Bab 3 misi pertama dari sistem

Rama menelan. Seketika pil itu mencair di tenggorokannya, rasanya seperti meminum besi panas yang cair. Bukan hanya rasa sakit, tapi seluruh tubuhnya memberontak—uratnya menegang, ototnya serasa dicabik dari tulang. Napasnya tercekat, mata Rama melotot menatap langit-langit.

​"Akhh! Sistem... Pil apa yang... yang ka-kau berikan?! Kenapa efeknya se-sakit ini!" Suara pekikan Rama bercampur rintihan tajam, tenggorokannya tercekat.

​Hening. Tidak ada balasan.

​"Sialan..." Kepalanya terhempas ke bantal. Rasa sakit itu bukan lagi gelombang, tapi badai tak berkesudahan yang merenggut kesadarannya secara paksa. Gelap.

​Siang hari menjelang sore.

​Tas sekolah Bela baru saja mendarat di kursi ruang tamu ketika ia bergegas menuju kamar Rama. Ia harus memastikan keadaan pemuda itu.

​Tok. Tok. Tok.

​"Kak Rama," panggilnya pelan. Tidak ada jawaban, hanya keheningan dari dalam.

​"Kak? Kamu ada di dalam?" Nada Bela naik satu oktaf. Ia tidak melihat Rama di sekitar rumah; kepanikan tipis mulai menjalar di dadanya.

​Samar-samar, suara itu menyentuh pendengaran Rama. Kelopak matanya bergerak, lalu terbuka perlahan.

​"Kak, Kakak ada di dalam, kan? Apa Kakak baik-baik saja?" Suara Bela di balik pintu terdengar mendesak.

​"Aduh... Apa yang terjadi denganku?" Rama bangkit, menopang tubuhnya yang berat. Aroma tak sedap—asam dan keringat—langsung menyeruak.

​"Kak, aku buka pintunya ya?" ujar Bela lagi.

​"Tu-tunggu sebentar, Dek!" Rama menyahut cepat, suaranya terdengar tercekat. "Kakak sudah bangun, kok. Kamu, kamu tunggu saja di ruang tamu. Kakak mandi dulu sebentar."

​Bela di luar pintu agak sedikit mengerutkan kening. "Tapi Kakak baik-baik saja kan?" tanyanya memastikan. Jelas sekali gadis itu mengkhawatirkannya.

​"Ya, ya, Kakak baik-baik saja! Sebentar lagi Kakak akan keluar," sahut Rama.

​"Oh, syukurlah. Kalau begitu Bela tunggu di ruang tamu ya, Kak. Tapi Bela mau ganti baju dulu sebentar."

​"Iya, Dek."

​Setelah memastikan Bela sudah pergi, Rama mulai menyadari ada yang berbeda dari tubuhnya. Lebih tepatnya, semua rasa sakit akibat kejadian kemarin sudah tak ia rasakan lagi. Bahkan, Rama merasakan tubuhnya begitu segar dan penuh dengan tenaga yang meluap-luap.

​Tubuh Rama terasa ringan, seolah beban bertahun-tahun telah diangkat. Ia berdiri, menggerak-gerakkan bahu dan lehernya—tidak ada lagi bunyi gemeretak, tidak ada lagi rasa kaku. Ia mengangkat tangannya dan meraba keras punggungnya.

​Kosong.

​Tulang punggungnya. Sempurna. Bekas luka yang seharusnya terasa kasar dan menonjol, hilang tak berbekas.

​"I-ini...?" Rama mundur dua langkah, matanya terpaku pada jarinya sendiri. "Aku benar-benar sembuh? Ja-jadi Sistem itu nyata... dia tidak membohongiku!" Suaranya bergetar hebat, karena euforia yang campur aduk dengan kebingungan gila.

​DING: 100% BENAR, TUAN.

​Suara Sistem di kepalanya kembali mengejutkannya. Sungguh, Rama sampai saat ini masih sulit mempercayai atas apa yang dirinya alami.

​"Sistem, ja-jadi apa sebenarnya kamu?"

[​DING: TUAN, JIKA INGIN BERTANYA ATAU BERBICARA PADA SISTEM, TUAN CUKUP BERBICARA LEWAT PIKIRAN TUAN SAJA KARENA SAAT INI SISTEM SUDAH MENYATU DENGAN TUBUH TUAN.]

​Rama terdiam sesaat. Ia pun langsung mencoba berbicara, tetapi hanya menggunakan pikirannya.

​(Melalui Pikiran) "Jadi, apa kamu sebenarnya, Sistem? Jelaskan semua tentang dirimu. Dari mana kamu berasal, dan apa yang kamu inginkan dariku?"

​Ada jeda singkat, seolah Sistem sedang memproses perintah yang kompleks.

[​DING: SISTEM ADALAH SEBUAH ENTITAS PANDUAN EVOLUSI MULTIVERSAL YANG BERASAL DARI DIMENSI LEBIH TINGGI. TETAPI UNTUK LEBIH SPESIFIKNYA, ASAL SISTEM SENDIRI MASIH DI-RAHASIAKAN DAN TUAN HARUS MEMBUKA RAHASIA ITU DENGAN MENINGKATKAN KEMAMPUAN TUAN.

​SISTEM SENDIRI DI-RANCANG UNTUK MEMBANTU SALAH SATU MAKHLUK YANG DI-TAKDIRKAN, DAN TUAN TELAH TERPILIH SEBAGAI MAKHLUK YANG DI-TAKDIRKAN ITU. NAMA SEMENTARA SISTEM ADALAH BUKAN SISTEM BIASA. BISA TUAN RUBAH SESUAI KEINGINAN TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Aduh. Kamu bicara seperti novel fantasi saja, Sistem? Apakah aku sekarang harus menjadi pahlawan super, atau semacamnya?"

[​DING: FOKUS TUAN SAAT INI ADALAH MENGUATKAN DIRI SENDIRI. PIL PENYEMBUH TINGKAT TINGGI YANG TELAH TUAN KONSUMSI TELAH MEMPERBAIKI SEGALA CACAT TUBUH TUAN DAN MEMBUKA POTENSI EVOLUSI. SELANJUTNYA, SISTEM AKAN MEMANDU TUAN MELALUI MISI DAN MEMBERIKAN HADIAH UNTUK MENGAKUMULASI KEKUATAN.]

​"Misi? Hadiah? Ini benar-benar seperti permainan video! Oke, jika ini permainan..."

​"Kak... Ap-apa kamu masih mandi?" Tepat pada saat Rama ingin bertanya lebih lanjut, suara Bela di depan kamarnya kembali terdengar.

​"Ah sudahlah... Kita lanjutkan nanti saja. Sekarang aku ingin mandi dulu, kasihan Bela terus menunggu di luar."

​Selanjutnya, Rama pun keluar lewat pintu belakang. Tak berselang lama, suara guyuran air mulai terdengar. Rama, dengan perasaan yang berbeda, bergumam, "Ughhh. Segarnya... Ternyata Sistem benar. Sungguh pil yang menakjubkan. Andai saja masih banyak, pasti aku akan menjalaninya dengan harga mahal."

​"Hahaha. Keajaiban, sungguh keajaiban... Akhirnya Tuhan sang Pencipta alam tak tutup mata atas penderitaan yang aku alami selama ini," Rama terus bergumam sendiri sembari mengguyurkan air pada tubuhnya, sampai ia memutuskan untuk menyudahi mandinya.

​Cklek.

​Rama membuka pintu kamarnya dengan senyuman yang merekah, juga pakaian milik Pak Suhardi yang ia kenakan. Di depan pintu kamarnya, Bela sudah menunggu dengan sabar.

​"Kak. Kakak udah sembuh? Kok kelihatannya—AHH?!" Bela tiba-tiba memekik, telapak tangannya terangkat menutupi mulut.

​"K-kenapa, Bel? Kamu kenapa?" Rama menatapnya panik, raut wajahnya seketika cemas.

​"I-itu... Luka Kakak, kok hilang?" Bela menurunkan tangannya, bola matanya bergerak cepat memindai wajah Rama. Ia dengan berani meraih pergelangan tangan Rama, membalikkannya, lalu sedikit mengangkat ujung kaus Rama ke atas. Nihil. Tidak ada sedikit pun bekas luka yang ia obati semalam.

​"Bagaimana mungkin?" bisiknya, matanya menyipit penuh kecurigaan saat menatap Rama. Jelas dia yang merawat luka-luka itu.

​"Eh, itu... Mmh, mungkin karena luka Kakak dirawat oleh seorang gadis cantik dengan penuh ketulusan, jadi... luka Kakak langsung sembuh begitu saja!" Rama sedikit gelagapan untuk menjawab. Ia melupakan hal penting ini: luka yang sembuh total dalam semalam jelas bukan hal yang normal.

​"Kak. Kamu...?" Jelas wajah Bela seketika langsung memerah mendengar jawaban dari Rama.

​Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menyunggingkan senyum kaku. "Ja-jadi ada apa kamu memanggil Kakak?" tanya Rama, berusaha menghilangkan ketegangan.

​Bela tak segera menjawab. Ia justru mengingit bibir bawahnya sambil memandangi tubuh Rama dari atas sampai bawah, membuat Rama hanya bisa pasrah. "Oh ya, Ibu sama Bapakmu apakah sudah pulang?"

​"Belum. Bapak masih di sawah, sedangkan Ibu mau ke rumah Pak RT, enggak tahu mau ngapain," jawab Bela, meski pandangannya masih meneliti Rama, tak percaya luka di wajah Rama hilang begitu saja.

​"Ah. Kalau begitu Kakak mau ke kamar lagi saja. Badan Kakak sebenarnya masih sakit, mungkin butuh istirahat sebentar lagi untuk benar-benar pulih," Rama terpaksa mencari alasan karena dia harus memahami sistem di kepalanya.

​"Hm. Ya sudah deh, Bela juga mau ke kamar aja mau tidur, capek soalnya baru pulang sekolah." Bela tersenyum kecil. "Tadinya sebenarnya Bela mau mijitin Kak Rama, karena di sekolah Bela kepikiran terus, takutnya Kak Rama sakitnya makin parah. Eh, tahunya... udah sembuh kayaknya."

​Ucapan Bela membuat hati Rama menghangat. "Ya sudah, Kakak duluan ya ke kamar. Makasih sudah perhatian sama Kakak," sambil mencubit pipi Bela sedikit, Rama pun memasuki kamarnya kembali.

​"I-iya, Kak," jawab Bela dengan pipi kembali memerah, bukan karena cubitan, tetapi karena hal lain yang membuat dirinya justru langsung salah tingkah dan tersenyum sekilas saat Rama sudah menghilang masuk ke kamarnya.

​Di dalam kamar.

​(Melalui Pikiran) "Sistem, apakah kamu mendengarku?"

[​DING: TENTU SAJA, SISTEM AKAN SELALU MENDENGAR TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Baiklah, kalau begitu jelaskan kembali semua tentangmu,"

[​DING: SISTEM ADALAH SEBUAH KEAJAIBAN DAN HANYA ADA SATU-SATUNYA DI DUNIA INI, DAN TUAN ADALAH MANUSIA PALING BERUNTUNG KARENA TELAH DI-PILIH OLEH SISTEM. SISTEM SUDAH MENYATU DENGAN TUBUH TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Jelaskan lebih detail lagi, tentang kegunaan, mulai tentang bagaimana aku menggunakanmu atau misi apa saja yang akan kamu berikan padaku?"

[​DING: SEMUA YANG TUAN BUTUHKAN AKAN SISTEM SEDIAKAN, HANYA SAJA TUAN HARUS MEMBELI YANG TUAN BUTUHKAN DENGAN SEBUAH POIN. DAN POIN TERSEBUT BISA TUAN DAPATKAN MELALUI MISI YANG AKAN SISTEM BERIKAN NANTINYA. HADIAH DARI MISI TERGANTUNG KEBERUNTUNGAN TUAN; TERKADANG TUAN HANYA AKAN MENDAPATKAN POIN, TETAPI AKAN ADA JUGA HADIAH KEJUTAN LAINNYA.

​SELAIN ITU, SETIAP TUAN MELAKUKAN LOGIN HARIAN, TUAN AKAN MENDAPATKAN POIN DAN JUGA HADIAH SECARA ACAK.]

​(Melalui Pikiran) "Hm... Cukup menarik."Lalu berapa poin yang aku miliki sekarang?"

[​DING: TUAN HANYA PERLU MEMBUKA PROFIL TUAN.]

​(Melalui Pikiran) "Eh," Rama tidak berharap akan ada hal semacam itu juga. (Melalui Pikiran) "Lalu bagaimana caranya aku membuka profilku?"

[DING: TUAN TINGGAL MENYEBUTKAN KATA KUNCI UNTUK MEMBUKANYA, DAN SISTEM AKAN SECARA OTOMATIS MENYIMPAN KATA KUNCI YANG TUAN BERIKAN.]

​Rama mulai mengerti, dan ia pun langsung berkata di dalam pikirannya: (Melalui Pikiran) "Sistem buka profilku."

[​DING: KATA KUNCI DI-SIMPAN. MOHON TUAN TUNGGU BENDA SAAT.]

​Lalu tak berselang lama, sebuah panel atau layar transparan muncul di depan mukanya. Dengan sangat jelas Rama melihat profil tentangnya.

[​DING: PROFIL TERBUKA

​NAMA : Rama Keswara

RAS : Manusia

UMUR : 17 Tahun

KEKUATAN TUBUH : 20% / 1000%

POIN TUKAR : 30

KEAHLIAN YANG DI-KUASAI : 0

​PROFIL INI AKAN TERUS BERTAMBAH DAN BERGANTI SESUAI KEBERUNTUNGAN TUAN JUGA USAHA TUAN DALAM MENYELESAIKAN MISI.]

​"Ini...? Bukankah ini terlalu luar biasa," serunya hingga tepat ketika dirinya melihat angka tentang kekuatan tubuh. Andai saja ia sedang minum, pasti dirinya sudah menyemburkan air itu dari mulutnya.

​"Pffftttt... Ap-apaan ini? Kenapa kekuatan tubuhku hanya 20% dari 1000? Apakah kamu tidak salah, Sistem?" Kepalanya menggeleng tak percaya.

[​DING: JUJUR SAJA, TUBUH TUAN SAAT INI MEMANG MASIH LEMAH. JADI, TUAN HARAP SADAR DIRI DAN PERBANYAK BERLATIH FISIK.]

​"Sial... Kau menghinaku, Sistem! Pernahkah kau merasakan di pukul bagian bokong?" gerutu Rama kesal. Namun, jawaban dari Sistem selanjutnya membuat dirinya ingin muntah darah saat itu juga.

[​DING: TUAN PUKUL SAJA BOKONG TUAN, KARENA BOKONG TUAN ADALAH BOKONG SISTEM JUGA.]

​Rama tidak tahu antara ingin tertawa atau menangis. Ia merasa, makin ia mengetahui banyak tentang sistem ini, makin aneh pula sistem ini.

​"Sudahlah... Lebih baik aku keluar rumah sekalian cari angin," ucapnya lalu keluar kamar. Ia melihat sekilas ke arah kamar Bela. Mendapati pintu kamar gadis itu tertutup rapat, Rama pun langsung pergi keluar dari rumah itu.

​Namun baru saja ia tiba hendak menyeberangi jalan.

[​DING: MISI PERTAMA UNTUK TUAN RUMAH.

BANTU ANAK KECIL YANG TERSESAT. HADIAH BERUPA KEAHLIAN MEMASAK RAJA CHEF DAN 100 POIN PENUKARAN.]

​"Eh, misi pertama?" gumamnya lalu melihat ke sekeliling, mencari sosok anak kecil yang dimaksud oleh Sistem.

​"Hiks... hiks hiks... Ayah, Ibu, kalian di mana... Adi takut,"

​Tepat pada saat Rama mengalihkan pandangannya ke arah sebuah pohon pinggir jalan, ia melihat sosok anak kecil tengah menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut, bahunya bergetar karena tangis.

​Segera Rama pun menghampiri anak kecil itu dan bertanya, "Adik, kenapa kamu menangis sendirian di sini?"

​Anak kecil itu mendongak dengan sesenggukan. "Kak, tolong Adi. Adi takut..." ucapnya pelan.

​"Iya, iya... Adik tenang dulu ya. Jangan menangis dan coba ceritain sama Kakak. Kenapa Adik sendirian di sini? Ke mana kedua orang tua Adik?" Melihat penampilan bocah itu—sepatu bersih dan pakaian rapih—Rama menduga pasti ia berasal dari kota. Ia juga tidak mengenal anak itu.

​"Adi, Adi enggak tahu, Kak. Tadinya Adi bermain di taman bareng Ayah sama Ibu Adi, terus Adi lihat layangan putus... Terus Adi kejar sampai sini, Kak. Hiks hiks hiks,"

​Rama sedikit mengerutkan keningnya. Di desa ini hanya ada satu tempat yang bisa disebut taman, dan itu berada tak jauh dari sini. "Oh, jadi nama kamu Adi."

​"Iya, Kak."

​"Nama Kakak Rama. Adi bisa panggil Kak Rama. Kalau Adi mau, Kakak bisa antar Adi ke taman di mana sebelumnya Adi main?"

​Anak laki-laki itu menatap Rama cukup lama dengan mata berkaca-kacanya. Meskipun ia merasa Rama bukan orang jahat, tetapi bagaimanapun dirinya selalu diingatkan oleh kedua orang tuanya agar tidak sembarang ikut dengan orang baru.

​"Jangan menangis lagi. Kakak bukan orang jahat, kok. Kakak juga tinggal tak jauh dari sini... Rumah Kakak ada di sebelah sana. Atau, jika Adi mau, kita ke rumah Kakak saja, nanti biar Kakak yang cari di mana kedua orang tua Adi berada. Bagaimana?" Rama berusaha agar tidak membuat anak itu takut, apalagi anak kota biasanya selalu hati-hati dengan orang baru.

​"Adi, Adi mau ketemu Ayah sama Ibu Adi, Kak. Mereka pasti nyariin Adi."

​"Kalau gitu, kita ke taman aja. Siapa tahu Ayah sama Ibu Adi masih ada di sana."

​Setelah diam sesaat, bocah itu pun mengangguk pelan. Rama tersenyum lega dan langsung mengajak anak itu ke tempat yang biasa disebut taman itu.

​"Umur Adi berapa?" tanya Rama sembari berjalan pelan agar tidak membuat anak itu tegang.

​"Tu-tujuh tahun, Kak."

​"Adi bukan berasal dari desa ini, ya?"

​"Iya, Kak. Adi ke sini ikut sama Kakek."

​Setelah beberapa saat berjalan, Rama dan anak kecil itu tiba di sebuah balai desa, yang mana taman yang disebut oleh Adi letaknya tak jauh dari sana.

Terpopuler

Comments

Achmad Zaki

Achmad Zaki

thor gag perlu huruf besar norak

2026-05-05

0

VirgoRaurus 31Smile

VirgoRaurus 31Smile

beberapa saat bukan benda saat

2026-05-24

0

VirgoRaurus 31Smile

VirgoRaurus 31Smile

menggigit bukan mengingit

2026-05-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2 Kemunculan dari sistem
3 Bab 3 misi pertama dari sistem
4 Bab 4 Awal masalah yang panjang
5 Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6 Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7 Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8 Bab 8 Tentang Poin tukar
9 Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10 Bab 10 memasak nasi goreng
11 Bab 11 Pasar senja
12 Bab 12 Pil kultivator
13 Bab 13 masih tentang pil kultivator
14 Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15 Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16 Bab 16 menjadi kultivator
17 Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18 Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19 Bab 19 jabrig kembali berulah
20 Bab 20 ketegangan di pasar
21 Bab 21 Membelikan bela pakain
22 Bab 22 Pulang
23 Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24 Bab 24 Prihal sistemnya
25 Bab 25 Sekolah sma bakti
26 Bab 26 Kegemparan sekolah
27 Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28 Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29 Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30 Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31 Bab 31 Kekhawatiran bela
32 Bab 32 Kasus di desa
33 Bab 33 Kedatangan Sherline
34 Bab 24 menahan kesal
35 Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36 Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37 Bab 37 Sedikit ketegangan
38 Bab 38 Codet turun tangan
39 Bab 39 masih berlanjut
40 Bab 40 Deni yang ketakutan
41 Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42 Bab 42 Awal masalah besar
43 Bab 43 Menginterogasi mereka
44 Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45 Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46 Bab 46 di mintai keterangan
47 Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48 Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49 Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50 Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51 Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52 Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53 Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54 Bab 54 layar yang menyesatkan
55 Bab 55 Hari pertama di kota
56 Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57 Bab 57 Durjaya central mall
58 Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59 Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60 Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61 Bab 61 Di hadang oleh kevin
62 Bab 62 Menampar kevin dua kali
63 Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64 Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65 Bab 65 Hari pertama di apartemen
66 Bab 66 Misi dari sistem
67 Bab 67 Bertemu putri kembali
68 Bab 68 Rama angkat bicara
69 Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70 Bab 70 Bayangan malam
71 Bab 71 Membantu polisi
72 Bab 72 Menuju sekolah barunya
73 Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74 Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75 Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76 Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77 Bab 77 Bertemu pak mahendra
78 Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79 Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80 Bab 80 Meminta bantuan rega
81 Bab 81 Mencari masalah
82 Bab 82 Pulang bersama
83 Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84 Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85 Bab 85 Keluarga lambudi
86 Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87 Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88 Bab 88 Terjadi kecelakaan
89 Bab 89 Menolong korban
90 Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91 Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92 Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93 Bab 93 Tamu tak di undang
94 Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95 Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96 Bab 96 Rama mengikuti permainan
97 Bab 97 Kembali ke apartemen
98 Bab 98 Menolong gadis keracunan
99 Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100 Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101 Bab 101 Hadiah sebauh vila
102 Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103 Bab 103 Di sambut oleh Tio
104 Bab 104 lantai 2 sekolah
105 Bab 105 lantai tiga sekolah
106 Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107 Bab 107 menuju pelelangan
108 Bab 108 Di pelelangan
109 Bab 109 lelang selesai
110 Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111 Bab 111 Penculikan terhadap putri
112 Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113 Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114 Bab 114 Rega mulai bertindak
115 Bab 115 Rama Vs Rega
116 Bab 116 Bisikan para murid
117 Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118 Bab 118 memasuki sebuah bar
119 Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120 Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121 Bab 121 Rama vs Bram
122 Bab 122 Keluar dari bar
123 Bab 123 kematian para tahanan
124 Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125 Bab 125 Menikmati masakan rama
126 Bab 126 Mengungkap kebenaran
127 Bab 127 Masih ada kesempatan
128 Bab 128 Harapan besar untuk putri
129 Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130 Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131 Bab 131 Masih di rumah sakit
132 Bab 132 Perhatian rama
133 Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134 Bab 134 Rega yang meminta maaf
135 Bab 135 Putri di culik lagi
136 Bab 136 Menyelamatkan putri
137 Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138 Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri
Episodes

Updated 138 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2 Kemunculan dari sistem
3
Bab 3 misi pertama dari sistem
4
Bab 4 Awal masalah yang panjang
5
Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6
Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7
Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8
Bab 8 Tentang Poin tukar
9
Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10
Bab 10 memasak nasi goreng
11
Bab 11 Pasar senja
12
Bab 12 Pil kultivator
13
Bab 13 masih tentang pil kultivator
14
Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15
Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16
Bab 16 menjadi kultivator
17
Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18
Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19
Bab 19 jabrig kembali berulah
20
Bab 20 ketegangan di pasar
21
Bab 21 Membelikan bela pakain
22
Bab 22 Pulang
23
Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24
Bab 24 Prihal sistemnya
25
Bab 25 Sekolah sma bakti
26
Bab 26 Kegemparan sekolah
27
Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28
Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29
Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30
Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31
Bab 31 Kekhawatiran bela
32
Bab 32 Kasus di desa
33
Bab 33 Kedatangan Sherline
34
Bab 24 menahan kesal
35
Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36
Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37
Bab 37 Sedikit ketegangan
38
Bab 38 Codet turun tangan
39
Bab 39 masih berlanjut
40
Bab 40 Deni yang ketakutan
41
Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42
Bab 42 Awal masalah besar
43
Bab 43 Menginterogasi mereka
44
Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45
Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46
Bab 46 di mintai keterangan
47
Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48
Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49
Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50
Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51
Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52
Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53
Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54
Bab 54 layar yang menyesatkan
55
Bab 55 Hari pertama di kota
56
Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57
Bab 57 Durjaya central mall
58
Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59
Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60
Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61
Bab 61 Di hadang oleh kevin
62
Bab 62 Menampar kevin dua kali
63
Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64
Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65
Bab 65 Hari pertama di apartemen
66
Bab 66 Misi dari sistem
67
Bab 67 Bertemu putri kembali
68
Bab 68 Rama angkat bicara
69
Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70
Bab 70 Bayangan malam
71
Bab 71 Membantu polisi
72
Bab 72 Menuju sekolah barunya
73
Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74
Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75
Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76
Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77
Bab 77 Bertemu pak mahendra
78
Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79
Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80
Bab 80 Meminta bantuan rega
81
Bab 81 Mencari masalah
82
Bab 82 Pulang bersama
83
Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84
Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85
Bab 85 Keluarga lambudi
86
Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87
Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88
Bab 88 Terjadi kecelakaan
89
Bab 89 Menolong korban
90
Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91
Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92
Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93
Bab 93 Tamu tak di undang
94
Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95
Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96
Bab 96 Rama mengikuti permainan
97
Bab 97 Kembali ke apartemen
98
Bab 98 Menolong gadis keracunan
99
Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100
Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101
Bab 101 Hadiah sebauh vila
102
Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103
Bab 103 Di sambut oleh Tio
104
Bab 104 lantai 2 sekolah
105
Bab 105 lantai tiga sekolah
106
Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107
Bab 107 menuju pelelangan
108
Bab 108 Di pelelangan
109
Bab 109 lelang selesai
110
Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111
Bab 111 Penculikan terhadap putri
112
Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113
Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114
Bab 114 Rega mulai bertindak
115
Bab 115 Rama Vs Rega
116
Bab 116 Bisikan para murid
117
Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118
Bab 118 memasuki sebuah bar
119
Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120
Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121
Bab 121 Rama vs Bram
122
Bab 122 Keluar dari bar
123
Bab 123 kematian para tahanan
124
Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125
Bab 125 Menikmati masakan rama
126
Bab 126 Mengungkap kebenaran
127
Bab 127 Masih ada kesempatan
128
Bab 128 Harapan besar untuk putri
129
Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130
Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131
Bab 131 Masih di rumah sakit
132
Bab 132 Perhatian rama
133
Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134
Bab 134 Rega yang meminta maaf
135
Bab 135 Putri di culik lagi
136
Bab 136 Menyelamatkan putri
137
Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138
Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!