Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mengharap Setara
Apapun akan aku berikan asal kamu bahagia Aira, kamu hidupku, cintaku. Aku benar-benar menyayangimu.
"Bulan depan ini ya Van.."
Perkataan lembut itu membuatku menoleh sekilas, Aira kembali menampilkan layar ponselnya padaku. Sebuah liontin dengan permata merah berkilauan. Terlihat sangat cantik sesuai dengan harga yang tertera disana.
Aku mengangguk sekilas, mengusap pelan puncak kepala wanita yang sangat aku sayangi. Kemudian kembali fokus dengan kemudi, segera mengantarkan Air ke tempat kerjanya. Aira bekerja sebagai sekretaris di perusahaan logistik milikku.
Setelah mengantar Aira aku langsung menuju rumah sakit, tempat ku mendedikasikan segala kemampuanku untuk menebar kebaikan, menjadi orang yang bermanfaat. Ayah yang selalu berpesan akan hal itu. Panutanku yang telah tiada.
"Dokter Revan..." salah satu pasienku menyapa. Anak kecil berusia sepuluh tahun dengan kepala botak, efek kemoterapi. Ia tersenyum hangat menatapku.
Aku membalas sapaannya, tersenyum hangat sambil menanyakan keadaanya. Anak kecil itu tersenyum hangat, walau penyakit didalam tubuhnya terus menyerangnya secara perlahan.
"Dokter Revan selamat atas pernikahannya, istri dokter cantik sekali."
Aku mengangguk singkat, "Terimakasih..."
Rupanya kabar pernikahanku dengan Alya sudah sampai di rumah sakit. Siapa yang menyebar berita pernikahan ku dengan Alya. Aku melanjutkan langkah, menelusuri setiap lorong bangsal rumah sakit. Menuju bangsal anak yang sering aku kunjungi.
"Dokter Revan, anak-anak di bangsal sudah menunggu kedatangan dokter." seorang perawat berbicara padaku. Aku mengangguk singkat kemudian melanjutkan langkah.
"Selamat dokter Revan...."
Baru saja kaki ini berpijak di ambang pintu bangsal. Seruan kata selamat sudah menyambutku.
Anak-anak bangsal ini tampak tersenyum bahagia menyambutku. Wajah pucat mereka kini dihiasi oleh kebahagian dan senyum manis ke arahku. Ada beberapa kotak yang tersedia di meja yang sudah mereka siapkan. Serta sebuah papan yang di tutupi oleh kain putih tipis. Mungkin sebuah foto.
"Dokter Revan selamat atas pernikahannya dengan ibu guru Alya...."
Seruan anak-anak itu kini memenuhi lorong bangsal, bertepatan dengan kain putih itu di buka.
Menampilkan sebuah foto pernikahan ku dengan Alya disana. Alya yang terlihat anggun dengan balutan kebaya dan hijab yang terbingkai pada wajahnya, pada foto itu terlihat senyum bahagia pada wajah Alya, sementara wajahku hanya terlihat datar dengan tatapan kosong. Sangat kontras sekali dengan wajah Alya.
"Dokter, ibu guru Alya sangat terlihat cantik sekali." Kaluna, pasien penderita leukemia stadium empat. Wajahnya itu terlihat manis kala memandangi foto Alya.
"Suatu saat nanti, aku juga ingin tumbuh menjadi wanita baik hati, cantik dan menjadi seorang guru. Seperti ibu guru Alya." tambahnya lagi. Seketika bangsal ini terasa hening, semua mata tertuju pada Kaluna.
Semangat gadis kecil itu tidak pernah pudar, walau ia sudah di vonis jika hidupnya tidak akan lama lagi di dunia.
"Dokter Revan beruntung sekali menikah dengan ibu guru cantik. Pasti nanti anaknya lucu." Jonas, pasien penderita gagal ginjal stadium lanjut.
Aku hanya bisa menunduk, mereka begitu bahagia atas pernikahanku bersama Alya, mereka tidak tahu dengan perasaanku sendiri. Bukan Alya yang aku harapkan, melainkan Aira. Kekasihku, yang bertanding bersamaku pada foto pernikahan itu.
"Dokter Revan, kemarin Bu Rahayu mengunjungi kami dan memberi kami kabar bahagia ini. Selamat dokter, semoga kalian dilimpahkan kebahagiaan dan keberkahan."
Ucap seorang perawat yang yang di khususkan untuk menjaga bangsal anak.
"Sampai salam kami pada ibu guru Alya."
Aku kembali mengangguk.
"Dokter ada beberapa hadiah kecil yang sudah anak-anak siapkan. Mungkin tidak seberapa, tapi dilihat dari usahanya. Mereka begitu antusias untuk memberikan kado ini, sebagai hadiah pernikahan dokter dengan ibu guru Alya."
"Terimakasih semuanya, dokter ikut bahagia kala melihat kalian tersenyum hangat dan penuh semangat hari ini."
Alya, mereka tidak mengenalmu. Tapi melihat fotomu saja sudah membuat mereka terinspirasi untuk menjadi seorang guru, sepertimu. Tapi sejauh ini, aku belum menemukan dimana letak keistimewaan dirimu.
Lantas aku mengambil semua kotak hadiah, sert vas foto yang berukuran cukup besar, mereka menghias foto pernikahan ini dengan beberapa bunga di setiap sudutnya. Aku membawanya ke ruang kerjaku, menyembunyikan vas foto itu di balik lemari.
Aku tidak mau melihat Aira sakit hati. Karena sebuah foto pernikahan ini.
Alya : Kak Revan, flashdisk nya tertinggal. Apa ini sangat diperlukan? aku bisa meminta tolong supir untuk mengantarkannya.
Alya mengirimi ku pesan. Bisa-bisanya aku meninggalkan benda kecil itu, semua data pasienku ada di sana.
Bahkan hal kecil saja, Raya selalu mengingatnya. Dibanding aku yang membutuhkannya.
Aku : Tidak usah, siang nanti aku akan pulang.
🌻🌻🌻
Siang nya aku putuskan untuk pulang kerumah, membawa sekeresek kantong hadiah yang anak-anak bangsal berikan untuk Alya.
Langkahku terhenti, sorot mataku tertuju pada wanita yang sedang duduk di atas kursi. Tangannya bergerak teratur memberikan pakan pada ikan hias. Seperti biasa ikan berpakaian tertutup jika sedang diluar rumah, hijabnya bergerak pelan terhembus angin.
Aku melanjutkan langkah mendekat ke arahnya.
"Kamu terlalu memanjakannya Revan, harusnya kamu biarkan dia terluka. Apa kamu sudah peduli dengan istri paksaan mu itu."
Bude Arum menghadang langkahku. Suaranya keras hingga Alya menoleh ke arah kami.
"Bude ingatkan posisi wanita itu tidak akan pernah setara dengan mu. Kamu fokus saja dengan kekasihmu, jangan sekalipun menoleh ke arahnya."
Dengan langkah tertatih Alya mendekat ke arah kami. Senyum tipis tetap terukir pada wajahnya, apa dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan bude yang selalu merendahkannya.
"Permisi, bude Arum. Kak, Revan..aku masuk dulu."
Aku menyusul Alya, tanpa menanggapi perkataan dari bude Arum.
Alya duduk di sofa kamar dengan laptop yang berada pada pangkuannya. Sorot matanya terlihat fokus pada layar, sementara jemarinya lincah menari di atas keyboard.
Aku meletakkan kantong kresek itu diatas meja, membuat Alya menoleh sekilas lalu menatapku.
"Hadiah dari anak-anak bangsal." ucapku singkat, kemudian menghempaskan bokong diatas kasur.
"Benar apa yang dikatakan bude Alya. Posisi kita tidak akan pernah setara." kalimat dingin itu keluar begitu saja dari bibirku. Benar, lidah tidak bertulang. Aku terpengaruh oleh perkataan bude Arum.
Alya hanya tersenyum ia pandangi satu persatu hadiah yang diberikan anak-anak di rumah sakit.
"Aku paham kak, dan aku tidak mengharapkan kesetaraan itu. Aku bahagia dengan duniaku, bahagia dengan profesi ku sebagai guru. Karena itu aku bisa melihat senyum tulus dari wajah polos anak-anak."
"Itu saja yang membuatku bahagia."
Entah mengapa aku seperti kurang puas dengan jawaban yang Alya berikan, seperti bukan itu jawaban yang aku inginkan.
"Jangan salah artikan perhatianku padamu kak, bukan semata untuk mencari simpati darimu. melainkan sebagai balas Budi atas kebaikan yang ibu Rahayu berikan, dan atas kebaikanmu juga." suara itu pelan, tapi bagai air yang mengalir di sungai.
"Kebaikanku..?"
"Iya..contohnya tadi pagi. Kamu menolongku, bukannya itu sebuah kebaikan..."
Bersambung
Tolong like komen dan subscribe ya.