Firasat buruk

Setelah jam istirahat selesai, Farah kembali ke ruangannya.

Belum sempat menyalakan komputer, layar ponselnya bergetar. Notifikasi chat kantor masuk dari Vano.

📩 “Far, tolong ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang harus kita bahas soal project.”

Farah menghela napas ‘ Kenapa harus di ruang dia lagi sih, ’gumamnya dalam hati.

Di ruang Vano, suasana lebih tenang. Dinding kaca memberi pemandangan kota, dan aroma kopi khas ruangan itu memenuhi udara.

Vano duduk di kursinya, kali ini tanpa jas, hanya kemeja putih dengan lengan digulung. Terlihat lebih santai.

“Silakan duduk,” ucapnya dengan senyum sepesial untuk Farah.

Farah duduk dengan gugup, menaruh catatan di atas meja. “Jadi, soal project minuman herbal, saya sudah mulai buat konsep timeline, besok Saya akan koordinasi sama tim desain.”

Vano mengangguk, menatap Farah dengan kagum“Bagus. Saya suka kamu yang langsung bergerak cepat.”

Farah mengangguk kaku.

Ia mencoba tetap fokus, tapi tatapan Vano membuat tangannya gemetar. Ia buru-buru menuliskan sesuatu di catatannya hanya untuk mengalihkan rasa gugup.

“Far.” suara Vano tiba-tiba terdengar lebih lembut.

Farah menoleh, matanya langsung bertemu dengan tatapan teduh dari VanoVano.

“Kamu tahu kenapa saya terus kasih kepercayaan ini ke kamu?”

 “Karena kerjaan saya rapi?”Ucap Farah dengan senyum sekilas.

Vano tersenyum tipis“Itu salah satunya, tapi bukan itu yang utama.”

Jantung Farah berdegup semakin kencang.

Ia menunduk, pura-pura sibuk membuka halaman lain di catatan. “Pak, lebih baik kita fokus ke project. Jangan bahas yang lain.”

Vano terdiam sejenak, lalu tersenyum miring ”Oke.. Oke.. ”

Keesokan harinya

Ruangan rapat terasa dingin dengan pendingin ruangan yang cukup menusuk. Papan whiteboard besar sudah dipenuhi coretan konsep awal Vano tentang minuman herbal untuk semua usia.

Di meja panjang, sudah ada beberapa tim inti yang siap bekerja bersama Farah.

Farah membuka laptopnya“Baik, terima kasih sudah hadir semua. Seperti yang sudah diumumkan, kita dipercaya untuk handle project minuman herbal ini. Target kita cukup besar, karena produk ini harus bisa menjangkau semua kalangan usia. Jadi, mari kita susun strategi dari awal.” Suara Farah tegas dan berkharisma.

Davin langsung angkat tangan sambil tersenyum.

“Kalau bicara semua kalangan, berarti kita harus punya branding yang fleksibel, Far. Buat orang tua, harus ada kesan sehat dan natural. Buat anak muda, harus estetik, kekinian, dan gampang dibawa ke mana-mana.”

Farah mengangguk“Setuju, Itu berarti desain kemasan harus bisa menggabungkan dua generasi sekaligus.”

Nadia yang dari tadi menggambar sketsa di iPad ikut menimpali.

“Kalau desain, aku ada dua ide. Pertama, kemasan botol dengan ilustrasi daun herbal klasik, cocok buat kesan natural. Kedua, desain botol minimalis warna pastel, biar masuk pasar Gen-Z. Kita bisa bikin dua varian packaging, satu family pack, satu botol kecil .”

“Wih, keren tuh Nad! Gue setuju banget. Anak-anak sekarang kan suka yang bisa difoto-foto buat Instagram,” celetuk Vio sambil mengunyah permen.

“Vi, tolong serius dikit dong,” Farah menegur, tapi dengan senyum tipis.

“Hehe iya iya bos.” Vio mengangkat tangan tanda menyerah.

Raka yang sejak tadi membaca berkas hasil risetnya, akhirnya bersuara“Dari sisi riset, tren minuman herbal lagi naik karena orang-orang mulai sadar kesehatan, tapi masalahnya mayoritas orang masih nganggep minuman herbal itu pahit dan cuma buat orang tua. Jadi tugas kita bikin image bahwa herbal bisa enak, segar, dan modern.”

Farah mengetik cepat di laptop. “Oke noted. Jadi fokus kita ada tiga. Branding untuk semua usia, desain kemasan kekinian tapi tetap natural, dan positioning bahwa herbal itu fresh dan enak. Setuju?”

Semua serentak mengangguk.

“Kalau gitu, kita perlu timeline jelas. Raka kamu bisa siapkan data riset pasar lebih detail dalam dua minggu ini, Nadia buat mockup desain packaging awal, deadline juga dua minggu, Davin, tolong siapkan strategi campaign marketing, dan Vio Kamu bantu koordinasi komunikasi internal dan eksternal.”

“Oke, siap bos!” jawab Davin.

“Siap, Bu Leader,” tambah Nadia dengan senyum tipis.

Farah menghela napas lega. Ia sudah terbiasa memimpin, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Mungkin karena setiap geraknya seakan diawasi Vano. Ia bisa merasakan aura bos besar itu meski tidak sedang di ruangan ini.

Tiba-tiba pintu rapat terbuka. Vano masuk dengan langkah tenang, membawa map di tangannya. Semua langsung diam, suasana berubah lebih formal.

“Bagaimana progress awal?” tanya Vano sambil menatap seluruh tim, lalu akhirnya berhenti pada Farah.

Farah berdiri “Kami sudah membagi tugas Pak, fokus utama kami adalah menyusun branding agar bisa diterima semua kalangan. Riset, desain, dan strategi pemasaran sudah dibagi, Serta timeline juga sudah ditentukan.”

Vano tersenyum tipis, jelas ia puas. “Bagus. Itu yang saya harapkan dari tim ini, terutama dari kamu, Farah.”

Farah hampir salah langkah saat mendengar kalimat itu, Ia buru-buru mengangguk“Terima kasih, Pak.”

Vano menatap seluruh anggota tim“Saya hanya ingin satu hal. Project ini harus jadi pionir di pasaran.”

“Jangan hanya ikut tren, tapi ciptakan tren. Saya tahu itu mungkin terdengar berat, tapi saya percaya kalian bisa.”

“Siap, Pak!” jawab tim serempak.

Sebelum keluar ruangan, Vano sempat melirik Farah sebentar.

Tatapan singkat, tapi cukup membuat Vio yang duduk di sebelah Farah langsung menutup mulutnya menahan tawa.

Begitu pintu tertutup, Vio langsung berbisik“Astaga Far, lu lihat nggak? Tatapan special edition itu cuma ke lu doang. Gue hampir pingsan barusan.”

“Diam, Vi!” Farah langsung menendang pelan kaki Vio di bawah meja.

Jam pulang kantor

Hari ini Farah pulang lebih Malam dari biasanya, karena banyak yang harus ia kerjakan.

Di jalan raya yang sudah mulai sepi, Ia mengendarai Mobilnya sendiri.

“Ica.. Maaf ya Bunda pulang telat hari ini. Maaf karena Bunda ga punya banyak waktu untuk kamu. ”

Dengan air mata yang mengalir Ia melanjutkan monolognya “Seharusnya seumuran kamu, Bunda selalu ada disisi kamu. Tapi mau bagaimana lagi Sayang, kalo Bunda ga kerja bagaimana dengan masa depan kamu. ”

“Tuhaan.. sepi sekali... ” Ucapnya dengan sedikit rasa takut.

Farah tiba-tiba merasakan firasat yang tidak enak, dan rasa curiga kepada dua pemotor yang berada di kiri dan kanan bagian mobil.

Tinnn... tinnn...

Suara kelakson Motor membuat rasa takut Farah begitu besar.

“ Woii berhenti!!! ”Teriak salah satu pemotor itu.

“Tuhan.. Bagaimana inih... ”monolog Farah dengan tangan yang gemetar dan badan mengeluarkan banyak keringat.

iittt....

Mobil Farah berhenti mendadak saat di hadang oleh dua motor tersebut.

Bersambung...

Apa yang terjadi pada Farah? Apakah dia baik-baik aja? Lanjutkan kisahnya besok jam 8 Malam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!