Wanita itu

Sampai dikamarnya, kembali air mata Laras mengalir tanpa diminta. Dibukanya laci tempatnya menyimpan obat yang Hasbi katakan sebagai penyubur kandungan.

Dada Laras kembali sesak, saat tahu obat apa sebenarnya yang Hasbi siapkan untuknya, yang selalu Laras konsumsi setiap hari, ternyata itu adalah pil KB.

Pantas saja, setiap kali periksa ke dokter kandungan, Dokter yang bertugas mengatakan hormon Laras tidak normal dan sulit untuk bisa hamil.

Laras pikir karena stres, hingga dia rajin minum obat yang Hasbi berikan dan latihan yoga agar bisa cepat hamil.

Laras menutup kembali laci, ia berjalan di depan cermin, menatap wajahnya yang tampak pucat tanpa warna. Laras tersenyum pedih, tidak ada yang berubah dari dirinya. Ia masih sangat cantik, badannya masih indah seperti sebelumnya, hanya saja kini hatinya hancur lebur tak lagi berbentuk.

Ternyata orang yang di temani selama enam tahun. Tiga tahun berpacaran, tiga tahun menikah, tak lebih hanya seorang pembohong besar. Memikirkannya sekarang, terasa sangat ironis.

"Laras,"

Suara Hasbi tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Laras. Laras kaget dan tubuhnya hampir terhuyung.

"Hati-hati!"

Hasbi segera menahan tubuh Laras, menuntunnya duduk di bibir tempat tidur. Wajahnya terlihat cemas, seperti peran suami sesungguhnya yang khawatir pada istrinya yang tengah terluka.

"Sebentar, aku minta Bibi buatkan kamu teh hangat." Hasbi berdiri lalu berbalik dan memanggil dari pintu, "Bi! Buatkan Nyonya teh hangat! Cepat!"

Dulu perhatian semacam ini bisa membuat hati Laras berdebar. Namun, setelah mendengar pembicaraan Hasbi dengan Nur, semua itu hanya menjadi sandiwara yang membuat Laras mual.

"Makanan semua sudah siap, aku cari kamu di dapur tidak ada."

Sinar senja menembus jendela besar, menerangi wajah tampan dengan cahaya keemasan. Wajah yang telah Laras cintai selama enam tahun. Namun saat ini, cahaya keemasannya itu malah membuat mata Laras perih.

"Anak-anak cari kamu, mereka nggak mau makan kalau bukan kamu yang suapin." Tiba-tiba Hasbi menggenggam tangan Laras yang dingin. Telapak tangannya yang hangat menggosok pelan, seolah memberi penghiburan untuk Laras.

Laras hanya diam, lalu perlahan menarik tangannya. Jangan sampai Hasbi melihat darah mengering di telapak tangannya. "Hari ini aku nggak enak badan. Biar Bibi yang suapin Naila dan Cantika." Laras benar-benar memulai balas dendam nya, tak sudi dijadikan sebagai pengasuh gratisan oleh Hasbi.

Mendengar itu, Hasbi jelas terkejut. Wajahnya bahkan tampak menegang.

"Apa akhir-akhir ini kamu susah tidur? Biar aku minta Bibi mengganti teh mu dengan teh penenang, beberapa hari ini aku terlalu sibuk, sampai lupa membelikan brownies slice kesukaanmu."

Bibir Laras berkedut. Pria itu masih ingat seleranya, dan ingat setiap detail kehidupan pribadinya. Namun, dia juga ingat siapa wanita yang berhak melahirkan keturunannya, dan bagaimana bersikap pada kedua putrinya dengan baik.

Hasbi benar-benar meninggalkan kamar, langkahnya semakin cepat.

Melihat punggung Hasbi menghilang, Laras segera meraih tisu basah. Secepatnya ia hilangkan jejak merah yang berada di telapak tangannya.

Setelah memastikan benar-benar bersih, Laras mulai sandiwara sakitnya.

"Laras?"

Suara Hasbi terdengar lagi, langkahnya mendekat. Dia berkata, " Ini ku bawakan teh, minumlah! Selagi hangat, agar tubuhmu tidak lemas."

"Kenapa nggak minta Bibi saja yang antar, kamu kan harusnya temani ibu dan anak-anak makan?"

Hasbi mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Hasbi memegang wajah Laras dengan kedua tangannya menatapnya dengan penuh perhatian, "Mana bisa aku menikmati makan sementara kamu terlihat lemas begini?"

Wajah Hasbi penuh kasih, mata kecoklatan itu menatap hangat dan lembut. Kalau saja Laras tidak mengetahui kebenarannya, Ia akan percaya bahwa dia adalah pria baik yang bertanggung jawab kepada keluarga.

"Beberapa hari ini Naila dan Cantika agak rewel, mungkin aku sedikit kelelahan, bisa tidak kamu cari seorang pengasuh? Aku sepertinya agak kewalahan."

Wajah Hasbi berubah serius dan keningnya yang panjang terasa menekan. Laras bisa melihat keraguan dan pertimbangan di matanya, sampai akhirnya pria itu menghela napas dan berkata, "Apa kita minta saja ibunya tinggal bersama kita? Setelah kehilangan suaminya dia hampir depresi, untungnya cepat di tangani dan sekarang keadaannya mulai membaik. Kalau kamu setuju, aku akan coba berdiskusi sama dia."

Mungkin karena saking bahagianya, Hasbi segera menarik Laras kepelukannya dengan lembut.

Dulu... momen sederhana seperti ini adalah kebahagiaan besar untuk Laras. Berada dalam pelukan orang tercintanya, Namun, untuk sekarang, berada dipelukan Hasbi adalah hal yang membuatnya mual.

Tubuh itu telah terbagi, pria itu tak ubahnya seperti wabah yang perlu dihindari.

******

Hasbi bekerja seperti biasa. Pagi tadi dia masih berperan sebagai suami idaman. Namun sebelum tengah hari, seluruh rumah sudah sibuk. Pelayanan sibuk menyiapkan kamar tamu, anak-anak sudah di briefing untuk menyambut kedatangan ibu kandung mereka, aneka makanan datang dari berbagai restoran.

Laras hanya berdiri acuh, senyum tipis menghiasi bibir, saat menyadari waktu pembalasannya sudah dekat.

Waktunya membalas rasa sakitnya pada wanita yang selama ini bahagia di atas kebohongan.

"Mba laras..., "

####

Gimana?

Lanjut nggak?

Terpopuler

Comments

kriwil

kriwil

cari obat mandul lalu campur makanan ke suami mu laras biar mandul sampai mati🙄😄

2025-12-24

0

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Jngn mau klah laras ..balas suami dan selingkuhanya itu dngn caravyg kejam

