Bab 2 Kemunculan dari sistem

Sesampainya di rumah Pak Suhardi

​"Ya ampun, Bapak, ada apa dengan Nak Rama?" Bu Maya terlihat cemas, segera membantu Pak Suhardi menuntun Rama ke tempat duduk.

​"Ceritanya panjang, Bu, sekarang lebih baik kita obati luka Rama terlebih dahulu," kata Pak Suhardi.

​Sementara itu, Bela baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar suara panik ibunya. Dia terkejut melihat keadaan Rama, sosok pemuda yang cukup dekat dengannya.

​"Bu... Apa yang terjadi dengan Kak Rama?" Tanyanya, ikut khawatir melihat keadaan Rama yang terluka parah.

​"Kamu cepat ambilkan kotak obat. Kita harus segera mengobati lukanya sebelum infeksi," ucap Bu Maya. Bela pun bergegas mengambil obat tanpa bertanya lagi.

​"Sebenarnya ada apa to, Pak? Kok bisa sampai seperti ini?" Setelah Bela kembali dan membawa kotak obat, tak lupa Bu Maya menyuruh Bela mengambilkan air hangat ke dalam baskom. Bu Maya lantas mulai mengobati luka Rama.

​"Jadi begini, Bu. Sepulang dari rumah Pak Slamet, Bapak ketemu ibu-ibu di jalan yang membicarakan kalau di rumah Rama banyak anak buah Kohar. Karena perasaan Bapak tidak enak, makanya Bapak langsung buru-buru ke sana. Eh, pas setibanya Bapak di sana... Nak Rama sedang dipukuli oleh Baron, anak buah si Kohar itu," jelas Suhardi.

​Bela, yang sembari meletakkan baskom berisi air, langsung menangis. Ia merasa kasihan pada Rama.

​"Hiks... Hiks... Kak, malang sekali nasibmu," ucapnya lirih sembari mengusap luka Rama dengan lap basah.

​Rama tersadar dari pingsannya dan sedikit meringis. "Sudah-sudah, Kakak tidak apa-apa, kok, Bel," ucapnya dengan suara lemah. Perhatian dari keluarga Pak Suhardi ini cukup membuat hatinya menghangat.

​Rama bahkan sudah menganggap Bela sebagai adiknya, karena dari kecil mereka tumbuh bersama. Apalagi, orang tua Rama hanya memiliki satu anak, begitu juga dengan Pak Suhardi dan istrinya yang hanya memiliki Bela. Terlebih, Pak Suhardi dan Ayah Rama sudah bersahabat sejak lama.

​Setelah beberapa saat

​Rama mulai tenang dan semua lukanya telah diobati. Rama pun mulai menceritakan semuanya tentang masalah hutang kedua orang tuanya pada Bang Kohar, serta tentang sawah yang dititipkan pada pamannya—yang ternyata justru ingin menguasainya dan sengaja tidak memberitahu Rama.

​Pak Suhardi maupun Bu Maya merasa iba pada nasib pemuda itu, tetapi mereka juga tak bisa berbuat apa-apa selain memberi wejangan agar Rama tetap sabar dan ikhlas.

​"Yang sabar ya, Nak Rama. Meski Bapak dan Ibu tak bisa banyak membantu, tetapi mulai sekarang Nak Rama tinggal saja di rumah ini," ucap Bu Maya penuh ketulusan.

​Rama merasa terharu mendengarnya. Memang, di desa ini, Rama merasa tidak ada yang lebih peduli padanya selain Pak Suhardi dan keluarganya.

​"Terima kasih," Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya dengan mata berkaca-kaca.

​"Nah, sekarang kamu bawa Nak Rama ke kamar tamu untuk beristirahat. Jangan diajak bicara dulu. Biar Nak Rama bisa beristirahat dengan tenang," ucap Bu Maya pada Bela, dan gadis itu pun mengangguk patuh.

​"Ayo, Kak, aku bantu ke kamar."

​Rama yang memang masih lemah untuk sekadar berdiri tegak, ia pun mengangguk. Dengan bantuan Bela memapahnya, ia memasuki kamar tamu di rumah Pak Suhardi.

​"Terima kasih ya, Bel, kamu selalu saja baik pada Kakak."

​"Apa sih yang Kakak bicarakan? Aku sudah menganggap Kak Rama itu seperti kakak aku sendiri. Lagipula, Kakak juga dulu sering sekali membantu Bela."

​Rama hanya bisa tersenyum lembut, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu. Sementara Bela langsung beranjak keluar.

"Jika Kakak butuh sesuatu, jangan sungkan memanggil Bela, ya," ucapnya sebelum menutup pintu kamar.

​Rama menghela napas berat. Terlalu berat beban hidup yang ia jalani. Lima bulan lalu kedua orang tuanya meninggal dunia akibat bencana tanah longsor yang menimpa rumahnya. Masih teringat jelas di ingatannya tentang kejadian itu.

​Dan yang baru saja ia alami sekarang, adalah salah satu dari penderitaannya sejak ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

​"Ayah, Ibu... Maafkan aku," ucapnya lirih lalu mulai memejamkan matanya dengan harapan setelah bangun nanti hidupnya akan berubah, meski pada kenyataannya ia sudah ingin menyerah.

​Keesokan paginya

​Waktu menunjukkan pukul 07.30. Rama merasa seluruh tubuhnya masih terasa sakit, yang membuatnya malas untuk bangun.

​Tok

Tok

Tok

​Bu Maya langsung memutuskan untuk masuk karena ia berpikir Rama masih tertidur dan ia tidak ingin mengganggunya. Ia berniat masuk hanya untuk memastikan keadaan pemuda itu dan menaruh makanan sebelum dirinya pergi ke sawah.

​"Bu Maya... Maaf, saya baru saja ingin membuka pintunya tadi."

​"Eh, tidak usah bangun. Ibu cuma mau menaruh makan ini untuk kamu," ucap Bu Maya ketika melihat rupanya Rama sudah bangun, dan ia segera menahan pemuda itu yang ingin bangkit.

​Rama pun kembali berbaring dan Bu Maya kembali berkata, "Kata Bapak, kamu istirahat saja sampai benar-benar pulih, baru boleh membantu lagi di sawah." Selama ini Rama memang bekerja sebagai kuli di sawah Pak Suhardi, karena selain Pak Suhardi sangat baik padanya, ia juga bisa sekalian membantu keluarga Pak Suhardi sesuai kemampuannya.

​"Iya, Bu. Terima kasih karena sudah membantu Rama dan memberi tempat buat Rama tidur. Maaf karena Rama selalu merepotkan keluarga Ibu."

​"Haish... Siapa yang merepotkan? Kan sudah Ibu bilang, mulai sekarang kamu tinggal saja di sini. Ibu sama Bapak juga tidak keberatan, malah senang karena Bela nantinya akan memiliki teman di rumah ini ketika Bapak sama Ibu sedang tidak ada di rumah," ucap Bu Maya, benar-benar membuat hati Rama tersentuh. Ia berjanji akan membalas kebaikan keluarga Pak Suhardi ini di masa depan.

​"S-saya hanya bisa mengucapkan terima kasih pada Ibu dan Bapak," ucapnya dengan nada bergetar.

​"Iya, sama-sama. Lagian selama ini kamu juga sudah banyak membantu keluarga Ibu. Jadi ke depannya Nak Rama jangan sungkan lagi ya, anggap saja keluarga sendiri. Kamu juga bisa menganggap kami sebagai orang tuamu. Dengan begitu, harapan Bela untuk memiliki kakak akan terpenuhi," ujar Bu Maya dengan senyum lembut penuh ketulusan.

​Rama hanya bisa diam tanpa kata, tetapi tatapan matanya sudah menunjukkan ungkapan terima kasih yang tulus kepada Bu Maya dan keluarga. "Ya sudah, kalau begitu Ibu tinggal dulu ya. Jangan lupa dimakan, biar tubuh kamu cepat membaik."

​"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya."

​Setelah Bu Maya keluar, Rama kembali memejamkan matanya, namun kali ini pikirannya melayang entah ke mana. "Ya Tuhan, kenapa hidupku begitu menyedihkan? Tidakkah Kamu memberiku sedikit saja kebahagiaan atau kesempatan untuk memperbaiki semuanya?"

​Lima bulan berlalu, tetapi sakit di tulang punggungnya—yang retak karena terkena sedikit reruntuhan atap kala itu—seolah menjadi pengingat abadi atas tragedi tersebut. Hanya karena waktu itu ia dilindungi oleh sang Ayah dan Ibu dari atap rumahnya yang ambruk, nyawanya terselamatkan. Saat itu kejadiannya begitu cepat di malam hari, hingga membuat dirinya beserta kedua orang tuanya tak memiliki waktu untuk melarikan diri. Di tengah kepanikan itu, kedua orang tua Rama berusaha melindungi dirinya dari reruntuhan atap rumah yang menimpanya, dan alhasil kedua orang tuanya kehilangan kesadaran di atas tubuhnya.

