Keributan di awal hari

Langit mulai terang ketika Hasbi keluar dari rumah sakit. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di trotoar basah sisa hujan malam tadi. Tubuhnya terasa lelah, ditambah perut bagian bawah terus-menerus nyeri sejak kembali ke rumah sakit semalam. Bisa jadi mag nya kambuh, ditambah lagi dia belum menelan apapun sejak datang mengantar pakaian.

Perubahan sikap Laras membuatnya berpikir keras, hingga melupakan waktu makan malamnya.

"Bu?" Hasbi baru saja sampai rumahnya, dan mendapati seorang pria asing duduk di ruang tamu bersama ibunya.

"Ini...Nak Rendi, katanya datang untuk menjemput Laras, apa laras udah ijin sama kamu mau pergi ke luar kota?" Nur menjelaskan keperluan pria asing itu.

"Menjemput?" kernyit samar muncul di kening Hasbi. "Nggak ada, Bu. Laras nggak ada ngomong apa-apa!" Hasbi menahan nyeri di perutnya. Langkahnya terayun cepat menuju kamar utama, emosinya tersulut akibat berita yang di dengar.

Brak!

Pintu di buka dengan kasarnya.

Laras yang sedang memoles lipstik di bibirnya, menatap Hasbi dari cermin meja rias.

"Mau kemana kamu? Siapa laki-laki di bawah itu, ha?!" Di dorong rasa marah, Hasbi bertanya dengan nada tinggi.

Laras tak segera berbalik, ia merapikan terlebih dahulu lipstik yang keluar dari garis bibirnya dengan cotton bud, baru kemudian berbalik menatap Hasbi yang menuntut penjelasan.

"Aku mau liburan, dan yang di bawah sana itu sopir temanku, tadi dia datang kepagian, aku belum mandi, jadi ku suruh masuk dulu."

"Laras, sejak kapan kamu punya teman, tiba-tiba ingin liburan? Enam tahun kita bersama, baru ini kamu bicara omong kosong begini!"

Senyum Laras tersungging. "Aku nggak bicara omong kosong, kok. Serius aku mau liburan sama temanku."

Mata Hasbi awas menilai setiap jengkal tubuh istrinya. Ia baru menyadari gaya penampilan Laras sangat berbeda, perempuan itu terlihat lebih fresh dan juga anggun di saat bersamaan.

Di luar, langit pagi mulai terang. Di dalam, kamar itu penuh ketegangan. Di luar, sinar pagi terasa menghangatkan, sedangkan di dalam kamar, auranya dingin membekukan.

"Kamu nggak boleh kemana-mana!" Hasbi menarik pinggang Laras, kedua tangannya merangkul pinggang Laras yang ramping.

"Lepaskan! Kamu apa-apaan, sih!?" Laras meronta.

"Sayang, aku tau kamu lagi marah sama aku karena nggak pulang semalam kan? Ini sungguh nggak seperti yang kamu pikirkan, aku semalam sungguh ketiduran di rumah sakit," Lelah meronta, Laras membiarkan Hasbi memeluk tubuhnya. "Setelah Hera sembuh, aku akan mengurangi perjalanan dinas dan lebih banyak waktu di rumah untuk menemanimu. Aku janji nggak akan buat kamu kecewa lagi."

"Kamu nggak perlu janji-janji gini, nggak ada gunanya juga." Laras sengaja menyindir, kala dia merasakan getar ponsel di saku celana Hasbi. Tak perlu bertanya, ia tahu siapa si penelepon itu.

Hasbi buru-buru mengangkat teleponnya, sedikit menjauh dari Laras, tapi tak benar-benar pergi dari kamar itu.

"Nggak bisa, aku harus kerja. Nanti aku datang setelah pulang dari kantor." Suara Hasbi masih bisa di dengar Laras. Sepertinya Hera terus mendesak Hasbi untuk kembali ke rumah sakit.

Laras akan menutup kopernya saat lagi-lagi tangannya di tarik Hasbi.

"Laras, aku benar-benar melarangmu pergi! Jika itu tetap kamu lakukan, maka... " Hasbi sengaja menjeda ucapannya.

Laras terpancing, perempuan itu bertanya, "Maka apa?" tanyanya menantang.

Hasbi menatap Laras sedikit lebih lama. Entah mengapa hatinya tiba-tiba diliputi rasa takut tak beralasan.

Saat rahangnya hendak membuka, suara pelan dari arah pintu mengagetkan nya.

"Mama jangan pergi!" Naila muncul, bocah enam tahun itu memandang laras dengan mata berkaca-kaca. Kaus tidur bergambar unicorn yang dibelikan Laras saat itu, melekat di tubuh kecilnya, tampak pas, juga menggemaskan.

Dua bulan, Laras merawat mereka dengan tulus dan ikhlas, menganggap keduanya malaikat kecil pembawa cinta. Banyak hal yang sudah mereka lakukan bersama, banyak momen bahagia dan haru yang tentu membuat mereka mulai terbiasa dengan satu sama lain.

Laras menutup mata sejenak. Saat membukanya, suaranya tenang. "Urus anakmu! Aku sudah di tungguin."

"Kamu tega tinggalkan anak kita? Demi liburan ga jelas sama teman kamu? " tanya Hasbi. Hening mengambil tempat.

Tak lama, langkah kaki mendekat. Nur.

"Laras, kamu mau pergi ke mana, Nak?" suara Nur bergetar.

######

Langkah yang tepat g sih, Laras pergi dari rumah?

Teman-teman yang kemarin kasih vote, makasih banget ya...

Jangan lupa like, komen dan bintang ⭐⭐⭐⭐⭐

Happy Reading...

Terpopuler

Comments

Queen Woo

Queen Woo

tepat banget kak..laras harus ttp waras kan..dah pergi aja dr pada bertahan dg keluarga toxic...penuh kepalsuan..

2025-10-25

0

Queen Woo

Queen Woo

tepat banget kak..laras harus ttp waras kan..dah pergi aja dr pada bertahan dg keluarga toxic...penuh kepalsuan..

2025-10-25

0

Warung Sembako

Warung Sembako

pergilah laras, stlh itu kirimkan surat gugatan cerai utk hasbi

2025-10-25

1

lihat semua
Episodes
1 Runtuhnya hati seorang istri
2 Wanita itu
3 Sebuah permainan
4 Peka di keheningan
5 Keributan di awal hari
6 Uji coba katanya.
7 Merasa si paling benar sendiri.
8 Rencana menggugat cerai
9 Kehilangan wajah.
10 Tak ingin berakhir
11 Di antara masa lalu
12 Kecemburuan Hera
13 Janji yang tersambut.
14 Tetap ingin bercerai
15 Penyesalan mendalam
16 Menagih janji
17 Kembali pulang
18 Kehidupan setelah saling jauh.
19 Keributan pasangan
20 Datang ke rumah sakit
21 Fatamorgana
22 Pemecatan
23 Pertama kali berkunjung
24 Ternyata sudah tidak ada lagi harapan
25 Bertemu dengan dia si orang asing
26 Membujuk dia yang telah kembali
27 Tidak ingin memaksa.
28 Bukan jarak biasa
29 Pilihan Laras
30 Mungkinkah karma?
31 Melepaskan dan Melupakan.
32 Penasaran
33 Waspada
34 Langit mendung
35 Mereka yang menginginkan
36 Obrolan ringan
37 Tetap menolak
38 Rasa dan Emosi
39 Pengakuan Laras
40 Kegilaan si tuan muda.
41 Hari kepergian Laras.
42 Pengejaran
43 Siapa yang tahu?
44 Satu kebohongan yang terbongkar
45 Terjebak dalam situasi tak diinginkan
46 Dua pria tak masuk akal
47 Hadirnya benci kalau itu
48 Kabar dari masa lalu
49 Pekerjaan baru
50 Kemarahan Laras pada Mario
51 Singgah di ruko keluarga Putri
52 Ditemukan olehnya
53 Tawar menawar.
54 Bertemu dan cemburu gila
55 Hasbi terbakar cemburu.
56 Mulai terendus.
57 Persetujuan
58 Hari patah hati
59 Pernikahan kedua.
60 Bertemu Hannah
61 Mengenal sikap Asta yang sesungguhnya.
62 Bukan sekedar pernikahan kontrak.
63 Dilema Asta
64 Salah bicara
65 Tak ingin terjebak.
66 Karena pakaian yang ditanggalkan.
67 Selip kesedihan
68 Nyaris sempurna
69 Penyempurnaan.
70 Rencana makan malam.
71 Romania Dan Asta.
72 Kejujuran Asta
73 Mario tak lagi peduli.
74 Jalan yang membawa duka
75 Ingin bercerai
76 Takut
77 Gagal total.
78 Cinta membuat pria berani.
79 Kehangatan suami istri
80 Kilasan masa silam
81 Menanti kabarnya
82 Saling paham
83 Akibat yang di timbukan.
84 Diseret ke kantor polisi.
85 Kecemasan mantan suami dan suami sah
86 Dibawah hujan.
87 Menikmati hasil yang di tanam.
88 Kebahagiaan yang menyebar luas
89 Doa dan kebahagiaan
90 Keluarga kecil bahagia.
91 Pembalasan alam.
92 Datang.
93 Kemarahan Nur.
94 Menerima balasan Tuhan
95 Tak lagi percaya.
96 Wanita sederhana
97 Hannah, Habibi dan Ranveer.
98 Kehilangan kendali
99 Undangan mewah.
100 Ketakutan dua belah pihak
101 Janji seorang suami.
102 Dua perbedaan.
103 Bersama Hannah
104 Simbolis cinta
105 Upaya pembalasan
106 Membuktikan kekuasaan
107 Penuh strategi
108 Keperdulian yang tulus
109 Pasrah
110 Masih belum rela
111 Sepadan
112 Asta dan Laras.
113 Galau
114 Ternyata bukan kabar buruk
115 Kehangatan cinta
116 Cinta yang ditunggu.
117 Bayi mungil.
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Runtuhnya hati seorang istri
2
Wanita itu
3
Sebuah permainan
4
Peka di keheningan
5
Keributan di awal hari
6
Uji coba katanya.
7
Merasa si paling benar sendiri.
8
Rencana menggugat cerai
9
Kehilangan wajah.
10
Tak ingin berakhir
11
Di antara masa lalu
12
Kecemburuan Hera
13
Janji yang tersambut.
14
Tetap ingin bercerai
15
Penyesalan mendalam
16
Menagih janji
17
Kembali pulang
18
Kehidupan setelah saling jauh.
19
Keributan pasangan
20
Datang ke rumah sakit
21
Fatamorgana
22
Pemecatan
23
Pertama kali berkunjung
24
Ternyata sudah tidak ada lagi harapan
25
Bertemu dengan dia si orang asing
26
Membujuk dia yang telah kembali
27
Tidak ingin memaksa.
28
Bukan jarak biasa
29
Pilihan Laras
30
Mungkinkah karma?
31
Melepaskan dan Melupakan.
32
Penasaran
33
Waspada
34
Langit mendung
35
Mereka yang menginginkan
36
Obrolan ringan
37
Tetap menolak
38
Rasa dan Emosi
39
Pengakuan Laras
40
Kegilaan si tuan muda.
41
Hari kepergian Laras.
42
Pengejaran
43
Siapa yang tahu?
44
Satu kebohongan yang terbongkar
45
Terjebak dalam situasi tak diinginkan
46
Dua pria tak masuk akal
47
Hadirnya benci kalau itu
48
Kabar dari masa lalu
49
Pekerjaan baru
50
Kemarahan Laras pada Mario
51
Singgah di ruko keluarga Putri
52
Ditemukan olehnya
53
Tawar menawar.
54
Bertemu dan cemburu gila
55
Hasbi terbakar cemburu.
56
Mulai terendus.
57
Persetujuan
58
Hari patah hati
59
Pernikahan kedua.
60
Bertemu Hannah
61
Mengenal sikap Asta yang sesungguhnya.
62
Bukan sekedar pernikahan kontrak.
63
Dilema Asta
64
Salah bicara
65
Tak ingin terjebak.
66
Karena pakaian yang ditanggalkan.
67
Selip kesedihan
68
Nyaris sempurna
69
Penyempurnaan.
70
Rencana makan malam.
71
Romania Dan Asta.
72
Kejujuran Asta
73
Mario tak lagi peduli.
74
Jalan yang membawa duka
75
Ingin bercerai
76
Takut
77
Gagal total.
78
Cinta membuat pria berani.
79
Kehangatan suami istri
80
Kilasan masa silam
81
Menanti kabarnya
82
Saling paham
83
Akibat yang di timbukan.
84
Diseret ke kantor polisi.
85
Kecemasan mantan suami dan suami sah
86
Dibawah hujan.
87
Menikmati hasil yang di tanam.
88
Kebahagiaan yang menyebar luas
89
Doa dan kebahagiaan
90
Keluarga kecil bahagia.
91
Pembalasan alam.
92
Datang.
93
Kemarahan Nur.
94
Menerima balasan Tuhan
95
Tak lagi percaya.
96
Wanita sederhana
97
Hannah, Habibi dan Ranveer.
98
Kehilangan kendali
99
Undangan mewah.
100
Ketakutan dua belah pihak
101
Janji seorang suami.
102
Dua perbedaan.
103
Bersama Hannah
104
Simbolis cinta
105
Upaya pembalasan
106
Membuktikan kekuasaan
107
Penuh strategi
108
Keperdulian yang tulus
109
Pasrah
110
Masih belum rela
111
Sepadan
112
Asta dan Laras.
113
Galau
114
Ternyata bukan kabar buruk
115
Kehangatan cinta
116
Cinta yang ditunggu.
117
Bayi mungil.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!