Amnesia?

Suasana hening begitu terasa di telinga Lisa saat ini. Lisa terbangun dengan kepala yang terasa berat, pandangannya kabur menatap langit-langit ruangan rawat yang sunyi. Suara detak jam di dinding seolah menggema dalam kesunyian, menambah riuh kegelisahan di dalam pikirannya.

"Bisa -bisanya gue malah berpindah raga kayak gini," gumamnya serak, bibirnya bergetar menahan kebingungan yang merambat ke seluruh tubuh.

Ia menoleh ke sekeliling, ruangan itu asing namun terasa begitu nyata. lalu Lisa menyibak selimut yang menutupi diriny, dia melihat ke arah tubuhnya kini mungil, tak seperti yang dulu. Seorang gadis SMA tingkat dua, dengan seragam yang terasa ketat dan bau parfum dari tubuh ini begitu menyengat.

"nyengat banget ini baunya,"

Jantungnya berdebar tak menentu, pikiran yang seharusnya jernih kini berputar liar tanpa arah. "Haniii... gue malah berpindah jiwa, Hani. Ini dunia yang sama apa beda dunia, Han?"

Suaranya nyaris pecah, hanya nama sahabat yang mampu keluar dari mulutnya, seolah itu satu-satunya jangkar di lautan kekacauan ini.

Lisa bangkit perlahan, tubuhnya yang kecil terasa canggung saat ia duduk di tepi ranjang rumah sakit. Matanya menatap kosong ke seluruh sudut ruangan yang penuh peralatan medis dan tirai putih yang tersibak angin. Ia merasa terperangkap di antara kenyataan dan mimpi asing, antara tubuh yang kini asing dan jiwa yang masih berontak mencari jalan pulang. Napasnya memburu, tangan gemetar menyentuh kain seragam yang terasa tak pernah dikenalnya sebelumnya.

Dalam keheningan itu, rasa takut dan bingung menggerogoti hatinya. Lisa berusaha merangkai potongan ingatan yang tersisa, ingatan yang begitu menyakitkan, berjuang menerima kenyataan bahwa dirinya kini terjebak dalam tubuh orang lain, di dunia yang tak pernah ia bayangkan. Hanya satu yang pasti, ia harus menemukan Hani, satu-satunya yang bisa ia percaya, di tengah kekacauan yang belum bisa ia mengerti.

Pintu terbuka, Lisa segera menoleh ke arah pintu. Seorang perawat dan seorang wanita paruh baya masuk bergantian. Keduanya terbelalak melihat ke arah dirinya yang sudah berdiri di dekat bangkar. 

"Nona... Anda sudah sadar!!" Peliknya bahagia dan segera mendekat lalu memegang tangan nya dengan erat. 

Air mata wanita itu bahkan menetes menyusuri pipi gembul wanita itu. Lisa yang melihat hatinya terenyuh sakit. Baru sekarang ada seseorang asing yang menangis dirinya begitu dalam. Dia merasakan dari genggaman tangan dan elusan di lengannya. 

"Nona.. Duduk dulu. Saya panggilkan dokter untuk di periksa."

Lisa yang bingung menurut dan duduk. Tapi tangannya masih di genggam erat oleh wanita paruh baya itu. 

"Maaf, anda siapa?"

Degh.... 

"kamu mengenal dia?" tanya dokter yang hanya mendapatkan gelengan dari Lisa.

"siapa nama kamu?"

"Lisa,"

Beberapa saat kemudian, dokter menatap Lisa dengan lekas. Dokter kembali memberikan beberapa pertanyaan yang hanya di jawab seingatnya. tidak ada satupun jawaban yang pas dari apa yang terjadi dan apa yang dia dengar. 

"Saya simpulkan jika nona Rubby mengalami amnesia ringan."

"Apa dok!!" Pekik wanita paruh baya itu. 

Dokter mengenal nafasnya, "semua yang di katakan nona Rubby tidak ada yang sesuai dengan yang Anda katakan, bu. Nona Rubby bahkan tak mengingat namanya sendiri. Atau nama sekolahnya."

"Ya Tuhan!! " Lirihnya, air mata kembali menitih pelan. "Apa ingatannya akan kembali?" Lanjutnya dengan tangan yang masih menggenggam jemari Lisa. 

"Saya tidak tahu. Kemungkinan bisa cepat sembuh atau justru amnesia permanen dan itu akan membuat nona Rubby seperti kehilangan arah."

"apa tidak ada cara lain dok?"

"biarkan nona Ruby mengingat sendiri, karena jika di paksa. akan membuat kepalanya sakit dan bahkan tidak akan mengingat apapun."

