Peka di keheningan

"Aku nggak nyalahin kamu, Laras! Tapi setidaknya tahu situasi, Hera masih belum pulih betul dari depresinya, banyak pikiran sedikit, dia bisa langsung pingsan." Malam itu, Hasbi masuk ke dalam kamar mereka, Laras yang sedang memakai skincare rutin tak bergeming ditempatnya.

Tidak ada emosi di wajah Laras, tapi raut kecewa sangat tergambar apik diwajah Hasbi.

"Kamu tahu? Hera harus di rawat beberapa hari di rumah sakit, nanti kalau kamu sempat, jenguk dia...jangan lupa minta maaf." dengan enteng Hasbi memerintah.

Laras meletakkan cream malamnya, perempuan itu berbalik menatap Hasbi tajam.

"Tujuan awal kita bawa Hera kesini untuk apa sih? Kalau kamu tau betul dengan kondisinya yang kurang waras, ngapain maksa dia tinggal disini? Lihat kan! Belum apa-apa dia sudah nggak bisa diandalkan, baru datang sudah bikin susah, pakai acara di rawat segala.. Aku minta kamu cari pengasuh! Bukan buat nambahin beban!" Mata Hasbi membulat akibat ucapan Laras, dia tentu tidak menyangka, istri yang biasanya patuh, berani membantah perkataannya.

"Ada apa denganmu, Laras? Kenapa tiba-tiba jadi sangat perhitungan?" marah Hasbi, biji mata itu seperti hampir keluar dari rongganya.

Laras tak gentar, langkahnya terayun mendekat, lebih merapat pada Hasbi. "Perhitungan kamu bilang?" Tanya itu terdengar sinis.

"Bu-bukan begitu maksud ku," Hasbi terbata, matanya yang mendelik tajam, kini memancarkan sorot lembut, tangannya berusaha meraih tangan Laras, tapi selalu di tepis.

Laras, memalingkan wajah, menatap jendela. Diluar, langit malam tampak gelap, seperti perasaannya saat ini, kosong tapi penuh kabut. "Kalau kamu begitu khawatir sama dia, ngapain pulang?"

Hasbi makin gelagapan. "Laras, kamu salah paham, aku cuma nggak mau kamu merasa bersalah nantinya kalau tahu Hera di rawat karena kata-kata yang kamu ucapkan."

Laras menyeringai dihadapan Hasbi, "Aku nggak akan ngerasa bersalah, apa yang ku omongin fakta,"

Hasbi geleng-geleng kepala. "Aku makin nggak ngerti sama sikapmu, Laras." tuturnya dengan nada kecewa.

"Ucapanmu benar, kamu memang nggak pernah ngerti aku. Sekarang aku mau tidur, lebih baik kamu keluar, aku sedang tidak ingin di ganggu." pungkas Laras.

"Naila dan Cantika rewel dibawah, Ibu kewalahan masak kamu malah mau tidur?" Hampir seharian ini Hasbi dibikin sakit kepala dengan perubahan sikap Laras, hari yang diharapkan akan begitu bahagia berubah kelabu, berjalan tak sesuai harapannya.

Laras masa bodoh, dia berjalan santai menaiki tempat tidur dan mulai menutupi setengah tubuhnya dengan selimut, "Sebelum keluar, tolong matikan lampu." katanya mengakhiri perdebatan. Hasbi tak langsung merespon, ia berdiri cukup lama di tempatnya, mungkin laki-laki itu sedang mencerna setiap kejadian yang membuat Laras berubah seperti orang lain.

*******

Suara tangis saling bersahutan memenuhi runggunya, saat Hasbi menginjakkan kakinya di lantai bawah.

Naila dan Cantika sedang rewel, entah kenapa? Sedangkan Nur terlihat berusaha membujuk Naila dan Cantika dibantu seorang pelayan.

"Hasbi, mana Laras? Dia tidak ikut turun?" paruh baya itu segera mencecar anaknya. Wajahnya tampak lelah, matanya mencari-cari sosok Laras.

"Dia juga rewel, Bu. Tambah pusing kepalaku." Jawab Hasbi berjalan mendekati dua putrinya.

"Mereka rewel ingin main sama Laras, istrimu sejak pagi nggak pernah pegang mereka." kening Hasbi mengernyit.

"Maksud Ibu, Laras menolak main sama mereka?" informasi ini mengejutkan Hasbi.

"Hasbi, Apa kalian bertengkar? Ibu merasa, Latas sangat berbeda. Tidak hanya dengan anak-anak, dia bahkan tidak menyiapkan keperluan ibu seperti biasanya."

Lipatan di kening Hasbi semakin banyak, ternyata perubahan Laras dirasakan semua orang.

"Mungkin dia sedang datang bulan, makanya sensitif. Besok aku coba bicara sama Laras." jawab Hasbi, dia sendiri sedang mencari dugaan yang masuk akal.

"Apa Laras,.... "

"Aku harus kembali ke rumah sakit, mengantar pakaian ganti Hera, minta Bibi bawa anak-anak ke kamarnya, ibu jagain sebisanya, aku akan segera pulang."

Ucapan Nur, dipotong begitu saja oleh Hasbi, pria itu buru-buru masuk ke kamar tamu untuk mengambil pakaian Hera.

Sejak tadi telfon genggamnya terus berbunyi, Hera tak berhenti menghubunginya menanyakan kapan Hasbi kembali ke rumah sakit menemaninya.

Nur tersenyum miris, melihat punggung Hasbi yang menghilang di balik pintu. "Ibu hanya takut kamu akan kehilangan orang yang benar-benar mencintaimu, meskipun Laras tak bicara apapun, melihat cara pandangnya padamu yang berbeda, sepertinya dia tahu sesuatu."

######

Yay masih bisa up hari ini teman-teman...

Padahal tadi author lagi sibuk pake banget..

Jangan lupa suport nya ya...

Terpopuler

Comments

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Eh hasbi pecundang bisa2nya km bikin anak trs dsruh asuh dngn istri sah dngn gratisan yg istri sah km kasih kb biar gk beranak....dasar km iya hasbi dngn selingkuhanmu itu pasangan bejat gk pnya hati

2025-10-24

0

Engkar Sukarsih

Engkar Sukarsih

rasain hasbi dasar laki tukang ngibul🤬🤬di tinggal in sama Laras baru nyaho loe🤪🤪🤪

2025-10-23

0

partini

partini

ayo Bu cari tau apa yg terjadi

2025-10-24

0

lihat semua
Episodes
1 Runtuhnya hati seorang istri
2 Wanita itu
3 Sebuah permainan
4 Peka di keheningan
5 Keributan di awal hari
6 Uji coba katanya.
7 Merasa si paling benar sendiri.
8 Rencana menggugat cerai
9 Kehilangan wajah.
10 Tak ingin berakhir
11 Di antara masa lalu
12 Kecemburuan Hera
13 Janji yang tersambut.
14 Tetap ingin bercerai
15 Penyesalan mendalam
16 Menagih janji
17 Kembali pulang
18 Kehidupan setelah saling jauh.
19 Keributan pasangan
20 Datang ke rumah sakit
21 Fatamorgana
22 Pemecatan
23 Pertama kali berkunjung
24 Ternyata sudah tidak ada lagi harapan
25 Bertemu dengan dia si orang asing
26 Membujuk dia yang telah kembali
27 Tidak ingin memaksa.
28 Bukan jarak biasa
29 Pilihan Laras
30 Mungkinkah karma?
31 Melepaskan dan Melupakan.
32 Penasaran
33 Waspada
34 Langit mendung
35 Mereka yang menginginkan
36 Obrolan ringan
37 Tetap menolak
38 Rasa dan Emosi
39 Pengakuan Laras
40 Kegilaan si tuan muda.
41 Hari kepergian Laras.
42 Pengejaran
43 Siapa yang tahu?
44 Satu kebohongan yang terbongkar
45 Terjebak dalam situasi tak diinginkan
46 Dua pria tak masuk akal
47 Hadirnya benci kalau itu
48 Kabar dari masa lalu
49 Pekerjaan baru
50 Kemarahan Laras pada Mario
51 Singgah di ruko keluarga Putri
52 Ditemukan olehnya
53 Tawar menawar.
54 Bertemu dan cemburu gila
55 Hasbi terbakar cemburu.
56 Mulai terendus.
57 Persetujuan
58 Hari patah hati
59 Pernikahan kedua.
60 Bertemu Hannah
61 Mengenal sikap Asta yang sesungguhnya.
62 Bukan sekedar pernikahan kontrak.
63 Dilema Asta
64 Salah bicara
65 Tak ingin terjebak.
66 Karena pakaian yang ditanggalkan.
67 Selip kesedihan
68 Nyaris sempurna
69 Penyempurnaan.
70 Rencana makan malam.
71 Romania Dan Asta.
72 Kejujuran Asta
73 Mario tak lagi peduli.
74 Jalan yang membawa duka
75 Ingin bercerai
76 Takut
77 Gagal total.
78 Cinta membuat pria berani.
79 Kehangatan suami istri
80 Kilasan masa silam
81 Menanti kabarnya
82 Saling paham
83 Akibat yang di timbukan.
84 Diseret ke kantor polisi.
85 Kecemasan mantan suami dan suami sah
86 Dibawah hujan.
87 Menikmati hasil yang di tanam.
88 Kebahagiaan yang menyebar luas
89 Doa dan kebahagiaan
90 Keluarga kecil bahagia.
91 Pembalasan alam.
92 Datang.
93 Kemarahan Nur.
94 Menerima balasan Tuhan
95 Tak lagi percaya.
96 Wanita sederhana
97 Hannah, Habibi dan Ranveer.
98 Kehilangan kendali
99 Undangan mewah.
100 Ketakutan dua belah pihak
101 Janji seorang suami.
102 Dua perbedaan.
103 Bersama Hannah
104 Simbolis cinta
105 Upaya pembalasan
106 Membuktikan kekuasaan
107 Penuh strategi
108 Keperdulian yang tulus
109 Pasrah
110 Masih belum rela
111 Sepadan
112 Asta dan Laras.
113 Galau
114 Ternyata bukan kabar buruk
115 Kehangatan cinta
116 Cinta yang ditunggu.
117 Bayi mungil.
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Runtuhnya hati seorang istri
2
Wanita itu
3
Sebuah permainan
4
Peka di keheningan
5
Keributan di awal hari
6
Uji coba katanya.
7
Merasa si paling benar sendiri.
8
Rencana menggugat cerai
9
Kehilangan wajah.
10
Tak ingin berakhir
11
Di antara masa lalu
12
Kecemburuan Hera
13
Janji yang tersambut.
14
Tetap ingin bercerai
15
Penyesalan mendalam
16
Menagih janji
17
Kembali pulang
18
Kehidupan setelah saling jauh.
19
Keributan pasangan
20
Datang ke rumah sakit
21
Fatamorgana
22
Pemecatan
23
Pertama kali berkunjung
24
Ternyata sudah tidak ada lagi harapan
25
Bertemu dengan dia si orang asing
26
Membujuk dia yang telah kembali
27
Tidak ingin memaksa.
28
Bukan jarak biasa
29
Pilihan Laras
30
Mungkinkah karma?
31
Melepaskan dan Melupakan.
32
Penasaran
33
Waspada
34
Langit mendung
35
Mereka yang menginginkan
36
Obrolan ringan
37
Tetap menolak
38
Rasa dan Emosi
39
Pengakuan Laras
40
Kegilaan si tuan muda.
41
Hari kepergian Laras.
42
Pengejaran
43
Siapa yang tahu?
44
Satu kebohongan yang terbongkar
45
Terjebak dalam situasi tak diinginkan
46
Dua pria tak masuk akal
47
Hadirnya benci kalau itu
48
Kabar dari masa lalu
49
Pekerjaan baru
50
Kemarahan Laras pada Mario
51
Singgah di ruko keluarga Putri
52
Ditemukan olehnya
53
Tawar menawar.
54
Bertemu dan cemburu gila
55
Hasbi terbakar cemburu.
56
Mulai terendus.
57
Persetujuan
58
Hari patah hati
59
Pernikahan kedua.
60
Bertemu Hannah
61
Mengenal sikap Asta yang sesungguhnya.
62
Bukan sekedar pernikahan kontrak.
63
Dilema Asta
64
Salah bicara
65
Tak ingin terjebak.
66
Karena pakaian yang ditanggalkan.
67
Selip kesedihan
68
Nyaris sempurna
69
Penyempurnaan.
70
Rencana makan malam.
71
Romania Dan Asta.
72
Kejujuran Asta
73
Mario tak lagi peduli.
74
Jalan yang membawa duka
75
Ingin bercerai
76
Takut
77
Gagal total.
78
Cinta membuat pria berani.
79
Kehangatan suami istri
80
Kilasan masa silam
81
Menanti kabarnya
82
Saling paham
83
Akibat yang di timbukan.
84
Diseret ke kantor polisi.
85
Kecemasan mantan suami dan suami sah
86
Dibawah hujan.
87
Menikmati hasil yang di tanam.
88
Kebahagiaan yang menyebar luas
89
Doa dan kebahagiaan
90
Keluarga kecil bahagia.
91
Pembalasan alam.
92
Datang.
93
Kemarahan Nur.
94
Menerima balasan Tuhan
95
Tak lagi percaya.
96
Wanita sederhana
97
Hannah, Habibi dan Ranveer.
98
Kehilangan kendali
99
Undangan mewah.
100
Ketakutan dua belah pihak
101
Janji seorang suami.
102
Dua perbedaan.
103
Bersama Hannah
104
Simbolis cinta
105
Upaya pembalasan
106
Membuktikan kekuasaan
107
Penuh strategi
108
Keperdulian yang tulus
109
Pasrah
110
Masih belum rela
111
Sepadan
112
Asta dan Laras.
113
Galau
114
Ternyata bukan kabar buruk
115
Kehangatan cinta
116
Cinta yang ditunggu.
117
Bayi mungil.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!