Bab 5 Codet Dari Genk Abrag

Suara yang berat dan mengancam itu menggelegar di tengah taman. "Aku baru saja mendengar, salah satu anak buahku ditampar di tempat umum. Aku ingin melihat, siapa orang yang begitu berani menantangku!"

Bos Codet berhenti, membiarkan ancamannya menggantung di udara. Tatapannya yang tajam menyapu setiap orang yang ada di sana, berhenti sejenak pada Pratama dan yang lainnya.

​Pratama dan kelompoknya hanya berdiri tegak, membalas tatapan itu dengan wajah datar, kosong, dan sedikit memandang rendah, seolah kehadiran Codet dan pasukannya adalah gangguan yang membosankan.

​"Agus... Coba katakan padaku, siapa yang memukulmu?" tanya Codet, suaranya sedikit melunak kepada anak buahnya.

​Mata Agus langsung berbinar penuh kemenangan dan harapan ketika melihat tiga puluh pria kekar yang dibawa oleh Codet. Kesempatan emas untuk membalas penghinaan tamparan itu kini ada di depan mata. Ia sempat menoleh sekilas ke arah Rama, sorot mata penuh dendam jelas tak bisa ia sembunyikan dari pemuda itu.

​"Bo-Bos," Agus menunjuk Pratama dengan jari gemetar, tetapi nadanya berubah tegas. "Dia, dialah orangnya yang baru saja menamparku tanpa alasan." Ia segera memanfaatkan momen tersebut, berusaha menyeret Rama. "Dan... dan jangan lepaskan juga dia. Sebelumnya, aku ingin mengajaknya berkelahi, tetapi justru pria ini datang dan langsung menampar."

​Agus jelas memanfaatkan kedatangan Codet. Ia mengabaikan seluruh kebenaran dari masalah itu, memilih narasi yang paling menguntungkan dirinya.

​Penonton yang sebelumnya berani mengintip dari kejauhan, kini seketika membubarkan diri, panik sejak Codet dan ketiga puluh anak buahnya tiba. Mereka tidak ingin terseret dalam masalah yang jelas-jelas akan berakhir dengan kekerasan.

​Codet mengikuti arah tunjuk Agus, matanya menyipit saat melihat Rama. "Ckckc... Hanya bocah ingusan, sampai membuatmu harus dipermalukan di tempat umum seperti ini," decaknya menghina. Pandangannya kemudian beralih pada Pratama.

​Tepat ketika tatapan mereka bertemu, Codet merasakan sesuatu yang aneh. Tatapan Pratama terasa dingin, menusuk langsung ke ulu hatinya, bukan tatapan gentar seperti yang biasa ia terima. Hal itu membuatnya sedikit terusik.

​Codet cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah Anindia yang sedang memeluk putrinya, lalu beralih pada Amelia. Garis keserakahan yang tak tahu malu langsung terlihat jelas di wajahnya saat melihat gadis itu. Namun, pandangan terakhirnya jatuh pada Bagaskara, pria tua yang bersandar pada tongkat hitamnya.

​Dalam sekejap, Codet membeku. Detik berikutnya, seluruh tubuhnya mulai bergetar tak terkendali.

​"Hm. Menarik..." Bagaskara, yang sedari tadi berdiri diam dan tenang, akhirnya angkat bicara ketika pandangan Codet tertuju padanya. "Aku tidak berharap di desa ini ternyata ada sekelompok orang seperti kalian."

​"Bos! Bisakah kita mulai saja memukuli mereka?" Bogel, yang tidak sabaran, melangkah maju. Ia meretakkan buku-buku jarinya dengan bunyi krak yang keras, menampilkan sikap siap memukul.

​Bogel dan bawahan Codet lainnya tidak menyadari sedikit pun perubahan yang terjadi pada tubuh bos mereka.

​Tiba-tiba, suara keras memecah ketegangan.

​Bruk!

​Codet telah jatuh. Kedua lututnya menghantam tanah taman. Wajahnya yang tegang seketika dipenuhi butiran keringat dingin.

​"Tu-Tuan Bagas... Anda...?" Codet merasa tenggorokannya tercekat, menatap wajah pria itu dengan ketakutan yang mendalam. Ia berlutut tanpa perintah, keringat dingin membanjiri wajahnya.

​[Flashback beberapa hari lalu]

​Di sebuah ruangan luas di dalam gedung tinggi, Codet dan para petinggi GENK ABRAG sedang mengadakan pertemuan.

​"Tuan-tuan sekalian," Pria paruh baya yang merupakan petinggi tertinggi memulai, nadanya serius. "Alasan saya mengadakan pertemuan malam ini adalah untuk membicarakan soal bisnis kita, dan rencana untuk memperluasnya dengan membuat beberapa bangunan lagi di desa-desa." Ia menyandarkan tubuh. "Selain tempatnya akan lebih tersembunyi, operasi di desa juga akan menghindari kemungkinan besar terdeteksi oleh Tim Penyelidik Gabungan dari Naga Emas."

​"Dan pengingat bagi semuanya," tambahnya, matanya menyapu ruangan. "Untuk sementara waktu ini, kita akan beroperasi di desa-desa terpencil itu. Aku juga sudah mendapatkan kabar bahwa Bagaskara, pemimpin dari tim Naga Emas itu, sudah turun tangan menyelidiki kemungkinan kota ini."

​"Sudah terlalu banyak pembunuhan tanpa bukti yang kita lakukan. Selama persiapan kita belum cukup untuk berurusan dengan negara, kita harus lebih berhati-hati lagi dalam menjalankan pekerjaan kita. Paling tidak... untuk sementara waktu, sampai tim penyelidik dari Naga Emas itu kembali ke markas mereka." Pria itu menjelaskan panjang lebar, tanpa basa-basi yang membuang waktu.

​Setelah itu, dia mengirim sebuah email berisi data-data tentang beberapa orang dari tim penyelidik Naga Emas, termasuk Bagaskara sang pemimpin, kepada semua orang yang hadir, termasuk Codet.

​[Flashback selesai]

​Semua orang terkejut melihat apa yang dilakukan Codet. Baru saja pria itu berkata lantang, penuh keberanian, seolah tak terkalahkan. Namun, kini, ia secara mengejutkan berlutut di depan pria tua itu, tubuhnya gemetar hebat.

​"Tu-Tuan Bagas... Anda? Maafkan atas kelancangan saya. Sa-saya... Sungguh, saya tidak tahu jika Anda ada di desa ini. Dan... dan apa yang saya katakan barusan... Saya Codet, benar-benar meminta maaf."

​Memori pertemuan itu masih bergaung di benak Codet. Penyelidik dari Naga Emas ada di kota. Namun, yang membuat Codet bingung setengah mati adalah: Bagaimana Bagaskara, sang pemimpin Naga Emas, bisa ada di desa terpencil ini?

​Ditambah lagi, Bagaskara adalah seorang Ahli Bela Diri tingkat Master. Codet tahu, jika ia tidak segera meminta maaf atas kebodohannya barusan, nasibnya akan buruk. Kekuasaan dan kemampuan bela diri pak tua itu adalah jaminan kengerian.

​"Bo-Bos... Ap-apa yang Anda lakukan?" tanya Agus kebingungan, suaranya sedikit pecah. Kebingungan yang sama juga meliputi bawahan lainnya, bahkan Rama dan keluarga Pratama sendiri. Mereka sama-sama terkejut melihat perubahan sikap drastis dari pria yang baru saja datang dengan angkuh itu.

​Bagaskara menyipitkan matanya. Dia tidak mengenali pria yang berlutut itu, tetapi jelas mereka adalah sekumpulan pembuat onar yang sering disebut preman jalanan atau anggota geng di kota besar.

​"Hm, kau mengenaliku?" tanya Bagaskara, nadanya datar namun dingin, sembari memicingkan mata.

​Codet terdiam. Ia menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah pak tua itu. "Sa-saya kebetulan sering pergi ke kota, Tuan. Dan saya sering kali mendengar nama Anda diperbincangkan sebagai seorang pahlawan di belakang layar yang membuka banyak kasus kejahatan besar. Sa-saya sungguh meminta maaf karena telah berani bersikap lancang di depan Anda."

​Penjelasan Codet membuat para bawahannya terdiam, tak bereaksi. Mereka tidak mengenali siapa pak tua itu, tetapi jika Bos mereka—pria yang paling ditakuti—sampai berlutut ketakutan, status pria tua itu pastilah luar biasa.

​Seketika, tatapan ketiga puluh bawahan Codet beralih, tertuju tajam pada Agus. Jelas sudah, pemuda bodoh itu telah salah menyinggung seseorang yang luar biasa.

​"Kamu cukup pintar juga," ucap Bagaskara, tanpa senyum. "Keberanian macam apa yang kamu miliki hingga tiba-tiba datang membawa begitu banyak orang kemari? Karena bocah itu ditampar oleh putraku? Apa kamu tahu apa yang telah dia lakukan pada cucu perempuanku ini?"

​Nada datar Bagaskara berlanjut, penuh penghakiman. "Aku sudah terbiasa bertemu dengan orang-orang sepertimu. Bertindak tanpa aturan, tak pernah mau tahu siapa salah siapa yang benar. Seharusnya kalian adalah sekumpulan manusia bodoh yang pantas disebut sampah masyarakat. Cepat bawa pergi semua orangmu dari hadapanku. Jika kamu memiliki banyak orang mengikutimu, alangkah baiknya kamu mengajari mereka berjalan di jalan yang baik, bukan untuk melakukan keresahan bagi masyarakat."

​Codet perlahan mendongakkan kepalanya sedikit. "Ba-baik, Tuan. Terima kasih atas kebaikan Anda. Sa-saya berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Dan bocah itu...?" Codet menoleh ke arah Agus, yang hanya berdiri terpaku seperti patung, bodoh tanpa kata.

​"Saya akan mendidiknya dengan baik," janji Codet.

​Tidak ada respons dari pak tua itu. Tatapannya tetap dingin, tanpa ekspresi, seperti dinding yang kokoh. Hal itu membuat Codet segera bangkit dan buru-buru memberi isyarat kepada para bawahannya untuk pergi.

​"Bawa si bodoh itu!" bentaknya pada Bogel, menunjuk Agus.

​Agus hanya diam terpaku, apa yang terjadi benar-benar di luar perkiraannya. Ia tidak tahu nasib apa yang menantinya setelah ini. Yang jelas, ia telah menyinggung orang yang salah, membuat Bos Codet berlutut bahkan sebelum orang tua itu bergerak.

​Setelah mereka semua pergi, Bagaskara menoleh pada bawahan setianya dan berujar singkat. "Selidiki semua tentang mereka."

​"Siap, Jenderal," jawab pria itu tegas, lalu pergi dari sana.

​Bagaskara beralih pada putranya. "Pratama, kamu bawa istri dan anak-anakmu kembali ke kota sekarang."

​"Siap, Ayah," jawab Pratama.

​Bagaskara kemudian menoleh pada Rama yang sedari tadi diam, tenggelam dalam pikirannya, penuh pertanyaan tentang sosok pria tua itu. "Anak muda, anggap saja kejadian tadi sebagai pelajaran untukmu. Jangan menjadi sosok pemuda pembuat onar yang tak punya aturan. Jadilah pemuda yang baik dan berguna bagi sesama. Menolong jika memang mampu, jangan membuat kejahatan jika memiliki kemampuan."

​"Terima kasih atas nasihat Tuan," ujar Rama tulus. Satu hal yang bisa ia pastikan, ia telah bertemu dengan orang kota yang memiliki kedudukan besar. "Kalau begitu, saya izin pamit."

​"Tunggu sebentar, Nak Rama..." Anindia segera maju, tersenyum hangat. "Ini ada sedikit uang, hanya sekadar ungkapan terima kasih karena kamu telah membantu menemukan anak Tante. Mohon kamu terima, ya..." Ia menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.

​"Tidak usah, Tante. Saya..." Belum sempat Rama menyelesaikan ucapan penolakannya, Pratama memotong.

​"Terima saja, anak muda. Menolong dengan ikhlas itu memang baik, tetapi menolak rezeki adalah tindakan yang kurang tepat."

​Rama tidak punya pilihan lain selain menerima uang itu. Hari sudah gelap dan ia harus segera pulang. "Kalau begitu, terima kasih," katanya sambil membungkuk sopan.

​Rama berpamitan kembali pada mereka. Sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah Amelia. Gadis itu tampak tersenyum malu sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan lembut. Rama balas tersenyum, berbalik, dan melangkah menjauh.

​"Kakek, apakah kita akan kembali ke kota sekarang?" tanya Amelia setelah kepergian pemuda itu.

​"Kakek akan tetap di sini beberapa hari lagi. Kalian pulang saja terlebih dahulu. Ada beberapa urusan yang harus Kakek selesaikan di desa ini," jawab Bagaskara.

​Mereka sudah tiga hari berada di desa itu karena rupanya desa tersebut adalah asal muasal mendiang istri Bagaskara.

Terpopuler

Comments

VirgoRaurus 31Smile

VirgoRaurus 31Smile

genk abrag... emang gak ada nama Genk yg lebih sangar ya...?

2026-05-24

0

Artya Andheresta

Artya Andheresta

genk Anak Buangan Rada Gendeng😄😄

2026-05-25

0

Jack Strom

Jack Strom

Cie cie... Lirikan mata itu loh... 🤭🤭🤭🤭

2026-02-19

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2 Kemunculan dari sistem
3 Bab 3 misi pertama dari sistem
4 Bab 4 Awal masalah yang panjang
5 Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6 Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7 Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8 Bab 8 Tentang Poin tukar
9 Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10 Bab 10 memasak nasi goreng
11 Bab 11 Pasar senja
12 Bab 12 Pil kultivator
13 Bab 13 masih tentang pil kultivator
14 Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15 Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16 Bab 16 menjadi kultivator
17 Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18 Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19 Bab 19 jabrig kembali berulah
20 Bab 20 ketegangan di pasar
21 Bab 21 Membelikan bela pakain
22 Bab 22 Pulang
23 Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24 Bab 24 Prihal sistemnya
25 Bab 25 Sekolah sma bakti
26 Bab 26 Kegemparan sekolah
27 Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28 Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29 Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30 Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31 Bab 31 Kekhawatiran bela
32 Bab 32 Kasus di desa
33 Bab 33 Kedatangan Sherline
34 Bab 24 menahan kesal
35 Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36 Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37 Bab 37 Sedikit ketegangan
38 Bab 38 Codet turun tangan
39 Bab 39 masih berlanjut
40 Bab 40 Deni yang ketakutan
41 Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42 Bab 42 Awal masalah besar
43 Bab 43 Menginterogasi mereka
44 Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45 Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46 Bab 46 di mintai keterangan
47 Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48 Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49 Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50 Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51 Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52 Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53 Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54 Bab 54 layar yang menyesatkan
55 Bab 55 Hari pertama di kota
56 Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57 Bab 57 Durjaya central mall
58 Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59 Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60 Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61 Bab 61 Di hadang oleh kevin
62 Bab 62 Menampar kevin dua kali
63 Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64 Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65 Bab 65 Hari pertama di apartemen
66 Bab 66 Misi dari sistem
67 Bab 67 Bertemu putri kembali
68 Bab 68 Rama angkat bicara
69 Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70 Bab 70 Bayangan malam
71 Bab 71 Membantu polisi
72 Bab 72 Menuju sekolah barunya
73 Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74 Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75 Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76 Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77 Bab 77 Bertemu pak mahendra
78 Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79 Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80 Bab 80 Meminta bantuan rega
81 Bab 81 Mencari masalah
82 Bab 82 Pulang bersama
83 Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84 Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85 Bab 85 Keluarga lambudi
86 Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87 Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88 Bab 88 Terjadi kecelakaan
89 Bab 89 Menolong korban
90 Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91 Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92 Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93 Bab 93 Tamu tak di undang
94 Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95 Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96 Bab 96 Rama mengikuti permainan
97 Bab 97 Kembali ke apartemen
98 Bab 98 Menolong gadis keracunan
99 Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100 Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101 Bab 101 Hadiah sebauh vila
102 Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103 Bab 103 Di sambut oleh Tio
104 Bab 104 lantai 2 sekolah
105 Bab 105 lantai tiga sekolah
106 Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107 Bab 107 menuju pelelangan
108 Bab 108 Di pelelangan
109 Bab 109 lelang selesai
110 Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111 Bab 111 Penculikan terhadap putri
112 Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113 Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114 Bab 114 Rega mulai bertindak
115 Bab 115 Rama Vs Rega
116 Bab 116 Bisikan para murid
117 Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118 Bab 118 memasuki sebuah bar
119 Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120 Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121 Bab 121 Rama vs Bram
122 Bab 122 Keluar dari bar
123 Bab 123 kematian para tahanan
124 Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125 Bab 125 Menikmati masakan rama
126 Bab 126 Mengungkap kebenaran
127 Bab 127 Masih ada kesempatan
128 Bab 128 Harapan besar untuk putri
129 Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130 Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131 Bab 131 Masih di rumah sakit
132 Bab 132 Perhatian rama
133 Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134 Bab 134 Rega yang meminta maaf
135 Bab 135 Putri di culik lagi
136 Bab 136 Menyelamatkan putri
137 Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138 Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri
Episodes

Updated 138 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2 Kemunculan dari sistem
3
Bab 3 misi pertama dari sistem
4
Bab 4 Awal masalah yang panjang
5
Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6
Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7
Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8
Bab 8 Tentang Poin tukar
9
Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10
Bab 10 memasak nasi goreng
11
Bab 11 Pasar senja
12
Bab 12 Pil kultivator
13
Bab 13 masih tentang pil kultivator
14
Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15
Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16
Bab 16 menjadi kultivator
17
Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18
Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19
Bab 19 jabrig kembali berulah
20
Bab 20 ketegangan di pasar
21
Bab 21 Membelikan bela pakain
22
Bab 22 Pulang
23
Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24
Bab 24 Prihal sistemnya
25
Bab 25 Sekolah sma bakti
26
Bab 26 Kegemparan sekolah
27
Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28
Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29
Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30
Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31
Bab 31 Kekhawatiran bela
32
Bab 32 Kasus di desa
33
Bab 33 Kedatangan Sherline
34
Bab 24 menahan kesal
35
Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36
Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37
Bab 37 Sedikit ketegangan
38
Bab 38 Codet turun tangan
39
Bab 39 masih berlanjut
40
Bab 40 Deni yang ketakutan
41
Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42
Bab 42 Awal masalah besar
43
Bab 43 Menginterogasi mereka
44
Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45
Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46
Bab 46 di mintai keterangan
47
Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48
Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49
Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50
Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51
Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52
Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53
Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54
Bab 54 layar yang menyesatkan
55
Bab 55 Hari pertama di kota
56
Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57
Bab 57 Durjaya central mall
58
Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59
Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60
Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61
Bab 61 Di hadang oleh kevin
62
Bab 62 Menampar kevin dua kali
63
Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64
Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65
Bab 65 Hari pertama di apartemen
66
Bab 66 Misi dari sistem
67
Bab 67 Bertemu putri kembali
68
Bab 68 Rama angkat bicara
69
Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70
Bab 70 Bayangan malam
71
Bab 71 Membantu polisi
72
Bab 72 Menuju sekolah barunya
73
Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74
Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75
Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76
Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77
Bab 77 Bertemu pak mahendra
78
Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79
Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80
Bab 80 Meminta bantuan rega
81
Bab 81 Mencari masalah
82
Bab 82 Pulang bersama
83
Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84
Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85
Bab 85 Keluarga lambudi
86
Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87
Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88
Bab 88 Terjadi kecelakaan
89
Bab 89 Menolong korban
90
Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91
Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92
Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93
Bab 93 Tamu tak di undang
94
Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95
Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96
Bab 96 Rama mengikuti permainan
97
Bab 97 Kembali ke apartemen
98
Bab 98 Menolong gadis keracunan
99
Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100
Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101
Bab 101 Hadiah sebauh vila
102
Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103
Bab 103 Di sambut oleh Tio
104
Bab 104 lantai 2 sekolah
105
Bab 105 lantai tiga sekolah
106
Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107
Bab 107 menuju pelelangan
108
Bab 108 Di pelelangan
109
Bab 109 lelang selesai
110
Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111
Bab 111 Penculikan terhadap putri
112
Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113
Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114
Bab 114 Rega mulai bertindak
115
Bab 115 Rama Vs Rega
116
Bab 116 Bisikan para murid
117
Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118
Bab 118 memasuki sebuah bar
119
Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120
Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121
Bab 121 Rama vs Bram
122
Bab 122 Keluar dari bar
123
Bab 123 kematian para tahanan
124
Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125
Bab 125 Menikmati masakan rama
126
Bab 126 Mengungkap kebenaran
127
Bab 127 Masih ada kesempatan
128
Bab 128 Harapan besar untuk putri
129
Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130
Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131
Bab 131 Masih di rumah sakit
132
Bab 132 Perhatian rama
133
Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134
Bab 134 Rega yang meminta maaf
135
Bab 135 Putri di culik lagi
136
Bab 136 Menyelamatkan putri
137
Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138
Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!