Transmigrasi Gadis Angkuh

Transmigrasi Gadis Angkuh

Sebuah Kisah

Byuuur.... 

"Astaga!!! "

"Heh .... Harusnya kamu itu sadar diri dong!! Udah tau numpang tapi malas malasan" suara makian dari seorang wanita gendut yang sedang memarahi seorang wanita yang baru saja dia siram dengan air.

wanita itu hanya menunduk, dia takut dan lelah karena dia baru saja tidur setelah mengerjakan tugas kuliahnya. Padahal dia tadi sudah meminta ijin untuk beristirahat sebentar sebelum dia berangkat kerja. Namun baru saja merasa nyenyak tidur, wajahnya justru di siram oleh air satu ember.

"Kamu itu.. Kerjaannya tidur tidur doang,,, "

"Maaf bude. Tapi cucian baju sama piring kotor sudah bersih semua"

Benar.

Walau dia menumpang, tapi semua pekerjaan rumah dia yang mengerjakan. Dari menyapu, mengepel, bahkan sampai mencuci pakaian keluarga budenya. Dia sadar karena hanya keluarga budenya saja yang mau menerima dia tinggal di kota.

Perkenalkan dulu, namanya Lisa Anggraeni. Dia baru saja pindah ke kota setelah mendapatkan beasiswa FULL dari salah satu kampus ternama. Lisa yang berasal dari desa berniat ingin mengekost saja. Tapi saat hendak berangkat ke kota, salah satu saudara dari pihak mendiang ayahnya mengatakan jika dia bisa tinggal di rumahnya. Karena bingung Lisa memilih untuk tinggal bersama saudaranya untuk beberapa waktu sebelum dia menemukan kost yang pas harga di kantongnya.

Namun setelah tinggal dua bulan di rumah itu, Lisa justru seperti seorang pembantu yang di suruh suruh oleh istri dari pamannya. Dia harus melakukan semuanya. tanpa pamannya tahu jika dirinya di perlakukan tidak adil oleh istrinya itu.

*

*

Sebelum fajar menyingsing, Lisa sudah terbangun dari tidurnya. Dengan langkah yang masih terasa berat, dia menghampiri dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga pamannya. Dalam hati kecilnya, dia merasa lelah, tapi dia tahu dia tidak bisa mengeluh. Setiap sudut rumah itu harus bersih sebelum dia berangkat ke kampus.

Lisa menyeka keringat di dahinya dengan ujung baju yang sudah agak basah, sambil sesekali melirik jam dinding yang seolah bergerak begitu lambat. Dia menghela napas, mengingatkan diri sendiri bahwa ini semua akan berakhir, bahwa suatu hari dia akan bisa meninggalkan rumah ini.

Suara bentakan dari ruang tamu menarik perhatiannya. Istri pamannya, Tante Rina, sedang berteriak pada anaknya yang tampaknya telah membuat ulah lagi. Lisa tahu dia harus menghadapi ini. Dia mengambil sapu dan mulai membersihkan serpihan biskuit yang berserakan di lantai, sambil sesekali mengintip keadaan di ruang tamu.

“Sudah berapa kali harus ibu bilang untuk tidak bermain bola di dalam rumah?!” teriak Tante Rina pada anaknya yang hanya menunduk. Lisa bisa melihat betapa takutnya anak itu, dan dia tahu betul perasaan itu.

Meski ingin menolong, Lisa sadar dia hanya seorang keponakan yang menumpang dan tidak memiliki banyak suara di rumah ini. Jadi dia kembali ke dapurnya, menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan berdoa agar semuanya cepat selesai. Dia sudah tidak sabar untuk berangkat ke kampus, tempat dimana dia bisa sedikit bernafas lega dari semua ketegangan ini.

Dia memandang sekilas pakaian kuliahnya yang sudah tergantung rapi di pintu kamar. Itu adalah simbol harapan, bahwa setiap buku yang dibaca dan setiap ujian yang dilalui membawanya lebih dekat kepada kebebasan. Dan dengan gaji pertama dari pekerjaan paruh waktu yang telah dia amankan, Lisa yakin, tidak akan lama lagi dia akan meninggalkan rumah ini.

