Hidup Baru

Di rumah sakit,

Keriuhan terasa menggema di sepanjang koridor rumah sakit saat ambulans tiba dengan sirene yang memekakkan telinga. Pintu belakang ambulans terbuka, para petugas medis segera menurunkan sebuah tandu darurat yang menopang tubuh seorang wanita yang seluruh pakaiannya tak lagi berwarna seperti sebelumnya, kini pakaian itu sudah berubah merah oleh darah yang berlumuran.

Hani, yang berdiri terpaku di samping, hanya mampu menatap dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, tangan tergenggam erat, bibir bergetar seraya berdoa dalam hati agar keadaan tidak lebih buruk dari yang terlihat.

"Lisa, bertahanlah!"

yap, Lisa lah yang menjadi korban tabrak lari sebuah motor saat keduanya menyebrang jalan yang dikira sudah sepi dari kendaraan.

Dengan cepat, Lisa di bawa ke dalam Unit Gawat Darurat, dan Hani mengikuti dengan langkah cepat. Lisa sudah berada di dalam IGD dan meninggalkan Hani yang kini mondar-mandir di luar ruangan, rasa cemas dan takut bercampur menjadi satu. Setiap detik terasa begitu lambat, menunggu kabar dari dalam ruangan yang terkunci itu.

Suasana menjadi semakin tegang ketika dua orang polisi tiba di tempat kejadian. Mereka mendekati Hani, wajah serius mereka seolah menyiratkan kabar penting. "Kami sudah menangkap pelaku yang kabur, dan dia akan bertanggung jawab atas kejadian ini," ujar salah satu polisi dengan nada yang mendayu.

Hani, yang mendengar kabar itu, langsung terisak, "Tolong, beri hukuman setimpal karena ulah pelaku itu, pak," pintanya dengan nada memohon, mata sembabnya menatap dalam ke arah polisi, mencari secercah keadilan di tengah kekacauan yang terjadi.

Tak lama, pintu IGD terbuka, seorang perawat keluar dengan wajah terlihat serius. Hani segera mendekat meninggalkan polisi yang juga ikut mendekat ke arah perawat itu.

"dimana yang bernama Hani? "

"Saya"

"Pasien ingin bertemu,"

Suasana di ruang IGD tegang dan penuh kecemasan. Hani yang baru saja mendengar permintaan perawat langsung berlari memasuki ruangan tersebut. Matanya langsung terarah pada Lisa yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya. Hani tergagap, tak sanggup menutupi rasa panik dan takutnya saat melihat sahabatnya dalam kondisi kritis.

"Li-Lisa," suara Hani bergetar, penuh kekhawatiran.

Lisa membuka matanya dengan susah payah, matanya redup namun masih mencoba memberikan senyuman yang paling hangat yang bisa ia berikan dalam kondisi seperti itu. "Aku mau minta tolong," suaranya lirih, hampir tak terdengar di tengah kebisingan ruangan itu.

"tolong? Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Hani, matanya berkaca-kaca, hatinya berdebar kencang menunggu permintaan Lisa yang tampaknya sangat penting.

Lisa menggenggam tangan Hani, cengkeraman yang lemah namun penuh dengan urgensi. "Titip jaga Hanum ya dan ambil uang yang ada di tabungan untuk hadiah ulang tahun Hanum bulan depan," ucapnya dengan napas yang semakin berat.

Hani menatap Lisa dengan mata yang terbelalak, rasa sakit dan ketakutan menghujam jantungnya. Ia tahu betapa dekatnya Lisa dengan anak tiri satu-satunya, Hanum. Permintaan itu seperti pengakuan bahwa Lisa mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi. Hani mengangguk, bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang ingin meledak.

"Iya, Lisa, aku janji akan jaga Hanum sebaik-baiknya. Kamu tenang saja, dia kan anak aku" kata Hani, suaranya serak oleh emosi yang mencoba ia tahan.

"makasih, Han"

Lisa tersenyum lemah, matanya perlahan terpejam, seolah-olah mendapatkan sedikit kedamaian setelah mendengar janji dari Hani. Hani terduduk di samping tempat tidur Lisa, tangan Lisa masih dalam genggamannya, berharap keajaiban akan terjadi meski realita pahit terus menghantui setiap detik yang berlalu.

Lisa membuka matanya dan menatap ke langit-langit kamar rumah sakit dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bayangan wajah Hanum gadis kecil berambut hitam dan senyum cerah terpampang jelas di benaknya.

Meski Hanum bukan darah daging Hani, kasih sayang yang terpancar dari Hani begitu tulus, seolah gadis itu adalah anak kandungnya sendiri. Lisa pun merasakan hal yang sama, hatinya penuh dengan cinta dan kehangatan yang tak terucapkan untuk Hanum, seperti adik yang sangat ia lindungi.

“Hani, aku ada hadiah buat Hanum di dalam tas ku,” ucapnya dengan suara yang serak dan napas terengah-engah, tangan Hani gemetar saat mengulurkan sebuah tas milik Lisa yang dia bawa.

“Tolong terima ya... Aku juga punya tabungan, tolong kamu yang pegang. Terserah kamu mau pakai tabungan itu untuk apa,” lanjutnya, kata-katanya tercekat oleh rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.

"kamu udah kasih uang buat hadiah Hanum. tapi kenapa ada hadiah lagi? ini uang kamu pake buat berobat setelah ini."

"aku udah nggak kuat lagi, Hani. maafin aku, aku banyak salah sama kamu selama ini,"

Suara nyaring dari monitor yang terhubung ke tubuh Lisa tiba-tiba menggema memenuhi ruangan. Garis di layar berubah menjadi lurus tanpa denyut, seolah menggambarkan keheningan yang menakutkan. Lisa menutup matanya perlahan, seakan ingin menyimpan momen terakhir itu bersama matanya yang menatap Hani untuk terakhir kalinya.

"Lisaa... Engga engga Lis... Dok-dokter" Teriak Hani yang masih menggenggam tangan Lisa.

*

*

Di suatu tempat,

Seorang gadis cantik membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa lemas saat mencoba duduk. Suara burung berkicau dan desiran angin menyapa telinganya, namun yang terlihat di sekelilingnya adalah taman yang asing, rumput hijau terhampar rapi, bunga-bunga bermekaran dengan warna mencolok, dan beberapa bangku kosong yang tertata rapi di bawah pepohonan rindang. Hanya dia seorang yang berada di sana, kesunyian menyelimuti tanpa ada seorang pun yang lewat.

“Ini... ini di mana?” suaranya terdengar lirih, hampir seperti bisikan yang ragu. Ia menatap sekeliling dengan mata yang mulai membelalak, berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia tiba-tiba terbangun di tempat ini.

Ketika ia menggerakkan tangannya, matanya membelalak lebih lebar. Tangan itu, putih, halus, dan tak seperti miliknya yang selama ini kasar karena hasil dia bekerja dan membersihkan rumah pamannya. Jari-jarinya tertutup kuku berwarna merah menyala, warna yang sama sekali asing baginya karena ia ingat betul kuku jarinya selalu polos dan bersih tanpa cat.

“Looh... kenapa tangan gue putih begini! Ini jari-jari siapa yang ada di tangan gue!”

Ia menatap tangan itu dengan campuran kebingungan dan panik, jari-jarinya bergetar kecil saat disentuhnya berulang kali, seolah mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang dilihatnya bukanlah mimpi.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, dada terasa sesak. “Ini lengan siapa? Ini bukan lengan tangan gue!” gumamnya dengan nada hampir menjerit, tubuhnya bergemetar saat kenyataan aneh itu perlahan menjerat pikirannya, bahwa dirinya berada di dunia yang asing, dengan tubuh yang bukan miliknya.

Lisa menepuk pakaiannya yang kotor perlahan, langkahnya sedikit gemetar dan berat, seolah setiap jengkal tanah menuntut tenaga ekstra. Pusing yang menusuk di pelipisnya membuat pandangan menjadi kabur, membuat tiap detik terasa seperti tarian bayangan yang menyesatkan.

Lisa berjalan mencari seseorang yang bisa di tanyakan dimana saat ini. dengan langkahnya pelan, dia menyusuri lorong yang menuju koridor.

"kayak sekolahan!"

Suasana koridor sekolah yang biasanya ramai kini berubah menjadi sunyi mencekam, hanya terdengar gema langkah kakinya yang tersisa. Dinding-dinding putih yang dingin dan ruangan yang asing baginya.

Gumamnya nyaris tak terdengar, "Ini dimana? Apa gue lagi mimpi ya." Suaranya bergetar, mencerminkan kebingungan dan ketakutan yang merayap di hatinya. Dengan tangan gemetar, Lisa menyusuri koridor panjang itu, matanya mencari-cari petunjuk di setiap sudut, tapi yang didapat hanyalah bayangan kosong dan suara hampa.

Saat pandangannya terpaku pada papan bangunan sekolah, sebuah kaca besar terpajang di hadapannya. Bayangan samar seorang wanita di balik kaca itu perlahan membentuk sosok yang begitu familiar namun asing.

Mata Lisa membesar, jantungnya berdegup cepat tak terkendali. "Siapa wanita itu!!" bisiknya, langkahnya beringsut mendekat, tangan terulur seolah ingin menyentuh bayangan itu dan menghapus rasa takut.

Tiba-tiba, sosok dalam kaca itu bergerak, wajahnya berubah menjadi ekspresi penuh ketakutan dan teriakan yang tak bisa dijelaskan. Lidah Lisa kelu, napasnya tercekat, lalu suara teriakannya meledak, "Aaaaaarrghh! itu bukan gue,"

Ia berbalik dan berlari panik, tubuhnya gemetar hebat, dada sesak oleh kecemasan yang mencekam. Setiap langkahnya dipenuhi oleh desakan ingin lari dari kenyataan yang tak bisa ia pahami, meninggalkan jejak ketakutan yang membekas di setiap sudut koridor.

"Enggak... Enggak.. Pasti ini mimpi.. Hani, kamu dimana Hani,"

Lisa berlari tanpa arah yang jelas, napasnya tersengal dan keringat membasahi dahinya. Kepalanya terasa berdenyut tajam, seolah ada badai di dalam pikirannya. Saat melewati sekelompok siswa di lapangan basket, tubuhnya yang linglung tanpa sengaja mendorong beberapa dari mereka hingga terkejut dan mundur langkah.

"Lo Rubby, kan?" suara seorang pemuda terdengar dari belakang, nada bicaranya penuh heran sekaligus sedikit jengkel.

"ngapain lo kesini?"

Lisa semakin panik, matanya yang berkaca-kaca berkeliling mencari jalan keluar, tapi malah bertabrakan dengan sosok yang lebih besar.

Tangan kuat mencengkeram pergelangan Lisa, menariknya sampai tubuh mereka hampir bertabrakan. "Nggak usah cari perhatian ke gue lagi, Rubby," desis pria itu dengan nada dingin dan tajam, seolah menyembunyikan kemarahan yang membara.

Lisa menatap pemuda itu dengan alis berkerut, matanya berusaha menangkap wajah yang seolah sudah sangat dikenalnya tapi terasa asing. "Rubby!" suaranya tercekat, penuh kebingungan dan ketakutan.

Tiba-tiba, kepala Lisa seperti diremas, nyeri yang menusuk membuat ingatan-ingatan lama berhamburan ke permukaan, fragmen wajah, suara, dan peristiwa yang selama ini ia coba lupakan. Tubuhnya gemetar, dan pandangan mulai mengabur, seolah dunia di sekitarnya runtuh perlahan.

"Aaarrgghhhh,, " teriak Ruby yang menarik rambutnya dengan kencang.

Semuanya kaget saat gadis bernama Ruby berteriak tak jelas. bahkan pemuda yang awalnya ingin memarahi Ruby menjadi enggan dan memilih untuk mundur.

"hidungnya mimisan!" ucap seorang pemuda yang membawa bola basket.

"hey, lepasin tangan kamu, astaga!"

Terpopuler

Comments

khun :3

khun :3

Thor, update dong! penasaran banget nih 😍

2025-10-05

1

lihat semua
Episodes
1 Sebuah Kisah
2 Hidup Baru
3 Amnesia?
4 Anak Haram?
5 Baju Setan
6 Merubah
7 DramaJen
8 Sepupu baik
9 Imbangi
10 Rimba Cakra Danendra
11 bertemu Lagi
12 Di Mulai
13 Paling Tersakiti
14 Makan Malam
15 Drama Makan Malam
16 Liciknya Rubby
17 Fitnah
18 Emang Enak
19 Drama Kembali
20 Perdebatan Kecil
21 Pagi Yang Cerah
22 Sekolah Baru
23 Di Hadang
24 Berat
25 Tremor sendiri
26 Gosip
27 Om Om
28 Genit
29 Mode on
30 Ngikutin
31 telfon
32 olahraga
33 Nikah?
34 Nggak Jelas
35 Malam Mencekam
36 Bahaya
37 lima puluh juta
38 Keinginan Aldra
39 Jangan Benci
40 Perjodohan
41 Parfum
42 Kesalnya Rubby
43 Basket
44 Rimba mode Ngambek
45 Guling
46 Ajakan Aldra
47 Angkutan
48 Pingsan
49 Koma
50 Bayangan
51 Rimba tahu
52 Sadar
53 Bantuan
54 Aldra Semakin Gila
55 Menebak
56 Alasan
57 Curiga
58 ponsel
59 Hanya Pengganti
60 kecelakaan
61 Amputasi
62 Buta
63 Ternyata bukan hal biasa
64 Ancaman
65 Orang Asing
66 Pulang
67 Penyesalan Jenia
68 Sepuluh Anak
69 Bersyukur
70 Foto Ruby
71 belanja
72 Rencana Ruby
73 Bahagia Ruby
74 Aldra datang
75 Mencekam
76 Laut
77 Di Atur
78 Licik
79 Niatan
80 Tempat Asing
81 Strategi Ruby
82 Sebuah Bisikan
83 Gilanya Afdal
84 Kabur
85 Tetap Waspada
86 Perencanaan
87 Pencarian Ruby
88 Kecurigaan Ruby
89 Kejujuran
90 Khawatir
91 Rimba dijodohkan
92 Kembalinya Ruby
93 Mendatangi
94 Hadiah Kecil
95 Perasaan Rimba
96 Kebahagiaan Keluarga
97 Keano Berbohong
98 Dilabrak
99 Ketemu
100 Parfum
101 Wanita Licik
102 Suara Itu
103 Tak Habis Fikir
104 Lamaran
105 Syarat Ruby
106 Ketemu Aaron
107 Tak Ingin Bermasalah
108 Bukan Tandingan
109 Keberadaan Rimba
110 Galau
111 Menerima
112 Perhiasan
113 Pernikahan
114 Hamil
115 Melahirkan
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Sebuah Kisah
2
Hidup Baru
3
Amnesia?
4
Anak Haram?
5
Baju Setan
6
Merubah
7
DramaJen
8
Sepupu baik
9
Imbangi
10
Rimba Cakra Danendra
11
bertemu Lagi
12
Di Mulai
13
Paling Tersakiti
14
Makan Malam
15
Drama Makan Malam
16
Liciknya Rubby
17
Fitnah
18
Emang Enak
19
Drama Kembali
20
Perdebatan Kecil
21
Pagi Yang Cerah
22
Sekolah Baru
23
Di Hadang
24
Berat
25
Tremor sendiri
26
Gosip
27
Om Om
28
Genit
29
Mode on
30
Ngikutin
31
telfon
32
olahraga
33
Nikah?
34
Nggak Jelas
35
Malam Mencekam
36
Bahaya
37
lima puluh juta
38
Keinginan Aldra
39
Jangan Benci
40
Perjodohan
41
Parfum
42
Kesalnya Rubby
43
Basket
44
Rimba mode Ngambek
45
Guling
46
Ajakan Aldra
47
Angkutan
48
Pingsan
49
Koma
50
Bayangan
51
Rimba tahu
52
Sadar
53
Bantuan
54
Aldra Semakin Gila
55
Menebak
56
Alasan
57
Curiga
58
ponsel
59
Hanya Pengganti
60
kecelakaan
61
Amputasi
62
Buta
63
Ternyata bukan hal biasa
64
Ancaman
65
Orang Asing
66
Pulang
67
Penyesalan Jenia
68
Sepuluh Anak
69
Bersyukur
70
Foto Ruby
71
belanja
72
Rencana Ruby
73
Bahagia Ruby
74
Aldra datang
75
Mencekam
76
Laut
77
Di Atur
78
Licik
79
Niatan
80
Tempat Asing
81
Strategi Ruby
82
Sebuah Bisikan
83
Gilanya Afdal
84
Kabur
85
Tetap Waspada
86
Perencanaan
87
Pencarian Ruby
88
Kecurigaan Ruby
89
Kejujuran
90
Khawatir
91
Rimba dijodohkan
92
Kembalinya Ruby
93
Mendatangi
94
Hadiah Kecil
95
Perasaan Rimba
96
Kebahagiaan Keluarga
97
Keano Berbohong
98
Dilabrak
99
Ketemu
100
Parfum
101
Wanita Licik
102
Suara Itu
103
Tak Habis Fikir
104
Lamaran
105
Syarat Ruby
106
Ketemu Aaron
107
Tak Ingin Bermasalah
108
Bukan Tandingan
109
Keberadaan Rimba
110
Galau
111
Menerima
112
Perhiasan
113
Pernikahan
114
Hamil
115
Melahirkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!