Tatapan yang tak bisa dielakkan

Mbo Sri, dengan rasa penasaran yang melanda“Non, Siapa yang di panggil Papah itu? Apakah Vano? ”

Farah hanya membalas dengan anggukan, semakin membuat mbo shock tidak percaya.

“ Non, Maaf nih sebelumnya. Anak kecil yang sudah membuka ruang dalam hatinya itu menandakan ia nyaman dan aman dengan kehadiran Vano. ”

“Apa Non juga sudah membuka hati untuknya? ”

Pertanyaan Mbo Sri membuat nafasnya berhenti sejenak dan detak jantungnya entah kenapa berdetak sangat cepat.

“ Udahlah Mbo, Saya mau pergi Kerja udah siang. ” Elaknya Langsung meninggalkan Mbok begitu saja.

’Non semoga bisa segera membuka hati yaa.. Non layak bahagia. ’Monolog Mbo yang sudah mengganggap Farah seperti anaknya sendiri.

Farah pun mengecup Ica sebelum ia berangkat “Icaa.. jangan nakal yaa sama Nenek, ”

Ica dengan memberikan gerakan hormat“ Siap Bunda.. ”

“Mbo, Saya berangkat dulu yaa.. ” Ucap Farah Sambil mengecup tangan Mbo.

“ Iyaa Non, Hati-hati. ”

Farah pun berangkat menggunakan Mobil yang ban-nya sudah di perbaiki oleh Vano.

Sesampainya di kantor, Semua karyawan berkumpul di ruang meeting. Farah baru tahu ada pengumuman penting, karena ia belum sempat membuka grup kantor.

“Baik semua, mulai minggu ini kita ada proyek besar, dan saya memutuskan Farah yang akan menjadi lead project Lagi,” suara Vano terdengar tegas namun penuh arti.

Jantung Farah seketika berdebar, Ia berusaha menutupi keterkejutannya.

“Pak, mungkin ada orang lain yang lebih pantas, ” ucap Farah pelan.

Vano menatapnya dalam. “Saya pilih Kamu karena saya percaya kemampuan kamu.”

Seluruh ruangan hening.

Semua mata menatap Farah dengan ekpresi setujuh pake banget, Ia tak punya pilihan selain mengangguk meski berat hati.

Karena Farah ditunjuk jadi leader project jadi saat ini Ia mau ga mau harus ngobrol berdua di ruang tertutup, yaitu di dalam ruangan Vano.

Farah dan Vano keduanya mengalami hal yang sama yaitu detak jantung keduanya berpacu lebih cepat.

Sebenarnya ini bukan project pertamanya, tapi karena ada kejadian kemarin yang membuat tembok itu hampir runtuh. Sehingga ia merasakan hal yang berbeda.

Farah dengan rasa gugup“Pak. Untuk project kali ini, akan membuat project apa? ” Tanya Farah dengan mata yang fokus pada buku catatan serta bolpen di tangan kanannya.

Vano dengan senyum yang khusus untuk Farah dan tatapan yang memancarkan sesuatu “ Kita akan membuat minuman herbal untuk seluruh usia. Bagaimana menurut Kamu? ”

“ Itu project yang bagus Pak, Kalo Saya boleh memberikan saran. Kita buat desain kemasan ala gen-z agar lebih menarik banyak kalangan. ”Saran Farah dengan tatapan wajah tetap menatap buku catatan itu.

“ Far, Saya ini di depan Kamu bukan di buku itu. ” Tegur Vano dengan menahan tawa.

“ eh-hmm... ” Farah yang gugup dan tak sengaja menjatuhkan bolpen yang berada di tangannya “Maaf Pak. ”

Pandangan pertama.. awal aku berjumpa..

kalian bisa tebak apa yang terjadi jika ada lagu itu? Yaa.. kalian benar.

Vano yang cekatan pun membantu Farah mengambil bolpen tersebut. Namun bukan bolpen yang ia pegang, Melainkan tangan Farah.

Farah yang terkejut melihat mata Vano, begitu pun Vano. Sehingga kedua mata itu bertemu dengan waktu yang lumayan lama.

Farah langsung menarik tangannya dan duduk di bangku dengan pacuan jantung yang cepat, sedangkan Vano dengan wajah merah seperti tomat ia tersenyum lebar karena bisa menatap Farah dari dekat.

Suasana di ruang Vano jadi hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar, tapi bagi Farah rasanya seperti detak jantungnya sendiri yang begitu keras.

Farah mencoba menormalkan suasana, pura-pura kembali fokus.

“Baik, jadi minuman herbal untuk seluruh usia, dengan kemasan gen-z. Saya akan mulai riset pasar dulu, lalu buat draft timeline,”

Vano menyandarkan tubuh di kursinya, menatap Farah sambil tersenyum geli.

“Kamu ini selalu buru-buru kembali menatap catatan, ya? Padahal Saya ada di depan Kamu.”

Farah dengan gugup dengan tawa yang garing macam rempeyek“I-iya pak, Hehe..”

Vano menahan tawa kecil, lalu dengan nada lebih lembut “Nah gitu tawa jangan serius banget, yaa walaupun tawa Kamu itu garing.”

Farah berhenti menulis. Pipinya bersemu merah, meski ia berusaha keras menutupinya dengan senyum kaku.

“Pak, Kita kan harus fokus ke pekerjaan.”

Vano menatapnya serius, tapi dengan sorot mata hangat“Far… saya selalu serius kalau soal kamu.”

Farah terdiam, kaget mendengar nada suara Vano yang begitu dalam. Ia buru-buru berdiri, mencoba mengalihkan suasana.

“Ba-baiklah, saya akan mulai siapkan konsep dan tim. Nanti saya kirimkan draftnya ke email Bapak.”

Saat Farah hendak melangkah ke pintu, Vano tiba-tiba memanggil“Farah.”

Farah menoleh, matanya sedikit bergetar.

Vano tersenyum tipis, dengan nada menggantung

“Hati-hati ya… jangan sampai jatuh lagi bolpen-nya. ”

Farah langsung terdiam, jantungnya berdetak makin kencang. Ia buru-buru keluar dari ruangan, meninggalkan Vano yang tersenyum puas sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.

Jam istirahat

Farah memilih meja agak pojok bersama beberapa rekan satu divisi. Kali ini ia tidak sendiri, karena Vio. teman sekantornya yang cerewet langsung menarik kursi di sampingnya.

“Farah! Gila ya, Lu ditunjuk lagi jadi lead project. Kok bisa sih selalu dipilih?”Tanya Vio dengan menaruh makanan yang sudah ia pesan diatas meja.

Farah hanya tersenyum canggung“Kebetulan aja, Vi. Padahal Gua yakin banyak yang lebih pantas.”

Vio menaikkan alis“Kebetulan? Lu tuh perfeksionis, detail, terus kerjaan selalu rapi. Wajar dipilih. Lagian…”

Vio sengaja mendekat dan berbisik“…bos Vano itu kayaknya punya radar khusus ke Lu deh.”

Farah langsung tersedak air minum, buru-buru menutup mulut dengan tangan“Hhh—apa maksud Lu si Vi, ga jelas?”

“Alaaah, masa pura-pura nggak tahu? Semua orang bisa lihat cara dia mandang Lu beda, Cuman ke Lu doang dia senyum.”

Farah cepat-cepat menunduk, menusuk sayuran di piringnya tanpa niat makan.

“Lu suka halu deh, Vi...Itu cuma perasaan Lu aja.”

“Ya udah deh kalau Lu nggak mau ngaku. Tapi hati-hati loh, Far. Kalau beneran ada sesuatu, siap-siap jadi bahan gosip satu kantor.”

Farah menghela napas panjang.

“Gua nggak mikirin yang kayak gitu yang penting project ini jalan lancar. Udah cukup berat dipimpin Gua.”

“ Lagian Gua mau fokus sama Ica. ” Lanjutnya.

Vio tersenyum nakal sambil menepuk pelan bahunya.”Iya iyaaa... deh, terus jadiin anak sendiri sebagai tameng agar tuh tembok ga roboh hahahha... ”

Farah menatapnya kesal tapi wajahnya memerah, membuat Vio tertawa makin kencang.

‘ Ayok Farah, Lu bisa jaga tembok ini lebih kuat tak tergoyahkan. ’ Monolognya .

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!