Seminggu telah berlalu.
Bagi Naya, tujuh hari pertama bekerja di butik terasa seperti ujian sekaligus berkah.
Kebetulan hari ini butik hanya beroperasi setengah hari. Riuh rendah persiapakan pulang sudah terasa, membuat Naya dan Resti tak bisa menyembunyikan binar antusias di wajah mereka.
Naya beruntung. Di tempat baru ini, ia tak hanya memiliki Salsa sebagai tempat bersandar. Ada Resti, rekan kerjanya, yang dalam hitungan hari langsung merasa cocok dengan kepribadian Naya yang tulus.
Resti pulalah yang selalu setuju saat diajak berhemat; makan siang di warteg pojok jalan dengan menu seadanya. Sangat kontras dengan Lusi, pegawai lain yang selalu memandang sebelah mata dan memilih memamerkan gaya hidupnya di restoran seberang kompleks.
Namun, ketenangan siang itu terusik saat Bunda Vero berjalan anggun keluar dari ruangannya.
Selama seminggu ini, sepasang mata tajam Bunda Vero tak pernah lepas mengamati gerak-gerik Naya. Ada kepuasan tersembunyi yang ia simpan rapat-rapat.
"Naya, ikut ke ruangan saya sebentar. Ada yang harus kita bicarakan," suara Bunda Vero terdengar datar namun penuh penekanan.
Tanpa menunggu jawaban, wanita paruh baya itu berbalik, meninggalkan aura misterius yang langsung menyengat seisi ruangan.
Lusi yang sedang memoles lipstik merah menyalanya langsung mencibir.
"Duh, dilempar ke ruang eksekusi. Pasti lu bikin ulah ya, makanya Bunda manggil? Siap-siap aja angkat kaki."
Naya menarik napas dalam-dalam. Ia perlahan melepaskan genggaman tangan Resti yang mendadak mendingin karena cemas.
"Tungguin aku sebentar ya, Res," bisik Naya menenangkan, yang dijawab Resti dengan anggukan ragu.
Lusi mendengus remeh, menyambar tasnya, dan melenggang pergi begitu saja melewati Bianca yang berdiri di dekat pintu depan.
"Tumben Si Ratu Kepo langsung ngacir. Biasanya kupingnya paling panjang kalau ada gosip," sindir Bianca sinis. Sejak awal, Bianca memang tidak pernah sejalan dengan Lusi.
Lusi menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh dengan senyum meremehkan.
"Ngapain nguping? Paling si anak kampungan itu dipecat. Dan lu, Bianca... mending siap-siap. Gak lama lagi giliran lu yang ditendang dari sini."
Plak!
Sebuah gantungan baju plastik melayang dari tangan Bianca, namun Lusi dengan sigap menghindar.
Tawa kemenangan Lusi menggema di koridor luar saat ia melangkah pergi.
"Awas lu ya! Gue pastiin Bunda tahu kelakuan busuk lu!" teriak Bianca frustrasi pada kekosongan.
.
.
Di dalam ruang kerja yang harum aroma kayu cendana, Naya duduk berhadapan dengan Bunda Vero. Jantung Naya berdegup kencang, jemarinya saling bertautan dengan gelisah.
Ia langsung teringat bagaimana seminggu ini ia harus menghadapi para pelanggan. para ibu sosialita yang kerap menuntut pelayanan sempurna dengan nada memerintah.
Naya selalu menghadapinya dengan senyum dan kesabaran ekstra, tapi apakah itu belum cukup?
Bunda Vero menopang dagunya, menatap Naya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Naya, sebelum saya menyampaikan maksud sebenarnya, saya ingin bercerita sedikit," ujar Bunda Vero, nadanya melunak namun terasa berat.
"Setelah kamu mendengar ini, keputusan sepenuhnya ada di tanganmu. Kamu berhak menolak, dan jika kamu menolak, posisimu di butik ini akan tetap aman. Jadi, tolong dengarkan baik-baik."
Naya menelan ludah. Kalimat itu justru terdengar seperti vonis halus di telinganya.
"Maksud... Maksud Bunda, saya diberhentikan?" tanyanya ragu, suaranya agak bergetar.
Bunda Vero tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan banyak beban.
"Bukan, Naya. Justru sebaliknya," Bunda Vero menghela napas panjang. "Saya memiliki seorang keponakan. Dia... sudah lama terbaring lumpuh di tempat tidur akibat kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya...
... Kehilangan itu menghancurkan semangat hidupnya. Padahal, dia adalah satu-satunya pewaris sah yang harus mengelola bisnis orang tuanya—termasuk butik ini, restoran, dan beberapa kafe."
Bunda Vero menjeda kalimatnya, menatap Naya lekat-lekat. "Dia butuh seseorang di sisinya. Bukan sekadar perawat, tapi seseorang yang punya mental baja."
Naya menyimak dengan saksama. Intrik apa yang sebenarnya sedang terjadi di keluarga atasannya ini?
"Saya melihat dalam dirimu ada kesabaran dan ketegasan yang jarang dimiliki orang lain," lanjut Bunda Vero, mulai membuka kartu.
"Jadi, saya tawarkan pilihan: Tetap di sini sebagai pelayan butik dengan gaji dua setengah juta, atau pindah ke rumah keponakan saya untuk merawatnya dengan gaji empat juta rupiah per bulan?"
Angka empat juta seketika membuat dada Naya berdesir. Pikiran tentang atap rumah neneknya yang sudah mulai lapuk dan butuh biaya renovasi langsung terlintas di benaknya.
"Sebagai peringatan," tambah Bunda Vero, suaranya merendah bagai bisikan misterius, "Pekerja sebelum kamu semuanya mengundurkan diri dalam hitungan hari. Mereka tidak kuat menghadapi kemarahan dan tabiat buruk keponakan saya yang tempramental. Jadi, bagaimana?"
Naya terdiam sejenak, menimbang risiko di balik nominal yang menggiurkan itu.
"Bunda... jika boleh, Naya meminta waktu sampai besok pagi untuk memikirkannya. Insya Allah, besok pagi Naya akan langsung memberikan jawaban."
Bunda Vero tampak sedikit kecewa, namun ia mengangguk paham.
"Baiklah. Tolong kabari saya secepatnya, karena situasi di rumah itu sudah semakin mendesak. Kamu boleh pulang sekarang."
"Terima kasih, Bunda. Naya izin pamit. Nanti Naya akan kabari Bunda lewat ponsel Salsa," ujar Naya seraya menyalami tangan majikannya.
Saat tangan Naya baru saja menyentuh kenop pintu, suara Bunda Vero kembali menghentikannya.
"Naya, kamu tidak punya alat komunikasi sendiri?"
Naya menoleh, tersenyum canggung namun jujur.
"Belum punya, Bun. Selama ini selalu menumpang lewat Salsa."
Bunda Vero tertegun sejenak, ada kilat simpati di matanya yang dalam. "Oh... begitu. Ya sudah, hati-hati di jalan."
.
.
.
Sore itu, bus kota terasa lebih sesak dari biasanya. Bau keringat dan gurat kelelahan tergambar jelas di wajah para komuter.
Naya dan Resti terpaksa berdiri di bagian belakang, berpegangan pada tiang besi yang bergoyang setiap kali bus mengerem mendadak.
Di tengah kebisingan itu, Naya berbisik menceritakan tawaran Bunda Vero, membuat Resti terbelalak tak percaya.
Namun, obrolan mereka terputus. Naya menangkap perubahan ekspresi Resti yang mendadak tegang dan tidak nyaman.
Seorang pria paruh baya berkumis tipis sengaja menggeser tubuhnya, memepet Resti dengan gestur yang mencurigakan.
Naya yang tidak bisa tinggal diam langsung bergeser, membentengi temannya.
"Maaf ya, Pak," tegur Naya, suaranya ditekan serendah mungkin namun tegas.
"Teman saya merasa tidak nyaman. Kalau tidak keberatan, Bapak bisa pindah ke area depan yang agak luang?"