2025-10-22

0

cinta semu

cinta semu

lanjut Thor ...buat Laras kuat & tangguh melawan dua belatung nangka

2025-12-26

0

lihat semua
Episodes
1 Runtuhnya hati seorang istri
2 Wanita itu
3 Sebuah permainan
4 Peka di keheningan
5 Keributan di awal hari
6 Uji coba katanya.
7 Merasa si paling benar sendiri.
8 Rencana menggugat cerai
9 Kehilangan wajah.
10 Tak ingin berakhir
11 Di antara masa lalu
12 Kecemburuan Hera
13 Janji yang tersambut.
14 Tetap ingin bercerai
15 Penyesalan mendalam
16 Menagih janji
17 Kembali pulang
18 Kehidupan setelah saling jauh.
19 Keributan pasangan
20 Datang ke rumah sakit
21 Fatamorgana
22 Pemecatan
23 Pertama kali berkunjung
24 Ternyata sudah tidak ada lagi harapan
25 Bertemu dengan dia si orang asing
26 Membujuk dia yang telah kembali
27 Tidak ingin memaksa.
28 Bukan jarak biasa
29 Pilihan Laras
30 Mungkinkah karma?
31 Melepaskan dan Melupakan.
32 Penasaran
33 Waspada
34 Langit mendung
35 Mereka yang menginginkan
36 Obrolan ringan
37 Tetap menolak
38 Rasa dan Emosi
39 Pengakuan Laras
40 Kegilaan si tuan muda.
41 Hari kepergian Laras.
42 Pengejaran
43 Siapa yang tahu?
44 Satu kebohongan yang terbongkar
45 Terjebak dalam situasi tak diinginkan
46 Dua pria tak masuk akal
47 Hadirnya benci kalau itu
48 Kabar dari masa lalu
49 Pekerjaan baru
50 Kemarahan Laras pada Mario
51 Singgah di ruko keluarga Putri
52 Ditemukan olehnya
53 Tawar menawar.
54 Bertemu dan cemburu gila
55 Hasbi terbakar cemburu.
56 Mulai terendus.
57 Persetujuan
58 Hari patah hati
59 Pernikahan kedua.
60 Bertemu Hannah
61 Mengenal sikap Asta yang sesungguhnya.
62 Bukan sekedar pernikahan kontrak.
63 Dilema Asta
64 Salah bicara
65 Tak ingin terjebak.
66 Karena pakaian yang ditanggalkan.
67 Selip kesedihan
68 Nyaris sempurna
69 Penyempurnaan.
70 Rencana makan malam.
71 Romania Dan Asta.
72 Kejujuran Asta
73 Mario tak lagi peduli.
74 Jalan yang membawa duka
75 Ingin bercerai
76 Takut
77 Gagal total.
78 Cinta membuat pria berani.
79 Kehangatan suami istri
80 Kilasan masa silam
81 Menanti kabarnya
82 Saling paham
83 Akibat yang di timbukan.
84 Diseret ke kantor polisi.
85 Kecemasan mantan suami dan suami sah
86 Dibawah hujan.
87 Menikmati hasil yang di tanam.
88 Kebahagiaan yang menyebar luas
89 Doa dan kebahagiaan
90 Keluarga kecil bahagia.
91 Pembalasan alam.
92 Datang.
93 Kemarahan Nur.
94 Menerima balasan Tuhan
95 Tak lagi percaya.
96 Wanita sederhana
97 Hannah, Habibi dan Ranveer.
98 Kehilangan kendali
99 Undangan mewah.
100 Ketakutan dua belah pihak
101 Janji seorang suami.
102 Dua perbedaan.
103 Bersama Hannah
104 Simbolis cinta
105 Upaya pembalasan
106 Membuktikan kekuasaan
107 Penuh strategi
108 Keperdulian yang tulus
109 Pasrah
110 Masih belum rela
111 Sepadan
112 Asta dan Laras.
113 Galau
114 Ternyata bukan kabar buruk
115 Kehangatan cinta
116 Cinta yang ditunggu.
117 Bayi mungil.
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Runtuhnya hati seorang istri
2
Wanita itu
3
Sebuah permainan
4
Peka di keheningan
5
Keributan di awal hari
6
Uji coba katanya.
7
Merasa si paling benar sendiri.
8
Rencana menggugat cerai
9
Kehilangan wajah.
10
Tak ingin berakhir
11
Di antara masa lalu
12
Kecemburuan Hera
13
Janji yang tersambut.
14
Tetap ingin bercerai
15
Penyesalan mendalam
16
Menagih janji
17
Kembali pulang
18
Kehidupan setelah saling jauh.
19
Keributan pasangan
20
Datang ke rumah sakit
21
Fatamorgana
22
Pemecatan
23
Pertama kali berkunjung
24
Ternyata sudah tidak ada lagi harapan
25
Bertemu dengan dia si orang asing
26
Membujuk dia yang telah kembali
27
Tidak ingin memaksa.
28
Bukan jarak biasa
29
Pilihan Laras
30
Mungkinkah karma?
31
Melepaskan dan Melupakan.
32
Penasaran
33
Waspada
34
Langit mendung
35
Mereka yang menginginkan
36
Obrolan ringan
37
Tetap menolak
38
Rasa dan Emosi
39
Pengakuan Laras
40
Kegilaan si tuan muda.
41
Hari kepergian Laras.
42
Pengejaran
43
Siapa yang tahu?
44
Satu kebohongan yang terbongkar
45
Terjebak dalam situasi tak diinginkan
46
Dua pria tak masuk akal
47
Hadirnya benci kalau itu
48
Kabar dari masa lalu
49
Pekerjaan baru
50
Kemarahan Laras pada Mario
51
Singgah di ruko keluarga Putri
52
Ditemukan olehnya
53
Tawar menawar.
54
Bertemu dan cemburu gila
55
Hasbi terbakar cemburu.
56
Mulai terendus.
57
Persetujuan
58
Hari patah hati
59
Pernikahan kedua.
60
Bertemu Hannah
61
Mengenal sikap Asta yang sesungguhnya.
62
Bukan sekedar pernikahan kontrak.
63
Dilema Asta
64
Salah bicara
65
Tak ingin terjebak.
66
Karena pakaian yang ditanggalkan.
67
Selip kesedihan
68
Nyaris sempurna
69
Penyempurnaan.
70
Rencana makan malam.
71
Romania Dan Asta.
72
Kejujuran Asta
73
Mario tak lagi peduli.
74
Jalan yang membawa duka
75
Ingin bercerai
76
Takut
77
Gagal total.
78
Cinta membuat pria berani.
79
Kehangatan suami istri
80
Kilasan masa silam
81
Menanti kabarnya
82
Saling paham
83
Akibat yang di timbukan.
84
Diseret ke kantor polisi.
85
Kecemasan mantan suami dan suami sah
86
Dibawah hujan.
87
Menikmati hasil yang di tanam.
88
Kebahagiaan yang menyebar luas
89
Doa dan kebahagiaan
90
Keluarga kecil bahagia.
91
Pembalasan alam.
92
Datang.
93
Kemarahan Nur.
94
Menerima balasan Tuhan
95
Tak lagi percaya.
96
Wanita sederhana
97
Hannah, Habibi dan Ranveer.
98
Kehilangan kendali
99
Undangan mewah.
100
Ketakutan dua belah pihak
101
Janji seorang suami.
102
Dua perbedaan.
103
Bersama Hannah
104
Simbolis cinta
105
Upaya pembalasan
106
Membuktikan kekuasaan
107
Penuh strategi
108
Keperdulian yang tulus
109
Pasrah
110
Masih belum rela
111
Sepadan
112
Asta dan Laras.
113
Galau
114
Ternyata bukan kabar buruk
115
Kehangatan cinta
116
Cinta yang ditunggu.
117
Bayi mungil.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!