Karena Cinta
Naya Azelia gadis ceria, lembut dan tegas sedang meyakinkan dirinya untuk melangkah Menuju Kota Z, bekerja mengundi nasib bersama sang sahabat.
"Naya janji, Nek... Naya akan jaga diri dan kehormatan Naya. Naya gak mau terus-terusan jadi beban Nenek."
Naya Azelia, gadis berusia dua puluh tahun itu, masih berusaha keras meyakinkan sang nenek. Di hadapannya, Nenek Rumi menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Memperoleh izin untuk merantau ke ibu kota bukanlah perkara mudah. Semua orang tahu, hidup di Kota Z keras dan penuh rintangan.
Apalagi, Nenek Rumi sering mendengar selentingan kabar burung tentang gadis-gadis seusia Naya yang terjerumus menjual diri demi bertahan hidup di kota besar.
Isak tangis Nenek Rumi akhirnya pecah saat melihat Naya tetap bersikeras merapatkan ritsleting tas ransel hitamnya. Wanita tua itu akhirnya luruh, memeluk cucu perempuannya erat-erat. Selama ini, Naya adalah anak yang penurut, tak pernah sekalipun membantah atau melawan ucapannya.
Di sudut ruangan, Airlangga menarik-narik ujung baju Naya. Remaja itu berusaha mencegah kakak perempuan satu-satunya itu pergi.
"Angga bisa jualan kantong plastik di pasar buat bantu Kakak... asal Kak Naya jangan pergi tinggalkan Angga dan Nenek,"
Isak Angga, tiba-tiba bersimpuh di hadapan Naya. "Kakak kerja di pabrik dekat sini saja, jangan pergi jauh-jauh, Kak..."
Hati Naya goyah seketika. Dadanya berdenyut nyeri melihat adiknya yang biasa cuek, kini memohon hingga bersimpuh di kakinya.
"Angga janji, Angga gak akan nongkrong di warnet lagi. Angga bakal nurut di sekolah, asal Kakak tetap di sini bersama kita!" tambah Angga dengan suara serak, napasnya tersengal menahan tangis yang menyesakkan dada.
Nenek Rumi yang tak tega menyaksikan pemandangan itu memilih membalikkan badan. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke halaman belakang, berpura-pura menyiram tanaman cabai dan kacang panjang miliknya untuk menyembunyikan air mata.
"Sudahlah, Angga! Jangan kamu halangi apa yang sudah menjadi tekad kakakmu," seru Nenek Rumi dari balik pintu belakang, suaranya terdengar ketus—sebuah pelampiasan dari rasa tidak berdayanya.
"Kakakmu itu sepertinya tidak mau belajar dari pengalaman orang-orang kampung yang kerja di sana. Pulang-pulang cuma membawa malu keluarga saja."
Naya terdiam membeku. Kalimat itu bagai sembilu yang menggores lubuk hatinya. Jari-jarinya meremas ujung pasmina instan yang membingkai wajahnya.
Angga yang melihat neneknya pergi, perlahan bangkit dan menyusul ke belakang, meninggalkan Naya sendirian dalam keraguan yang kembali membubung.
Apakah keputusannya ini benar, atau justru salah?
"Nay, ayo... taksinya sudah datang!"
Suara Salsa, sahabat masa kecilnya yang tinggal berbeda RT, membuyarkan lamunan Naya dari ambang pintu.
Naya cepat-cepat menghapus bulir bening di pipinya. Panggilan Salsa seolah membakar kembali api tekad di dalam dadanya untuk mengubah nasib keluarga.
Ia harus bergerak. Sebelum melangkah keluar, ia berlari ke belakang rumah untuk memohon ridha terakhir kali.
Di sana, Nenek Rumi dan Angga sedang berdiri dekat tempayan tanah liat besar.
"Nenek, Naya harap Nenek ridha dengan ikhtiar Naya," ucap Naya, suaranya bergetar namun tegas. "Naya janji akan selalu ingat nasihat Nenek. Naya titip Angga ya, Nek."
Nenek Rumi memandangi wajah cucunya dalam-dalam. Ia tahu betul tabiat Naya yang jujur, ulet, dan cepat belajar. Akhirnya, benteng pertahanan sang nenek runtuh juga.
"Baiklah. Nenek tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau keputusanmu sudah bulat," ujar Nenek Rumi sambil menarik Naya ke dalam pelukannya. "Semoga Allah selalu melindungimu di mana pun kamu berada. Jangan pernah tinggalkan shalat lima waktu, Nak."
Meskipun Naya hanya bermodalkan ijazah SMA, Nenek Rumi menyelipkan doa dan keyakinan besar di dalam hatinya.
Angga pun maju memeluk kakaknya erat-erat. Walau hatinya perih dan belum siap kehilangan sosok yang selalu membantunya belajar dan menyemangatinya setiap pagi, Angga tahu ini adalah pengorbanan Naya untuk masa depannya.
Di dalam hati, Angga berjanji akan belajar lebih giat agar bisa masuk ke SMA impiannya tanpa menyusahkan kakaknya lagi.
"Jaga diri baik-baik ya, Ga. Jangan pulang malam terus, kasihan Nenek harus mencari kamu!," bisik Naya sambil mengacak rambut adiknya yang mulai gondrong.
"Rambutnya jangan lupa dicukur, uang yang minggu lalu Kakak kasih masih ada, kan?"
"Iya, Kak... Kakak juga jaga diri. Jangan sampai tergoda laki-laki ibu kota ya," sahut Angga, mencoba tersenyum tipis. "Insyaallah besok Angga potong rambut."
Angga bergegas membawakan tas Naya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil, sebuah perhatian kecil dari seorang adik laki-laki yang beranjak dewasa. Sebelum pintu mobil tertutup, Angga mengetuk kaca jendela Salsa.
"Kak Salsa, kalau sudah sampai, tolong kabari Pak RT ya. Biar kami di sini tenang," pinta Angga.
Ponsel adalah barang mewah yang belum mampu mereka beli. Selama ini, mereka hanya mengandalkan upah harian Nenek Rumi yang tak seberapa dan sisa gaji Naya dari konfeksi baju dekat pasar.
Naya sengaja melarang Angga bekerja paruh waktu menjadi kuli panggul demi menjaga fokus belajarnya, sebab Angga adalah anak yang cerdas dan selalu berprestasi di kelasnya.
Mobil mulai melaju membelah jalanan, meninggalkan Kampung Sawah, Desa Paguyuban. Perjalanan menuju Kota Z diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam.
.
.
Di sebelah Naya, Salsa sudah terpejam pulas, kelelahan setelah semalaman membantu keluarganya berdagang. Namun, tidak dengan Naya. Matanya menatap keluar jendela, merekam setiap jengkal perubahan pemandangan—dari hamparan sawah hijau yang luas, hingga perlahan digantikan oleh aspal kelabu yang lebar.
Satu setengah jam berlalu, sepasang mata indah Naya terperangah. Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi bak tiang yang menopang langit malam.
Lampu-lampu kota beraneka warna mulai menyala, menciptakan panorama yang memukau bagi gadis kampung yang baru menginjakkan kaki di ibu kota saat dewasa.
Terakhir kali ia ke sini adalah saat duduk di bangku sekolah dasar bersama almarhum ayahnya. Kini, Kota Z telah berubah menjadi hutan beton yang luar biasa megah sekaligus mengintimidasi.
Saat mobil melambat di sebuah lampu merah, Naya memberanikan diri bertanya kepada sopir taksi daring tersebut, karena tidak tega membangunkan Salsa.
"Pak, apakah kita sudah mau sampai ke tujuan?"
Sopir paruh baya itu melirik dari kaca spion tengah. "Belum, Neng. Masih sekitar setengah jam lagi, itu juga kalau jalanan depan tidak macet."
Naya mengangguk paham, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Oh begitu, Pak... Kalau misalnya nanti di jalan sudah azan magrib, apa kita bisa menepi sebentar di masjid terdekat?"
Sopir itu mengembuskan napas panjang, nadanya terdengar agak keberatan.
"Wah, maaf, Neng, gak bisa kalau begitu. Kalau mau ditunggu, harus ada biaya tambahan arloji penantian. Karena saya kan harus menunggu Neng shalat, itu memakan waktu... Harusnya saya sudah bisa ambil penumpang lain."
"Oh... begitu ya, Pak. Ya sudah, nanti saya shalat di kontrakan teman saya saja kalau sudah sampai. Maaf ya, Pak," ujar Naya buru-buru, merasa tidak enak hati sekaligus agak ciut dengan ketegasan dunia kota.
Sadar bahwa ia tidak tahu persis di mana titik penurunan mereka, Naya akhirnya menyentuh bahu sahabatnya pelan. "Sa... Salsa, bangun. Sepertinya kita sudah dekat." Ia harus membangunkan Salsa, agar perjalanan pertama mereka tidak tersesat di tengah megahnya Kota Z.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments