Salsa dan Naya berdiri berhimpitan di dalam bus kota yang sesak. Di bawah sengatan hawa gerah, mereka memilih mengalah, memberikan kursi mereka kepada seorang ibu paruh baya dan kakek tua yang tampak ringkih.
Naya melempar pandangan ke luar jendela, menatap deretan kendaraan yang merayap memadati jalanan Kota Z.
Sementara itu, Salsa dengan telaten menjelaskan rute demi rute, menghafalkan setiap kelokan dan jenis transportasi yang kelak harus Naya kuasai demi bertahan hidup di kota ini.
Satu jam berlalu penuh perjuangan hingga bus akhirnya mendecit, berhenti di sebuah halte yang menjadi titik transit mereka.
"Dari sini kita sambung naik angkutan umum atau bajaj, Nay," ujar Salsa begitu kaki mereka menapak di trotoar.
Naya tertegun menyaksikan hiruk-pikuk pagi hari di Kota Z. Matahari baru saja naik, tetapi sinarnya sudah terasa menyengat.
Gurat kecemasan seketika membayang di wajah Naya; ia takut mereka akan terlambat pada hari pertamanya.
Melihat ekspresi sahabatnya, Salsa langsung menepuk bahu Naya. "Enggak usah buru-buru, Naya. Kita enggak akan terlambat, kok."
"Tapi ini sudah mulai siang, Sa. Lihat, mataharinya sudah seterang ini," sahut Naya gelisah.
Di kampungnya, jam delapan pagi masih menyisakan embun dan udara sejuk. Namun di kota ini, jam tujuh pagi saja polusi udara dan hawa panas knalpot sudah sanggup membuat kepala berdenyut.
"Butik baru buka jam sembilan, Naya. Jam segini yang pegang kunci saja pasti belum datang," jelas Salsa mencoba menenangkan. Ia meraih jemari Naya yang mendadak dingin. "Ayo nyeberang, Nay. Kita naik angkot N.10."
Salsa menarik tangan Naya dan melangkah tegas, mencoba membelah jalan raya. Namun, Naya yang belum terbiasa dengan ritme kota besar mendadak ragu di tengah jalan.
Genggaman tangan mereka terlepas. Tepat pada saat itu, sebuah sepeda motor melesat kencang dari arah kanan.
TIIIIIIIT!
Suara klakson memekik, memutus aliran darah Naya. Ia membeku di tengah aspal. Beruntung, motor itu berhasil mengerem mendadak, meski ujung rodanya hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuh Naya.
"KALAU PUNYA MATA ITU DIPAKAI DONG! LU KIRA INI JALANAN NENEK MOYANG LU?!" bentak si pengendara motor dengan kasar.
Tak cukup memaki, ia merangsek maju dan menoyor bahu Naya hingga gadis itu limbung.
Salsa yang melihat sahabatnya diperlakukan kasar langsung pasang badan. Ia menangkap tubuh Naya yang gemetar, lalu berteriak ka arah si pengendara,
"Lu yang salah! Jalanan lagi macet begini malah ngebut! Enggak punya otak ya?!"
Namun, si pengendara sudah telanjur tancap gas, meninggalkan kepulan asap dan makian Salsa yang menguap di udara.
Wajah Naya pias, kehilangan seluruh rona alaminya. Ini adalah kali pertama ia dibentak secara kasar di tempat umum.
Langkah kakinya terasa lemas. Sadar menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar jalan, Salsa segera memapah Naya menuju sebuah warung kaki lima di pinggir jalan.
Melihat kondisi Naya, seorang ibu paruh baya pemilik warung pecel dengan sigap menyodorkan sebotol air mineral.
"Minum dulu, Neng," ujarnya ramah.
"Terima kasih, Bu," ucap Salsa dan Naya hampir bersamaan.
Setelah Naya meneguk airnya, Salsa menatap lekat-lekat mata sahabatnya. "Lain kali, kalau sudah niat nyeberang, jangan ragu, Nay. Di kota sama di kampung itu beda jauh."
"Iya, Sa... aku tadi kaget waktu kamu tarik. Ditambah lagi motor itu tiba-tiba muncul," jawab Naya dengan suara cicit yang masih menyiratkan trauma.
"Maaf ya, aku juga salah karena terlalu egois menarik kamu tadi," sesal Salsa.
