Naya dan Resti berlari sekuat tenaga di sepanjang trotoar yang ramai. Napas mereka memburu, membelah kerumunan pejalan kaki demi mengejar dua orang yang baru saja turun dari bus.
Namun, pelariannya sia-sia. Di tengah kepanikan, Naya hanya mampu mengingat ciri-ciri pria jahat berbaju merah dengan topi kupluk hitam yang merobek tasnya.
Sementara pria berkacamata yang menolong mereka? Naya sama sekali tidak sempat memperhatikan wajahnya.
Langkah kaki mereka akhirnya melambat, lalu terhenti. Dengan tubuh lemas dan peluh yang bercucuran, mereka ambruk di pembatas jalan, tepat di dekat seorang penjual minuman keliling.
"Di dompet itu ada uang ku untuk tiga minggu ke depan, Res," keluh Naya, suaranya parau menahan tangis dan kelelahan. Jantungnya masih berdegup kencang.
"Kalau uang itu hilang... bagaimana aku bisa bayar ongkos kerja besok?"
Resti yang baru saja meneguk habis air mineral kemasannya langsung menepuk bahu Naya.
"Kamu bisa pakai uangku dulu, Nay. Tenang saja."
"Bukan cuma uangnya, Res. Yang paling membuatku takut itu KTP-ku," Naya meremas botol plastik di tangannya dengan cemas.
"Bagaimana kalau disalahgunakan untuk hal-hal kriminal? Ya Allah..." Ia menghela napas berat, mencoba menjernihkan pikiran.
"Res, kamu tadi sempat jelas melihat cowok berkacamata yang menolong kita tidak? Apa... jangan-jangan mereka itu sebenarnya satu komplotan? Sengaja buat drama biar kita lengah?"
Resti langsung melebarkan matanya, tak setuju.
"Ihh, kamu ini! Kok bisa-bisanya menilai cowok seganteng itu sebagai penjahat? Yang aku ingat, dia pakai kacamata, rambutnya agak ikal, dan wajahnya... aduh, ganteng banget, Nay! Mana mungkin tipe seperti dia satu geng dengan bapak-bapak mesum tadi."
"Namanya penjahat, Res. Mau ganteng atau jelek, kalau niatnya mencuri ya tetap saja penjahat!"
Belum sempat Naya menyelesaikan gerutuan itu, sebuah tangan dengan kemeja berwarna green tiba-tiba terulur ke depan wajahnya. Di ujung jemari tangan itu, sebuah dompet yang sangat Naya kenali tergantung pasrah.
Naya tersentak. Kalimatnya terputus seketika. Botol minuman masih tertahan di bibirnya yang setengah terbuka.
"Jadi, kamu pikir saya ini penjahat juga?"
Suara berat dan bariton itu terdengar begitu dekat. Pria berkacamata dengan rambut agak ikal itu berdiri di hadapan mereka. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis yang sarat akan sindiran halus.
Naya buru-buru menurunkan botolnya. Saat jemarinya hendak meraih dompet itu, sang pria dengan sengaja menariknya kembali ke atas.
Refleks, Naya langsung bangkit berdiri, berusaha menggapai barang berharganya.
"Naya Azalea. Nama yang bagus," ucap pria itu pelan, matanya membaca baris demi baris identitas di kartu penduduk milik Naya yang sempat menyembul keluar.
Ia lalu menatap Naya lekat-lekat.
"Kalau saya penjahat, saya tidak akan sudi berlari mengejar pencopet tadi demi mengembalikan dompet ini kepadamu, Lea."
Pria itu akhirnya mengulurkan kembali dompet tersebut dengan sopan.
Di samping Naya, Resti sudah senyum-senyum sendiri, terpesona oleh ketampanan sang penyelamat.
Tangan Resti diam-diam menarik-narik ujung baju Naya, berbisik heboh mendesak sahabatnya untuk menanyakan nama pria itu.
Namun, fokus Naya sepenuhnya tersita oleh dompet di tangannya. Begitu dompet itu berpindah tangan, pria berkacamata itu langsung berbalik, bersiap untuk pergi tanpa menunggu imbalan atau pujian lebih lama.
"T-terima kasih! Dan... mohon maaf atas prasangka buruk saya barusan!" seru Naya setengah berteriak, merasa bersalah.
Tanpa menoleh, pria itu hanya mengangkat tangan kanannya ke udara, memberikan isyarat jempol sebagai tanda bahwa permintaan maafnya diterima.
Langkah kakinya begitu cepat menghampiri sebuah ojek online yang rupanya sudah menunggunya di seberang jalan.
Naya dan Resti hanya bisa mengangguk pelan, menatap kepergian pria misterius itu dengan perasaan campur aduk.
.
.
.
Malam harinya, di dalam kamar kos yang sunyi, Naya duduk termenung di atas kasur tipis. Kedua kakinya terlipat, dengan wajah yang ditenggelamkan di atas lutut.
Pikirannya melayang jauh, menimbang-nimbang setiap perkataan Bunda Vero siang tadi.
"Muka kamu kenapa, Nay? Kok kusut begitu seperti orang linglung?"
Suara Salsa memecah keheningan. Sahabat masa kecilnya itu baru saja keluar dari kamar mandi, sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil.
Melihat Naya yang tak bergeming, Salsa berjalan mendekat dan ikut duduk bersila di hadapannya.
"Bunda Vero... tadi menawarkan pekerjaan lain untukku, Sa. Gajinya besar, tapi aku ragu," jawab Naya lirih tanpa mengubah posisinya.
Handuk di tangan Salsa langsung berhenti bergerak. Wajahnya berubah terkejut.
"Menawarkan kerjaan? Kerjaan apa, Naya? Kalau gajinya besar ya diambil saja! Kan lumayan uangnya bisa kamu tabung untuk kebutuhan adik dan nenekmu di kampung."
Mendengar kata 'nenek' dan 'adik', dada Naya terasa sesak. Bayangan wajah ringkih sang nenek dan senyum polos adiknya, Angga, seketika melintas di benaknya.
Ia sangat ingin membahagiakan mereka, mengirimkan uang yang layak agar atap rumah mereka tak lagi bocor saat hujan.
"Aku diminta untuk merawat keponakannya Bunda Vero, Sa," ujar Naya, suaranya terdengar lesu.
Salsa mengembuskan napas lega, lalu meraih sebungkus camilan di atas meja kecil.
"Loh, apa susahnya merawat anak kecil, Naya? Kamu kan telaten dan suka sekali dengan anak-anak. Pasti gampang. Kenapa harus bingung?"
Naya perlahan mengangkat wajahnya, menatap Salsa dengan tatapan serius.
"Keponakan Bunda Vero itu bukan anak kecil, Sa. Dia laki-laki dewasa."
Uhuk!
Salsa hampir saja tersedak. Keripik yang baru dikunyahnya nyaris melompat keluar.
"Apa? Laki-laki dewasa? Kenapa harus diurus orang lain kalau sudah besar? Memangnya dia tidak bisa urus dirinya sendiri?"
Salsa menggeleng-gelengkan kepala.
"Ada-ada saja tingkah orang kaya. Mungkin mereka bingung uangnya mau dibuang ke mana lagi."
"Dia lumpuh, Sa. Akibat kecelakaan parah yang merenggut nyawa kedua orang tuanya."
Suasana kamar seketika berubah hening dan dingin. Gerakan tangan Salsa yang hendak mengambil camilan lagi terhenti di udara.
"Innalillahi... Beneran, Nay? Aku baru tahu kalau keluarga Bunda Vero punya tragedi seperti itu."
Naya tidak menjawab. Ia bangkit berdiri, mulai merapikan sprei dan membentangkan bantal untuk bersiap tidur.
Salsa yang merasa tidak enak hati segera menjilat sisa bumbu di jarinya, lalu ikut membantu Naya merapikan tempat tidur.
Setelah selesai, keduanya merebahkan diri berdampingan, menatap langit-langit langit kamar kos yang temaram.
"Kalau menurutku, tidak ada salahnya dicoba dulu, Nay," ucap Salsa memecah kesunyian, kini posisinya berbalik menghadap Naya.
"Siapa tahu pekerjaannya tidak seberat yang kamu bayangkan. Memangnya... berapa gaji yang ditawarkan Bunda Vero?"
"Empat juta per bulan."
Mendengar nominal itu, Salsa langsung tersentak kaget dan mengubah posisinya menjadi tengkurap.
"Hampir sama dengan gajiku,, Nay! Kamu tidak tanya detail tugasnya apa saja? Jam kerjanya bagaimana?"
"Bunda Vero hanya bilang tugas utamanya merawat dan menemani keponakannya saja. Untuk urusan rumah dan masak, sudah ada asisten rumah tangga lain yang urus. Tapi untuk jam kerjanya... aku belum tahu pasti."
Di tengah pergulatan batin Naya, tiba-tiba ponsel Salsa yang tergeletak di samping bantal berdering nyaring. Salsa melihat layar ponselnya, lalu segera menggeser tombol hijau.
"Wa'alaikumussalam... Iya, Ibu? Ada apa malam-malam telepon?" tanya Salsa.
"Sa, ini ada Angga, adiknya Naya. Dia menumpang telepon Ibu di warung. Katanya ada hal sangat penting yang mau dibicarakan dengan kakaknya,"
Terdengar suara ibu Salsa di seberang sana, sedikit berisik oleh deru angin malam kampung halaman.
Salsa segera menyodorkan ponsel itu kepada Naya. "Nay, adekmu."
Jantung Naya mencelos. Dengan tergesa-gesa, ia mengambil ponsel itu dan berjalan setengah berlari menuju ruang depan kosan agar bisa berbicara lebih leluasa.
"Halo, Angga? Ada apa, De?" tanya Naya cemas.
Di ujung telepon, suara Angga terdengar ragu dan penuh rasa bersalah. Remaja itu bercerita bahwa minggu depan ia akan menempuh Ujian Tengah Semester.
Ada biaya bulanan dan uang administrasi ujian yang harus segera dilunasi. Angga terpaksa menelepon Naya diam-diam karena tidak tega jika harus meminta kepada nenek mereka yang belakangan ini sering sakit-sakitan.
Naya memejamkan mata rapat-rapat, menahan sesak di dadanya.
"Iya, Angga... tidak apa-apa. Nanti Kakak usahakan kirim uangnya lewat ibunya Salsa ya. Kamu fokus belajar saja."
Sebelum menutup telepon, Angga dengan suara cicit menambahkan bahwa seragam Pramuka miliknya sudah kekecilan dan robek di bagian ketiak karena tubuhnya yang kian tinggi.
Informasi kecil itu menjadi hantaman keras yang meruntuhkan sisa-sisa keraguan di hati Naya.
Setelah sambungan terputus, Naya kembali ke kamar dengan langkah gontai. Rupanya, Salsa sempat mendengar sayup-sayup percakapan tersebut dari balik pintu.
"Adikmu butuh uang mendesak, ya?" tanya Salsa lembut, matanya menatap Naya penuh empati.
"Iya, Sa. Minggu depan dia harus bayar uang bulanan dan ujian. Nanti... aku boleh minta tolong lagi ya, Sa?" Ucap Naya. Suaranya bergetar.
Beban di pundaknya terasa semakin berat, menghimpit harga dirinya yang tak punya pilihan lain.
Tanpa banyak bicara, Salsa langsung membuka aplikasi perbankan di ponselnya.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Biar malam ini langsung aku transfer ke rekening Ibuku di kampung, jadi besok pagi uangnya bisa langsung diantarkan ke rumah nenekmu. Memangnya berapa yang Angga butuhkan?"
"Dua ratus ribu, Sa..." Jawab Naya pelan. Ia berjalan menuju sudut kamar, meraih tas kerjanya yang malang. Matanya memanas saat melihat robekan besar di kain tas akibat sabetan pisau pencopet di bus tadi siang.
Salsa mendekat, merebut tas robek itu dari tangan Naya dengan wajah shock.
"Ya ampun, Naya! Tas kamu sampai rusak begini? Jangan bilang kalau kamu beneran kecopetan tadi siang?!"
"Iya, Sa... Tadi sempat dijambret di bus. Tapi Alhamdulillah, berkat mas-mas berkacamata tadi, uangnya bisa kembali."
"Naya! Aku kan sudah sering bilang, kalau pulang kerja itu tunggu aku saja! Begini kan jadinya kalau kamu nekat pulang sendiri!"
Omel Salsa, campur aduk antara kesal dan khawatir setengah mati pada sahabatnya.
"Aku tidak sendiri, Sa. Aku kan pulang bersama Resti," Naya membuka dompetnya, memperlihatkan beberapa lembar uang yang tersisa.
"Uangku tinggal dua ratus dua puluh ribu. Ini sisa satu-satunya untuk bertahan hidup tiga minggu ke depan..."
Salsa menghela napas panjang. Ia mendorong pelan tangan Naya yang memegang dompet, menolak uang itu.
Jarinya dengan cepat mengetik di layar ponsel, lalu menunjukkan bukti transfer sukses kepada Naya.
"Uangmu simpan saja untuk ongkos dan makan. Masalah uang Angga, sudah beres, sudah aku kirim. Kamu bisa ganti nanti kalau sudah punya uang lebih,"
Salsa menatap mata Naya dengan dalam.
"Dan aku harap... kamu pikirkan baik-baik lagi tentang tawaran dari Bunda Vero."
Air mata yang sejak tadi ditahan Naya akhirnya luruh juga. Rasa bersalah dan utang budi yang menumpuk membuat hatinya perih.
"Terima kasih banyak, Sa. Maaf... maaf kalau aku selalu merepotkanmu. Sejak kita merantau, aku menumpang di kosanmu, makan bersamamu, dan sekarang kamu bahkan membiayai sekolah adikku...Sa,"
Naya menyeka air matanya, menatap Salsa dengan kemantapan yang dipaksakan.
"Tolong kirim pesan ke Bunda Vero malam ini. Katakan kalau aku menerima pekerjaannya. Aku akan merawat keponakannya."
Salsa tertegun. Ia tahu betul bagaimana prinsip sahabatnya ini. Naya adalah gadis yang sangat menjaga diri, bahkan belum pernah sekalipun berpacaran atau bersentuhan dengan laki-laki asing.
Merawat seorang pria dewasa yang lumpuh pasti akan menuntut kontak fisik yang intens dalam hal perawatan.
"Kamu yakin, Nay? Tolong jangan ambil keputusan hanya karena terdesak uang bulanan Angga. Kita bisa cari jalan lain," Salsa mencoba memperingatkan.
Naya menggeleng, tersenyum getir dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sudah yakin, Sa. Aku tidak bisa terus-menerus menjadi benalu di hidupmu. Kalau aku mengambil pekerjaan ini, setidaknya aku akan tinggal di rumah besar itu. Aku dapat tempat tinggal gratis dan makan ditanggung. Gajinya pun bisa utuh aku kirim ke kampung."
Mendengar kalimat pasrah namun tegap dari Naya, pertahanan Salsa runtuh. Ia melangkah maju dan memeluk tubuh kurus Naya dengan sangat erat. Air matanya ikut tumpah membasahi bahu sahabatnya.
"Kamu bicara apa, sih? Aku sama sekali tidak pernah merasa direpotkan olehmu, Naya!"
Isak Salsa di sela pelukannya. "Aku justru bahagia bisa bersamamu di kota ini. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana kebaikan orang tuamu dulu yang selalu membantu keluargaku saat kita masih kesusahan di desa."
Apa yang kulakukan sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan ketulusan keluargamu dulu."
Di dalam kamar kos yang sempit itu, kedua sahabat itu saling berpelukan erat, menangis bersama di bawah bayang-bayang takdir baru yang esok hari akan membawa Naya masuk ke dalam rumah penuh intrik milik keponakan Bunda Vero.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments