Siang berganti sore.
Dokter akhirnya memperbolehkan Ica pulang dengan catatan harus cukup istirahat. Michelle, tanpa diminta, mengurus semua administrasi. Farah sebenarnya ingin protes, tapi lidahnya kelu ketika melihat kesungguhan pria itu.
“Pak.saya bisa urus sendiri,” ucap Farah pelan.
“Iya.. Saya tau Kamu bisa urus Sendiri, tapi Saya cuman mau bantu. ”Sahutnya sambil mengambil Debit Card di dalam dompetnya dan tanpa melihat ke arah Farah.
Farah menarik nafas lalu membuang cepat “Oke..Saya anggap ini hutang, secepatnya saya ganti. ”
“ Ga usah Farah.. Saya ikhlas kok. ”Ucap Michelle dengan senyum yang sangat tulus sambil menatap Farah.
“ Seterah. Saya anggap ini hutang. ”
Farah meninggalkan Michelle langsung berjalan keluar Rumah sakit bersama Ica yang ia gendong.
‘Farah sikap Mu ini yang membuat Aku tertarik, Yaa.. walaupun sangat melelahkan. ’Monolognya dengan tatapan serta senyum tulus yang selalu terpancar.
Michelle, Farah dan Ica, kini sudah berada di dalam Mobil yang berjalan menuju Rumah Farah.
“Om, kok Om baik sama Kita? kan Aku sama Bunda bukan siapa-siapa. ”Tanya Ica dengan polosnya membuat Farah menatap Ica dengan wajah terkejut, berbeda dengan Michelle yang tersenyum.
‘asikkk.. bisa lebih deket ama anaknya, siapa tahu bentar lagi emknyaa.. ’Monolog Michelle ia menganggap ini kesempatan yang besar.
“Kata siapa Om bukan siapa-siapa Kamu? ”Tanya Michelle dan Ica pun menggelengkan kepala.
“ Kamu itu berarti buat Om. Ica tahu ga kalo Om sayang banget sama Ica? ” Lanjutnya.
“ Tau Om, tapi kenapa Om ga jadi Papah Aku aja? katanya Om sayang sama Aku, ” Ucap Ica membuat bola mata Farah hampir keluar dan detak jantung yang berpacu lebih cepat.
“ eh ga boleh ngomong gitu Sayang, ”Sahut Farah dengan senyuman serta tatapan yang panik.
“ Kalo Ica mau, Ica bisa panggil Om dengan sebutan Papah Michelle. ” Saran Michelle dengan hati yang sangat bahagia karena sudah mendapatkan lampu ijo dari anaknya.
Ica pun excited menjawab dengan mata yang berbinar-binar “Selius Om? ”
“Belalti sekarang Aku punya Papah... ”Lanjutnya dengan bahagia hingga ia loncat sambil duduk.
“ Emang gapapa Pak anak Saya panggil Bapak dengan sebutan Papah? ”Tanya Farah dengan rasa campur aduk.
“Gapapa banget, justru Saya seneng punya Putri cantik, Pinter kayak Ica. Kalo bisa kamu panggil Saya Michelle aja, lagian ini di luar kerjaan. ”Ucap Michelle dengan wajah yang sangat BAHAGIA.
“Ga Pak, Saya ga bisa. Bapakkan atasan Saya. ”Ucapnya dengan tertunduk.
“Yaa.. Tuhan.., Far Saya kan udah bilang berkali-kali kalo diluar Kantor ga usah pake Pak. Ngapain ga enak? Kan Saya yang minta, ”Keluhnya dengan nada yang hampir menyerah.
huffhh.... Farah membuang nafas kasar “Oke, Mulai saat ini Saya akan memanggil Michelle aja ”
‘Ingat Lu cuman panggil nama aja, Dia tetap atasan Lu. Ingat juga Far, Laki-laki bajingan itu dulunya kelihatan tulus tapi kenyataannya? ’Monolog Farah yang begelut dalam dirinya.
‘Finally.. bisa dengar nama Gua di panggil tanpa embel Bapak, ’ Monolognya dengan senyum yang sangat bahagia.
Perjalanan ini sangat menyenangkan untuk Michelle dan Ica, Namun Farah terus bergelut dengan hati serta pikirannya.
Farah terus berfikir kalo ia membuka hati, itu sama aja membiarkan dirinya untuk di sakiti lagi.
‘God.. I hate this situation’Monolognya.
Malam hari yang hening...
Farah duduk di balkon kamar dengan secangkir Coffe ditangannya “Indahnya bintang dan bulan menyinari malam ini. ”
Keindahan serta keheningan malam ini tak bisa membuat hati serta pikiran-nya yang ramai.
Dengan helaan nafas“Tuhan, Saya sadar Putri kecil yang tengah tertidur itu sangat membutuhkan sosok Ayah dalam hidupnya,”
“Sangat terlihat jelas betapa bahagianya tadi, saat Michelle mengijinkan dirinya untuk di panggil Papah, ”
Farah pun mengganti posisinya dengan berdiri ke depan pagar balkon “Apakah akan baik-baik saja jika Saya memberinya kesempatan? Apakah dia berbeda dengan lelaki lainnya? atau sama saja? ”
Begitu banyak pertanyaan di kepala Farah malam ini.Farah sebenarnya ingin ada seseorang yang bisa menjadi peran Ayah dalam kehidupan Putri kecilnya, Namun rasa sakit, kecewa itu sudah menjadi trauma yang sangat besar.
Saat pikiran Farah yang sedang ramai ia tak sengaja melihat sosok laki-laki yang sedang memperhatikan dirinya sejak tadi.
“Dia? kenapa Dia selalu ada setiap malam? Apa benar cintanya tulus. ” Ucap Farah dengan sorot matanya yang menatap laki-laki itu dengan dalam, tak lama ia pun sadar dan secepat mungkin langsung masuk kedalam kamarnya.
Farah masuk kedalam Kamar dengan detak jantung yang cepat hingga ia pegang dadanya untuk merasakan detak jantung yang kencang itu.
“Bunda.. Kok Bunda belum Bobo? ” Tanya Putri kecilnya dengan sedikit mengulet.
Farah cepat hampiri sang Putri sambil mengusap rambutnya“Eh iya Sayang...nih Bunda juga mau Bobo, Kamu lanjut tidur ya. ”
Farah pun berusaha memejamkan matanya dengan jantung yang berdetak kencang, sambil sesekali ia menarik nafas dan membuangnya secara perlahan agar jantungnya bisa kembali netral.
Di luar Rumah Farah...
Michelle menatap balkon yang sudah tak ada siapapun disana“Aku yakin tadi Kamu melihat Ku Farah. ”
“Maaf jika caraku ini membuatmu risih, karena cuman dengan cara ini Aku bisa menjaga Mu.. ”Lanjutnya dengan mata yang berkaca kaca.
“Dan.. Makasih sudah memberi kebahagiaan di hari ini, yang dimana Ica kini sudah memanggil Ku dengan sebutan Papah. ”
Michelle pun masuk kedalam mobilnya untuk berbaring dengan mata yang tetap fokus pada satu titik ya itu Rumah Farah.
Keesokan harinya....
Pagi yang cerah dengan Farah yang sudah rapih untuk berangkat kantor, dan Ica di Rumah bersama Mbo sri.
Mbo sri merupakan Baby sister yang menjaga Ica dari pagi sampai Sore selam Farah kerja.
“ Mbo. Kemarin Ica sakit, jadi nanti tolong jangan telat kasih makan dan minum obat, ”
“Kenapa Non ga bilang kalo Ica sakit? kan mbo bisa kesini. Mbo bisa bantu jaga Ica, Pasti kemarin repot yaa? ”Ucap Mbo dengan khawatir.
“Nenek kalo kemalin ke sini juga ga ada olang, kan Aku kemalin malam di lu mah sakit. Untung ada Papah. ” Sahut Ica dengan polos membuat Mbo Sri shock.
“Papah? ” Ucap Mbo dengan menatap Farah meminta penjelasan.
“ Iya Nenek, Aku sekalang udah punya Papah. ” Sahutnya lagi.
“ Ica makan roti sendiri dulu yaa, Nenek mau ngomong sebentar sama Bunda. ” Ucap Mba sambil mengajak Farah menjauh dari Ica.
Mbo Sri, denga rasa penasaran melanda“Non, Siapa yang di panggil Papah itu? Apakah Michelle, Non ? ”
Farah hanya membalas dengan anggukan, semakin membuat mbo shock tidak percaya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Jaku jj
Menakjubkan!
2025-08-19
1