​Tepat ketika dirinya berusaha bangkit untuk mengangkat tubuh kedua orang tuanya, sebuah lemari menimpanya. Ingatan terakhirnya melihat tubuh kedua orang tuanya tertimpa reruntuhan lainnya.

​"Hiks... hiks... Ayah, Ibu, maafin Rama. R-Rama lah yang telah membuat kalian... Hiks... hiks..." Rama menangis sejadi-jadinya, teringat kejadian itu, sebuah kejadian yang terus menghantui dirinya siang dan malam.

​Namun... tepat di sela-sela tangisannya, suara aneh tiba-tiba terdengar.

[​DING: BUKAN SISTEM BIASA: SIAP DI AKTIFKAN

SISTEM MENDETEKSI TUAN RUMAH YANG DITAKDIRKAN DALAM KEADAAN TERPURUK. APAKAH TUAN RUMAH MEMBUTUHKAN BANTUAN DARI SISTEM? SILAHKAN TUAN PILIH (YA) ATAU (TIDAK).

​Rama bengong sesaat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah memastikan apakah barusan dia mendengar ada yang berbicara.

[​DING: APAKAH TUAN INGIN MEMASANG... BUKAN SISTEM BIASA? YA ATAU TIDAK?"]

​"Eh?" Rama bingung. Ia merasa suara itu ada di dalam kepalanya sendiri. Rama menggelengkan kepalanya cepat. "Apakah aku sudah gila? Mungkinkah kemarin anak buah Bang Kohar terlalu berlebihan memukul kepalaku?" Gumamnya bingung.

[​DING: MENURUT ANALISIS DARI SISTEM, TUAN HANYA MENGALAMI SEDIKIT KERUSAKAN PADA FISIK TUAN, TETAPI TIDAK MEMPENGARUHI PADA ANGGOTA TUBUH LAIN TERMASUK OTAK TUAN. JIKA TUAN BERSEDIA... SISTEM AKAN MEMBANTU TUAN UNTUK MEMPERBAIKI KERUSAKAN PADA FISIK TUAN, TETAPI TUAN HARUS MENERIMA TERLEBIH DAHULU KEHADIRAN SISTEM AGAR MENYATU DENGAN TUBUH TUAN.

APAKAH TUAN AKAN MAU MENERIMANYA? YA ATAU TIDAK...?]

​"I-ini...?" Rama merasa ada yang aneh pada dirinya.

​"Sis-sistem... Apa-apa itu? Apakah kamu setan? Atau ma-malaikat?" Tanya Rama gugup penuh kebingungan.

[​DING: TIDAK, TUAN. SAYA ADALAH SISTEM YANG BISA DISEBUT DENGAN NAMA, BUKAN SISTEM BIASA. SAYA ADALAH SISTEM YANG AKAN MEMBANTU MERUBAH TAKDIR TUAN. APAKAH TUAN INGIN MENGAKTIFKAN BUKAN SISTEM BIASA? YA ATAU TIDAK?]

​"Akhh... Daripada aku pusing sendiri, lebih baik aku ikuti saja," pikir Rama.

[​DING: JADI APAKAH TUAN INGIN MENERIMA SISTEM? YA ATAU TIDAK?]

​"Ya... ya... Aku mau menerimamu!" Jawab Rama lantang karena ia berpikir ini hanyalah halusinasi dan mungkin setelah ia menjawab Ya, semuanya kembali normal. Namun, justru setelah jawaban itu terlontar dari mulutnya, tiba-tiba saja ia merasakan sakit di kepalanya.

[​DING: PENYATUAN SISTEM DENGAN TUBUH TUAN DIMULAI.]

​"Akhhh... Ap-apa yang terjadi? Ke-kenapa tiba-tiba kepalaku sakit sekali?"

​10%

20%

30%

40%

50%

.......

100%

[​DING: PENYATUAN SISTEM DENGAN TUBUH TUAN TELAH SELESAI.]

​"Ap-apa itu tadi? Kenapa rasanya kepalaku hampir meledak?" Keringat bercucuran dari wajah Rama. Selama proses tadi, ia terus berteriak kesakitan memegangi kepalanya, hingga pada titik di mana suara 100% anehnya, rasa sakitnya langsung hilang begitu saja, digantikan dengan suara: "Penyatuan dengan tubuh Tuan telah selesai."

[​DING: SELAMAT,TUAN TELAH MENJADI TUAN RUMAH RESMI BUKAN SISTEM BIASA!

TUAN MENDAPATKAN HADIAH PENYATUAN DARI SISTEM BERUPA PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI.

APAKAH TUAN AKAN MENGAMBILNYA SEKARANG? YA ATAU TIDAK?]

​"Hah, yang benar saja. Ini-ini sepertinya bukan halusinasi?" Gumamnya tersadar. Suara itu masih terdengar di kepalanya dan justru kali ini suaranya begitu jelas.

[DING: 100% KEBENARANNYA, TUAN. APAKAH TUAN AKAN MENGAMBILNYA SEKARANG? YA ATAU TIDAK?]

​Rama terdiam dengan waktu yang cukup lama. Ia mencoba mencerna semuanya, menepuk-nepuk pipinya dan sesekali mencubit lengannya dengan cukup keras, yang membuat dirinya meringis.

​"Sial... Ini nyata, tapi... Ah sudahlah. Lebih baik aku ikuti saja alurnya. Entah apa yang ada di kepalaku, yang jelas masa bodoh dengan keanehan ini," pikirnya.

[​DING: JADI, APAKAH TUAN INGIN MENGAMBIL HADIAH INI SEKARANG? YA ATAU TIDAK?]

​"Ya, aku mau mengambilnya sekarang!" Jawab Rama dengan suara keras. Andai ada orang di luar kamarnya dan melihat dirinya, mungkin mereka akan mengira dirinya gila karena berbicara sendiri.

[​DING: PROSES PENGELUARAN HADIAH BUTUH WAKTU SEKITAR 30 DETIK.]

​PLUK

​Tepat ketika waktu 30 detik telah berlalu, tiba-tiba pil sebesar biji salak muncul.

​"Eh...?" Dengan kejutan yang tak bisa disembunyikan, Rama menatap pil di atas kasur tanpa berkedip.

​Aneh. Bingung. Takut. Gila. Semua rasa itu bercampur menjadi satu dirasakan Rama. Ia ingin tidak percaya, tetapi ada bukti nyata sebuah hadiah yang disebutkan oleh sistem di kepalanya tadi, kini muncul di hadapannya.

​"Ini... Ap-apa kah ini asli?" Gumamnya tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk mengambil pil tersebut.

[​DING: 100% KEASLIANNYA, TUAN. TUAN BISA LANGSUNG MENCOBANYA DAN RASAKAN MANFAATNYA SECARA NYATA.]

​"Sistem, tunggu! Ka-kamu mengatakan ini adalah Pil Penyembuh Tingkat Tinggi. Bi-bisakah kamu jelaskan lebih detail?" Entah kenapa, Rama merasa apa yang ia alami sekarang begitu di luar akal sehatnya, tetapi karena semuanya tampak begitu nyata, Rama pun tidak sungkan lagi untuk bertanya pada sistem di kepalanya itu.

[​DING: TENTU SAJA, TUAN. PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI ADALAH HADIAH PERTAMA YANG DIBERIKAN UNTUK TUAN RUMAH YANG BERHASIL MELAKUKAN PENYATUAN SISTEM. MANFAAT UTAMA PIL INI ADALAH:]

1. PEMULIHAN INSTAN: Mampu menyembuhkan segala jenis luka fisik non-fatal, termasuk patah tulang, luka dalam, dan penyakit kronis, dalam hitungan detik.

2. PENGHILANGAN BEKAS LUKA: Mengembalikan kondisi fisik tubuh Tuan seperti sebelum mengalami cedera.

3. PEMBERSIHAN TOKSIN: Membersihkan segala racun atau zat berbahaya yang mungkin terakumulasi di dalam tubuh Tuan.

4. PENINGKATAN KEBUGARAN DASAR: Setelah penyembuhan, fisik Tuan akan sedikit ditingkatkan dari kondisi normal.

​"Sebentar... Kamu bilang, mampu menyembuhkan patah tulang? Termasuk... tulang punggungku yang retak?" Tanya Rama, suaranya tercekat oleh harapan yang tiba-tiba membuncah.

[​DING: BENAR, TUAN. PIL INI JUGA AKAN MEMULIHKAN KERUSAKAN TULANG PUNGGUNG TUAN YANG DIAKIBATKAN OLEH BENCANA LIMA BULAN LALU.]

​Rama menatap Pil Penyembuh di tangannya. Air matanya kembali menetes, tetapi kali ini, itu adalah air mata kelegaan. Ini bukan hanya pil, ini adalah kesempatan kedua.

​"Aku... Aku akan meminumnya," ucap Rama yakin.

[​DING: TUAN RUMAH MEMILIH UNTUK MENGKONSUMSI PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI. PROSES DIMULAI.]

Terpopuler

Comments

Simba Berry

Simba Berry

hostnya BERFIKIRNYA LAMA BANGET.LEMOT😄😄😄😄

2026-05-10

0

Hery S

Hery S

hedeh lemot taik

2026-08-26

0

oppoA18 Siapat

oppoA18 Siapat

MC lemot...🤭🤭🤭🤣

2026-06-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2 Kemunculan dari sistem
3 Bab 3 misi pertama dari sistem
4 Bab 4 Awal masalah yang panjang
5 Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6 Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7 Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8 Bab 8 Tentang Poin tukar
9 Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10 Bab 10 memasak nasi goreng
11 Bab 11 Pasar senja
12 Bab 12 Pil kultivator
13 Bab 13 masih tentang pil kultivator
14 Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15 Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16 Bab 16 menjadi kultivator
17 Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18 Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19 Bab 19 jabrig kembali berulah
20 Bab 20 ketegangan di pasar
21 Bab 21 Membelikan bela pakain
22 Bab 22 Pulang
23 Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24 Bab 24 Prihal sistemnya
25 Bab 25 Sekolah sma bakti
26 Bab 26 Kegemparan sekolah
27 Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28 Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29 Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30 Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31 Bab 31 Kekhawatiran bela
32 Bab 32 Kasus di desa
33 Bab 33 Kedatangan Sherline
34 Bab 24 menahan kesal
35 Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36 Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37 Bab 37 Sedikit ketegangan
38 Bab 38 Codet turun tangan
39 Bab 39 masih berlanjut
40 Bab 40 Deni yang ketakutan
41 Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42 Bab 42 Awal masalah besar
43 Bab 43 Menginterogasi mereka
44 Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45 Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46 Bab 46 di mintai keterangan
47 Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48 Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49 Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50 Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51 Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52 Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53 Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54 Bab 54 layar yang menyesatkan
55 Bab 55 Hari pertama di kota
56 Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57 Bab 57 Durjaya central mall
58 Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59 Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60 Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61 Bab 61 Di hadang oleh kevin
62 Bab 62 Menampar kevin dua kali
63 Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64 Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65 Bab 65 Hari pertama di apartemen
66 Bab 66 Misi dari sistem
67 Bab 67 Bertemu putri kembali
68 Bab 68 Rama angkat bicara
69 Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70 Bab 70 Bayangan malam
71 Bab 71 Membantu polisi
72 Bab 72 Menuju sekolah barunya
73 Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74 Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75 Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76 Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77 Bab 77 Bertemu pak mahendra
78 Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79 Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80 Bab 80 Meminta bantuan rega
81 Bab 81 Mencari masalah
82 Bab 82 Pulang bersama
83 Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84 Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85 Bab 85 Keluarga lambudi
86 Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87 Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88 Bab 88 Terjadi kecelakaan
89 Bab 89 Menolong korban
90 Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91 Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92 Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93 Bab 93 Tamu tak di undang
94 Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95 Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96 Bab 96 Rama mengikuti permainan
97 Bab 97 Kembali ke apartemen
98 Bab 98 Menolong gadis keracunan
99 Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100 Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101 Bab 101 Hadiah sebauh vila
102 Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103 Bab 103 Di sambut oleh Tio
104 Bab 104 lantai 2 sekolah
105 Bab 105 lantai tiga sekolah
106 Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107 Bab 107 menuju pelelangan
108 Bab 108 Di pelelangan
109 Bab 109 lelang selesai
110 Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111 Bab 111 Penculikan terhadap putri
112 Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113 Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114 Bab 114 Rega mulai bertindak
115 Bab 115 Rama Vs Rega
116 Bab 116 Bisikan para murid
117 Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118 Bab 118 memasuki sebuah bar
119 Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120 Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121 Bab 121 Rama vs Bram
122 Bab 122 Keluar dari bar
123 Bab 123 kematian para tahanan
124 Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125 Bab 125 Menikmati masakan rama
126 Bab 126 Mengungkap kebenaran
127 Bab 127 Masih ada kesempatan
128 Bab 128 Harapan besar untuk putri
129 Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130 Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131 Bab 131 Masih di rumah sakit
132 Bab 132 Perhatian rama
133 Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134 Bab 134 Rega yang meminta maaf
135 Bab 135 Putri di culik lagi
136 Bab 136 Menyelamatkan putri
137 Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138 Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri
Episodes

Updated 138 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2 Kemunculan dari sistem
3
Bab 3 misi pertama dari sistem
4
Bab 4 Awal masalah yang panjang
5
Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6
Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7
Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8
Bab 8 Tentang Poin tukar
9
Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10
Bab 10 memasak nasi goreng
11
Bab 11 Pasar senja
12
Bab 12 Pil kultivator
13
Bab 13 masih tentang pil kultivator
14
Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15
Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16
Bab 16 menjadi kultivator
17
Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18
Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19
Bab 19 jabrig kembali berulah
20
Bab 20 ketegangan di pasar
21
Bab 21 Membelikan bela pakain
22
Bab 22 Pulang
23
Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24
Bab 24 Prihal sistemnya
25
Bab 25 Sekolah sma bakti
26
Bab 26 Kegemparan sekolah
27
Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28
Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29
Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30
Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31
Bab 31 Kekhawatiran bela
32
Bab 32 Kasus di desa
33
Bab 33 Kedatangan Sherline
34
Bab 24 menahan kesal
35
Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36
Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37
Bab 37 Sedikit ketegangan
38
Bab 38 Codet turun tangan
39
Bab 39 masih berlanjut
40
Bab 40 Deni yang ketakutan
41
Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42
Bab 42 Awal masalah besar
43
Bab 43 Menginterogasi mereka
44
Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45
Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46
Bab 46 di mintai keterangan
47
Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48
Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49
Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50
Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51
Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52
Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53
Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54
Bab 54 layar yang menyesatkan
55
Bab 55 Hari pertama di kota
56
Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57
Bab 57 Durjaya central mall
58
Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59
Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60
Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61
Bab 61 Di hadang oleh kevin
62
Bab 62 Menampar kevin dua kali
63
Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64
Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65
Bab 65 Hari pertama di apartemen
66
Bab 66 Misi dari sistem
67
Bab 67 Bertemu putri kembali
68
Bab 68 Rama angkat bicara
69
Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70
Bab 70 Bayangan malam
71
Bab 71 Membantu polisi
72
Bab 72 Menuju sekolah barunya
73
Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74
Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75
Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76
Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77
Bab 77 Bertemu pak mahendra
78
Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79
Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80
Bab 80 Meminta bantuan rega
81
Bab 81 Mencari masalah
82
Bab 82 Pulang bersama
83
Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84
Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85
Bab 85 Keluarga lambudi
86
Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87
Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88
Bab 88 Terjadi kecelakaan
89
Bab 89 Menolong korban
90
Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91
Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92
Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93
Bab 93 Tamu tak di undang
94
Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95
Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96
Bab 96 Rama mengikuti permainan
97
Bab 97 Kembali ke apartemen
98
Bab 98 Menolong gadis keracunan
99
Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100
Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101
Bab 101 Hadiah sebauh vila
102
Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103
Bab 103 Di sambut oleh Tio
104
Bab 104 lantai 2 sekolah
105
Bab 105 lantai tiga sekolah
106
Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107
Bab 107 menuju pelelangan
108
Bab 108 Di pelelangan
109
Bab 109 lelang selesai
110
Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111
Bab 111 Penculikan terhadap putri
112
Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113
Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114
Bab 114 Rega mulai bertindak
115
Bab 115 Rama Vs Rega
116
Bab 116 Bisikan para murid
117
Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118
Bab 118 memasuki sebuah bar
119
Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120
Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121
Bab 121 Rama vs Bram
122
Bab 122 Keluar dari bar
123
Bab 123 kematian para tahanan
124
Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125
Bab 125 Menikmati masakan rama
126
Bab 126 Mengungkap kebenaran
127
Bab 127 Masih ada kesempatan
128
Bab 128 Harapan besar untuk putri
129
Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130
Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131
Bab 131 Masih di rumah sakit
132
Bab 132 Perhatian rama
133
Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134
Bab 134 Rega yang meminta maaf
135
Bab 135 Putri di culik lagi
136
Bab 136 Menyelamatkan putri
137
Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138
Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!