Indonesia
NovelToon NovelToon
STOP IT!

STOP IT!

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Anak Yatim Piatu / Ibu Pengganti / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: ftynsl

Qila tidak tau tentang apa yang terjadi. Seiring berjalannya waktu, kenyataan tak terduga ia terima.

Termasuk saat Dion yang ternyata masih satu keluarga dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ftynsl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ten

Kesurupan adalah kemasukan setan maupun roh sehingga bertindak aneh-aneh. Qila tidak tahu apa yang menjadi penyebab kesurupan. Tetapi, dirinya tidak asing mengenai kejadian semacam itu.

"Minggir!" Gadis yang menjadi teman sekelasnya masih berteriak-teriak di depan kelas. Matanya melotot dan tubuhnya seakan kaku. Rambutnya acak-acakan karena sudah berkali-kali dia menarik rambutnya sendiri. Bapak dan Ibu guru sudah kewalahan menenangkannya yang terus-terusan memberontak. Mereka tidak mahir dalam hal seperti ini. Mereka juga takut tubuhnya menjadi sasaran empuk pensil tajam itu.

Beberapa murid disuruh untuk menjauh. Di dalam kelas hanya tersisa beberapa guru laki-laki dan seseorang yang memakai busana khas orang Yogyakarta dan memakai songkok. Dia membawa sebuah suntikan. Kelas semakin ramai menjadi bahan tontonan di tengah-tengah derasnya hujan dengan gemuruh petir yang semakin menjadi-jadi.

Qila terlonjak saat gadis itu menatap ke arahnya yang sedang mengintip dari balik jendela, lalu berteriak, "Kamu!" Dia akan berlari ke luar kelas. Qila langsung menjauh dari jendela. Nafasnya tercekat. Dia takut.

Semua kejadian yang Qila bayangkan hangus. Guru-guru yang tadi berada di dalam, berjalan ke luar kelas dan membopong gadis yang sudah tidak sadarkan diri. Sepertinya suntikan itu berfungsi untuk membuatnya pingsan sementara waktu.

Qila bernafas lega. Dia mendengar suara dehaman yang sudah dia hafal.  Putri meraih tangannya, lalu membawanya ke dalam kelas. Kerumunan sudah dibubarkan dengan sendirinya. Bel pertanda pulang sekolah sudah berbunyi nyaring. Cepat-cepat, Qila membereskan buku-bukunya yang masih berserakan.

"Buku lo dibawa gue dulu, ya?"

Putri mengangguk. "Gue duluan," pamitnya, lalu tangannya langsung ditarik.

"Eh, be-bentar. Tungguin." Untuk sekarang Qila tidak berani berada di kelas ini tanpanya. Dia baru menyadari bahwa sekarang dirinya menjadi anak penakut.

Ini salah! Dia seharusnya masih mempercayai bahwa tidak ada setan berkeliaran senaknya di dunia ini. Tetapi, kejadian beberapa menit lalu malah membuatnya percaya bahwa setan itu ada.

Mereka sudah berjalan menuruni anak tangga. Qila bisa melihat hujan secara langsung dan merasakan tetesannya. Ayah memberi kabar bahwa dia tidak bisa menjemput. Kabar yang menurutnya dadakan dan harus berfikir pulang dengan siapa.

"Qil, gue duluan, ya?" Qila tersenyum. Putri sudah pergi memasuki mobil yang sudah menunggunya di tempat parkiran. Teman-teman selingkup kerjanya menyapa Putri dengan semangat. Dia sedang mendapatkan jadwal potret hari ini. Andai saja Putri dijemput oleh supir pribadinya, Qila akan merengek untuk ikut.

Qila berjalan ke arah halte dengan sebuah payung yang dipakai bersama teman di sebelahnya. Dia masih teman sekelas. Wajahnya cantik seperti hatinya. Namun, sayangnya dia selalu mendapatkan perlakuan kurang baik dari teman-teman sekelas yang terbilang anak nakal. Apalagi, laki-laki.

Qila duduk di kursi tunggu setelah mengucapkan rasa terima kasih kepada Nita. Nita terikut duduk di sebelahnya. Dia cukup terkejut, karena sebelumnya mengira bahwa temannya tidak akan duduk di sini. Seperti biasa selepas pulang sekolah, Nita pergi ke perpustakaan untuk bersih-bersih. Dia bekerja di sana.

Nita adalah anak yang rajin dan dermawan. Statusnya yang merupakan anak dari keluarga terpandang tidak menjadikannya tameng. Wajah lugunya menipu semua orang kalau dia anak dari keluarga yang ekonominya kritis. Termasuk Qila.

Semuanya terbongkar ketika ayah mengajaknya ke rumah rekan bisnisnya untuk mengembalikan sebuah buku. Di situlah dia bertemu dengan Nita. Nita sungguh mahir menutupi semuanya.

Qila tersenyum licik setelah ayah Nita mengenalkan anaknya. Ya, dia Nita, teman sekelasnya. Sia-sia sudah belas kasihan yang beberapa orang berikan. Sopan santunnya hanya dipakai kedok belaka.

"Dijemput, Nit?" tanya Qila berusaha memecah keheningan. Suara derasnya hujan yang beradu dengan aluminium penutup halte terasa semakin keras. Dia sedikit takut aluminium itu akan terbang terbawa angin.

Nita mengangguk. Dia tipikal orang yang irit bicara. "Kalau kamu?"

"Angkot." Qila berkilah. Silir-semilir angin tambah membuat bulu kuduknya meremang. Dieratkan hoodie yang melekat di tubuhnya dengan penutup kepala yang langsung menutup ke kepala supaya sebuah kehangatan dengan sempurna menelusup masuk, menemani tubuh yang sudah menggigil kedinginan. Tolonglah Spongebob dan Patrick, datang ke sini untuk membuat api unggun di bawah derasnya hujan.

Ada benda jatuh mengusik ketenangan Qila. Dia sempat menjerit dan menjengit. Cicak dengan tubuh lunak yang menjijikan jatuh mengenai paha Qila yang sedikit terekspos. Cicak itu kemudian jatuh saat dia berdiri, lalu merayap entah kemana. 

Qila kembali duduk. Sekilas dia melirik Nita yang masih terdiam. Tadi dia sempat ingin membantu mengusir cicak, tetapi karena dirinya terlalu heboh, cicak itu sudah pergi dengan sendirinya.

Jalanan terasa sepi dan tidak jelas. Air hujan menutupi semua itu. Hanya terdapat sorot lampu motor dan mobil yang lewat, lalu berbelok di belokan depan halte. Beberapa anak yang membawa payung rela menerobos hujan. Beberapa anak yang memakai mantel juga tetap menerobos hujan, tetapi mereka kebanyakan menggunakan kendaraan motor.

"Em, Qil. Kamu tau enggak?" Qila bersorak dalam hati. Setidaknya dia tidak perlu mencari-cari topik.

"Apa?"

Dia berdeham. "Em ..., biasanya kalau orang kejatuhan cicak itu——"

"Akan sial," potongnya. Nita tersenyum kikuk, lalu menunduk. Dia seperti merasa bersalah setelah melontarkan  kalimat itu. Ya, merasa bersalahlah. Kau telah membuatku kembali bingung dan ingin lenyap dari muka bumi, batin Qila.

"Aku enggak percaya begituan. Lagian itu cuman mitos." Nita tidak menjawab, karena ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mereka.

Seseorang keluar dari mobil itu menggunakan payung. Tubuhnya terlihat familiar. Tetapi, karena dia memakai topi dan pakaian serba hitam, Qila tidak terlalu mengenalinya.

"Woy, bengong aja. Ayo, pulang."

"Dion?" Qila tersenyum. Dia langsung mencuri tempat di sebelahnya yang sedang memegang payung.

"Nita, aku pulang duluan, ya?" Nita mengangguk, lalu kembali menunduk.

Dion menatap Qila, lalu berbisik, "Dia enggak diajak?"

"Dijemput." Mereka memasuki mobil setelah Qila berpamitan dengan Nita sekali lagi. Bertepatan dengan itu, dia melihat sebuah mobil berwarna putih yang diyakini milik ayah Nita akan menjemputnya.

"Lo mau ke mana?" Qila mengambil sebotol kopi yang dia lihat di dalam tas pinggang Dion. Kebetulan tasnya berada di sebelahnya dan terbuka.

Dia tidak menjawab, tetapi melirik sebentar ke arahnya dan kembali menatap ke depan. "Dasar pencopet," gerutunya.

