Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Bab 1

Brak!

​Brak! Brak! Kali ini, bukan ketukan. Itu adalah dentuman palu godam ke daun pintu yang reyot. Getarannya terasa hingga ke lantai papan, menembus kelelahan Rama.

​"Rama, keluar kamu! Sudah waktunya bayar utang!" Suara Kohar bukan berteriak, melainkan mengguruh, dingin dan mengandung ancaman yang fatal.

​"Siapa si, ganggu orang lagi istirahat aja," gerutunya, namun langkah kakinya terasa berat, menahan beban yang lebih besar dari utang. Aroma tembakau lintingan murahan dan keringat basi yang selalu menguar dari Kohar sudah tercium samar-samar. Beberapa langkah saja dari tempat tidurnya, ia sudah di depan pintu.

​Cklek. Ia menarik kunci grendel. "Lho, Bang Kohar? Ada—ap"?

​"Ada apa, ada apa?!" potong Kohar. Wajahnya yang penuh bekas luka berjarak hanya sejengkal dari wajah Rama. Mata rentenir itu bukan marah, tapi puas. "Jangan pura-pura lupa, Rama. Ini sudah waktunya bayar utang! Sepuluh juta beserta bunganya!"

​Rama mundur selangkah, napasnya tertahan.

"Tapi, Bang... Orang tua saya cuma berutang lima juta. Kenapa tiba-tiba jadi sepuluh juta?"

​Kohar menyeringai, menampilkan gigi kuningnya. "Itu biaya ketidakmampuan orang tuamu. Mau banyak omong? Bayar sekarang juga, atau gubuk cantikmu ini akan saya jadikan kayu bakar!" Suara Kohar yang keras membuat beberapa tetangga mulai berdatangan.

​"Tapi Bang, saya belum punya uang," ucap Rama, suaranya tercekat.

​"Saya enggak mau tahu! Bayar sekarang juga atau kamu terima sendiri akibatnya!"

​Rama menelan ludah. Ia tahu Kohar kejam. Anak buahnya banyak. Ia melihat tetangga. Beberapa menunjukkan rasa iba, tetapi banyak yang hanya berdiri, menikmati tontonan kehancuran.

​"Tolong Bang, kasih saya waktu... Saya benar-benar enggak punya uang sekarang."

​Kohar mendorong Rama mundur dengan jari telunjuknya yang kasar. "Asal kamu tahu, Ram. Saya sudah kasih orang tuamu waktu tiga bulan. Sekarang, saya enggak mau tahu! Bayar sekarang, atau kamu serahkan sertifikat tanah sawah peninggalan orang tuamu yang saat ini dititipkan pada pamanmu."

​Rama terkejut, seperti dihantam palu. Sawah? Ia tak pernah tahu tentang sawah itu. "Ma-maaf Bang," ia menunduk, otaknya kalut.

​"Jadi mau bayar atau tidak? Atau panggil pamanmu kemari dan bawa surat kepemilikan sawah itu untuk melunasi utang orang tuamu!"

​"Ja-jangan Bang, saya janji akan segera melunasinya... Tolong berikan saya sedikit waktu!"

​"Sudahlah, Baron, panggil si Mamat itu kemari. Suruh dia bawa surat tanah peninggalan si Gufron dan Masitoh. Kalau dia tidak mau, hajar saja dia sampai menurut!"

​"Baik, Tuan."

​"Saya mohon Bang Kohar, beri saya sedikit waktu saja," Rama jatuh berlutut, memohon sambil memegang kaki Kohar.

​Bruk!

​"Diam kamu!" Kohar menendang Rama sampai terjungkal. Namun Rama tidak menyerah, terus memohon agar warisan orang tuanya tidak diambil.

​Tap. Tap. Tap.

​Baron kembali bersama seorang pria paruh baya yang berjalan membungkuk dan berkeringat dingin: Mamat, adik dari mendiang ayah Rama.

​"Bos, saya sudah membawa Mamat," lapor Baron.

​Mamat mendekati Kohar, matanya menghindari pandangan Rama.

​"Paman," suara Rama tercekat, lebih sakit dari tendangan yang ia terima. "Kenapa Paman tidak pernah bilang kalau Ayah dan Ibu sebenarnya punya sawah yang dititipkan pada Paman?"

​Mamat mengangkat dagu, sorot matanya yang selama ini tampak iba kini berubah dingin dan penuh perhitungan. "Diam kamu! Memangnya kamu mengerti soal mengurus sawah? Apalagi sawah itu warisan Kakekmu. Aku yang lebih berhak sebagai anaknya, daripada seorang cucu tak berguna sepertimu."

​Tawa Kohar meledak, memecah ketegangan. "Hahaha! Mamat, Mamat. Kau licik juga, ya. Tapi kalian tidak usah khawatir. Mulai sekarang, kalian tidak akan memperebutkan sawah itu lagi. Karena sawah itu akan jadi milikku."

​"Tuan Kohar, sawah itu milik saya karena Kak Gufron sendiri yang sudah memberikannya pada saya. Jadi sawah itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Rama," elak Mamat.

​"Paman, apa yang Paman katakan!" jerit Rama, tak menyangka pamannya sekejam ini.

​"Diam kalian! Saya sudah bilang, sawah itu milik saya sekarang. Jika kalian tidak menurut, saya tidak akan segan memukuli kalian sampai masuk rumah sakit!" Kohar memberi isyarat kepada anak buahnya.

​Mamat langsung mundur beberapa langkah. Rama masih meringkuk, memegangi perutnya yang sakit.

​"Sekarang... Bawa kemari suratnya," Kohar menatap tajam ke arah Mamat.

​"Jangan Paman, sawah itu milik Ayah dan Ibu saya... Tolong jangan berikan pada Bang Kohar!"

​Mamat mengabaikan permohonan keponakannya. Ia menyerahkan surat tanah itu pada Kohar seolah sedang membuang sampah.

​"Bang Kohar, saya mohon jangan ambil sawah orang tua saya, tolong berikan saja saya waktu satu bulan! Saya berjanji akan melunasinya!" Mohon Rama, tidak menyerah.

​Kohar melirik Baron. Tanpa kata-kata, Baron maju.

​BUK! Pukulan telak di rahang. Rama mencicipi rasa logam darahnya sendiri.

BRUK! Tendangan di rusuk. Napas Rama tercekik. Ia meringkuk, berusaha melindungi perutnya yang kosong.

​Rama menjerit kesakitan, hidungnya mengeluarkan darah. Ia melihat Mamat yang berdiri di sebelah Kohar, menatap penganiayaan keponakannya tanpa sedikit pun emosi iba.

​"Sekarang... Kamu sebaiknya tanda tangani surat ini. Kesabaranku sangat terbatas," ucap Kohar, menyodorkan pena ke arah Rama yang meringkuk kesakitan.

​"Ti-tidak... Sampai kapanpun saya tidak akan mendatangani," desis Rama.

​"Pukuli dia sampai mau mendatangani!" geram Kohar.

​Buk! Bugh! Akhh! Rama menjerit kesakitan. Orang-orang di sekitar hanya menahan napas. Mereka tahu, tidak ada yang bisa melawan Kohar di desa itu.

:Kehilangan Segalanya

​Rama hampir tidak bisa menahannya lagi. Tepat pada saat itu, suara teriakan seseorang membuatnya berusaha membuka mata.

​"Ramaaa!"

​Suhardi, teman dekat Ayah Rama, langsung menghampiri dan memeluk tubuh pemuda itu. Ia menatap Kohar dengan sorot mata marah.

​"Mamat! Dasar manusia biadab! Keponakan sendiri dipukuli, kamu hanya melihat saja? Apa kamu lupa waktu anakmu di penjara, Gufron-lah yang membebaskannya?!" teriak Suhardi.

​Mamat terdiam sejenak, lalu berkata pada Kohar, "Tuan... Kalau begitu saya mohon pamit."

​Plak! Plak! Plak!

​Tiga kali tamparan keras mendarat di pipi Mamat. Mamat terhuyung, memegang pipinya yang bengkak, tetapi mulutnya seolah terkunci, tak berani membantah.

​"Hahaha! Kamu boleh pergi sekarang," ucap Kohar puas.

​"Te-terima kasih bang," Mamat langsung lari terbirit-birit.

​"Kohar, bajingan! Kenapa kamu memukuli Rama?!" Suhardi menahan amarah.

​"Uhuk..." Rama terbatuk, darah mengalir dari hidung dan mulutnya.

​"Rama, kamu tahan ya. Sekarang kita ke rumah Bapak untuk mengobati lukamu," Suhardi membantu Rama berdiri.

​Rama menoleh kembali pada Kohar dan berkata dengan suara yang lemah, tetapi penuh kepastian. "Sampai matipun... Saya tidak akan mendatangani surat tanah hasil jerih payah orang tua saya!"

​Kohar menggeretakkan giginya. "Kamu masih tak ingin menyerah, ya?" Ia kemudian memerintahkan anak buahnya.

​"Bakar gubuk tua itu!"

​"Kohar, dasar bajingan!" Rama berusaha bangkit, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Pak Suhardi segera menahannya.

​"Sudahlah Nak, kamu bisa tinggal di rumah Bapak. Yang terpenting kita obati lukamu dulu."

​JAUH DI BELAKANG GUBUK, TERDENGAR SUARA KRETEK. BAU ASAP MULAI TERCIUM DI UDARA..

​"Siapa bilang kalian boleh pergi dari sini?" teriak Kohar, suaranya dingin.

​"Kohar, apalagi yang kamu inginkan? Apakah kamu belum cukup membuat Rama menderita?" umpat Suhardi.

​Kohar melemparkan sebuah surat pemindahan nama kepemilikan tanah. "Tanda tangani dan kalian boleh pergi," ucapnya datar.

​Suhardi menggeretakkan giginya. "Kohar, kamu jangan keterlaluan! Memangnya berapa utang Gufron padamu? Biar aku yang melunasinya!"

​"Pak..." lirih Rama, menggelengkan kepalanya pada Suhardi.

​Kohar tersenyum samar. "Jangan ikut campur, Suhardi. Kamu sudah terlalu jauh."

​Baron dan dua orang lainnya langsung mendekati Pak Suhardi.

​"Tu-tunggu! Ba-baik. Saya akan tanda tangani suratnya," Rama mengambil keputusan cepat. Ia tidak ingin Pak Suhardi celaka.

"​Ayah... Ibu. Ma-maafkan aku."

​Rama membubuhkan tanda tangan. Di saat yang sama, ia bisa mendengar atap gubuknya runtuh dimakan api.

​"Bagus. Kamu mulai cukup pintar," ucap Kohar dengan wajah puas. Ia mengambil surat itu. "Andai saja kamu menurut dari awal, Rama. Setidaknya kamu masih punya tempat untuk mati."

​Kohar, Baron, dan anak buahnya pergi, meninggalkan Rama dan Pak Suhardi yang berdiri di depan puing-puing gubuk yang terbakar. Rama tidak hanya kehilangan gubuk, ia kehilangan segala-galanya dan hatinya dipenuhi amarah yang kini tak memiliki tujuan.

Terpopuler

Comments

Aegis

Aegis

baru juga buka, langsung didatengin depkolektor bjir lah

2026-06-26

0

Aegis

Aegis

masih terganggu ama mendatangi si ani ini

2026-06-26

0

Aegis

Aegis

gak ada hukum, gak balai masarakat

2026-06-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2 Kemunculan dari sistem
3 Bab 3 misi pertama dari sistem
4 Bab 4 Awal masalah yang panjang
5 Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6 Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7 Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8 Bab 8 Tentang Poin tukar
9 Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10 Bab 10 memasak nasi goreng
11 Bab 11 Pasar senja
12 Bab 12 Pil kultivator
13 Bab 13 masih tentang pil kultivator
14 Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15 Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16 Bab 16 menjadi kultivator
17 Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18 Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19 Bab 19 jabrig kembali berulah
20 Bab 20 ketegangan di pasar
21 Bab 21 Membelikan bela pakain
22 Bab 22 Pulang
23 Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24 Bab 24 Prihal sistemnya
25 Bab 25 Sekolah sma bakti
26 Bab 26 Kegemparan sekolah
27 Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28 Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29 Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30 Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31 Bab 31 Kekhawatiran bela
32 Bab 32 Kasus di desa
33 Bab 33 Kedatangan Sherline
34 Bab 24 menahan kesal
35 Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36 Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37 Bab 37 Sedikit ketegangan
38 Bab 38 Codet turun tangan
39 Bab 39 masih berlanjut
40 Bab 40 Deni yang ketakutan
41 Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42 Bab 42 Awal masalah besar
43 Bab 43 Menginterogasi mereka
44 Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45 Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46 Bab 46 di mintai keterangan
47 Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48 Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49 Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50 Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51 Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52 Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53 Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54 Bab 54 layar yang menyesatkan
55 Bab 55 Hari pertama di kota
56 Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57 Bab 57 Durjaya central mall
58 Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59 Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60 Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61 Bab 61 Di hadang oleh kevin
62 Bab 62 Menampar kevin dua kali
63 Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64 Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65 Bab 65 Hari pertama di apartemen
66 Bab 66 Misi dari sistem
67 Bab 67 Bertemu putri kembali
68 Bab 68 Rama angkat bicara
69 Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70 Bab 70 Bayangan malam
71 Bab 71 Membantu polisi
72 Bab 72 Menuju sekolah barunya
73 Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74 Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75 Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76 Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77 Bab 77 Bertemu pak mahendra
78 Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79 Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80 Bab 80 Meminta bantuan rega
81 Bab 81 Mencari masalah
82 Bab 82 Pulang bersama
83 Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84 Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85 Bab 85 Keluarga lambudi
86 Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87 Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88 Bab 88 Terjadi kecelakaan
89 Bab 89 Menolong korban
90 Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91 Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92 Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93 Bab 93 Tamu tak di undang
94 Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95 Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96 Bab 96 Rama mengikuti permainan
97 Bab 97 Kembali ke apartemen
98 Bab 98 Menolong gadis keracunan
99 Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100 Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101 Bab 101 Hadiah sebauh vila
102 Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103 Bab 103 Di sambut oleh Tio
104 Bab 104 lantai 2 sekolah
105 Bab 105 lantai tiga sekolah
106 Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107 Bab 107 menuju pelelangan
108 Bab 108 Di pelelangan
109 Bab 109 lelang selesai
110 Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111 Bab 111 Penculikan terhadap putri
112 Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113 Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114 Bab 114 Rega mulai bertindak
115 Bab 115 Rama Vs Rega
116 Bab 116 Bisikan para murid
117 Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118 Bab 118 memasuki sebuah bar
119 Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120 Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121 Bab 121 Rama vs Bram
122 Bab 122 Keluar dari bar
123 Bab 123 kematian para tahanan
124 Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125 Bab 125 Menikmati masakan rama
126 Bab 126 Mengungkap kebenaran
127 Bab 127 Masih ada kesempatan
128 Bab 128 Harapan besar untuk putri
129 Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130 Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131 Bab 131 Masih di rumah sakit
132 Bab 132 Perhatian rama
133 Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134 Bab 134 Rega yang meminta maaf
135 Bab 135 Putri di culik lagi
136 Bab 136 Menyelamatkan putri
137 Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138 Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri
Episodes

Updated 138 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2 Kemunculan dari sistem
3
Bab 3 misi pertama dari sistem
4
Bab 4 Awal masalah yang panjang
5
Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6
Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7
Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8
Bab 8 Tentang Poin tukar
9
Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10
Bab 10 memasak nasi goreng
11
Bab 11 Pasar senja
12
Bab 12 Pil kultivator
13
Bab 13 masih tentang pil kultivator
14
Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15
Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16
Bab 16 menjadi kultivator
17
Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18
Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19
Bab 19 jabrig kembali berulah
20
Bab 20 ketegangan di pasar
21
Bab 21 Membelikan bela pakain
22
Bab 22 Pulang
23
Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24
Bab 24 Prihal sistemnya
25
Bab 25 Sekolah sma bakti
26
Bab 26 Kegemparan sekolah
27
Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28
Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29
Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30
Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31
Bab 31 Kekhawatiran bela
32
Bab 32 Kasus di desa
33
Bab 33 Kedatangan Sherline
34
Bab 24 menahan kesal
35
Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36
Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37
Bab 37 Sedikit ketegangan
38
Bab 38 Codet turun tangan
39
Bab 39 masih berlanjut
40
Bab 40 Deni yang ketakutan
41
Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42
Bab 42 Awal masalah besar
43
Bab 43 Menginterogasi mereka
44
Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45
Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46
Bab 46 di mintai keterangan
47
Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48
Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49
Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50
Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51
Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52
Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53
Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54
Bab 54 layar yang menyesatkan
55
Bab 55 Hari pertama di kota
56
Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57
Bab 57 Durjaya central mall
58
Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59
Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60
Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61
Bab 61 Di hadang oleh kevin
62
Bab 62 Menampar kevin dua kali
63
Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64
Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65
Bab 65 Hari pertama di apartemen
66
Bab 66 Misi dari sistem
67
Bab 67 Bertemu putri kembali
68
Bab 68 Rama angkat bicara
69
Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70
Bab 70 Bayangan malam
71
Bab 71 Membantu polisi
72
Bab 72 Menuju sekolah barunya
73
Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74
Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75
Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76
Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77
Bab 77 Bertemu pak mahendra
78
Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79
Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80
Bab 80 Meminta bantuan rega
81
Bab 81 Mencari masalah
82
Bab 82 Pulang bersama
83
Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84
Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85
Bab 85 Keluarga lambudi
86
Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87
Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88
Bab 88 Terjadi kecelakaan
89
Bab 89 Menolong korban
90
Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91
Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92
Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93
Bab 93 Tamu tak di undang
94
Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95
Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96
Bab 96 Rama mengikuti permainan
97
Bab 97 Kembali ke apartemen
98
Bab 98 Menolong gadis keracunan
99
Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100
Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101
Bab 101 Hadiah sebauh vila
102
Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103
Bab 103 Di sambut oleh Tio
104
Bab 104 lantai 2 sekolah
105
Bab 105 lantai tiga sekolah
106
Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107
Bab 107 menuju pelelangan
108
Bab 108 Di pelelangan
109
Bab 109 lelang selesai
110
Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111
Bab 111 Penculikan terhadap putri
112
Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113
Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114
Bab 114 Rega mulai bertindak
115
Bab 115 Rama Vs Rega
116
Bab 116 Bisikan para murid
117
Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118
Bab 118 memasuki sebuah bar
119
Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120
Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121
Bab 121 Rama vs Bram
122
Bab 122 Keluar dari bar
123
Bab 123 kematian para tahanan
124
Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125
Bab 125 Menikmati masakan rama
126
Bab 126 Mengungkap kebenaran
127
Bab 127 Masih ada kesempatan
128
Bab 128 Harapan besar untuk putri
129
Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130
Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131
Bab 131 Masih di rumah sakit
132
Bab 132 Perhatian rama
133
Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134
Bab 134 Rega yang meminta maaf
135
Bab 135 Putri di culik lagi
136
Bab 136 Menyelamatkan putri
137
Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138
Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!