Naya menggeleng pelan, lalu menggenggam balik tangan Salsa. "Ini kelalaian aku, Sa. Bukan salah kamu. Udah, yuk, kita lanjut lagi."
Naya membuka tas rajutnya, berniat mengambil dompet untuk membayar air minum. Namun, Salsa langsung menahannya.
"Udah, enggak usah. Biar aku saja. Uang kamu simpan untuk cadangan ke depan,"
Cegah Salsa sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan kepada pria yang berjaga di kasir warung.
"Sudah dibayar sama bapak yang di ujung sana tadi, Neng," ucap sang penjual mengejutkan mereka.
Naya dan Salsa menoleh, namun sosok yang dimaksud sudah hilang di balik kerumunan koridor jalan. Sebuah misteri kecil yang sengaja ditinggalkan kota ini.
.
.
Tepat pukul 08.25 WIB, Salsa dan Naya tiba di depan sebuah ruko megah. Sebuah papan reklame bertuliskan "Butik Bunda Vero" terpampang mencolok dengan perpaduan warna merah muda dan perak abu-abu yang elegan.
Di sebelah kanan dan kiri butik tersebut berderet toko tas mewah dan elektronik. Hanya ada satu toko yang sudah mulai beraktivitas di ujung gang, sebuah ruko fotokopi.
"Itu tempat aku kerja nanti, Nay. Mall Anggrek yang ada di balik jembatan penyeberangan itu," tunjuk Salsa ke arah gedung megah yang menjulang tinggi di kejauhan.
"Nanti kalau butik sudah tutup, kamu tunggu aku di sini ya. Kita pulang bareng."
Naya tersenyum tipis, mencoba mengusir sisa ketakutannya.
"Wah, kalau dekat begitu, aku bisa dong ajak kamu makan siang bareng nanti?"
Salsa langsung melambaikan tangan, menolak cepat. "Jangan! Dari jembatan penyeberangan itu jalannya masih jauh, Naya. Kamu harus menyeberangi jalan protokol yang jauh lebih besar dan ngeri dari yang tadi."
Naya tertunduk lesu. Ia tahu Salsa mengkhawatirkannya, namun di sisi lain, ia merasa kekhawatiran itu terlalu mengekangnya.
Ia merasa sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Namun bagi Salsa, Kota Z adalah sarang serigala; tidak semua senyum yang merekah di kota ini berniat baik. Salsa hanya memegang teguh sumpah dan pesan dari Nenek Rumi sebelum mereka berangkat.
Salsa mengangkat dagu Naya, memaksanya saling bertatapan.
"Aku bukan enggak percaya sama kemandirian kamu, Nay. Hanya saja... kota ini punya cara sendiri untuk menghancurkan orang baik-baik. Kamu ingat pesan nenekmu, kan? Aku cuma enggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu."
Mendengar ketulusan sekaligus beban yang dipikul sahabatnya, dinding pertahanan Naya runtuh.
"Maafin aku ya, Sa," bisiknya sambil menyandarkan kepala di bahu Salsa.
"Sa, kalian sudah lama nunggu? Maaf ya, jalanan arah ke sini macet parah tadi," sebuah suara interupsi memecah keheningan mereka.
Seorang wanita dengan postur tinggi semampai berjalan mendekat. Ia mengenakan terusan hitam di bawah lutut yang dibalut cardigan sewarna mocca. Modis dan tegas.
"Enggak kok, Mbak. Oh ya, kenalin, ini Naya, temen yang kemarin aku ceritain," kata Salsa memperkenalkan sahabatnya kepada Mbak Bianca.
Bianca bukan sekadar karyawan biasa; dia adalah keponakan kandung dari Bunda Vero. Dialah tangan kanan yang memegang kendali atas arus keuangan dan operasional butik.
"Naya," sapa Naya sopan.
Bianca menatap Naya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tertuju pada wajah Naya yang bersih dengan hijab yang sangat pas berpadu dengan kulit putih kemerahannya. Cantik alami, batin Bianca.
"Yuk, masuk. Nanti biar Tante Vero yang langsung menilai kamu ya, Nay," ujar Bianca memimpin jalan.
Salsa melirik jam dinding di dalam butik yang sudah menunjukkan hampir jam setengah sembilan.
"Mbak Bianca, aku titip Naya ya. Aku harus langsung otw ke Mal Anggrek sekarang. Nay, kamu ngobrol-ngobrol aja dulu sama Mbak Bianca, orangnya asyik kok."
"Oh iya, kamu kan mulai hari ini dipindahkan ke cabang Mal Anggrek sama Bunda Vero. Ya sudah, sana jalan. Tenang, temanmu aman di tangan gue," ucap Bianca meyakinkan.
Setelah Salsa pergi, Bianca mulai mewawancarai Naya dengan santai namun menyelidik—mulai dari latar belakang pendidikan, keahlian menjahit, hingga tempat tinggalnya saat ini. Naya menjawab semuanya dengan jujur dan santun.
.
.
Tak berselang lama, pintu kaca butik terbuka, memunculkan dua karyawan senior. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah dingin.
Bianca memperkenalkan Naya kepada mereka. Karyawan bernama Resti menyambut Naya dengan senyuman hangat, namun tidak dengan Lusi. Wanita dengan riasan wajah yang terlalu tebal alias menor itu menatap Naya dengan pandangan sinis, sarat akan penilaian dan rasa terancam.
"Naya, kalau kamu nanti diterima di sini, besok-besok wajahnya harus sedikit dipoles ya. Biar pengunjung lebih senang melihat karyawan yang terlihat profesional dan modis," ujar Bianca memberikan saran objektif.
"Wajah kamu itu dasarnya sudah cantik, bakal lebih keluar anggunnya kalau disentuh make-up."
"Tapi saya tidak punya alat-alatnya, Mbak. Biasanya cuma pakai bedak tabur saja," jawab Naya jujur.
Mendengar itu, tawa Lusi menyembur remeh.
"Zaman sekarang bilang enggak punya make-up? Duh, jadul banget sih. Enggak banget deh buat standar butik ini."
Lusi membuang muka. Faktanya, kulit putih kemerahan alami milik Naya justru memicu rasa tidak percaya diri di dalam hatinya yang selama ini tersembunyi di balik riasan tebalnya.
"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut masalah make-up," sebuah suara bariton yang berwibawa menginterupsi dari arah pintu masuk.
Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan anggun.
Rambut pirangnya dipotong rapi sebahu, tubuhnya tegap dan dijaga dengan sangat baik, membuat siapapun tidak akan percaya bahwa usianya sudah menginjak kepala lima. Dialah sang pemilik takhta.
"Selamat pagi, Madam Vero," sapa Lusi dengan nada yang dibuat-buat semanis mungkin, langsung bergerak mencari muka
"Pagi, Bunda," sapa Resti dan Bianca. Resti dengan cekatan mengambil alih tas mewah milik bunda Vero dan meletakkannya di atas meja kerja dengan penuh hormat.
Tatapan tajam bunda Vero langsung terkunci pada sosok Naya yang asing di ruangannya.
Naya yang merasa gugup berinisiatif maju dan mengulurkan tangan, untuk mencium punggung tangan sang pemilik butik sebagai tanda hormat khas orang desa.
Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, bunda Vero menarik tangannya kembali dengan gerakan cepat dan dingin. Isyarat penolakan yang halus namun sangat menusuk.
"Kamu temannya Salsa?" tanyanya dingin, langsung duduk di kursi kebesarannya tanpa mempersilakan Naya duduk terlebih dahulu.
"I-iya, Bu..." jawab Naya, lidahnya mendadak kelu"
"Panggilnya Bunda atau Madam! Lu kira Madam Vero ini ibu lu di kampung?!" sela Lusi ketus, memanaskan suasana.
Bianca yang sudah muak dengan tabiat Lusi langsung menoleh tajam. "Lusi! Urus pekerjaanmu sana! Jangan ikut campur!"
Disemprot seperti itu di depan bos besar, Lusi akhirnya mundur dengan wajah bersungut-sungut. Ia menghentakkan kakinya kasar seraya berdecak kesal saat berjalan ke area belakang.
"Dasar perawan tua," umpat Lusi sangat pelan dengan bibir mencibir.
Namun, ruangan yang hening membuat umpatan itu terdengar jelas di telinga keponakan sang bos.
Bianca membalikkan badannya dengan mata menyala. "Eh, Lusi! Gue dengar ya apa yang lu omongin barusan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments