Baju Setan

"aaaarrrrrggghhhh"

Jeritan Rubby membuat semua orang yang ada di kamar nuansa feminin itu berjingkrak kaget. Afdal yang sedang memainkan game di ponselnya langsung menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Keano yang sedang minum air putih tersedak kuat hingga wajah putih itu menjadi merah karena sakit menahan sedakan saat dia minum.

berbeda dengan Sonia yang langsung mendekat dan memeluk tubuh putrinya itu. dia merasakan tubuh kecil itu bergetar, dan ada isakan kecil yang terdengar di telinganya.

"mama disini sayang!! " bisiknya lembut.

Sonia mengusap pelan punggung putrinya dan membisikan sesuatu di telinga putrinya, dan membuat lebih tenang lagi. setelah di rasa tenang, Sonia melepas pelukannya dan menatap lembut ke arah Rubby.

"kenapa? mimpi buruk?"

Rubby justru hanya menatap wajah Sonia dengan sedih, "kau bahkan mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, dan seorang wanita yang bukan ibu kandungmu sendiri, Rubby. tapi kamu justru mendengar ucapan dari orang lain."

Sonia membelai pipi itu dengan lembut, "kenapa? laper apa haus?"

"maaf." ucap Ruby dengan lirih.

satu kata yang terucap dari mulut Rubby, gadis angkuh yang selalu membanting segala benda yang ada di dekatnya. satu kata yang membuat air mata Sonia menetes pelan, "maaf kenapa sayang? kamu ada yang sakit? bilang sama mama, sayang."

"kamu bahkan begitu di manja oleh ibumu. tapi kamu justru menyakitinya"

Entah apa yang di pikirkan Rubby dulu. bagaimana dia menyakiti ibunya dengan kata kata pedas, segala bentuk kasih sayang yang di tuduhkan sebagai sandiwara belaka oleh seorang gadis asing. tapi kini justru sosok jiwa Lisa melihat dengan berbeda.

Kasih sayang tulus, suara yang lembut tanpa di buat buat. Pelakuan yang lembut dan penuh dengan kemanjaan untuknya.

"maaf untuk semua yang udah aku lakuin."

"kamu nggak salah sayang. seorang anak membuat kesalahan kecil itu wajar."

"tapi aku justru buat mama sakit hati setiap waktu."

Air mata Sonia menetes kembali mendengar kata mama dari mulut Rubby. dengan gerakan lembut Sonia menyentuh pipi putrinya dan memeluknya dengan erat. dia begitu bahagia mendengar sebutan itu lagi, mama. tidak ada sebutan Nyonya.

"mama!! kamu manggil mama?" Sonia hanya ingin memastikan jika telinganya tidak salah.

"apa aku salah maaa?" ucapnya dengan raut wajah bingung.

Sonia menggeleng cepat, "aku mama kamu. panggil aku mama, sayang."

Keano dan Afdal hanya diam, tapi hati mereka tersentuh melihat ada sedikit sosok adik kecilnya yang dulu bermanja ke ibunya kini telah kembali lagi.

jika di dalam kamar suasana haru karena panggilan dari Rubby, di luar kamar. atau lebih tepatnya, di balik pintu yang terbuka sedikit. seseorang mengepalkan tangannya dengan kuat. dia tak senang melihat kebahagian yang ada di dalam ruangan itu. dia tak ingin jika kebahagian itu terbagi untuk orang lain.

"kau tak akan merasakan kebahagian itu, Rubby. mereka semua milikku. kau hanya orang asing yang di rawat oleh mama Sonia."

*

*

Kini Rubby sudah seorang diri di dalam kamarnya. ibu dan kedua kakaknya sudah keluar karena ada sesuatu hal. ibunya ingin membuat makanan ringan dan kakaknya ada urusan lain.

Rubby duduk terpaku di tepi ranjang, matanya kosong menatap ke arah dinding yang penuh dengan fotonya. Suasana hening setelah ibu dan kedua kakaknya keluar dari kamarnya, menyisakan gema kata-kata yang terus berputar di kepalanya.

"Jadi Jenia biang dari masalah semua yang ada di keluargamu, Rubby," suara itu begitu lirih dalam benaknya seperti cambukan yang tak kunjung hilang.

Dengan langkah berat, Rubby bangkit dan melangkah menuju ruangan tempat bajunya sesuai dengan ingatan gadis ini. Tangannya dengan pelan membuka pintu lemari, dan kedua matanya melihat tumpukan pakaian yang terlipat rapi namun penuh dengan umpatan kecil. Pakaian begitu seksi dan kekecilan untuk tubuh Rubby yang sedikit berisi. Bahkan saat dia melihat seragam miliknya saja dia di buat syok, baju dan rok nya begitu pendek. 

"astaga!! bocah ini bahkan memiliki baju setan.. si*lan si Jenia. dia justru meracuni otak Rubby dengan hal hal seperti ini. emang dasar rada rada itu bocah."

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gelombang emosi yang mengoyak dadanya. "Jenia setan," gumamnya dengan nada getir, "dia bahkan merekomendasikan pakaian kekecilan ini untuk tubuh Rubby." lanjutnya yang mengambil satu pakaian yang kecil.

Kepalanya berputar pelan, rasa pusing mulai menjalar, seolah-olah jiwa Lisa yang baru ini tersembunyi dalam tubuh itu ikut terguncang oleh kenyataan gila ini. Mata Rubby menyapu lemari itu sekali lagi, lalu dengan tekad yang menguat, ia menggenggam salah satu baju yang terlalu kecil untuknya dan membantingnya perlahan.

"Mungkin aku harus mengganti semua pakaian ini dengan yang baru," ucapnya lirih, mengandung janji untuk memulai lembaran baru, membebaskan diri dari bayang-bayang Jenia yang selama ini mengekang hidupnya. Rubby menatap kosong ke arah jendela yang terbuka, berharap cahaya yang masuk bisa menerangi gelapnya hatinya.

Rubby kembali menatap ke arah lemari, dia berdiri di depan lemari kayu yang sudah penuh sesak, napasnya memburu saat tangannya mulai menarik satu persatu pakaian dari dalamnya. Dengan amarah yang tak terkendali, dia melemparkan baju, rok, dan blus itu ke lantai berderai tanpa peduli suara gemeretak gantungan pakaian dan kain yang berserakan. Suara denting dan gesekan pakaian yang jatuh memenuhi ruangan, menciptakan kekacauan yang mencerminkan kekacauan hatinya.

Setelah lemari itu kosong, Rubby menatap tumpukan pakaian di lantai dengan mata yang berkaca-kaca, tapi penuh tekad. Perlahan, dia mulai memilah pakaian-pakaian itu satu per satu, meraba bahan dan melihat warna, mencari yang masih bisa dia gunakan tanpa rasa bersalah. Jarang sekali yang lolos dari pilihannya, hanya tiga stel pakaian yang tampak cukup biasa dan pantas dikenakan, tidak mencolok dan tak meninggalkan bekas dosa di hatinya.

“Harus dibakar,” gumamnya dengan suara serak, bibirnya mengerut penuh kebencian. “Aku nggak mau nambah dosa kalau ada yang makai.” 

Matanya membara saat dia mengangkat sebuah keranjang kosong, lalu dengan cepat memasukkan semua pakaian seksi dan kekecilan itu ke dalamnya, seolah menyingkirkan beban berat dari hidupnya.

“Awas lo, Jenia,” ucap Rubby dengan nada dingin dan penuh ancaman, menatap kosong ke arah pakaian-pakaian yang sudah dikumpulkan.

“Gue bakal buat perhitungan sama lo.” Tangan Rubby mengepal erat, menggenggam keranjang itu seperti menggenggam niat balas dendam yang sudah lama terpendam dalam hatinya.

Rubby berjalan ke arah pintu kamarnya, saat membuka pintu. Dia di buat terkejut saat melihat pengasuhnya berdiri di depan pintu kamarnya sembari kedua tangan membawa nampan berisi cemilan dan air putih hangat. 

"Bi Ning.. Loh mau kemana? "

"Bibi nganterin ini, jam segini biasanya non Rubby bakalan minta jajan."

Rubby tersenyum kecil, "oh ya bi. Bisa minta tolong?"

"Kenapa non?"

"Tolong bakar semua pakaian ini dan yang masih ada di lantai. Aku nggak mau pakai semua pakaian jelek ini"

"Apa!! Kamu akan membakar baju kesayanganmu itu, nak?" pekik kaget Sonia yang melihat putrinya membawa tempat baju kotor berisikan pakaian yang biasa di kenakan Ruby.

"Mama!!!"

Dengan ragu Ruby menatap Sonia, "aku nggak mau pake baju gini lagi, ma. ini kekecilan, ngga bagus deh kalo di pandang orang."

Sonia tersenyum kecil, lalu dia menyuruh bi Ning membawanya dan membakarnya sesuai dengan permintaan Ruby.

Setelah itu, Sonia menggandeng Ruby ke ruangan yang dekat kamar Ruby. mereka berdua duduk di sana, "besok belanja bareng mama ya? udah lama banget ngga jalan jalan bareng kamu,"

mendengar itu, Ruby menjadi sedih dan mengingat jika keduanya sudah lama tak pergi berdua semenjak pertengkaran dirinya yang mulai memanggil ibunya dengan sebutan Nyonya.

"tapi kan besok sekolah,"

Terpopuler

Comments

Jeann

Jeann

sp yg naro bawang disini

2026-05-17

0

lihat semua
Episodes
1 Sebuah Kisah
2 Hidup Baru
3 Amnesia?
4 Anak Haram?
5 Baju Setan
6 Merubah
7 DramaJen
8 Sepupu baik
9 Imbangi
10 Rimba Cakra Danendra
11 bertemu Lagi
12 Di Mulai
13 Paling Tersakiti
14 Makan Malam
15 Drama Makan Malam
16 Liciknya Rubby
17 Fitnah
18 Emang Enak
19 Drama Kembali
20 Perdebatan Kecil
21 Pagi Yang Cerah
22 Sekolah Baru
23 Di Hadang
24 Berat
25 Tremor sendiri
26 Gosip
27 Om Om
28 Genit
29 Mode on
30 Ngikutin
31 telfon
32 olahraga
33 Nikah?
34 Nggak Jelas
35 Malam Mencekam
36 Bahaya
37 lima puluh juta
38 Keinginan Aldra
39 Jangan Benci
40 Perjodohan
41 Parfum
42 Kesalnya Rubby
43 Basket
44 Rimba mode Ngambek
45 Guling
46 Ajakan Aldra
47 Angkutan
48 Pingsan
49 Koma
50 Bayangan
51 Rimba tahu
52 Sadar
53 Bantuan
54 Aldra Semakin Gila
55 Menebak
56 Alasan
57 Curiga
58 ponsel
59 Hanya Pengganti
60 kecelakaan
61 Amputasi
62 Buta
63 Ternyata bukan hal biasa
64 Ancaman
65 Orang Asing
66 Pulang
67 Penyesalan Jenia
68 Sepuluh Anak
69 Bersyukur
70 Foto Ruby
71 belanja
72 Rencana Ruby
73 Bahagia Ruby
74 Aldra datang
75 Mencekam
76 Laut
77 Di Atur
78 Licik
79 Niatan
80 Tempat Asing
81 Strategi Ruby
82 Sebuah Bisikan
83 Gilanya Afdal
84 Kabur
85 Tetap Waspada
86 Perencanaan
87 Pencarian Ruby
88 Kecurigaan Ruby
89 Kejujuran
90 Khawatir
91 Rimba dijodohkan
92 Kembalinya Ruby
93 Mendatangi
94 Hadiah Kecil
95 Perasaan Rimba
96 Kebahagiaan Keluarga
97 Keano Berbohong
98 Dilabrak
99 Ketemu
100 Parfum
101 Wanita Licik
102 Suara Itu
103 Tak Habis Fikir
104 Lamaran
105 Syarat Ruby
106 Ketemu Aaron
107 Tak Ingin Bermasalah
108 Bukan Tandingan
109 Keberadaan Rimba
110 Galau
111 Menerima
112 Perhiasan
113 Pernikahan
114 Hamil
115 Melahirkan
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Sebuah Kisah
2
Hidup Baru
3
Amnesia?
4
Anak Haram?
5
Baju Setan
6
Merubah
7
DramaJen
8
Sepupu baik
9
Imbangi
10
Rimba Cakra Danendra
11
bertemu Lagi
12
Di Mulai
13
Paling Tersakiti
14
Makan Malam
15
Drama Makan Malam
16
Liciknya Rubby
17
Fitnah
18
Emang Enak
19
Drama Kembali
20
Perdebatan Kecil
21
Pagi Yang Cerah
22
Sekolah Baru
23
Di Hadang
24
Berat
25
Tremor sendiri
26
Gosip
27
Om Om
28
Genit
29
Mode on
30
Ngikutin
31
telfon
32
olahraga
33
Nikah?
34
Nggak Jelas
35
Malam Mencekam
36
Bahaya
37
lima puluh juta
38
Keinginan Aldra
39
Jangan Benci
40
Perjodohan
41
Parfum
42
Kesalnya Rubby
43
Basket
44
Rimba mode Ngambek
45
Guling
46
Ajakan Aldra
47
Angkutan
48
Pingsan
49
Koma
50
Bayangan
51
Rimba tahu
52
Sadar
53
Bantuan
54
Aldra Semakin Gila
55
Menebak
56
Alasan
57
Curiga
58
ponsel
59
Hanya Pengganti
60
kecelakaan
61
Amputasi
62
Buta
63
Ternyata bukan hal biasa
64
Ancaman
65
Orang Asing
66
Pulang
67
Penyesalan Jenia
68
Sepuluh Anak
69
Bersyukur
70
Foto Ruby
71
belanja
72
Rencana Ruby
73
Bahagia Ruby
74
Aldra datang
75
Mencekam
76
Laut
77
Di Atur
78
Licik
79
Niatan
80
Tempat Asing
81
Strategi Ruby
82
Sebuah Bisikan
83
Gilanya Afdal
84
Kabur
85
Tetap Waspada
86
Perencanaan
87
Pencarian Ruby
88
Kecurigaan Ruby
89
Kejujuran
90
Khawatir
91
Rimba dijodohkan
92
Kembalinya Ruby
93
Mendatangi
94
Hadiah Kecil
95
Perasaan Rimba
96
Kebahagiaan Keluarga
97
Keano Berbohong
98
Dilabrak
99
Ketemu
100
Parfum
101
Wanita Licik
102
Suara Itu
103
Tak Habis Fikir
104
Lamaran
105
Syarat Ruby
106
Ketemu Aaron
107
Tak Ingin Bermasalah
108
Bukan Tandingan
109
Keberadaan Rimba
110
Galau
111
Menerima
112
Perhiasan
113
Pernikahan
114
Hamil
115
Melahirkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!