Malam hari
Hening yang menyelimuti rumah membuat pikirannya kembali berkelana. Ia menatap Ica yang tengah tertidur pulas disampingnya, ia menatap anak kecil yang hanya hidup olehnya tanpa figur seorang ayah di sampingnya. Dadanya sesak, namun ia tersenyum paksa.
" Bunda cukup, Ica nggak butuh yang lain…” gumamnya pada diri sendiri, seolah ingin meyakinkan hatinya yang rapuh.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Vano muncul di layar. Farah terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.
“Halo, Pak.” suaranya pelan.
“Far, besok Mobil Kamu baru bisa di anter ke rumah. ” suara Vano terdengar serius, namun ada kelembutan yang sulit ia sembunyikan.
“Iya, Pak. Terima kasih sudah bantuin tadi.” jawab Farah, menahan suaranya agar tetap datar.
“Far, aku tahu kamu nggak suka Aku bantuin tadi. Tapi lihat kamu tadi, lihat Ica. Aku makin yakin, Aku nggak salah kalau terus ada di dekat kamu.”
Farah terdiam. Ia meremas ujung bajunya, berusaha keras menahan air mata. “Pak Vano, tolong jangan bikin saya salah paham. Saya cuma bawahan Bapak. Jangan lebih.”
Suasana hening. Hanya terdengar helaan napas berat dari seberang.
“Kalau kamu mau terus menutup diri, itu hak kamu, Far. Tapi jangan larang aku buat peduli. Karena Aku nggak mau lihat kamu terus berjuang sendirian.”
Farah langsung menutup telepon itu, dadanya berdegup kencang.
Ternyata Ica belum sepenuhnya tidur. Gadis kecil itu mendengar suara bundanya yang bergetar saat bicara. Ia menggenggam boneka kecilnya, lalu berbisik lirih, “Andai Bunda nggak sedih terus, Ica pengen ada yang jagain Bunda juga.”
Di tempat lain, Vano duduk sendiri di dalam mobil yang terparkir di depan rumahnya. Ia menatap kosong ke depan. “Sampai kapan pun, Far Gue nggak akan berhenti. Kalau Gue harus ngadepin trauma Lo, gue siap. Karena Lo sama Ica, adalah alasan gue bertahan.”
Matanya berkaca-kaca, tapi senyum tipis terukir di wajahnya.
Di langit malam yang mulai dipenuhi bintang, seakan takdir sedang bersiap mempertemukan mereka dalam jalan yang lebih rumit. Antara cinta, luka lama, dan keberanian membuka hati yang telah hancur.
Ditengah Malam...
“ Bunda... ” lirih Ica dengan mata yang terpejam dan badan yang gemetar.
Farah pun bangun dari tidurnya, Ia langsung memeriksa keadaan sang anak.
“ Sayang, kok badan kamu tiba-tiba panas. ” Ucapnya dengan Khawatir sambil memegang dahi Ica.
hal ini membuat Farah panik. Sehingga ia menggendong Ica untuk dibawa ke Rumah sakit.
“ Tuhann.. Apa malam seperti ini akan ada angkutan untuk kita tumpangi. ” Keluhnya dengan wajah panik serta khawatir.
Farah memesan Taksi online, namun ga ada satupun yang mengambil. Akhirnya Farah menggendong Ica kerumah sakit, Padahal jarak ke Rumah sakit lumayan jauh.
Tin.. tin..
“ Far, mau kemana tengah malam gini? ” Tanya Vano yang tiba-tiba ada dibelakang mereka, padahal mereka baru keluar pager beberapa langkah.
“ Pak tolong, anter Saya ke Rumah sakit. Ica tiba-tiba badanya panas banget... ” Ucapnya dengan tetesan air mata.
“ Udah langsung masuk. Saya antar Rumah sakit sekarang. ” Sahutnya mempersilahkan Farah masuk kedalam mobilnya.
“ Pak makasih yaa. ” Ucap Farah sambil terus meneteskan air mata dan terus memeluk sang anak.
“ iyaa. Kamu tenang yaa, Sebentar lagi kita sampai. ” Ucap Vano dengan melihatnya dari kaca depan mobilnya.
“ Bagaimana Saya bisa tenang Pak, Saya cuman punya Ica dalam hidup Saya. Saya takut kalo ia kenapa-napa. ” Sahutnya dengan raut wajah yang sangat khawatir.
