Suara ketukan halus di pintu ruang kerja Adam terdengar bersamaan dengan denting jarum jam yang menandai pukul sebelas siang. Di luar, suasana kementerian masih sibuk, orang berlalu-lalang, telepon berdering, suara sepatu mengetuk lantai marmer berulang. Tapi di dalam ruangan Adam, suasana tenang dan tertutup rapat. Lampu gantung menerangi meja besar dari kayu jati dengan rapi: tumpukan berkas, laptop terbuka, dan setengah cangkir kopi yang sudah dingin.
“Masuk,” suara Adam datar, tanpa menoleh dari layar laptopnya.
Arman melangkah masuk, menutup pintu perlahan. “Bapak memanggil saya?”
Adam menatapnya beberapa detik, kemudian menyandarkan punggung di kursi. “Duduk dulu, Man.”
Nada itu berbeda. Tidak seperti biasanya saat mereka bicara soal rapat atau proyek kementerian. Arman menelan ludah, lalu duduk hati-hati di kursi seberang. Ia mengira Adam akan membahas tentang dirinya dan Sandra karena kejadian tadi pagi.
Adam menghela napas panjang sebelum berbicara lagi. “Saya mau kamu atur sesuatu. Saya ingin menemui seseorang di lapas.”
Arman mengernyit. “Siapa, Pak?”
“Pak Hadi.”
Arman langsung menegang. “Ayahnya… Bu Elsa?”
Adam menatapnya sekilas, singkat tapi tajam. “Ya.”
Arman buru-buru menunduk. “Kalau boleh saya tahu, apa tujuannya, Pak?”
“Ada yang harus saya tanyakan langsung padanya. Tentang kasusnya.”
Arman menghela napas berat. “Pak… maaf saya bicara terus terang. Kalau Bapak sampai ketahuan menemui seorang tahanan kasus korupsi, apalagi yang namanya sudah viral di media, dampaknya bisa besar. Banyak yang sedang mengincar Bapak. Satu foto saja bisa diolah jadi isu besar. Ini berisiko.”
“Justru karena itu saya minta kamu yang atur, supaya tidak ada yang tahu,” jawab Adam tenang, tapi matanya dingin.
Arman masih mencoba bertahan. “Tapi, Pak… wartawan sekarang seperti serigala. Mereka bisa mencium berita bahkan dari bayangan. Kalau sampai… “
“Saya tahu risikonya,” potong Adam. “Dan saya tahu siapa yang bisa saya percaya.”
Kalimat itu tajam tapi juga memberi tekanan…
Ibu Susu Anak Sang Menteri
Langkah Adam Demi Elsa…
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 67 Episodes
Comments
Popo Hanipo
semangat pak hadi demi anak dan cucumu yang kini sedang menderita percaya sama pakmen
2025-11-05
0
Ds Phone
kalau kamu bolih tolong tolong lah kesian meraka
2025-11-10
0