ke pernikahannya."
"Tidak apa-apa, aku paham kok, mau bagaimanapun aku memang tak bisa menggantikan ayah kandungnya."
”Hmm, maaf, Mas. Sudah dulu kalau begitu, Mas.”
”Baik, Sayang. Hati-hati di jalan. Minta Pak Hendi, jangan bawa mobil ngebut-ngebut.”
”Iya, Mas-ku. Mm, bawel deh!”
Panggilan telepon itu pun berakhir, keduanya saling menutup saluran di ponsel. Lantas, Burhan menghela napas. Dengan ekspresi wajah yang sudah berubah berseri-seri, ia memikirkan keuntungan yang barusan ia dapatkan. Ya, setelah Laksmi berhasil menemui Prisca, tentu saja Burhan akan tahu di mana tempat tinggal putri tiri yang telah memikat hatinya itu. Ia memang harus tetap melakukan pengawasan, kalau perlu, ya mampir untuk meminta lagi rasa hangat yang enggan untuk ia lupakan. Prisca pasti akan menuruti permintaannya lagi, jika ia memberikan ancaman baru, bukan?
Hidup yang enak tanpa bekerja keras. Istri kaya raya, putri yang cantik pun telah memenuhi keinginan hassratnya. Dan sekarang? Saat dirinya berencana untuk mengawasi Prisca dan di kondisi belum tahu di mana Prisca tinggal bersama Nares, Laksmi justru menawarkan diri secara tidak langsung. Sehingga, Burhan tidak perlu lagi repot-repot menyelidiki di mana Prisca berada, lantaran Laksmi akan dengan sangat rela mengatakan informasi itu padanya, ketika istrinya itu telah berhasil menemukan di mana Prisca berada.
"Prisca, pada akhirnya, kamu memang tidak boleh lepas dari pengawasanku. Dan bukankah aku masih lebih baik dari suaminya yang minim pengalaman itu? Lagi pula, meski lebih tua, jarak usiaku dengan Nares juga tak terlalu jauh juga, 'kan? Hihi," ucap Burhan kemudian tergelak.
***
”Sayang, apa ada hal yang menurut kamu kasih kurang? Kurang bagus atau kurang lengkap misalnya? Semua sih sudah diurus oleh penata ruangan, dan aku tidak ikut membantu, justru Mama yang turun tangan untuk memantau. Tapi, jika ada yang menurut kamu tidak bagus, bilang saja ya? Soalnya rumah ini adalah rumah baru kamu, kamu harus membuatnya senyaman mungkin buat kamu sendiri,” ucap Nares yang baru kelar membantu Prisca membereskan barang-barang dari rumah sewa.
Prisca menghentikan kegiatannya yang masih sibuk merapikan pakaian. Detik berikutnya, ia menatap Nares yang masih tampak berseri-seri. Dan tampaknya pria itu sangat menginginkan jawaban darinya. Akan aneh jadinya jika Prisca malah memberikan reaksi yang seadanya. Sebagai seorang penipu, ia tetap harus bersandiwara, bukan? Bersandiwara dalam segala hal agar kebohongannya tetap sempurna.
Sebuah senyuman lantas Prisca ulas di bibirnya. Ia bangkit dari duduk silanya di atas permadani jingga di dalam kamar pengantinnya itu. Sembari berjalan ke arah Nares, ia berusaha untuk menyingkirkan segala pikiran rumit. Sudah waktunya, ia mengubah ekspresi masam di wajahnya yang cantik, setelah sebelumnya ia hampir bertengkar gara-gara cenderung menghindar. Meskipun sulit dan membutuhkan banyak waktu untuk mengembalikan jati dirinya, Prisca tetap harus melakukan akting ini.
”Aku ingin menambahkan beberapa buah lukisan pemandangan alam, dinding rumah ini masih terkesan kosong,” ucap Prisca sesaat setelah sampai di hadapan sang suami yang masih melihat-lihat sekeliling kamar sembari berdiri. ”Itu pun jika kamu tidak keberatan, Nares.”
”Ah, mana ada aku keberatan, Prisca!” Setelah menyahuti, Nares berjalan ke arah Prisca, lalu bergegas untuk menangkup kedua pipi tirus istrinya itu. ”Kamu boleh melakukannya, Sayang.”
Sesungguhnya Prisca masih tidak mampu menerima sentuhan bentuk apa pun. Sebelum menikah pun, ia kerap beralasan sibuk ketika Nares meminta bertemu hanya demi meminimalisir adanya kontak fisik. Namun lagi-lagi ia harus menahan diri demi sandiwara yang sudah tercipta semakin kelihatan nyata.
”Terima kasih, Sa-sayang,” ucap Prisca memberanikan diri untuk menyebut Nares dengan sebutan yang memang sudah menjadi kebiasaan. ”Kamu baik sekali.”
Nares tersenyum tipis, kemudian berangsur memeluk tubuh Prisca. ”Kita harus baik, Prisca. Agar kita selalu terlihat sempurna,” katanya.
Ya, kamu memang baik, tapi kamu juga orang yang selalu ingin dipandang sempurna. Tapi, bagaimana ini, Nares? Malam ini, kamu akan mendapati diriku tak lagi sempurna karena sudah tiada mahkota, batin Prisca dengan perasaan yang kacau lagi. Perutnya bergolak, serasa mual, sayangnya lagi dan lagi, ia harus bertahan!
***