Bab 5 Kecantikan yang tersembunyi

Diana menuju istana masih menggunakan gaun pengantinnya.

Hari sudah mulai gelap, perjalanan mereka cukup jauh dari gereja menuju istana.

“Yang mulia … apa Anda lelah?” tanya Olim.

“Tidak,” jawab Diana. Lelah? Bisa dikatakan kalau dia justru lebih bersemangat.

Olim melihat wajah tuannya tidak terlihat sedih, itu cukup membuat Olim merasa lega.

Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di istana.

Sama seperti di kehidupan sebelumnya, hanya Vilan yang menyambut kedatangannya. Diana tidak mempermasalahkannya. Vilan saja sudah cukup baginya, meskipun kebaikan Vilan lebih karena menjalankan tugas.

“Selamat datang, Yang Mulia … saya Vilan, kepala pelayan di istana ini,” ucap Vilan sambil memberi hormat.

“Terima kasih,” ucap Diana.

Vilan segera menyuruh beberapa prajurit untuk mengangkut barang bawaannya.

Diana melihat sekeliling lorong istana gedung miliknya. Ini adalah gedung yang diberikan Raja untuknya, namun dalam beberapa tahun lagi akan diberikan kepada wanita itu.

Vilan memperhatikan gerak-gerik Diana yang tenang. Apa dia tidak menanyakan tentang Putra Mahkota?

Vilan masih mengingat saat Putri Diana dulu mencari Putra Mahkota Rowan sebelum pernikahan. Mata itu penuh kekaguman dan cinta. Tapi sekarang? Vilan melirik Diana yang berbeda dari sebelumnya.

Diana merasakan tatapan Vilan. “Apa ada yang salah?” tanya Diana.

Vilan terkejut. “Tidak ada, Yang Mulia … maafkan aku,” ucap Vilan.

Diana mengabaikannya. Ia tahu apa yang dipikirkan Vilan, karena dirinya yang sekarang berbeda dengan yang dulu.

Setelah sampai di depan pintu kamar, Vilan segera pamit.

“Yang Mulia, maaf … Putra Mahkota saat ini sudah pergi untuk berperang,” ucap Vilan. Karena Putri Diana tidak menanyakannya, maka dia memberitahunya langsung.

“Baiklah,” jawab Diana.

Vilan terkejut dan menatap Diana.

“Apa ada yang lain?” tanya Diana.

“Ah … em … tidak, Yang Mulia,” ucap Vilan. Mengapa aku tiba-tiba gagap?

“Kalau begitu kau boleh pergi,” ucap Diana sambil berjalan memasuki kamarnya.

“Baik, Yang Mulia … selamat beristirahat.” Vilan segera pamit undur diri.

Olim membantu Diana mengganti gaun malam. “Yang Mulia,” panggil Olim, dia tidak ingin melihat tuannya sedih.

“Aku tidak apa-apa,” ucap Diana. Dia tahu apa yang Olim pikirkan.

“Kau beristirahatlah,” lanjutnya.

“Baik kalau begitu.” Olim segera meninggalkan Diana sendiri di dalam kamarnya.

Diana duduk di depan meja rias dan bercermin. Wajahnya sangat cantik, namun dia tidak memiliki aura yang memancar karena dulu selalu menundukkan kepalanya dan tidak percaya diri.

Diana mengingat krim yang dipakainya saat di dunia modern. Di sini dia hanya memiliki krim biasa yang efeknya pasti berbeda, karena di dunia modern menggunakan zat kimia.

Diana membuka penutup krim dan mengeluarkan sedikit serbuk bunga ke dalam krimnya. Ia tidak tahu apakah kekuatannya akan bermanfaat untuk kecantikan.

Diana memakai krim itu dan segera tidur agar efeknya lebih bagus.

Keesokan harinya, Diana bangun dengan badan yang lebih segar.

Diana mencium wangi bunga. Apa ini efek dari kekuatanku?

“Yang Mulia, apa Anda sudah bangun?” suara Olim terdengar dari luar pintu kamar Diana.

“Masuklah,” ucap Diana.

Olim membuka pintu dan melihat Diana duduk di atas kasur.

Diana melihat Olim dan tersenyum.

Olim terkejut. Apa wajah tuanku semakin cantik dalam semalam?

“Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Diana. Apa wajahku menjadi aneh? Aku belum melihat cermin.

“Tidak, Yang Mulia … Anda menjadi lebih cantik hari ini,” ucap Olim dengan tatapan kagum.

“Hahaha … benarkah?” Diana segera turun dan melihat wajahnya di cermin. Ya … sepertinya kekuatannya sangat berguna. Apa aku bisa memulai bisnis dari ini?

“Yang Mulia … kita harus bersiap untuk menemui Raja,” ucap Olim.

Diana terdiam sejenak.

“Bantu aku menyiapkan pakaian,” ucap Diana.

Diana segera mandi dengan air yang sudah disiapkan Olim.

Diana mencium parfum yang dimasukkan ke dalam air, wanginya tidak sewangi kekuatan bunganya. Ia segera mengeluarkan serbuk bunga dari tangannya dan memasukkannya ke dalam air. Ya … ini sangat wangi.

Beberapa saat kemudian, Diana telah selesai mandi.

“Yang Mulia … saya sudah menyiapkan gaun untuk Anda,” ucap Olim sambil mengambil gaun yang akan digunakan Diana.

“Jangan gunakan gaun itu,” ucap Diana.

“Apa?” tanya Olim. Bukankah ini gaun kesukaan Putri Diana?

“Gaun ini sudah ketinggalan zaman … aku tidak ingin menggunakannya,” ucap Diana lagi. Ia dulu berpenampilan sangat kuno, itu membuat dirinya semakin tertutup dan tidak terlihat oleh orang lain.

Diana membuka lemari yang telah disiapkan pihak istana.

Sraaak— begitu dibuka, Diana melihat banyak sekali gaun indah yang sudah tersedia. Sejak tinggal di zaman modern, dia sangat suka dengan fashion.

Diana mengambil gaun berwarna merah. Bukankah ini gaun yang akan digunakan oleh para penjahat dalam novel?

Olim terkejut. “Yang Mulia … apa Anda yakin ingin mengenakan ini?” tanya Olim. Gaun seperti ini sudah biasa di kalangan bangsawan. Tetapi bagi Putri Diana, gaun seperti ini cukup vulgar karena bahunya terlalu terbuka.

“Bukankah ini gaun yang sedang tren?” tanya Diana. Dia menyukai gaun ini, akan sangat bagus jika dia memakainya.

“Tren?” Olim bingung.

“Maksudku … populer,” ucap Diana. Ia harus menyesuaikan bahasa lagi, akibat hidup dalam tiga kehidupan.

“Kalau Anda yakin, maka saya akan berusaha membuat Yang Mulia terlihat cantik,” ucap Olim. Ini pertama kalinya dia mendandani Putri Diana dengan maksimal. Biasanya, Putri Diana menyukai riasan yang polos seperti tanpa makeup, sekarang dia sebagai pelayan pribadinya akan membuat semua orang terpana dan sadar akan kecantikan Putri Diana.

Melihat mata Olim yang membara, entah mengapa perasaan Diana tidak enak.

Olim memanggil para pelayan untuk membantunya menghias Putri Diana.

Semua orang sangat bersemangat karena ini pertama kalinya mereka mendandani seorang wanita semenjak Ratu meninggal.

Dua jam kemudian.

Diana merasa sangat lelah sekali, lain kali dia akan meminta agar tidak terlalu berlebihan.

Diana melihat ke cermin dan terkejut. Apa benar ini aku?!!

“Waaah … Yang Mulia, Anda sangat cantik,” ucap para pelayan dengan kagum. Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil.

“Terima kasih semuanya,” ucap Diana dengan senyum manis.

Semua orang terpana dan wajah mereka memerah. Ini terlalu cantik.

Saat ini Diana menggunakan gaun merah dengan bahu terbuka, dihiasi manik-manik emas bermotif kupu-kupu. Terlihat mewah namun tetap elegan dan indah. Rambut Diana diikat sebagian dan membiarkan sebagian lainnya terurai memperlihatkan gelombang indah.

Rambutnya bergelombang berwarna blonde dan mata berwarna hijau, melambangkan bahwa dia berasal dari keluarga Eldenhart. Dia bersyukur kedua orang tuanya memiliki penampilan yang indah.

“Yang Mulia … semua sudah siap,” ucap Olim.

Diana menatap cermin lagi dan memegang wajahnya. Ya … ini sempurna. Aku harus membuat kesan yang sangat baik di depan orang-orang sebelum wanita itu datang.

Terpopuler

Comments

Tuxepos Jasmine

Tuxepos Jasmine

semangat di....bantai si selena sok kecakepan itu

2025-09-11

1

Tiara Bella

Tiara Bella

putri Diana tunjukin pesonamu.....

2025-09-10

1

Osie

Osie

Diana jgn ksh celah para bangsawan yg berkhianat dikehidupan mu dl..dan jgn ksh celah putra mahkota utk memdekatimu..hempaskan semua yg berniat jahat

2025-09-08

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Diana Eldenhart
2 Bab 2 Protagonis
3 Bab 3 Eksekusi
4 Bab 4 Tiga Kehidupan
5 Bab 5 Kecantikan yang tersembunyi
6 Bab 6 Sihir Hitam
7 Bab 7 Pesta Teh
8 Bab 8 Langkah Awal
9 Bab 9 Arel dan Fey
10 Bab 10 Pemecah belah
11 Bab 11 Batu Kapur
12 Bab 12 Hukuman
13 Bab 13 Bunga yang Gelap
14 Bab 14 Selena
15 Bab 15 Persiapan
16 Bab 16 Cahaya Merah
17 Bab 17 Batu Kapur
18 Bab 18 Benih Masa Depan
19 Bab 19 Bayangan di Perbatasan
20 Bab 20 Satu per Satu Bukti
21 Bab 21 Raja Spirit
22 Bab 22 Di Balik Senyum Para Bangsawan
23 Bab 23 Luka dari Masa Lalu
24 Bab 24 Hukuman
25 Bab 25 Melewati Tes
26 Bab 26 Duel
27 Bab 27 Sebelum Berangkat
28 Bab 28 Menyebrangi Lautan
29 Bab 29 Perbatasan
30 Bab 30 Perasaan
31 Bab 31 Goa
32 Bab 32 Lucien
33 Bab 33 Serangan Pertama
34 Bab 34 Istana
35 Bab 35 Pria Berjubah
36 36 Camp Eryndale
37 Bab 37 Kesepakatan
38 Bab 38 Saling Menyusun Rencana
39 Bab 39 Kembali ke Istana
40 Bab 40 Kepulangan Diana
41 Bab 41 Keputusan Raja
42 Bab 42 Toko Teh
43 Bab 43 Hukuman
44 Bab 44 Sebelum Pesta
45 45 Pesta
46 46 Pesan dari Dewa
47 bab 47 Putri Mahkota
48 Bab 48 Keluar Istana
49 Bab 49 Kediaman Eldenhart
50 pengumuman
51 Bab 50 Mengunjungi Kota
52 Bab 51 Kerinduan
53 Bab 52 Dendam
54 Bab 53 Spirit
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56 Pagi yang cerah
58 Bab 57 Kerajaan Aeloria
59 Bab 58 Tamu Kerajaan
60 Bab 59 Kegelapan
61 Bab 60 Pertemuan Politik
62 Bab 61 Pesta Tamu Kerajaan
63 Bab 62 Kalung
64 Bab 63 Duri Mawar Diana
65 Bab 64 Calon Putri Mahkota
66 Bab 65 Aura Hitam
67 Bab 66 Cahaya yang Redup
68 Bab 67 Wanita Mawar
69 Bab 68 Bunga yang Kembali Mekar
70 Bab 69 Kekeringan
71 Bab 70 Pesta Minum Teh
72 Bab 71. Duri Sang Mawar
73 Bab 72. Duri Sang Mawar (2)
74 Bab 73. Luka yang Kembali Terbuka
75 Bab 74. Tangisan Masa Lalu
76 Bab 75. Akhir dari Kesalahpahaman
77 Bab 76 Benih Harapan
78 Bab 77 Akar yang Tak Pernah Mati
79 Bab 78 Cahaya di Dalam Hutan
80 Bab 79 Pohon Mawar Abadi
81 Bab 80 Peluit Tanpa Suara
82 Bab 81 Perintah Sang Raja
83 Bab 82 Persiapan Menuju Perbatasan
84 Bab 83 Rahasia yang Terungkap
85 Bab 84 Hulu Sungai
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Bab 1 Diana Eldenhart
2
Bab 2 Protagonis
3
Bab 3 Eksekusi
4
Bab 4 Tiga Kehidupan
5
Bab 5 Kecantikan yang tersembunyi
6
Bab 6 Sihir Hitam
7
Bab 7 Pesta Teh
8
Bab 8 Langkah Awal
9
Bab 9 Arel dan Fey
10
Bab 10 Pemecah belah
11
Bab 11 Batu Kapur
12
Bab 12 Hukuman
13
Bab 13 Bunga yang Gelap
14
Bab 14 Selena
15
Bab 15 Persiapan
16
Bab 16 Cahaya Merah
17
Bab 17 Batu Kapur
18
Bab 18 Benih Masa Depan
19
Bab 19 Bayangan di Perbatasan
20
Bab 20 Satu per Satu Bukti
21
Bab 21 Raja Spirit
22
Bab 22 Di Balik Senyum Para Bangsawan
23
Bab 23 Luka dari Masa Lalu
24
Bab 24 Hukuman
25
Bab 25 Melewati Tes
26
Bab 26 Duel
27
Bab 27 Sebelum Berangkat
28
Bab 28 Menyebrangi Lautan
29
Bab 29 Perbatasan
30
Bab 30 Perasaan
31
Bab 31 Goa
32
Bab 32 Lucien
33
Bab 33 Serangan Pertama
34
Bab 34 Istana
35
Bab 35 Pria Berjubah
36
36 Camp Eryndale
37
Bab 37 Kesepakatan
38
Bab 38 Saling Menyusun Rencana
39
Bab 39 Kembali ke Istana
40
Bab 40 Kepulangan Diana
41
Bab 41 Keputusan Raja
42
Bab 42 Toko Teh
43
Bab 43 Hukuman
44
Bab 44 Sebelum Pesta
45
45 Pesta
46
46 Pesan dari Dewa
47
bab 47 Putri Mahkota
48
Bab 48 Keluar Istana
49
Bab 49 Kediaman Eldenhart
50
pengumuman
51
Bab 50 Mengunjungi Kota
52
Bab 51 Kerinduan
53
Bab 52 Dendam
54
Bab 53 Spirit
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56 Pagi yang cerah
58
Bab 57 Kerajaan Aeloria
59
Bab 58 Tamu Kerajaan
60
Bab 59 Kegelapan
61
Bab 60 Pertemuan Politik
62
Bab 61 Pesta Tamu Kerajaan
63
Bab 62 Kalung
64
Bab 63 Duri Mawar Diana
65
Bab 64 Calon Putri Mahkota
66
Bab 65 Aura Hitam
67
Bab 66 Cahaya yang Redup
68
Bab 67 Wanita Mawar
69
Bab 68 Bunga yang Kembali Mekar
70
Bab 69 Kekeringan
71
Bab 70 Pesta Minum Teh
72
Bab 71. Duri Sang Mawar
73
Bab 72. Duri Sang Mawar (2)
74
Bab 73. Luka yang Kembali Terbuka
75
Bab 74. Tangisan Masa Lalu
76
Bab 75. Akhir dari Kesalahpahaman
77
Bab 76 Benih Harapan
78
Bab 77 Akar yang Tak Pernah Mati
79
Bab 78 Cahaya di Dalam Hutan
80
Bab 79 Pohon Mawar Abadi
81
Bab 80 Peluit Tanpa Suara
82
Bab 81 Perintah Sang Raja
83
Bab 82 Persiapan Menuju Perbatasan
84
Bab 83 Rahasia yang Terungkap
85
Bab 84 Hulu Sungai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!