*

*

setelah sehari di rawat, kini Lisa duduk terdiam di kursi belakang mobil, matanya menatap kosong ke luar jendela yang mulai gelap diterpa senja. Suara mesin kendaraan dan deru jalanan menjadi latar yang sunyi baginya, seolah-olah dunia di luar tak lagi berarti. Ketika punggung tangannya di sentuh bi Ning, dia menoleh sebentar ke Bi Ningrum, yang dengan lembut menyebut namanya, "Rubby." Lisa tak mengelak, justru hatinya terasa sedikit lega mendengar sapaan itu—nama baru yang di kehidupan ini dengan status baru miliknya.

"Non Rubby, mau makan apa nanti?" suara Bi Ning terdengar hangat dan penuh perhatian, menyelipkan rasa nyaman yang selama ini ia rindukan.

Lisa menoleh kembali, menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan tapi tegas, "Yang penting buat kenyang aja, Bi."

Tersenyum kecil, Bi Ning merasa bahagia. Senyum itu tak hanya untuk Rubby, tapi juga untuk harapan membuat anak majikannya ini menjadi lebih baik, bi Ning tahu bahwa luka itu bisa sembuh, dan penerimaan menjadi langkah pertama menuju kedamaian.

Di dalam hati Lisa, meski banyak yang masih tak terucap, kini ia memilih diam dan menerima—menerima apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

"Mungkin aku harus menerima kenyataan ini.. Tapi kemana jiwa dari raga ini?"

*

*

(Langsung pake nama Rubby) 

kini Rubby berdiri terpaku, matanya membesar menatap bangunan megah yang menjulang di hadapannya. Dinding-dinding bercat putih bersih, jendela kaca besar yang memantulkan sinar matahari sore, dan taman yang tertata rapi seolah tak pernah lepas dari sentuhan tangan ahli. "Ini rumahku?" suaranya bergetar, lirih tak percaya.

"Iya non, ayo masuk. Tuan sama nyonya pasti nungguin non," sahut Bi Ning dengan senyum tipis, tapi nada suaranya membuat dada Rubby terasa sesak. Nama itu, tuan dan nyonya mengusik sesuatu di hatinya, campuran antara ragu dan rasa sakit yang tak bisa dia jelaskan.

Keduanya melangkah pelan, sepatu Rubby berderak ringan di atas granit teras yang dingin. Setiap langkah seakan menembus batas antara dunia lama yang sederhana dan kehidupan baru yang penuh kemewahan ini. Saat pintu terbuka, aroma wangian mahal dan bunga segar langsung menyambutnya, sementara mata Rubby tertuju pada dekorasi mewah yang memenuhi ruang tamu, lukisan klasik, lampu gantung kristal, dan perabot berlapis emas yang membuat jiwanya berguncang.

Rubby menelan ludah, pikirannya berbisik pelan, "Rubby, anak orang kaya." Namun bisikan itu terasa asing dan berat, seperti topeng yang tiba-tiba harus ia kenakan.

Perlahan, mereka melangkah menuju ruang makan, di mana suara ramai dan gelak tawa terdengar menggema, membelah keheningan yang menyesakkan dada Rubby. Ia merasakan tatapan-tatapan hangat sekaligus penuh harap mengarah padanya, dan jantungnya berdetak cepat, antara takut dan penasaran akan kehidupan yang kini harus ia jalani.

"Rubby.. Kamu kembali nak!!!"

"Siapa mereka bi?"

semuanya terperangah mendengar jawaban, lalu menatap ke arah Bi Ning yang berdiri di samping Ruby.

"non Ruby mengalami amnesia, pak, bu."

Degh... 

Terpopuler

Comments

Yuyun Zampiet

Yuyun Zampiet

aneh lah, yg jenguk pembantu bukan orgtua

2026-05-15

1

Daina :)

Daina :)

Ada apa thor, kok lama update updatenya? Aku berharap cerita ini tidak berhenti di tengah jalan.

2025-10-07

2

lihat semua
Episodes
1 Sebuah Kisah
2 Hidup Baru
3 Amnesia?
4 Anak Haram?
5 Baju Setan
6 Merubah
7 DramaJen
8 Sepupu baik
9 Imbangi
10 Rimba Cakra Danendra
11 bertemu Lagi
12 Di Mulai
13 Paling Tersakiti
14 Makan Malam
15 Drama Makan Malam
16 Liciknya Rubby
17 Fitnah
18 Emang Enak
19 Drama Kembali
20 Perdebatan Kecil
21 Pagi Yang Cerah
22 Sekolah Baru
23 Di Hadang
24 Berat
25 Tremor sendiri
26 Gosip
27 Om Om
28 Genit
29 Mode on
30 Ngikutin
31 telfon
32 olahraga
33 Nikah?
34 Nggak Jelas
35 Malam Mencekam
36 Bahaya
37 lima puluh juta
38 Keinginan Aldra
39 Jangan Benci
40 Perjodohan
41 Parfum
42 Kesalnya Rubby
43 Basket
44 Rimba mode Ngambek
45 Guling
46 Ajakan Aldra
47 Angkutan
48 Pingsan
49 Koma
50 Bayangan
51 Rimba tahu
52 Sadar
53 Bantuan
54 Aldra Semakin Gila
55 Menebak
56 Alasan
57 Curiga
58 ponsel
59 Hanya Pengganti
60 kecelakaan
61 Amputasi
62 Buta
63 Ternyata bukan hal biasa
64 Ancaman
65 Orang Asing
66 Pulang
67 Penyesalan Jenia
68 Sepuluh Anak
69 Bersyukur
70 Foto Ruby
71 belanja
72 Rencana Ruby
73 Bahagia Ruby
74 Aldra datang
75 Mencekam
76 Laut
77 Di Atur
78 Licik
79 Niatan
80 Tempat Asing
81 Strategi Ruby
82 Sebuah Bisikan
83 Gilanya Afdal
84 Kabur
85 Tetap Waspada
86 Perencanaan
87 Pencarian Ruby
88 Kecurigaan Ruby
89 Kejujuran
90 Khawatir
91 Rimba dijodohkan
92 Kembalinya Ruby
93 Mendatangi
94 Hadiah Kecil
95 Perasaan Rimba
96 Kebahagiaan Keluarga
97 Keano Berbohong
98 Dilabrak
99 Ketemu
100 Parfum
101 Wanita Licik
102 Suara Itu
103 Tak Habis Fikir
104 Lamaran
105 Syarat Ruby
106 Ketemu Aaron
107 Tak Ingin Bermasalah
108 Bukan Tandingan
109 Keberadaan Rimba
110 Galau
111 Menerima
112 Perhiasan
113 Pernikahan
114 Hamil
115 Melahirkan
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Sebuah Kisah
2
Hidup Baru
3
Amnesia?
4
Anak Haram?
5
Baju Setan
6
Merubah
7
DramaJen
8
Sepupu baik
9
Imbangi
10
Rimba Cakra Danendra
11
bertemu Lagi
12
Di Mulai
13
Paling Tersakiti
14
Makan Malam
15
Drama Makan Malam
16
Liciknya Rubby
17
Fitnah
18
Emang Enak
19
Drama Kembali
20
Perdebatan Kecil
21
Pagi Yang Cerah
22
Sekolah Baru
23
Di Hadang
24
Berat
25
Tremor sendiri
26
Gosip
27
Om Om
28
Genit
29
Mode on
30
Ngikutin
31
telfon
32
olahraga
33
Nikah?
34
Nggak Jelas
35
Malam Mencekam
36
Bahaya
37
lima puluh juta
38
Keinginan Aldra
39
Jangan Benci
40
Perjodohan
41
Parfum
42
Kesalnya Rubby
43
Basket
44
Rimba mode Ngambek
45
Guling
46
Ajakan Aldra
47
Angkutan
48
Pingsan
49
Koma
50
Bayangan
51
Rimba tahu
52
Sadar
53
Bantuan
54
Aldra Semakin Gila
55
Menebak
56
Alasan
57
Curiga
58
ponsel
59
Hanya Pengganti
60
kecelakaan
61
Amputasi
62
Buta
63
Ternyata bukan hal biasa
64
Ancaman
65
Orang Asing
66
Pulang
67
Penyesalan Jenia
68
Sepuluh Anak
69
Bersyukur
70
Foto Ruby
71
belanja
72
Rencana Ruby
73
Bahagia Ruby
74
Aldra datang
75
Mencekam
76
Laut
77
Di Atur
78
Licik
79
Niatan
80
Tempat Asing
81
Strategi Ruby
82
Sebuah Bisikan
83
Gilanya Afdal
84
Kabur
85
Tetap Waspada
86
Perencanaan
87
Pencarian Ruby
88
Kecurigaan Ruby
89
Kejujuran
90
Khawatir
91
Rimba dijodohkan
92
Kembalinya Ruby
93
Mendatangi
94
Hadiah Kecil
95
Perasaan Rimba
96
Kebahagiaan Keluarga
97
Keano Berbohong
98
Dilabrak
99
Ketemu
100
Parfum
101
Wanita Licik
102
Suara Itu
103
Tak Habis Fikir
104
Lamaran
105
Syarat Ruby
106
Ketemu Aaron
107
Tak Ingin Bermasalah
108
Bukan Tandingan
109
Keberadaan Rimba
110
Galau
111
Menerima
112
Perhiasan
113
Pernikahan
114
Hamil
115
Melahirkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!