Qila terkikik dan baru menyadari kalau ini bukanlah jalan ke arah rumah.

"Mau ke mana?"

"Apartemen."

"Hah, ngapain?" Sebotol kopi sudah ditenggak sedikit untuk menghilangkan rasa kantuk, lalu dia mengambil sebungkus roti yang dibungkus plastik dengan gambar kartun anak kecil memegang senjata petir di tangannya.

"Oma sama opa enggak pulang selama tiga hari. Teman lamanya yang di Karawang meninggal. Opa suruh aku buat jagain kamu," jawabnya, terlampau santai. Dia menepikan mobilnya di sebuah tempat  pinggiran jalan.

"Lah, kenapa enggak di rumah aja?"

Dion melirik ke kursi belakang. Terdapat sebuah tas berwarna hitam dan setumpuk buku yang menurut Qila adalah buku-buku sekolahnya. Dion menjawab sebuah pertanyaan yang sempat terbesit di otaknya bahwa jika tidak tinggal di rumah akan merasa susah harus berbolak-balik mengambil peralatan sekolah dan baju-baju.

Qila menyambar tas dan melihat isinya. Di sana sudah terisi lengkap seragam sekolah beserta——pakaian dalam.

Dia terbelalak. "Dion!" 

Dion tertawa, lalu berkata, "Gue tadi langsung ke rumah. Kalau jemput lo dulu, pasti bakalan lama buat nunggu lo nyiapin semua itu."

"Ih, tapi, kan ... ." Qila malu dan merasa tidak terima. Seumur-umur belum ada seorang lelaki yang berani menyentuh pakaian dalamnya. Wanita di keluarganya tidak dia perbolehkan untuk menyentuh barang sedetik. Tetapi, Dion? Ah, ****.

"Bentar, gue beli martabak dulu."

•••

"Ih, kenapa enggak di rumah aja, sih? Bukannya lo ngikut sama kak Indri?" Qila masih sempat menggerutu dari sepanjang jalan sampai tiba di apartemen. Sekarang dia sudah berbaring di kasur empuk dengan baju yang belum sempat diganti.

"Siapa bilang aku ikut mama? Bisa-bisa aku dipecat dari tempat kerja." Dion melepas hoodie-nya, lalu dilempar ke keranjang. Memang benar, Indri ikut bersama suaminya yang bertempat tinggal di Surabaya. Dion dewasa tidak akan melepas pekerjaannya semudah itu.

"Jadi, kemarin lo cuman antar mereka sampai bandara?" Dion bergumam.

"Terus kenapa kamu enggak nginap di rumah opa aja kemarin?"

"Lagi pengin di sini. Udah sebulan enggak dipakai. Lagian, tempat kerjaanku enggak jauh dari sini."

Dengan mata sedikit terpejam, Qila memukul kasur, lalu menggerutu, "Tapi, sekolahku yang lumayan jauh dari sini."

"Kalau di rumah opa, tempat kerjaku juga lumayan jauh."

Qila beranjak bangun. Dia tidak tahu Dion sedang melakukan sesuatu. Spontan dia menjerit sambil menutup mata.

"Dion, lo mau ngapain, sih?!"

"Hah? Ganti celana, lah."

"Ya, e-enggak di sini juga kali. Kamar mandi sana!"

Dion terkikik. "Orang cuman ganti celana doang," jawabnya enteng.

"Ih, tapi, kan ... ." Qila mengintip lewat celah jari-jari. Dion kembali memakai celananya yang sempat terbuka sampai batas lutut. Celananya basah, karena terkena air hujan. Dia benar-benar gila. Melepas celananya di depannya tanpa merasa malu.

Qila mendengus kesal. Tangannya tidak lagi menutupi mata. "Ih, lagian kenapa lo pilih apartemen yang kamarnya cuman satu, sih? Jangan biasain ganti di sini kalau begitu."

Dion berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju. "Orang gue belum nikah. Masa milih apartemen yang kamarnya sepuluh. Mahal amat. Itu mah beli istana sekalian."

"Tau, ah."

"Mau mandi enggak, Qil?"

"Entar."

"Ya, udah. Tadinya mau kuajak mandi bareng."

1
dineeeey
semakin seruuuuu, em . jangan lupa mampir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!