AKU VS TRAUMA MASA LALU
Di pagi yang cerah dengan sinar mentari yang sangat mampu menghangatkan tubuh. Ada wanita cantik berkulit putih sedang bermain di taman bersama Putri kecil yang sangat imut dan penuh keceriaan, Wanita itu ia lah Farah.
“ Bunda lihat ini, Aku sudah belani main pelosotan sendili... ” Ucap Putri kecil tersebut sambil bersiap untuk meluncur.
“ wuih..... ” Ucapnya dengan meluncur.
“ High five 👋! ”Ajak Farah pada Ica si Putri kecil kesayangannya.
“High five👋, Bundaaa...” serunya dengan penuh semangat.
“ wow.. Ica keren banget sudah berani. Bunda bangga sama Ica, ” Sahut Farah dengan bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas keberanian Putrinya itu.
Farah dan Ica sangat menikmati Quality time yang terjadi seminggu sekali, karena Farah harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keduanya.
“ Bunda, Aku mau es klim, ” pinta Ica sambil menunjuk gerobak es krim yang tidak jauh dari keberadaan mereka.
“ SIAP! My Princess..” Sahut Farah dengan tangan yang hormat serta kebahagiaan yang terpancar.
Saat keduanya sedang menuju Grobak es krim, Ica menanyakan hal yang sensitif sehingga Wajah kebahgiaan Farah terbang di bawa angin, namun ia berusaha menahan kesedihan yang akan membuat air matanya jatuh.
“ Bunda, enak ya meleka punya Ayah. kok Ica ga punya Ayah? ” Celetuk Ica dengan wajah polosnya.
“ Maaf ya sayang, Ica cuman punya Bunda ga bisa seperti mereka. Bunda janji akan selaAku buat Ica bahagia tanpa adanya Ayah, ” Ucap Farah sembari mengusap lembut rambut Putri kecilnya, dengan senyum tuAkus namun menyimpan Akuka dari sorot matanya.
‘Andaikan Bunda tidak menikah dengan laki-laki itu, mungkin kamu ga akan ada dunia ini dan merasakan hal seperti ini, Sayang... ’ monolognya dengan menatap dalam Putri kecil sampai tak sengaja satu tetesan air mata terjatuh.
“ Bunda kok nangis? ” tegur Ica sembari mengusap air matanya.
“ eng-nggak ini mata Bunda kena debu, jadinya berair, ” Lanjutnya.
“ Udah yuk, kita beli Es krim keburu abangnya pergi. ” Lanjutnya dengan menggandeng tangan gadis kecil itu dan berlari kecil dengan iringan tawa keduanya.
Di seberang jalan ada sosok Laki-laki memakai hoodie dengan badan yang sangat ideal , sedang memperhatikan mereka dengan wajah sedih namun matanya terlihat kagum dengan apa yang ia lihat.
“ Coba aja Far, Kamu mau buka hati buat Aku, pasti saat ini Kamu akan bisa lebih bahagia, dan ga perlu mengingat rasa sakit masa lalu yang menghancurkan Kamu. ” Ucap Pria berhoodie tersebut.
Setelah membeli es krim, mereka pulang ke rumah menggunakan mobil berwarna putih.
“ Sekarang waktunya... ” Ucap Farah sembari menunjukkan Kunci ditangannya.
“Pulaanggg.” Sambung Ica dengan penuh semangat.
Ramainya jalan tidak dapat menutupi kecerian gadis kecil yang kehilangan peran seorang Ayah.
Saat sudah masuk Lima kilometer lagi sampai rumah, Tiba-tiba...
DUAR...
Ban Mobil Farah pecah, sehingga mereka mau ga mau harus berhenti di pinggir jalan.
“ yahh.. Bunda gimana nihh... ”keluh Ica dengan wajah bete tapi gemesin pake banget.
“ Gimana yaa.. Bunda juga bingung, ” ucap Farah sambil menggaruk palanya dengan raut wajah bingung.
Farah bingung minta bantuan siapa, karena ia tidak membawa ban serep.
tin.. tin..
Suara kelakson Mobil dari belakang mereka, yang merupakan Mobil Pria berhoodie tadi.
Mobil itu berhenti di depan mobil mereka.
“ Kenapa Mobilnya? mogok?”Tanyanya dengan wajah khawatir.
“ Bukan Om, Bukan mogok tapi Ban-nya meledak. ” Protes Ica dengan wajah yang lucu.
“ Boleh saya bantu? ” pintanya dengan wajah tulus.
“ hmm.. tidak usah Pak, Saya takut ngerepotin. ” Tolak Farah dengan sopan, karena ia ga mungkin minta bantuan dari pria ini yang merupakan Bosnya.
“ ngga ngerepotin, kan Saya cuman nganterin kalian aja. ”Ucapnya.
“ ga usah Pak, Saya cari bengkel aja sekitar sini pasti ada. ” tolak nya lagi dengan mata yang mencari sesuatu ke kiri dan ke kanan.
“ Udah Kalian ikut Saya aja. Bengkel dari sini jauh yang ada si Ica kasian kepanasan. ” Bujuknya lagi.
“ Mobil Kamu biarin disini, nanti saya minta bengkel langganan saya untuk bawa mobil ini. ” Lanjutnya.
“ hmm... oke kalo tidak merepotkan, ” Jawabannya setelah ia melihat putri kecilnya yang udah kegerahan.
“ OM!!!... Kok pintu Mobilnya ga bisa di Bukaa. ” Ucap Ica yang berusaha membuka pintu tersebut.
“ Ica... ”Tegur Farah, karena tak enak hati dengan vano.
“eh, Maaf om tadi Ica terlalu semangat hehehe, ” Ucap Ica dengan wajah yang menggemaskan.
“Gapapa sayang... ”ucap vano dengan mengusap kepala Ica lembut, membuat senyum Ica semakin lebar.
“silahkan masuk Farah, ” pinta vano dengan membukakan pintu depan.
“makasih pak, tapi saya duduk dibelakang aja. Ga enak kalo bawahan duduk bareng di depan bareng atasan.” tolak Farah dengan bahasa yang di peralus.
“ ya sudah, ” Ucapnya dengan senyum sedikit asam karena mendapat penolakan.
hening...
Perjalanan yang sunyi karena rasa canggung keduanya, serta anak kecil yang lucu itu langsung tertidur pulas.
“ hmm.. Far, ”Panggil vano dengan gugup.
“Iya Pak, kenapa? ” Sahut Farah melihat kearah vano sebentar, lalu menunduk kembali karena canggung.
“ng-nggak, ga jadi. ” Ucapnya dengan cepat.
Keheningan kembali menemani perjalanan.
Mobil melaju pelan, melewati deretan pepohonan yang bergoyang diterpa angin sore. Farah memandangi jalanan, mencoba mengalihkan pikirannya dari rasa canggung yang menguasai mobil itu. Ica, yang tertidur pulas, sesekali menggumam pelan sambil memuk lengan sang Bunda.
vano melirik Farah dari sudut matanya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun seakan ada dinding tak terlihat yang menahannya.
Kenapa dia selalu menjaga jarak begitu jauh. bahkan ketika aku hanya ingin melindunginya, batinnya.
Farah merasakan tatapan itu, tapi pura-pura tak peduli. Baginya, terlalu dekat dengan vano berarti membuka pintu masa lalu yang ingin ia kunci rapat-rapat. Ia pernah jatuh, dan jatuhnya terlalu sakit. Cukup sekali.
“Makasih ya, Pak… udah mau repotin diri buat saya dan Ica,” ucap Farah akhirnya, suaranya pelan.
vano tersenyum tipis. “Far… aku nggak pernah anggap nolong kamu itu merepotkan. Justru, aku pengen ada setiap kali kamu butuh.”
Farah menelan ludah. Hatinya bergetar, tapi logikanya segera menarik rem. “Kita… jangan bahas yang nggak-nggak, Pak. Ica bisa bangun.”
vano menghela napas. “Kamu selalu begitu. Nutup diri rapat-rapat. Sampai kapan, Far?”
Pertanyaan itu menusuk. Farah tidak menjawab, hanya menatap ke luar jendela, melihat langit sore yang mulai memerah. Di sana, matahari perlahan tenggelam, sama seperti hatinya yang ia kubur dalam-dalam.
Sesampainya di depan rumah, vano memarkir mobil.
“Terima kasih,” ujar Farah singkat sambil membangunkan Ica.
vano menatap keduanya turun dari mobil. Suatu hari,aku akan bikin kamu percaya lagi pada cinta, Farah. Entah bagaimana caranya, janji dalam hatinya.
Mobil putih itu pun pergi, meninggalkan vano yang masih menatap punggung mereka hingga menghilang di balik pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments