Anak Haram?

Suasana ruang keluarga mendadak langsung hening kala mendengar pertanyaan baru di ucapkan oleh Rubby.

Sonia terpaku, matanya membesar saat menatap putrinya yang kini berdiri tanpa reaksi mengenali siapa pun di sekitarnya. Wajah Rubby yang dulu penuh angkutan dan tegas kini tampak kosong, seolah ada tirai gelap yang menutupi ingatan dan perasaannya. Di samping Rubby, Bi Ning melangkah maju dengan langkah pelan, wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam.

“Dokter mengatakan non Rubby mengalami amnesia, pak, bu,” ujar Bi Ning lirih, suaranya nyaris bergetar, seolah berita itu begitu berat untuk disampaikan. Keheningan seketika menyelimuti ruangan, hanya suara napas yang tertahan yang terdengar di antara mereka.

"Apa!!!" pekik semua yang berada di sana,

Sonia meraba dadanya, napasnya tercekat. “Jenia bilang katanya Rubby pingsan biasa,” ucapnya pelan sambil mencoba melangkah mendekat, berharap putrinya masih bisa mengenal dirinya.

Jenia yang berdiri di sudut ruangan menunduk, wajahnya memerah gugup. “E… e aku kira kamu pingsan biasa,” gumamnya terbata-bata, ketakutan akan tuduhan yang mungkin muncul. Tatapan Rubby yang kosong dan tenang seperti membeku di ruang dan waktu, menusuk hati semua yang melihat.

Sonia merasakan dingin menusuk hingga ke tulang, seolah seluruh dunianya runtuh dalam sekejap. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha menahan air mata agar tidak tumpah.

Ia menggenggam tangan Rubby dengan lembut, berharap sentuhan itu bisa mengembalikan sedikit ingatan putrinya. Namun Rubby hanya menatapnya tanpa tanda pengenalan, meninggalkan Sonia dalam keheningan yang penuh dengan ketakutan dan kehilangan.

"Sayang!! Maafin mama. Mama ngga tau, kami semua juga nggak tau kalo kamu di rawat." Ucapnya jujur. 

Sonia begitu sedih menatap putrinya, dia tahu jika dirinya bukanlah ibu kandung. Tapi dia sudah merawat Rubby dari masih bayi. Walau begitu tapi hatinya tetap meyayangi Rubby sepenuh hati. 

"Palingan juga akting doang, bang" Bisik Afdal, kakak kandung satu ayah, anak kedua dari pasangan Iram Madison dan Sonia Ayu.

Keano King Madison yang duduk di samping Afdal menatap tajam ke arah Rubby yang berdiri dengan raut wajah tenang tapi ada kebingungan di sorot matanya. 

Gadis itu yang biasanya akan marah dan mencaci maki ke semua orang, dan itu terjadi setiap hari tanpa tahu alasan yang jelas. Bahkan Rubby akan marah dengan melempar barang barang yang ada di dekatnya karena hal sepele.

Kembali ke Rubby yang menatap bingung semuanya, dia merasa sakit melihat pemandangan yang ada di depan mata.

Langkah Rubby mundur satu langkah, kepalanya tiba-tiba sakit tak tertahan. Di kepalanya dia merasa mendengar jeritan makian dan barang pecah. Ruby menutup mata dan kedua tangannya menutup kedua telinganya.

"Mama selalu saja bandingin aku. Aku itu anak mama apa bukan sih?"

"Aku anak haram, aku lahir dari kesalahan." 

"Kenapa kalian membela Jenia. Aku itu adik kalian. "

"Mama bohong, mama sayang Jenia. "

"Papah juga pembohong, dia bilang akan jemput aku. Tapi dia malah jemput Jenia. "

"Jenia.. Jenia.. Kenapa semua Jenia. "

"Apa salah aku...."

"Rubby ternyata kamu itu anak haram. Kamu itu ada dari kesalahan."

"Rubby, ibumu menggoda om Iram."

"Rubby,, kamu jangan percaya ucapan tante Sonia sama om Iram. Mereka hanya pura pura baik, aku yakin sebentar lagi kamu akan di buang."

"Rubby,, mama kamu tuh bohong. Dia sebenernya jijik sama kamu."

"Rubby,, aku senang karena di jemput sama om iram."

"Rubby, aku lagi makan siang di cafe sama bang Kean. "

"Rubby,, aku pinjem tas kamu yang itu... "

"Rubby.. Rubby... "

"Aaaaarrggghhh, sakit.. Sakit.."

Rubby menggeram, jeraminya menjambak rambutnya sendiri karena rasa sakit yang tak tertahan di kepalanya. 

Semuanya panik melihat Rubby menjambak rambutnya sendiri. Sonia yang ada di dekatnya, langsung menahan tangan Rubby. 

"Sayang.. Lepas, nak.. Kepala kamu sakit."

Sonia menatap Rubby dengan panik, kedua tangannya berusaha menahan lengan anaknya yang tiba-tiba menggapai rambutnya sendiri, seolah ingin menjambak dengan kekuatan yang tak terkendali. Sorot mata Rubby begitu dalam, penuh kesedihan yang sulit diungkapkan kata. Tatapannya menusuk hati Sonia, membuat dadanya sesak.

"Rubby..." suara Sonia bergetar, berusaha meredakan kegelisahan itu. Namun tubuh Rubby tiba-tiba melemas, perlahan terkulai tanpa tenaga hingga akhirnya pingsan di pelukan Sonia.

"Kean, bawa adikmu ke kamar!" perintah Sonia dengan suara tegas tapi panik. Keano, yang sebelumnya terkejut, segera berlari mendekat dan menggendong Rubby dengan hati-hati, wajahnya penuh kekhawatiran.

Di sisi kanan Rubby tadi, Bi Ning menatap kepergian Rubby dengan mata berkaca-kaca, wajahnya memancarkan kesedihan mendalam. Sonia menghampiri, suara lembutnya menyapa, "Sebenarnya kenapa, Bi?"

Bi Ning menarik napas dalam-dalam, menundukkan kepala, "Non, Rubby pingsan waktu di sekolah. Temannya bilang, Rubby sempat histeris di sana tapi..."

Kata-kata itu menggantung di udara, menambah beban kecemasan yang menghimpit Sonia semakin berat.

"Histeris?? Bagaimana bisa, Bi?"

*

*

Di alam bawah sadar, 

Lisa berdiri terpaku di tengah taman bunga yang memukau, warna-warni kelopak bunga berkilauan diterpa cahaya lembut matahari. Ribuan kupu-kupu beterbangan, menari-nari di antara bunga, menciptakan suasana damai yang kontras dengan kegelisahan di dalam dadanya. Angin sepoi-sepoi membelai wajahnya, namun hati Lisa terasa berat, seperti terperangkap dalam mimpi yang tak bisa dimengerti.

"Ini di mana lagi?" lirihnya, suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang tercekat.

Tiba-tiba, dari belakangnya muncul sosok yang membuat jantung Lisa berdegup tak beraturan. "Kak Lisa..." suara itu lembut, penuh kegetiran.

Lisa menoleh dengan cepat, matanya membesar melihat sosok yang amat dikenalnya, wajah yang ada di kehidupannya tak terpikiran, bahkan dalam bayang-bayang pikirannya sendiri. "Kamu... wajah yang ada di raga itu?" suaranya bergetar, campuran antara takut dan bingung.

Sosok itu berdiri diam, tubuhnya gemetar tipis, mata yang biasanya tegar kini tampak basah dan murung. Ia menunduk sebentar, lalu menatap Lisa dengan tatapan penuh harap. "Kak Lisa, aku butuh bantuan kakak," lirihnya, suaranya melemah namun sarat dengan permohonan yang tak bisa diabaikan.

Lisa menelan ludah, dadanya berdebar kencang. "Ba...bantuan?" ucapnya gagap, takut akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Tangan Lisa gemetar, seolah seluruh tubuhnya menolak untuk percaya bahwa sosok itu benar-benar ada di hadapannya, membawa beban yang hanya bisa dia pahami dalam alam bawah sadar.

"Bantu aku menjadi anak lebih baik. Bantu aku untuk membongkar kejahatan Jenia."

"Jenia?"

"Hmmmm.. Gadis penuh dengan manipulatif. Tolong bantu aku agar mereka semua percaya denganku lagi."

"Bagaimana caranya?"

"Hidup sebagai Rubby."

"Lalu kamu?"

Sosok itu menggeleng, "aku sudah selesai. Aku sudah lelah dengan Jenia yang terus mendorongku menjadi buruk."

Lisa terdiam sejenak, "apa maksudmu?"

"Gadis itu licik. Semua berubah saat dia mengatakan jika aku adalah anak haram. Dan itu yang membuat semuanya hancur. Bantu aku agar kehidupanku seperti sebelumnya."

"Jadi kau ingin aku yang menyelesaikan semuanya?"

"ya. tolong aku kak. dan ada satu rahasia yang nanti akan kakak tahu sendiri di masa depan..."

Rubby mendorongnya dan membuatnya jatuh ke sebuah sinar silau. Lisa menatap sosok Ruby yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.

"aaaaarrrghhhh"

"selamat berjuang, kak Lisa."

Terpopuler

Comments

Wanita Aries

Wanita Aries

wah trnyta rubby korban dari jenia

2026-01-27

3

lihat semua
Episodes
1 Sebuah Kisah
2 Hidup Baru
3 Amnesia?
4 Anak Haram?
5 Baju Setan
6 Merubah
7 DramaJen
8 Sepupu baik
9 Imbangi
10 Rimba Cakra Danendra
11 bertemu Lagi
12 Di Mulai
13 Paling Tersakiti
14 Makan Malam
15 Drama Makan Malam
16 Liciknya Rubby
17 Fitnah
18 Emang Enak
19 Drama Kembali
20 Perdebatan Kecil
21 Pagi Yang Cerah
22 Sekolah Baru
23 Di Hadang
24 Berat
25 Tremor sendiri
26 Gosip
27 Om Om
28 Genit
29 Mode on
30 Ngikutin
31 telfon
32 olahraga
33 Nikah?
34 Nggak Jelas
35 Malam Mencekam
36 Bahaya
37 lima puluh juta
38 Keinginan Aldra
39 Jangan Benci
40 Perjodohan
41 Parfum
42 Kesalnya Rubby
43 Basket
44 Rimba mode Ngambek
45 Guling
46 Ajakan Aldra
47 Angkutan
48 Pingsan
49 Koma
50 Bayangan
51 Rimba tahu
52 Sadar
53 Bantuan
54 Aldra Semakin Gila
55 Menebak
56 Alasan
57 Curiga
58 ponsel
59 Hanya Pengganti
60 kecelakaan
61 Amputasi
62 Buta
63 Ternyata bukan hal biasa
64 Ancaman
65 Orang Asing
66 Pulang
67 Penyesalan Jenia
68 Sepuluh Anak
69 Bersyukur
70 Foto Ruby
71 belanja
72 Rencana Ruby
73 Bahagia Ruby
74 Aldra datang
75 Mencekam
76 Laut
77 Di Atur
78 Licik
79 Niatan
80 Tempat Asing
81 Strategi Ruby
82 Sebuah Bisikan
83 Gilanya Afdal
84 Kabur
85 Tetap Waspada
86 Perencanaan
87 Pencarian Ruby
88 Kecurigaan Ruby
89 Kejujuran
90 Khawatir
91 Rimba dijodohkan
92 Kembalinya Ruby
93 Mendatangi
94 Hadiah Kecil
95 Perasaan Rimba
96 Kebahagiaan Keluarga
97 Keano Berbohong
98 Dilabrak
99 Ketemu
100 Parfum
101 Wanita Licik
102 Suara Itu
103 Tak Habis Fikir
104 Lamaran
105 Syarat Ruby
106 Ketemu Aaron
107 Tak Ingin Bermasalah
108 Bukan Tandingan
109 Keberadaan Rimba
110 Galau
111 Menerima
112 Perhiasan
113 Pernikahan
114 Hamil
115 Melahirkan
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Sebuah Kisah
2
Hidup Baru
3
Amnesia?
4
Anak Haram?
5
Baju Setan
6
Merubah
7
DramaJen
8
Sepupu baik
9
Imbangi
10
Rimba Cakra Danendra
11
bertemu Lagi
12
Di Mulai
13
Paling Tersakiti
14
Makan Malam
15
Drama Makan Malam
16
Liciknya Rubby
17
Fitnah
18
Emang Enak
19
Drama Kembali
20
Perdebatan Kecil
21
Pagi Yang Cerah
22
Sekolah Baru
23
Di Hadang
24
Berat
25
Tremor sendiri
26
Gosip
27
Om Om
28
Genit
29
Mode on
30
Ngikutin
31
telfon
32
olahraga
33
Nikah?
34
Nggak Jelas
35
Malam Mencekam
36
Bahaya
37
lima puluh juta
38
Keinginan Aldra
39
Jangan Benci
40
Perjodohan
41
Parfum
42
Kesalnya Rubby
43
Basket
44
Rimba mode Ngambek
45
Guling
46
Ajakan Aldra
47
Angkutan
48
Pingsan
49
Koma
50
Bayangan
51
Rimba tahu
52
Sadar
53
Bantuan
54
Aldra Semakin Gila
55
Menebak
56
Alasan
57
Curiga
58
ponsel
59
Hanya Pengganti
60
kecelakaan
61
Amputasi
62
Buta
63
Ternyata bukan hal biasa
64
Ancaman
65
Orang Asing
66
Pulang
67
Penyesalan Jenia
68
Sepuluh Anak
69
Bersyukur
70
Foto Ruby
71
belanja
72
Rencana Ruby
73
Bahagia Ruby
74
Aldra datang
75
Mencekam
76
Laut
77
Di Atur
78
Licik
79
Niatan
80
Tempat Asing
81
Strategi Ruby
82
Sebuah Bisikan
83
Gilanya Afdal
84
Kabur
85
Tetap Waspada
86
Perencanaan
87
Pencarian Ruby
88
Kecurigaan Ruby
89
Kejujuran
90
Khawatir
91
Rimba dijodohkan
92
Kembalinya Ruby
93
Mendatangi
94
Hadiah Kecil
95
Perasaan Rimba
96
Kebahagiaan Keluarga
97
Keano Berbohong
98
Dilabrak
99
Ketemu
100
Parfum
101
Wanita Licik
102
Suara Itu
103
Tak Habis Fikir
104
Lamaran
105
Syarat Ruby
106
Ketemu Aaron
107
Tak Ingin Bermasalah
108
Bukan Tandingan
109
Keberadaan Rimba
110
Galau
111
Menerima
112
Perhiasan
113
Pernikahan
114
Hamil
115
Melahirkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!