Pria berkumis tipis itu melotot, merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum. Bukannya menjauh, ia justru mendorong Resti dengan kasar.
"Ini angkutan umum! Kalau mau lowong, lu berdua aja yang pindah, sok suci banget!"
Dorongan itu cukup kuat hingga membuat Resti terhuyung ke arah pintu bus yang terbuka.
Jantung Naya serasa berhenti seketika. Dengan gerak refleks yang cepat, Naya menyambar pergelangan tangan Resti dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Pak! Tolong punya sopan santun sama perempuan!" bentak Naya, emosinya mulai tersulut.
"Kalau teman saya tadi jatuh ke aspal bagaimana?! Bapak mau tanggung jawab?!"
Suara Naya yang melengking membuat beberapa penumpang mulai menoleh. Namun, pria berkumis tipis itu justru maju selangkah dengan wajah menantang.
"Biarin aja jatuh! Sekalian sama lu juga!"
Naya tahu berdebat dengan orang stres di bus tidak akan ada habisnya. Ia memutuskan menarik Resti untuk menjauh. Namun baru dua langkah, sebuah sentakan keras di bagian belakang kepalanya membuat Naya memekik kesakitan.
Pria itu dengan tega menjambak kuat bagian belakang kerudung Naya.
"Aww!" Naya meringis, menahan perih di kulit kepalanya. Resti di sampingnya sudah gemetar ketakutan, air mata mulai menggenang.
"Lepas, Pak! Kalau sampai Bapak berani melepas kerudung saya, saya pastiin Bapak akan membusuk di penjara!"
Ancam Naya dengan tatapan mata yang mendadak tajam dan berani, meski air mata menahan sakit mulai merebak di sudut matanya.
Para penumpang lain hanya menonton, tampak ragu dan takut untuk ikut campur.
Sampai sebuah tangan kekar bersetelan kemeja rapi mencengkeram pergelangan tangan pria berkumis tipis itu dengan cengkeraman mematikan. Pria berkacamata, tatapannya dingin di balik lensa.
"Kalau Anda merasa sebagai laki-laki, tidak pantas tangan Anda menyentuh wanita seperti ini," ucap pria berkacamata itu dengan nada rendah yang mengintimidasi.
Ia memelintir sedikit pergelangan tangan pria berkumis itu hingga sang pelaku meringis kesakitan dan terpaksa melepaskan jambakannya pada kerudung Naya.
Pria berkumis tipis itu tampak syok saat mengenali wajah pria berkacamata tersebut. Ada ketakutan yang mendalam di matanya, seolah pria berkacamata itu adalah seseorang yang memiliki kuasa besar atas hidupnya.
Tanpa membalas sepatah kata pun, pria berkumis itu langsung berbalik dan bergegas turun saat bus melambat di halte berikutnya.
Pria berkacamata itu langsung melangkah lebar, ikut turun mengejarnya.
"Alhamdulillah... untung ada orang baik yang nolongin kita, Nay," bisik Resti, tubuhnya masih lemas.
Naya yang sedang sibuk membetulkan posisi kerudungnya celingukan.
"Ke mana pria berkacamata tadi, Res?"
"Dia ikut turun... kayaknya ngejar bapak-bapak tadi."
Naya mengernyit bingung. "Kenapa dia harus repot-repot mengejarnya?"
Seorang ibu-ibu yang duduk di dekat mereka tiba-tiba menepuk pundak Naya dengan wajah cemas.
"Neng, coba cek tasnya. Tadi Ibu sempat lihat bapak-bapak yang kumisan itu merogoh sesuatu dari tas Neng waktu suasananya ribut."
Naya dan Resti saling berpandangan dengan mata terbelalak. Sesuatu yang buruk baru saja terjadi, dan ada intrik yang lebih besar di balik kejadian di bus ini.
"Kiri, Pak! Kiri!" teriak Naya panik.
Bus pun berhenti. Naya segera memapah Resti yang masih gemetaran karena memakai sepatu berhak tinggi untuk turun di halte terdekat, berniat memeriksa barang-barang mereka yang mungkin telah hilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments