Indonesia
NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 09

Yumna tersipu malu akan adanya kebanggaan pada dirinya sendiri, membuat semangat juang kian bertambah. Apalagi pujian-pujian kecil yang begitu sederhana itu, mampu menghadirkan rasa hangat di dadanya.

"Keja bagus Yumna." Bangga Sella yang masih berdiri di belakang kursi kerja Yumna, dengan kepala mengangguk kecil. Karena merasa puas akan respon positif dari banyak publik.

Saat itu juga dering telepon milik Sella, membuat sang empu menerimanya tanpa ragu. Dengan senyum lebar menghiasi wajah Sella yang kini melangkah keluar ruangan, meninggalkan rekan kerjanya.

Hal itu membuat Vallen menggeser sedikit kursi yang dia dudukki ke arah Yumna. "Kira-kira Sella mendapat informasi palsu itu dari mana?" Bisik Vallen.

"Pelaku." Balas Yumna yang tidak kalah pelannya.

Diam, mengeryitkan keningnya. Vallen berusaha memahami situasinya dan berpura-pura untuk tidak terlihat bodoh. "Uang memang bisa menyelesaikan segalanya." Akhir Vallen yang kembali pada pekerjaannya.

Bayangan yang lewat melalui insting membuat kepala Yumna menoleh ke belakang tepat di mana seorang pria familiar yang melangkah sedikit terburu di lorong luar ruangannya. Membuat Yumna dengan cepat mengambil sekotak bekal makanan, yang dia bawa dari rumah.

Berjalan cepat keluar ruangan untuk menghampiri saudaranya. Demi sang ibu yang menitipkan bekal makanan itu padanya. "Kemana dia? Kenapa langkahnya begitu lebar?"

Tidak ada kata putus asa, Yumna terus melangkah untuk mencari keberadaan saudaranya yang mungkin berada di lantai utama perusahaan. Karena punggung itu masih samar-samar terlihat di pandangan Yumna.

Sekilas Yumna mengangguk sekilas saat berpapasan dengan beberapa karyawan di sekitarnya. Hingga kaki jenjang itu menapak pada anak tangga terakhir lantai itu. Yumna membuang napas gusar, melihat ke arah sang kakak yang ternyata menemui beberapa familiar di matanya saat ini.

"Sepertinya dia sibuk. Tapi aku harus memberikan ini padanya, karena jam makan siang sebentar lagi." Gundah Yumna yang tidak tahu harus melangkah maju, atau memutar tumitnya kembali ke ruang kerjanya.

"Kenapa ibu meminta ku untuk membawakan bekal makanannya? Padahal dia tidak pernah memakannya." Gerutu Yumna. Entah mau sampai kapan dia akan berdiri di tempatnya saat ini, yang sedikit bergeser untuk tidak menghalangi jalan siapapun.

Tapi tidak berlangsung lama senyuman Yumna kembali terpancar saat orang-orang penting itu berdiri dari duduk mereka. Berjalan ke arah di mana anak tangga berada. Sayangnya, lengkungan itu perlahan menghilang. Pandangan tertuju pada seseorang yang mampu membuat dadanya sesak. Apalagi wajah berseri itu dia perlihatkan.

Dan kehadiran Yumna menarik sepasang mata yang kini diam, mendekati Yumna dengan wajah yang sulit untuk diartikan. "Apa yang kau lakukan disini?"

Lamunan Yumna tersadar, saat sang kakak berdiri dihadapannya. "Oh! Ibu memintaku untuk memberikan ini padamu." Ucap Yumna sembari menyodorkan paper bag yang berisi bekal makanan.

Sang kakak menerimanya tanpa ragu. Dengan rasa khawatir mulutnya mulai terbuka kembali. Akan tetapi suara Yumna membuat pria itu menelannya kembali.

"Kau harus memakannya, karena ibu membuat makanan itu harus bangun lebih awal sebelum kau bangun." Kepala Yumna mengangguk cepat. "Aku harus kembali keruangan."

Sebentar melihat sang kakak, Yumna kini menaiki anak tangga dengan isi kepala yang mulai tidak bisa dikontrol. Apalagi bayangan-bayangan abstrak itu. Kenapa Yumna harus melihatnya lagi? Kenapa Yumna tidak bisa menerima takdir itu? Kenapa Yumna sulit menghakimi orang itu?

Padahal itu benar-benar sakit, tapi Yumna tidak bisa membencinya. Hanya karena pilihan sulit yang menghancurkan segalanya.

Sebenarnya Yumna tidak ingin mengabaikan pesan itu. Hanya saja Yumna harus menjaga perasaannya. Karena luka lama itu mulai kembali terbuka, dengan hembusan napas berat. Tapi rasa tidak enak juga singgah pada benaknya, karena tidak lagi merasa peduli dengan orang itu.

"Kalian tahu, jika akan ada pendatang baru di perusahaan ini." Cetus wanita cantik bak seperti boneka dengan surai sebahunya itu. Masuk kedalam ruangan, membuat ketiga orang disana menampilkan raut wajah yang berbeda.

"Benarkah?" Tanya dengan ragu seseorang yang duduk berhadapan dengan Yumna.

"Mereka tengah membicarakan perjanjian kontrak." Balas wanita yang membawa informasi itu.

"Siapa namanya?" Mulai ingin tahu, Vallen membuka suara. Walaupun pandangannya lurus ke depan menatap layar komputernya.

"Aku tidak tahu!!" Tanpa adanya rasa bersalah, wanita itu memberi jawaban. Yang langsung mendapat tatapan sinis dari Vallen.

Jika pun Vallen anak baru di tempat itu, tapi mulai hari itu. Vallen memutuskan untuk tidak menjadi orang lain hanya untuk pengakuan.

"Kau ingin makan siang dengan ku?" Tawa Yumna yang langsung mendapat persetujuan dari Vallen.

"Ayo!!" Tidak lagi berpikir untuk menolak. Vallen beranjak dari duduknya yang diikuti oleh Yumna.

Kini kedua wanita muda itu berjalan beriringan ke arah kantin perusahaan. Karena niat mencari makanan di luar perusahaan tidak ada di pikiran mereka. Apalagi langit biru mulai tertutup awan mendung yang mungkin bisa diprediksi, jika nanti sore akan turun hujan.

Duduk berhadapan dengan makanan masing-masing, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya dentingan sendok dan piring yang bertemu.

Tapi hal itu juga tidak berselang lama. Karena Yumna dan Vallen bukanlah tipe orang yang pendiam. Mereka hanya tahu tempat dan batasan, saat memilih menutup rapat mulut mereka untuk tidak bersuara.

"Ku kira tidak ada yang mau menandatangani kontrak dengan perusahaan ini." Asal Vallen, yang mendapat anggukkan dari Yumna.

"Mereka tidak mencari rumah, tapi orang dalam yang mencari mereka. Contohnya Lingga..." diam sejenak, Yumna menyeruput minumannya.

"...Setahu ku Lingga mendapat tawaran dari manager perusahaan. Dalam wawancara yang pernah aku lihat di televisi. Mungkin," lagi, Yumna menjeda perkataannya.

Dengan sangat ragu, Yumna menambahkan perkataannya. "Orang itu juga mendapat tawaran seperti Lingga. Karena aku belum pernah lihat, perusahaan ini membuka audisi untuk publik yang ingin menjadi artis."

"Mungkin itu bisa jadi." Tidak terdengar begitu jelas, Vallen mengatakannya. Karena mulutnya sedikit dipenuhi beberapa lauk makanan. "Dan__"

"Telanlah lebih dulu makanan itu." Sekilas Yumna menunjuk Vallen dengan dagunya.

"Kita pun juga mendapat tawaran dari orang dalam. Dan perusahaan ini tidak menyebar lowongan pekerjaan." Cetus Vallen setelah menelan makanannya.

Yumna mengangguk setuju.

"Oh yaa, aku mau minta maaf. Karena semalam aku pulang lebih dulu. Kamu pasti kerepotan mengantarakannya sendiri." Rasa bersalah yang ada didiri Vallen kini wanita itu perlihatkan.

"Aku memang kesal dengan mu, tapi aku juga tidak bisa marah padamu." Napas berat Yumna hembuskan. "Untungnya semalam aku tidak datang sendiri ke rumah artis itu. Kak Tama mengantarkan ku, tapi aku pulang lebih dulu."

"Aaa, kepala manajer yang kamu maksud?" Dua bola mata Vallen sekilas melihat kesana-kesini. "Sepertinya orang-orang di sekitar mu orang dalam semua."

"Benar, orang dalam semua. Dan kakak ku pun juga menjadi tangan kanan pemimpin perusahaan ini." Entah disengaja atau memang Yumna ingin mengatakannya. Tapi yang jelas Yumna tidak ada memiliki unsur apapun saat melontarkannya.

"Maksud mu, pak Rama?" Sekilas Vallen menaikan alisnya. Entah kenapa ada rasa ragu di benaknya. Akan tetapi anggukkan dari Yumna, mampu membuat hati kecil Vallen tersenyum pahit.

1
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!