Langkah kaki Naya akhirnya terhenti di depan sebuah bangunan petak. Pintu-pintu kayu yang lapuk berderet delapan, saling berhadapan di lorong sempit yang pengap.
Inilah kontrakan Salsa. Sebuah ruangan berukuran tiga kali lima meter, di mana kasur lantai yang masih digulung bersandar pada dinding berstiker bunga yang mulai mengelupas.
Kamar mandi kecil di sudut ruangan tampak menyatu dengan dapur mini yang padat.
"Kamu bisa taruh tas kamu di dekat lemari, Nay," ucap Salsa menyambut sahabatnya. "Kamu bawa sarung bantal, kan? Nah, itu ada bantal bekas temanku ngontrak bulan lalu. Udah aku jemur, kok. Tinggal kamu pasang aja sarungnya."
Naya menatap bantal yang ditunjuk Salsa. Kondisinya sudah lusuh, kempes, dan kehilangan keempukannya. Namun, Naya memaksakan seulas senyum tulus.
"Iya, Sa. Terima kasih banyak, ya." Ia meletakkan tas hitam besarnya yang berisi seluruh helai pakaian yang ia bawa dari kampung.
Salsa berjalan ke arah kulkas satu pintu berukuran mini, mengambil sebotol air dingin lalu menuangkannya ke dalam dua gelas plastik.
"Oh iya, Nay. Besok aku cuma bisa anterin kamu sampai depan butik, ya. Kamu nanti langsung ngobrol sama pemiliknya. Aku enggak bisa nemenin masuk karena harus buru-buru ke tempat kerjaku."
Naya yang sedang menerima gelas dari Salsa seketika termangu.
"Oh... gitu? Aku pikir kita bakal satu tempat kerja, Sa. Tempat kerja kamu jauh dari butik itu?"
Nada suara Naya menyiratkan riak cemas. Di kampung dulu, Salsa menjanjikan mereka akan bekerja di bawah atap yang sama. Kenyataan ini mendadak membuat dadanya agak sesak.
"Maaf banget, Nay. Aku juga baru dikasih tahu Bu Maya kemarin kalau kita dipisah," ujar Salsa setelah meneguk airnya.
"Kamu ditempatkan di butik yang di Jalan Kacang, sedangkan aku dipindah ke cabang mall. Tapi jangan khawatir, pas pulang nanti aku bakal samperin dan tungguin kamu. Kita pulang bareng."
Naya mengangguk pelan, mencoba mengusir rasa bersalahnya.
"Iya, Sa. Tapi nanti tolong ajarin aku naik angkutan apa aja ke sana, ya? Takutnya suatu saat kamu lagi libur atau lembur, jadi aku bisa pulang sendiri dan enggak ngerepotin kamu."
"Jangan!" potong Salsa cepat, matanya menatap Naya serius.
"Kamu belum hafal kota ini. Di sini sama di kampung itu beda jauh, Nay. Kita enggak akan pernah tahu mana orang yang beneran baik, dan mana yang cuma pura-pura baik padahal mau jahat. Kamu itu terlalu polos, jadi harus ekstra hati-hati."
Salsa kemudian duduk di samping Naya, menjabarkan dengan detail bagaimana kerasnya Kota Z. Mulai dari modus penipuan jalanan, hingga akal-akalan laki-laki hidung belang.
"Aku trauma, Nay. Dulu pas baru datang, aku pernah diajak ngobrol ramah banget sama orang di kereta. Pas aku lengah sedikit, dompet dan HP-ku amblas,"
Kenang Salsa dengan kilat kekesalan yang masih tersisa di matanya. "Makanya, kalau ada orang asing yang sok akrab dan mencurigakan, jangan diladeni."
Naya menepuk dahinya sendiri, tersadar oleh sesuatu. "Ya ampun, Sa! Aku sampai lupa belum shalat magrib. Gara-gara supir taksi tadi, nih. Tadi pas kamu ketiduran di mobil, aku sempat minta berhenti sebentar di masjid pinggir jalan. Eh, bapaknya malah ketus, katanya harus tambah uang arloji baru mau berhenti."
Salsa menghela napas, tersenyum kecut. "Ya, begitulah kota, Nay. Uang adalah segalanya. Ya udah, kamu salat duluan. Aku keluar sebentar mau beli lauk dan cemilan di depan."
.
.
Begitu Salsa menutup pintu, Naya bergegas ke kamar mandi untuk berwudu. Lembaran mukena putih bermotif daun kecil yang ia bawa dari rumah kini telah membingkai wajah ayunya. Namun begitu berdiri di tengah ruangan, Naya kebingungan. Ke mana arah kiblat?
Naya memutuskan untuk bertanya pada tetangga sebelah. Ia membuka pintu kontrakan dan melongokkan kepala. Kebetulan, pintu kamar sebelah terbuka.
Seorang wanita keluar dengan riasan wajah yang cukup tebal. Wanita itu mengenakan dress hitam ketat dengan potongan dada rendah dan belahan paha yang tinggi.
"Permisi, Kak..." sapa Naya selembut mungkin, tanpa prasangka apa pun. "Maaf mengganggu, saya mau tanya, kalau arah kiblat di sini menghadap ke mana, ya?"
Wanita yang sedang sibuk mengunci pintunya itu menoleh. Matanya memicing, menatap Naya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis.
"Lo nanya gue? Mana gue tahu. Gue bukan ustazah yang rajin shalat," ketusnya berbau sinisme.
"Tanya tuh ke kontrakan paling ujung! Dia biasanya pakai pakaian tertutup kayak lo gitu."
Tanpa menunggu balasan Naya, wanita itu berbalik dan melenggang pergi dengan sepatu hak tingginya, meninggalkan aroma parfum yang menyengat.
Naya baru saja hendak melangkahkan kaki menuju kamar paling ujung saat sebuah suara menginterupsinya.
"Naya!"
Itu Salsa. Ia berjalan cepat membawa satu kantong plastik berisi makanan. "Kamu mau ke mana pakai mukena begitu?"
"Eh, Sa... ini, aku mau tanya arah kiblat. Tadi nanya sama kakak yang itu, tapi katanya enggak tahu," tunjuk Naya polos pada wanita berbaju seksi yang punggungnya mulai menjauh di gang. "Terus aku disuruh tanya ke kontrakan ujung."
Salsa buru-buru menarik lengan Naya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. "Kiblatnya serong ke arah kanan kasur, Nay. Dan tolong, lain kali jangan asal ngobrol sama orang sini. Itu tadi Mbak Mery, dia kerja di tempat karaoke klup malam"
Salsa mengembuskan napas panjang. Sebenarnya, lingkungan ini sudah tidak aman lagi. Bulan depan Salsa bahkan berniat pindah.
Di sini terlalu bising, belum lagi maraknya kasus kehilangan. Uang hasil keringat Salsa pun pernah raib digondol maling dari dalam kamarnya sendiri. Namun, ia memilih menyimpan cerita itu agar Naya tidak makin ketakutan.
.
.
.
Keesokan paginya, atmosfer kamar yang sempit itu terasa lebih segar. Naya sudah bersiap. Ia mengenakan baju kurung maroon yang anggun, dipadukan dengan celana hitam dan kerudung pashmina berwarna merah muda yang senada.
"Gimana penampilan, Sa? Udah pas belum?" tanya Naya dengan senyum merekah penuh harap.
Salsa mundur satu langkah, mengamati Naya dari ujung kepala hingga kaki.
"Coba putar badan," pintanya.
Naya menuruti dengan riang. Namun, senyum Salsa perlahan memudar. Ia menggigit bibirnya, merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal.
Pandangannya terkunci pada alas kaki Naya. Sepasang sandal busa jepit yang warnanya sudah pudar dan menipis karena sering dipakai.
Tanpa banyak bicara, Salsa berjongkok di depan Naya. "Lepas sandal kamu, Nay. Pakai sepatu aku yang ini."
Salsa mengambil sepasang flat shoes berwarna cokelat kopi yang masih tampak sangat terawat dan meletakkannya di depan kaki Naya.
Naya terperangah dan buru-buru menarik kakinya mundur. "Eh, jangan, Sa! Itu kan sepatu kerja kamu yang paling bagus. Biar aku pakai sandal ini aja, enggak apa-apa."
"Kamu itu mau kerja di butik, Naya Azleaaa, bukan mau ke pasar!" tegas Salsa, langsung memegang pergelangan kaki Naya dan memakaikan sepatu itu dengan sedikit memaksa.
"Apa kata Bunda Vero nanti kalau lihat kamu datang pakai sandal yang sudah mau putus begini? Jangan khawatir, sepatu aku masih banyak di rak."
Salsa menunjuk rak plastik tiga susun di balik pintu yang dipenuhi beberapa pasang sepatu kerja dengan berbagai model.
Setelah terpasang, sepatu cokelat kopi itu ternyata pas dan membuat penampilan Naya naik kelas secara instan.
Naya menatap kakinya dengan perasaan campur aduk. "Nanti... kalau aku sudah terima gaji pertama, aku bakal ganti uang sepatu ini ya, Sa. Aku enggak enak..."
Salsa berdiri, lalu merangkul bahu sahabatnya itu dengan erat.
"Udah, jangan dipikirin. Kita sahabatan udah dari zaman susah. Kecuali ya... kalau nanti kamu udah jadi orang kaya, kamu wajib traktir aku apa aja! Hahaha," canda Salsa, memecah kecanggungan.
Di balik senyumnya, Salsa menatap Naya dengan binar haru. Ia tidak pernah melupakan kebaikan keluarga Naya saat mereka masih duduk di bangku SMP dulu.
Ketika ayah Salsa sakit keras dan keluarganya terancam runtuh karena ekonomi, orang tua Naya-lah yang secara diam-diam melunasi seluruh uang ujian dan tunggakan sekolah Salsa.
Naya sendiri bahkan tidak tahu tentang hal itu, sebab orang tuanya adalah tipe manusia yang selalu menyembunyikan tangan kanan saat memberi.
Dulu, orang tua Naya adalah buruh pabrik sepatu dengan penghasilan yang cukup untuk menabung masa depan anak-anak mereka.
Tragisnya, setelah kedua orang tua Naya tiada, seluruh tabungan itu dikuras habis oleh paman Naya sendiri—adik kandung dari ibunya. Rahasia kelam itu terkubur rapat, hanya diketahui oleh Nenek Rumi yang memilih bungkam demi menjaga kedamaian keluarga.
Salsa berjanji dalam hati akan menjaga Naya di kota ini. Ketika Bu Vero bercerita sedang membutuhkan pegawai butik yang jujur, wajah Naya-lah yang pertama kali melintas di pikiran Salsa.
Ia meyakinkan bosnya bahwa ia memiliki seorang sahabat yang memegang teguh kejujuran dan ketekunan di atas segalanya. Dan hari ini, langkah awal itu resmi dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments