Bab 2 Protagonis

Diana terdiam sejenak melihat Selena. “Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar tamu,” ucap Diana.

“Tidak,” ucap Rowan.

Diana berhenti dan melihat Rowan.

“Selena akan menetap di sini. Berikan Gedung Selatan dan juga pelayan pribadi.”

“A-apa?” tanya Diana.

“Tapi—”

“Apa kau tidak mendengar?!” teriak Rowan.

“Yang Mulia… itu adalah gedung Yang Mulia Ratu… Gedung itu diberikan oleh Raja,” ucap Olim.

Rowan melirik Diana. “Sekarang aku adalah rajanya. Berikan gedung itu.”

“Baik, Yang Mulia,” jawab Diana.

Olim ingin berbicara lagi, tapi ditahan oleh Diana.

“Maafkan aku,” ucap Selena dengan wajah tidak enak.

“Selena adalah penyelamat dan telah berjuang bersamaku di peperangan.”

“Jadi jangan ada yang berani macam-macam dengannya,” ucap Rowan sambil memegang tangan Selena.

Diana melihat kedua tangan itu saling menggenggam. Itu membuat hatinya sakit.

Beberapa hari telah berlalu. Semua orang di kerajaan tahu kalau Yang Mulia telah membawa seorang wanita pulang. Mereka menduga kalau wanita itu akan dijadikan selir oleh Yang Mulia.

Diana tetap mengerjakan pekerjaan istana karena Rowan masih belum terbiasa dengan tanggung jawab ini.

Beberapa bulan telah berlalu. Rowan sama sekali tidak mengunjunginya, tetapi Diana mendengar kalau Rowan sering mengunjungi Selena setiap malam.

“Yang Mulia… bagaimana kalau kita pergi ke taman?” tanya Olim.

“Baiklah,” jawab Diana. Itu adalah satu-satunya tempat yang membuatnya nyaman jika dia merasa gelisah karena sesuatu.

“Hahaha…” terdengar tawa seorang wanita yang manis di udara.

Rambut pink yang selaras dengan bunga di taman dan senyuman yang sangat indah itu membuat suasana taman menjadi lebih menyegarkan. Diana melihat Rowan mendorong ayunan untuk Selena. Ayunan yang dia siapkan untuk dirinya dan Yang Mulia. Selama ini, dia membayangkan kalau yang berada di sana adalah dirinya.

Diana membuka mulutnya, ingin berbicara, lalu menutupnya lagi. Tanpa terasa, air mata mengalir di wajahnya.

“Yang Mulia,” Olim segera memeluk Diana.

“Hic… hic…” Diana menangis dalam pelukan Olim. Mengapa bukan aku?

Beberapa hari kemudian, Diana memutuskan untuk mengunjungi rumah keluarganya.

“Ayah…” panggil Diana.

PLAAK. Buku dilempar ke tubuh Diana hingga ia terjatuh.

“Apa kau tidak bisa menarik perhatian Yang Mulia?!” teriak Duke.

“A-aku—” Diana menjawab dengan gemetar.

“Jika kau dilengserkan, maka jangan harap untuk kembali ke kediaman ini!!”

Diana menundukkan kepalanya dan berdiri. “Baik, Ayah… kalau begitu aku akan pamit.” Diana segera keluar dari ruangan dan berlari sambil menangis. Dia berharap ayahnya bisa memberi dukungan untuknya, tetapi apa yang dia dapatkan?

Diana menaiki kereta kembali ke istana.

Saat dalam perjalanan menuju gedungnya, Diana melihat Selena menyiksa salah seorang pelayan.

“Olim!!” Diana segera berlari.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak Diana sambil mendorong pelayan pribadi Selena.

“Olim, apa kau tidak apa-apa?” Diana melihat wajah Olim yang pucat.

“A-aku sudah mengatakan kepada pelayanku untuk berhenti, namun dia terus saja memukulnya,” ucap Selena dengan gugup.

Diana panik memeriksa napas Olim. “Olim!! Bertahanlah!!” Melihat darah yang keluar dari kepalanya, Diana berusaha untuk mengangkat Olim.

“Apa yang kalian lakukan?!” teriak Diana sambil menangis. Olim adalah pelayan pribadinya sejak kecil.

“A-aku…” Selena menjawab seperti ingin menangis.

“Apa yang terjadi?” terdengar suara seorang pria.

“Yang Mulia… pelayanku tidak bermaksud membunuh pelayannya,” ucap Selena sambil menangis mengeluarkan air mata.

Hati Rowan goyah saat melihat Selena menangis.

“Hanya pelayan… aku akan memberimu yang lain,” ucap Rowan.

“Apa?!” Diana terkejut mendengar pernyataan Yang Mulia.

“Kau tidak mendengarnya? Selena adalah wanita yang rapuh, jadi jangan memperpanjang ini.”

Rowan memeluk Selena dan membawanya pergi.

Diana melihat Rowan menenangkan Selena yang menangis. “Apa aku tidak rapuh?” ucap Diana sambil mengeluarkan air mata.

“Hic… Olim...” Diana memeluk Olim yang sudah tidak bernapas lagi. Apa yang mereka lakukan padamu?

Sekeliling Diana mengeluarkan bunga hitam yang layu, menandakan kesedihan yang mendalam. Hujan pun turun, seperti ikut menangis bersama Diana.

Diana meminta tolong Vilan untuk membuatkan makam untuk Olim.

“Yang Mulia… apa Anda tidak ingin mengenakan payung?” tanya Vilan sedih.

Diana menggelengkan kepalanya. Sekarang tidak ada lagi orang yang berada di sisinya. Hanya tersisa dirinya sendiri. Vilan baik padanya, tetapi itu karena dia hanya menjalankan tugasnya. Dia juga baik kepada Selena.

“Kau boleh pergi,” ucap Diana dengan lemah.

Diana terus berjalan di lorong istana menuju ruangannya dengan mengenakan gaun serba hitam. Dalam perjalanan, Diana melihat Selena dan Rowan sedang duduk membaca buku. Di tengah derasnya hujan, pemandangan di sekitar mereka terlihat indah.

Para pelayan juga tersenyum melihat mereka. Dalam beberapa bulan ini, Selena telah berhasil merebut hati para pelayan istana dan juga bangsawan. Dengan wajah cantik dan sikap polosnya, dia membuat orang ingin melindunginya.

Diana mengepalkan kedua tangannya dan mempercepat jalannya.

Beberapa hari telah berlalu sejak kematian Olim. Diana kehilangan semangat hidupnya. Dia hanya melakukan rutinitas biasa: bekerja dan kembali ke kamar.

“Apa kau dengar? Nyonya Selena hari ini akan membuat pesta minum teh di taman kerajaan.”

“Ini pertama kalinya bangsawan diundang ke taman kerajaan.”

Para pelayan membicarakan pesta minum teh yang akan dilaksanakan dengan megah di taman.

Diana yang mendengar ini merasa kesal. Taman yang ia rawat, Selena menggunakannya untuk menarik perhatian para bangsawan.

Diana masuk ke dalam dapur saat sepi. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang di sekitar dapur.

Melihat gelas yang sering dipakai oleh Selena, Diana segera menaruh bubuk di bagian dalam gelas. Hanya sedikit, sehingga tidak terlihat.

Beberapa jam kemudian, pesta minum teh telah dimulai.

Para tamu yang diundang merasa kagum dengan keindahan taman. Mereka sudah lama ingin melihat taman yang dikatakan sebagai taman paling indah di seluruh kerajaan.

“Terima kasih semuanya telah hadir,” ucap Selena.

“Ini adalah acara pesta minum teh pertamaku, jadi aku harap kalian menikmatinya.”

Selena mengajak yang lain untuk meminum teh bersama. Semua orang mengambil gelasnya dan mulai menyesap teh yang telah disiapkan.

BLUUURRK. Saat menyesap teh, Selena tiba-tiba memuntahkan darah.

Semua orang yang berada di sana panik. Para pelayan segera menghampiri Selena, lalu memanggil dokter istana.

Rowan yang mendengar kabar ini segera datang dan menghampiri Selena. “Bagaimana?” tanya Rowan kepada dokter.

“Ada yang meracuni gelas ini,” ucap dokter.

“Apa?!” teriak Rowan.

Rowan memerintahkan orang untuk mencari siapa yang meracuni gelas Selena.

Beberapa saat kemudian.

BRAAK.

Diana yang sedang duduk di depan meja kerja berdiri karena terkejut. “Apa yang kalian lakukan?!” teriak Diana.

“Anda ditangkap karena telah melakukan percobaan pembunuhan!!”

Diana terkejut. Pembunuhan? Aku hanya memasukkan bubuk pencahar, efeknya tidak akan sampai seperti itu!

Diana dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah istana dan mulai diinterogasi. Diana terus menyangkal tuduhan percobaan pembunuhan.

Dia terus disiksa sampai Diana mengaku. Badan Diana sudah mulai kurus. Mereka tidak memberinya makan selama beberapa hari. Diana tidak kuat lagi.

“Apa kau melakukan percobaan pembunuhan?” tanya komandan yang menangani kasus ini.

Diana menatap komandan itu dengan lemah dan membuka mulutnya. “Ya… aku melakukannya,” ucap Diana dengan suara lemah.

“Beritahu Yang Mulia kalau dia sudah mengaku!!” teriak komandan.

Diana ditarik dan dimasukkan kembali ke dalam penjara.

TREENG. “Minumlah ini,” ucap penjaga, melemparkan minuman dan roti kering.

Melihat air minum yang tumpah, Diana segera menjilat lantai yang terkena tumpahan air. Dia sangat haus.

Keesokan harinya.

Hukuman telah ditetapkan untuknya: hukuman mati yang akan dilakukan di depan banyak orang. Kehidupannya sudah berakhir sampai di sini. Diana menatap langit-langit yang gelap dan kotor.

TAK TAK. Terdengar suara langkah kaki. Diana menggerakkan matanya untuk melihat siapa yang datang.

“Kau…” ucap Diana dengan lemah.

Selena tersenyum melihat Diana.

“Ini sesuai dengan jalan ceritanya,” ucap Selena.

Diana mengerutkan kening. Apa maksudnya?

Selena berjongkok di depan sel tahanan. “Aku adalah protagonis di dunia ini. Semua yang ada di dunia ini berputar di sekitarku,” ucap Selena lagi.

Protagonis? Apa yang wanita ini katakan?

Terpopuler

Comments

Sinar Ho

Sinar Ho

greget

2025-12-20

1

Biyan Narendra

Biyan Narendra

Greget

2025-09-08

1

Lhina Bright

Lhina Bright

mudah2an ada jiwa yang masuk ke dlm tubuh ratu Diana, dan jiwa itu adalah sangat2 kejam, bar bar dan bakdas

2025-09-08

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Diana Eldenhart
2 Bab 2 Protagonis
3 Bab 3 Eksekusi
4 Bab 4 Tiga Kehidupan
5 Bab 5 Kecantikan yang tersembunyi
6 Bab 6 Sihir Hitam
7 Bab 7 Pesta Teh
8 Bab 8 Langkah Awal
9 Bab 9 Arel dan Fey
10 Bab 10 Pemecah belah
11 Bab 11 Batu Kapur
12 Bab 12 Hukuman
13 Bab 13 Bunga yang Gelap
14 Bab 14 Selena
15 Bab 15 Persiapan
16 Bab 16 Cahaya Merah
17 Bab 17 Batu Kapur
18 Bab 18 Benih Masa Depan
19 Bab 19 Bayangan di Perbatasan
20 Bab 20 Satu per Satu Bukti
21 Bab 21 Raja Spirit
22 Bab 22 Di Balik Senyum Para Bangsawan
23 Bab 23 Luka dari Masa Lalu
24 Bab 24 Hukuman
25 Bab 25 Melewati Tes
26 Bab 26 Duel
27 Bab 27 Sebelum Berangkat
28 Bab 28 Menyebrangi Lautan
29 Bab 29 Perbatasan
30 Bab 30 Perasaan
31 Bab 31 Goa
32 Bab 32 Lucien
33 Bab 33 Serangan Pertama
34 Bab 34 Istana
35 Bab 35 Pria Berjubah
36 36 Camp Eryndale
37 Bab 37 Kesepakatan
38 Bab 38 Saling Menyusun Rencana
39 Bab 39 Kembali ke Istana
40 Bab 40 Kepulangan Diana
41 Bab 41 Keputusan Raja
42 Bab 42 Toko Teh
43 Bab 43 Hukuman
44 Bab 44 Sebelum Pesta
45 45 Pesta
46 46 Pesan dari Dewa
47 bab 47 Putri Mahkota
48 Bab 48 Keluar Istana
49 Bab 49 Kediaman Eldenhart
50 pengumuman
51 Bab 50 Mengunjungi Kota
52 Bab 51 Kerinduan
53 Bab 52 Dendam
54 Bab 53 Spirit
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56 Pagi yang cerah
58 Bab 57 Kerajaan Aeloria
59 Bab 58 Tamu Kerajaan
60 Bab 59 Kegelapan
61 Bab 60 Pertemuan Politik
62 Bab 61 Pesta Tamu Kerajaan
63 Bab 62 Kalung
64 Bab 63 Duri Mawar Diana
65 Bab 64 Calon Putri Mahkota
66 Bab 65 Aura Hitam
67 Bab 66 Cahaya yang Redup
68 Bab 67 Wanita Mawar
69 Bab 68 Bunga yang Kembali Mekar
70 Bab 69 Kekeringan
71 Bab 70 Pesta Minum Teh
72 Bab 71. Duri Sang Mawar
73 Bab 72. Duri Sang Mawar (2)
74 Bab 73. Luka yang Kembali Terbuka
75 Bab 74. Tangisan Masa Lalu
76 Bab 75. Akhir dari Kesalahpahaman
77 Bab 76 Benih Harapan
78 Bab 77 Akar yang Tak Pernah Mati
79 Bab 78 Cahaya di Dalam Hutan
80 Bab 79 Pohon Mawar Abadi
81 Bab 80 Peluit Tanpa Suara
82 Bab 81 Perintah Sang Raja
83 Bab 82 Persiapan Menuju Perbatasan
84 Bab 83 Rahasia yang Terungkap
85 Bab 84 Hulu Sungai
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Diana Eldenhart
2
Bab 2 Protagonis
3
Bab 3 Eksekusi
4
Bab 4 Tiga Kehidupan
5
Bab 5 Kecantikan yang tersembunyi
6
Bab 6 Sihir Hitam
7
Bab 7 Pesta Teh
8
Bab 8 Langkah Awal
9
Bab 9 Arel dan Fey
10
Bab 10 Pemecah belah
11
Bab 11 Batu Kapur
12
Bab 12 Hukuman
13
Bab 13 Bunga yang Gelap
14
Bab 14 Selena
15
Bab 15 Persiapan
16
Bab 16 Cahaya Merah
17
Bab 17 Batu Kapur
18
Bab 18 Benih Masa Depan
19
Bab 19 Bayangan di Perbatasan
20
Bab 20 Satu per Satu Bukti
21
Bab 21 Raja Spirit
22
Bab 22 Di Balik Senyum Para Bangsawan
23
Bab 23 Luka dari Masa Lalu
24
Bab 24 Hukuman
25
Bab 25 Melewati Tes
26
Bab 26 Duel
27
Bab 27 Sebelum Berangkat
28
Bab 28 Menyebrangi Lautan
29
Bab 29 Perbatasan
30
Bab 30 Perasaan
31
Bab 31 Goa
32
Bab 32 Lucien
33
Bab 33 Serangan Pertama
34
Bab 34 Istana
35
Bab 35 Pria Berjubah
36
36 Camp Eryndale
37
Bab 37 Kesepakatan
38
Bab 38 Saling Menyusun Rencana
39
Bab 39 Kembali ke Istana
40
Bab 40 Kepulangan Diana
41
Bab 41 Keputusan Raja
42
Bab 42 Toko Teh
43
Bab 43 Hukuman
44
Bab 44 Sebelum Pesta
45
45 Pesta
46
46 Pesan dari Dewa
47
bab 47 Putri Mahkota
48
Bab 48 Keluar Istana
49
Bab 49 Kediaman Eldenhart
50
pengumuman
51
Bab 50 Mengunjungi Kota
52
Bab 51 Kerinduan
53
Bab 52 Dendam
54
Bab 53 Spirit
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56 Pagi yang cerah
58
Bab 57 Kerajaan Aeloria
59
Bab 58 Tamu Kerajaan
60
Bab 59 Kegelapan
61
Bab 60 Pertemuan Politik
62
Bab 61 Pesta Tamu Kerajaan
63
Bab 62 Kalung
64
Bab 63 Duri Mawar Diana
65
Bab 64 Calon Putri Mahkota
66
Bab 65 Aura Hitam
67
Bab 66 Cahaya yang Redup
68
Bab 67 Wanita Mawar
69
Bab 68 Bunga yang Kembali Mekar
70
Bab 69 Kekeringan
71
Bab 70 Pesta Minum Teh
72
Bab 71. Duri Sang Mawar
73
Bab 72. Duri Sang Mawar (2)
74
Bab 73. Luka yang Kembali Terbuka
75
Bab 74. Tangisan Masa Lalu
76
Bab 75. Akhir dari Kesalahpahaman
77
Bab 76 Benih Harapan
78
Bab 77 Akar yang Tak Pernah Mati
79
Bab 78 Cahaya di Dalam Hutan
80
Bab 79 Pohon Mawar Abadi
81
Bab 80 Peluit Tanpa Suara
82
Bab 81 Perintah Sang Raja
83
Bab 82 Persiapan Menuju Perbatasan
84
Bab 83 Rahasia yang Terungkap
85
Bab 84 Hulu Sungai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!