"Mungkin nanti sore aku harus ke rumah Hani.."

*

*

"Eh... Lisa., coba lo baca novel ini deh.. Seru banget ceritanya."

Di tengah keramaian kantin kampus yang dipenuhi suara riuh mahasiswa, Lisa menatap buku novel berjudul 'Kau dan Dia' yang baru saja diberikan Hani kepadanya. Cover buku itu sederhana, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

"Cerita apa ini?" tanya Lisa dengan rasa penasaran yang tergambar jelas di wajahnya.

Hani, yang sedang menikmati jus jeruknya, menoleh dengan senyum tipis. "Ini tentang pemuda yang selalu memprioritaskan teman kecilnya daripada pacarnya, dan seorang anak yang benci dengan keluarganya sendiri" jelas Hani, matanya berkilau penuh antusias.

Lisa terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. "Gila! Terus gimana ceritanya?" tanyanya lagi, ketertarikan semakin terlihat.

Hani menutup sedotannya dan menatap Lisa. "Aku sudah bosan dengan cerita-cerita yang alurnya bisa ditebak. Protagonis yang selalu menang, antagonis yang kalah karena kejahatannya," ujarnya, rasa jenuh terasa dalam nada bicaranya.

Lisa menggelengkan kepala, tersenyum kecil mendengar keluhan Hani. "Yah, itu memang klasik," sahutnya sambil membuka halaman pertama novel tersebut.

"Tapi kamu harus baca sendiri, seru kok. Ada plot twist yang tidak terduga di akhir cerita," tambah Hani, menggoda Lisa dengan sebuah kedipan mata.

"bener ya. kalo ceritanya kayak yang biasa aku baca. ku getok kepala kamu."

Lisa, yang kini menjadi penasaran, memutuskan untuk membaca novel itu selagi menikmati suasana kantin yang ramai. Di hatinya, ia berharap menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari cerita-cerita yang biasa ia baca.

Lisa terus larut dalam setiap kata yang tertulis di novel yang dipinjam dari sahabatnya. Cahaya matahari siang hari yang terang menerobos jendela kantin, namun tak cukup untuk mengalihkan perhatiannya.

Tiba-tiba, sebuah dentuman keras terdengar ketika Sesil menabrakkan tangannya ke meja tempat Lisa membaca. Buku itu terhempas, dan beberapa halaman melayang sebelum mendarat kembali dengan pelan.

Lisa yang terkejut, mendongak dan menemukan Sesil yang berdiri tegak dengan wajah memerah dan mata yang berbinar marah. "Lo ya. Gue udah bilang jangan deketin Ferdi. Tapi kenapa masih gatel aja sih?" teriak Sesil, suaranya memenuhi ruang kantin dan membuat semua mata tertuju pada mereka.

Lisa, dengan ketenangannya yang mengejutkan, menjawab dengan nada angkuh, "Emang kenapa? Dia yang deketin gue." Suaranya tenang namun penuh kepercayaan diri. Lisa tidak menunjukkan rasa takut, dia berdiri tegak, menantang balik Sesil dengan pandangan yang tajam.

Di sekeliling mereka, bisikan dan tatapan penasaran menguar di antara teman-teman sekelas yang kebetulan juga berada di kantin. Beberapa dari mereka saling berpandangan, bertanya-tanya dengan suara lirih tentang kebenaran dari tuduhan Sesil.

Namun, di dalam hati Lisa, dia tahu kebenaran yang tidak bisa diungkapkan di depan kerumunan ini. Hubungannya dengan Ferdi tidak lebih dari sekadar pertemanan, namun Sesil terlalu buta oleh cemburu untuk bisa melihatnya dengan jelas.

Di tengah kerumunan yang menjadi hening, Sesil dengan cepat menarik rambut Lisa dengan kekuatan penuh, menyebabkan Lisa mengerang kesakitan. Tak ingin dipermainkan, Lisa pun membalas dengan menarik rambut Sesil, keduanya mengerang dan mengumpat dalam rasa sakit dan amarah.

"Sialan! Lepasin rambut gue, bego!" teriak Sesil, sambil menambah kekuatan tarikannya, membuat Lisa semakin kesakitan.

"Rambut dibalas dengan rambut!" balas Lisa, semakin mengencangkan genggamannya pada rambut Sesil.

Hani, yang semula hanya bingung menyaksikan pertengkaran itu, segera bergegas mengambil segelas air dan menyiramkan isi gelas tersebut ke atas kepala Sesil dan Lisa. Kedua gadis itu terkejut dan secara refleks melepaskan cengkeraman mereka masing-masing.

"Lo!," pekik keduanya kaget karena rasa dingin di kepala.

"Tenang, gue cuma mau melerai!" kata Hani, mencoba menenangkan situasi yang sudah memanas itu.

Ferdi tiba di kantin dengan nafas yang terengah-engah, seakan-akan baru saja menyelesaikan maraton. Matanya mencari sosok yang telah mengiriminya pesan mendesak itu, dan akhirnya terhenti pada Sesil yang sedang berdiri dengan raut wajah meram padam.

"Sayang!! Kamu ini kenapa sih?" ucap Ferdi dengan nada kesal yang tak tersembunyi lagi. Rasa frustrasi memuncak setiap kali topik tentang Lisa dibawa ke permukaan.

Sesil, dengan sorot mata tajam, menunjuk ke arah Lisa yang duduk tak jauh dari mereka. "Dia deketin kamu. Aku ga terima ya," keluhnya, suara penuh kecemburuan.

Ferdi menghela napas berat, kepalanya terasa berat dengan tuduhan yang sama berulang kali. "Turunkan jarimu," katanya dengan tenang namun tegas. "Gue udah bilang berkali-kali. Gue ga ada hubungan apapun sama dia. Dan lo, Fer—lebih baik pertemanan kita udah aja deh. Ribet sama cewek lo." ujar Lisa yang sudah muak dengan kekasih temannya itu.

Lisa, yang telah mencoba untuk tetap tenang setelah rambutnya di jambak, akhirnya duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat kecewa dan sedikit kesal karena dia selalu dituduh.

Lisa mengemasi barangnya dan di masukan ke dalam tas. lalu dia berjalan pergi meninggalkan kantin, diikuti oleh Hani yang mencoba menenangkannya.

Tinggal Ferdi dan Sesil yang saling menatap, udara di antara mereka terasa begitu berat dan dingin. Sesil tampak ingin berkata lebih banyak namun kata-kata terasa terhenti di tenggorokannya.

"asal lo tau aja. gue deket sama dia karena Lisa kerja di cafe gue. jujur aja, Sil. gue kecewa sama tingkah lo yang kayak gini."

Ferdi berbalik meninggalkan Sesil yang diam di tempatnya, dia hanya bisa berharap agar keadaan bisa segera membaik, meski di dalam hatinya ia tahu, beberapa keretakan memang sulit untuk diobati.

*

*

Sore menjelang malam itu, di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai menjadi saksi bisu dua sahabat, Lisa dan Hani yang sibuk dengan dunia mereka. Mereka berdua duduk berhadapan, masing-masing tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Hani asyik menggulir layar ponselnya membalas pesan dari suaminya, sementara Lisa tenggelam dalam alur cerita novel yang dipinjamkan oleh Hani.

Udara dinginnya AC menyengat, namun dinginnya cerita yang dibaca Lisa membuatnya lupa akan cuaca. Dia begitu terhanyut, hingga halaman demi halaman terlipat begitu saja. Namun, ketika ia tiba pada bab terakhir, emosinya tak terbendung.

"Sialan," umpatnya keras, kecewa dengan akhir cerita tersebut.

Hani yang duduk di sampingnya terlonjak kaget. "Bikin kaget aja," pekiknya, menatap Lisa dengan tatapan tajam.

Lisa menutup buku itu dengan kasar, raut mukanya memerah, "Jadi mereka malah salah paham dan berakhir saling menyakiti. Sialan," gerutunya lagi, lebih kepada diri sendiri yang kenapa sampai tamat membaca buku itu.

Hani menoleh, mencoba memahami. "Ceritanya padahal bagus tapi malah sampai kamu sekesal itu"

Lisa menghela napas, matanya masih membara. "Antagonisnya, dia... dia sebenarnya hanya ingin memperbaiki hidupnya, menjadi lebih baik. Tapi, sang protagonis itu, dia selalu menyalah setiap tindakan ke antagonis itu. Apapun yang dilakukan antagonis, selalu dianggap salah. Jadi, bukannya membantu, dia malah menambah masalah. Sialan betul. bego!."

Hani memandang penuh simpati, mengerti betapa sebuah cerita bisa mempengaruhi emosi seseorang. "Itu memang menyebalkan. Kadang-kadang penulis bisa bikin kita ikut emosi juga dengan tokohnya, ya kan?"

Lisa mengangguk, masih terbawa suasana. Di benaknya, dia tidak hanya kecewa, tapi juga merasa sedikit terluka, seolah-olah dia sendiri yang mengalami kesalahpahaman itu. Di luar kekecewaannya pada plot cerita, ada sesuatu tentang cara cerita itu berakhir yang meninggalkan kesan mendalam dalam dirinya, sebuah pelajaran tentang pentingnya komunikasi dan pengertian.

"Udah, yuk pulang. " Ajak Hani.

Lisa beranjak dan menenteng buku novel itu di tangan. Dan Hani berjalan di sampingnya keluar dari cafe. Keduanya sudah berada di luar cafe. baik Lisa dan Hani sama sama berhenti sejenak dan menatap kanan kiri memastikan jalanan kosong.

keduanya menyebrang bersamaan, namun saat menyebrang dan keduanya sudah berada di tengah jalan. Sebuah motor dari kejauhan melaju dengan kencang dan langsung menghantam Lisa yang sudah mendorong Hani, karena dia menyadari bahaya.

Bughh.... 

"Lisaaaaaaa......"

Terpopuler

Comments

ABS channel

ABS channel

masuk ke dunia novel kah thor

2026-01-16

0

Wanita Aries

Wanita Aries

mmpir thor semoga gk membosankan

2026-01-27

0

⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆

⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆

mampir Thor ke karya aku..>_<

2026-08-17

0

lihat semua
Episodes
1 Sebuah Kisah
2 Hidup Baru
3 Amnesia?
4 Anak Haram?
5 Baju Setan
6 Merubah
7 DramaJen
8 Sepupu baik
9 Imbangi
10 Rimba Cakra Danendra
11 bertemu Lagi
12 Di Mulai
13 Paling Tersakiti
14 Makan Malam
15 Drama Makan Malam
16 Liciknya Rubby
17 Fitnah
18 Emang Enak
19 Drama Kembali
20 Perdebatan Kecil
21 Pagi Yang Cerah
22 Sekolah Baru
23 Di Hadang
24 Berat
25 Tremor sendiri
26 Gosip
27 Om Om
28 Genit
29 Mode on
30 Ngikutin
31 telfon
32 olahraga
33 Nikah?
34 Nggak Jelas
35 Malam Mencekam
36 Bahaya
37 lima puluh juta
38 Keinginan Aldra
39 Jangan Benci
40 Perjodohan
41 Parfum
42 Kesalnya Rubby
43 Basket
44 Rimba mode Ngambek
45 Guling
46 Ajakan Aldra
47 Angkutan
48 Pingsan
49 Koma
50 Bayangan
51 Rimba tahu
52 Sadar
53 Bantuan
54 Aldra Semakin Gila
55 Menebak
56 Alasan
57 Curiga
58 ponsel
59 Hanya Pengganti
60 kecelakaan
61 Amputasi
62 Buta
63 Ternyata bukan hal biasa
64 Ancaman
65 Orang Asing
66 Pulang
67 Penyesalan Jenia
68 Sepuluh Anak
69 Bersyukur
70 Foto Ruby
71 belanja
72 Rencana Ruby
73 Bahagia Ruby
74 Aldra datang
75 Mencekam
76 Laut
77 Di Atur
78 Licik
79 Niatan
80 Tempat Asing
81 Strategi Ruby
82 Sebuah Bisikan
83 Gilanya Afdal
84 Kabur
85 Tetap Waspada
86 Perencanaan
87 Pencarian Ruby
88 Kecurigaan Ruby
89 Kejujuran
90 Khawatir
91 Rimba dijodohkan
92 Kembalinya Ruby
93 Mendatangi
94 Hadiah Kecil
95 Perasaan Rimba
96 Kebahagiaan Keluarga
97 Keano Berbohong
98 Dilabrak
99 Ketemu
100 Parfum
101 Wanita Licik
102 Suara Itu
103 Tak Habis Fikir
104 Lamaran
105 Syarat Ruby
106 Ketemu Aaron
107 Tak Ingin Bermasalah
108 Bukan Tandingan
109 Keberadaan Rimba
110 Galau
111 Menerima
112 Perhiasan
113 Pernikahan
114 Hamil
115 Melahirkan
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Sebuah Kisah
2
Hidup Baru
3
Amnesia?
4
Anak Haram?
5
Baju Setan
6
Merubah
7
DramaJen
8
Sepupu baik
9
Imbangi
10
Rimba Cakra Danendra
11
bertemu Lagi
12
Di Mulai
13
Paling Tersakiti
14
Makan Malam
15
Drama Makan Malam
16
Liciknya Rubby
17
Fitnah
18
Emang Enak
19
Drama Kembali
20
Perdebatan Kecil
21
Pagi Yang Cerah
22
Sekolah Baru
23
Di Hadang
24
Berat
25
Tremor sendiri
26
Gosip
27
Om Om
28
Genit
29
Mode on
30
Ngikutin
31
telfon
32
olahraga
33
Nikah?
34
Nggak Jelas
35
Malam Mencekam
36
Bahaya
37
lima puluh juta
38
Keinginan Aldra
39
Jangan Benci
40
Perjodohan
41
Parfum
42
Kesalnya Rubby
43
Basket
44
Rimba mode Ngambek
45
Guling
46
Ajakan Aldra
47
Angkutan
48
Pingsan
49
Koma
50
Bayangan
51
Rimba tahu
52
Sadar
53
Bantuan
54
Aldra Semakin Gila
55
Menebak
56
Alasan
57
Curiga
58
ponsel
59
Hanya Pengganti
60
kecelakaan
61
Amputasi
62
Buta
63
Ternyata bukan hal biasa
64
Ancaman
65
Orang Asing
66
Pulang
67
Penyesalan Jenia
68
Sepuluh Anak
69
Bersyukur
70
Foto Ruby
71
belanja
72
Rencana Ruby
73
Bahagia Ruby
74
Aldra datang
75
Mencekam
76
Laut
77
Di Atur
78
Licik
79
Niatan
80
Tempat Asing
81
Strategi Ruby
82
Sebuah Bisikan
83
Gilanya Afdal
84
Kabur
85
Tetap Waspada
86
Perencanaan
87
Pencarian Ruby
88
Kecurigaan Ruby
89
Kejujuran
90
Khawatir
91
Rimba dijodohkan
92
Kembalinya Ruby
93
Mendatangi
94
Hadiah Kecil
95
Perasaan Rimba
96
Kebahagiaan Keluarga
97
Keano Berbohong
98
Dilabrak
99
Ketemu
100
Parfum
101
Wanita Licik
102
Suara Itu
103
Tak Habis Fikir
104
Lamaran
105
Syarat Ruby
106
Ketemu Aaron
107
Tak Ingin Bermasalah
108
Bukan Tandingan
109
Keberadaan Rimba
110
Galau
111
Menerima
112
Perhiasan
113
Pernikahan
114
Hamil
115
Melahirkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!