“ Iya, Saya faham. Ica pasti baik-baik aja, dan sebentar lagi kita sampai Rumah sakit. ” Ucapnya dengan suara yang lembut untuk menenangkan Farah.
Sesampainya di Rumah sakit, Ica langsung diperiksa oleh Dokter.
Farah mondar-mandir di depan Ruangan.
“ Far.. Ica pasti baik-baik aja. Sekarang kamu duduk tenang, dan doa sama Tuhan.” Ucap Vano dengan menatap Farah penuh ketulusan.
Farah pun menurutinya untuk duduk, namun jari jemarinya tak bisa diam karena begitu besar rasa khawatir dan takut.
Cetek
Farah langsung menghampiri Dokter“ Dok gimana Putri Saya? ”
“ Putri Ibu baik-baik aja. hanya saja imunnya tadi menurun. ” Jawab Dokter tersebut.
” Terimakasih Tuhaan.. ”Ucapnya dengan nafas lega.
“ Terimakasih yaa dok. ” Ucap Vano saat dokter akan melangkah pergi.
“Tuh kan Ica itu anak hebat. ” Ucap Vano dengan senyum tulusnya serta tatapan yang memenangkan.
Kini Farah sudah masuk kedalam Ruangan, lalu disusul oleh Vano yang akan pamit.
“ Far, Saya balik dulu yaa. soalnya tadi Mama Saya telpon Saya, besok Saya akan kesini lagi. ” Pamit Vano.
“ Iya Pak Terimakasih, sudah bantu Saya lagi. ” Ucapnya dengan menunduk.
Vano berjalan ke ranjang Ica.
“ Anak hebat.. cepet sehat yaaa. Besok Om akan kesini lagi dan itu pasti. ” Ucap Vano dengan ketulusannya ia mengusap rambut dengan lembut hingga mengecup kening Ica.
Kini Vano keluar Ruangan itu.
‘ Untung setiap Malam Saya selalu ada di depan Rumah Kamu Farah. Saya akan selalu pastikan Kamu dan Ica baik-baik aja. ’Monolognya sambil menyusuri lorong Rumah Sakit.
Di dalam Ruangan.
“ Ica sayang..Kamu harus tahu, Kalo kamu itu berharga buat Bunda. ” Ucap Farah sambil mengelus tangan Putrinya.
“ Bunda akan selalu memenuhi hidup kamu dengan kasih sayang, walaupun Bunda tahu kamu butuh sosok Ayah. Maaf Bunda milih jadi Bunda yang egois. ” Lanjutnya dengan air mata yang tak bisa dibendung.
Matahari kini sudah menuju tempatnya, hingga sinarnya mampu menyoroti wajah Farah yang tengah tertidur duduk sambil memegangi tangan sang Putri.
Saat ia berusaha membuka matanya, ia mendapati pemandangan yang membuat ia terenyuh.
“ Ica ada pesawat terbang... buka mulutnya” Ucap Laki-laki yang sedang menyuapi Ica.
“ Aaaa... ”
Ica membuka mulutnya sangat lebar sampai satu sendok nasi masuk kedalam mulutnya.
‘Pak Vano sangat menyayangi Ica, Sangat berbeda dengan orang itu. ’ monolog Farah dalam hatinya dan membuat ia tak sadar tersenyum sangat lebar.
“ Bunda sudah bangun.. ” Ucap Ica senang.
“ eh kamu sudah bangun. Aku ijin suapin Ica, soalnya tadi Aku lihat kamu tidur sangat pulas. Jadi Aku ga tega bangunin Kamu. ” Ucap Vano dengan senyum yang sama yaitu ketulusan.
“ Ia Pak gapapa. ” Jawabnya singkat tanpa menatap Vano.
“Sayang gimana rasanya enak ga? ” Tanya Fqrah sambil mengusap kepala Ica.
“ ga enak Bunda.. ” keluhnya dengan berbisik.
“ enakan masakan Bunda. ” Pujiannya dengan masih berbisik.
“ kenapa bisik-bisik? ” Tanya Farah dengan bisik-bisik juga.
“ takut di omelin ncus sama Doktel. ” jawabnya membuat tawa pecah diruang itu.
‘ Akhirnya Aku bisa melihat tawa lepas yang kamu simpan selama ini Farah. ’Monolog Vano dengan memperhatikan Farah yang sedang tertawa dan senyum bahagia.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments