Bab 4 Awal masalah yang panjang

Brak!

​"Woy! Kalau mau berdiri, jangan di tengah jalan!" Suara bentakan itu memecah ketenangan sore di taman.

​Kepala Rama yang baru saja tiba bersama Adi langsung menoleh cepat ke arah sumber suara.

​"Bukannya itu Agus, anaknya Paman?" Rama bergumam, matanya menyipit sambil mengenali sosok pemuda urakan itu.

​"Ma-maaf, bukannya kakak yang menabrakku dari belakang?" Gadis itu menjawab, nadanya sedikit bergetar.

​Agus terpaku. Ia baru menyadari orang yang ia tabrak ternyata seorang gadis cantik. Sebelumnya, ia terlalu asyik menatap layar ponsel sambil berjalan, sehingga ia menabrak gadis itu dari belakang. Namun, sifatnya yang sudah mendarah daging, yang selalu merasa benar, membuatnya langsung menyalahkan korban tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.

​"Cantik juga nih cewek. Kelihatannya juga masih polos," pikir Agus, seulas senyum meremehkan terukir di bibirnya.

​"Hmm... Karena lu cantik, gue maafin. Tapi dengan satu syarat," ucap Agus, matanya menelusuri gadis itu dari atas sampai bawah dengan tatapan lancang.

​"Ma-maksud kakak apa? Bukannya kakak yang menabrakku dari belakang?" Amelia—nama gadis itu—menarik napas kaget. Ia sedang berjalan pelan, kepalanya menengok ke sana kemari mencari adiknya yang hilang, lalu tiba-tiba ditabrak dan kini dimintai syarat.

​"Jangan banyak tanya! Sekarang lu ikut gue untuk mempertanggungjawabkan kesalahan lu karena telah menghalangi jalan gue!" Agus melangkah maju, tangannya langsung menyambar pergelangan tangan Amel.

​Amelia buru-buru mundur, menarik tangannya menjauh. "Ap-apa yang mau kamu lakukan?" Amel diliputi ketakutan. Ia datang dari kota, sibuk mencari adiknya, sementara ayah dan ibunya juga tengah mencarinya.

​"Kak, tolongin Kak Amel! Adi takut, orang itu pasti mau jahatin Kak Amel!" Adi, bocah kecil itu, menarik-narik ujung kaus Rama, matanya melebar cemas.

​"Adi kenal sama kakak cewek itu?" tanya Rama.

​"Iya, Kak, itu Kak Amel, kakaknya Adi! Pasti Kak Amel lagi nyariin Adi. Ayo Kak, kita ke sana, bantuin Kak Amel dari orang jahat itu!"

​Sementara itu, Agus telah berhasil menggenggam erat lengan Amelia.

Cengkeramannya terasa menyakitkan. "Aw... Sakit, Kak! Lepasin tangan aku!" Amelia melirik ke kiri dan ke kanan, berharap ada orang yang mau menolong. Matanya sudah berkaca-kaca, dipenuhi air mata yang mendesak keluar.

​Tepat pada saat itu—

​"Kak Amel!"

​Mendengar suara yang ia kenal, Amelia langsung menoleh dan berseru lega, "Adi!"

​Agus, yang tadinya memegangi lengan Amelia dengan paksa, seketika mengendurkan cengkeramannya. Ia melihat anak kecil itu bersama seorang pemuda yang ia kenal sedang berjalan ke arahnya.

​Amel segera berlari menghampiri adiknya setelah cengkeraman Agus terlepas. "Adi! Kamu dari mana, Dek? Kakak, Ayah, sama Ibu nyariin kamu!" Ia langsung memeluk Adi, merasa sangat lega hingga melupakan sesaat apa yang baru saja ia alami.

​"Oh, gue kira siapa... Ternyata si anak yatim piatu yang datang," ucap Agus, suaranya sengaja dibuat lantang dan jelas mengarah pada Rama.

​Emosi di dalam diri Rama langsung meledak. Sudah bertahun-tahun Agus memperlakukannya dengan buruk, selalu memanggilnya anak yatim piatu setiap bertemu. Sejak kecil, mainannya diambil oleh Agus tanpa bisa ia minta kembali. Saat dewasa, ia sering dirundung di sekolah. Setelah kedua orang tuanya meninggal, alih-alih berbelas kasih, Agus justru semakin sering menghinanya, mengatainya anak pembawa sial, dan lain-lain.

​Namun, tepat ketika Rama hendak membuka mulut untuk membalas perkataan Agus, suara dingin dan mekanis dari sistem di kepalanya terdengar.

​DING! MISI UNTUK TUAN RUMAH: Tahan emosi selama 10 menit. Hadiah Keberhasilan: Uang Sebesar 5,000,000. rupiah Dan Pil Penguat Tubuh Tingkat Tinggi.

​Rama terdiam, seluruh urat tegang di tubuhnya mendadak mengendur. "Benarkah itu Sistem? Apakah uangnya bisa diambil?" tanyanya dalam benak, nada suaranya tercekat karena tak percaya.

[​DING! Tentu saja bisa, Tuan. Uang akan secara otomatis masuk ke dalam akun bank Anda, tetapi juga bisa langsung masuk ke dalam saku celana Anda. Tergantung Tuan ingin meminta Sistem menaruh uang itu di mana."]

​Rama menarik napas panjang, menekan gejolak kegembiraan dan amarah yang saling berebut di dadanya.

​"Dasar anak yatim, lu enggak dengar gue ngomong, hah?" bentak Agus, frustrasi karena diabaikan. Biasanya, pemuda itu akan langsung marah, dan saat itulah Agus bisa melampiaskan kemarahannya.

​Rama tetap diam, menatap Agus tanpa ekspresi, seolah menatap dinding kosong. Ia harus menahan emosinya. Lima juta Rupiah tidak sepele.

​"Kak Rama?" Adi, dengan bola mata kecilnya yang polos, menatap Rama, seolah bertanya, Kenapa Kak Rama diam saja?

​Sementara itu, Amel merasa aneh dengan pemuda urakan itu. "Apakah orang ini gila? Tadi marah-marah karena menabrakku, sekarang marah-marah pada orang baru?" pikirnya, melirik sekilas pada Agus.

​Seolah tak mempedulikan keberadaan Agus di sana, Rama memalingkan pandangannya ke arah Amelia. "Kamu kakaknya Adi, kan?"

​"Eh,I-iya, Kak!" jawab Amelia gugup. Entah kenapa, tatapan pemuda itu membuat jantungnya berdetak kencang secara tidak terduga.

​Rama mengangguk pelan. "Aku Rama. Tadi aku menemukan Adi di pinggir jalan sana. Dia bilang sebelumnya mengejar layangan putus dan sepertinya dia baru sadar telah pergi jauh hingga tak tahu jalan kembali."

​"Nama aku Amel, Kak. Te-terima kasih karena sudah nolongin Adi."

​"Iya, sama-sama. Lain kali, jagain adik kamu ini dengan lebih baik. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali."

​"Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih."

​KEMARAHAN MELEDAK

​Tiba-tiba—

​"Awas, Kak!" teriak Amel seketika

​Buagh!

​Sebuah pukulan keras Agus mendarat tepat di bagian wajah Rama. Rama terhuyung, sempoyongan mundur beberapa langkah.

​"Berengsek! Lu pikir gue apa, hah?! Patung? Dari tadi gue ngomong sama lu!" Agus meraung. Ia sudah tidak tahan diacuhkan, apalagi Rama malah dengan santai berbicara dengan gadis cantik itu. Emosi Agus langsung meluap-luap.

​"Ka-Kak Rama, kamu tidak apa-apa?" Amel tidak menyangka pemuda urakan itu akan menyerang Rama.

​"Tidak apa-apa," jawab Rama, mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.

​"Maju lu sini, bangsat! Beraninya lu ngacangin gue! Apa karena ada cewek cantik nyali lu langsung ciut, hah?" raung Agus, otot-otot lehernya terlihat menegang.

[​DING! SELAMAT! Tuan telah berhasil menyelesaikan misi dari Sistem. Menahan emosi Selama 10 Menit, Tuan mendapatkan uang sebesar 5.000.000 rupiah dan pil penguat tubuh tingkat tinggi Apakah Tuan akan mengambil hadiahnya sekarang?"]

​Detik itu juga, seluruh amarah yang ditahan Rama lenyap, digantikan oleh ketenangan dingin dan rasa puas. Rama menatap Agus lurus setelah mendengar notifikasi keberhasilan dari Sistem.

​"Jujur saja, gue males sekali ngeladenin lu, Gus. Apalagi ini adalah tempat umum... Tidakkah kamu merasa malu karena bertingkah layaknya preman di sini?" Suara Rama rendah, menusuk, tidak seperti Rama yang biasa Agus kenal.

​"Oh, gue lupa. Lu kan sama saja dengan bapak lu yang enggak ada rasa malu sedikit pun. Dari dulu, keluarga gue selalu memperlakukan keluarga lu layaknya keluarga pada umumnya... Tapi, apa balasan keluarga lu? Entah itu lu, ibu lu, bahkan bapak lu sekalipun... Kalian semua sama-sama seperti kacang lupa kulit!"

​"Gue udah cukup sabar ya, Gus, tapi bukan berarti gue enggak bisa ngebalas apa yang lu lakuin ke gue. Selama ini gue hargain lu karena bagaimanapun juga lu adalah saudara gue, tetapi sepertinya hubungan persaudaraan kita ini memang tidak layak untuk dipertahankan. Jadi, mulai sekarang gue anggap lu bukan lagi saudara gue atau bahkan bagian dari keluarga gue, dan apa yang lu lakuin ke gue... Jangan harap gue akan tetap diam."

​Tatapan Rama berubah tajam, sedingin baja, seakan bisa menusuk dan membunuh Agus saat itu juga.

​Agus seketika terdiam, seperti dicekik mendengar rangkaian ucapan yang dilontarkan oleh Rama. Matanya sedikit menyipit. Ini adalah kali pertama ia mendengar Rama berani berbicara seperti itu padanya.

​"Hahaha, bagus-bagus... Sepertinya anak culun yang selama ini diam ketika aku hina, sekarang mulai sedikit ada nyali," Agus memaksakan tawa sumbang. Ia kemudian menatap balik Rama dengan tajam. Agus adalah pemuda yang suka berkelahi. Baginya, tiada hari tanpa perkelahian.

​"Kak Rama!" lirih Amelia, menggelengkan kepalanya agar pemuda itu menahan emosinya.

​Rama menoleh sekilas pada gadis itu lalu beralih kembali pada Agus. "Pergilah. Jangan mempermalukan dirimu sendiri." Ucapannya datar, penuh otoritas.

​Justru, Agus langsung mengepalkan kembali tangannya. "Brengsek! Berkelahi! Kemarilah, Rama. Kalau kamu memang ada nyali, lawan aku sekarang juga!"

​Rama tetap diam, tidak bergeming satu inci pun, membuat Agus semakin naik pitam. Ia hendak menerjang Rama kembali, namun sebelum ia melakukannya—

​Tiba-tiba saja, seseorang berteriak.

​"Hentikan!"

​Seorang pria tua dengan sepasang suami istri berjalan cepat ke arah mereka.

​Amelia dan Adi langsung berseru bersamaan, wajah mereka berubah lega: "Kakek!" "Ayah, Ibu!"

​Melihat kakek dan kedua orang tuanya datang, Amelia dan Adi langsung memanggil mereka. Amel memang telah menghubungi orang tuanya lewat pesan singkat setelah bertemu dengan Adi.

​"Adi, dari mana saja, Nak? Ibu sama Ayah mencarimu!" Wanita paruh baya itu langsung memeluk Adi, matanya berkaca-kaca karena kekhawatiran yang baru saja reda.

​"Bocah nakal, kamu hampir membuat Ayah kehilangan telinga karena ulah Ibumu," ucap Pratama, menghela napas lega setelah melihat anak bungsunya itu baik-baik saja. Telinganya sudah sangat merah akibat dijewer oleh istrinya.

​"Maafin Ayah ya. Ayah tadi kebelet, jadi terpaksa harus ninggalin Adi sama Ibu," ucap Pratama sambil mengelus kepala anaknya itu.

[DING : Selamat Tuan Telah Menyelesaikan Misi Dari Sistem, Membantu Anak Kecil Yang Tersesat. Mendapatkan hadiah berupa keahlian memasak raja chef dan 100 poin Penukaran Apakah Tuan Akan Mengambilnya Sekarang?

Rama diam sesaat mendengar notif di kepalanya, ia hampir melupakan misi tentang anak kecil itu,

​Anindia melepaskan pelukan dari anaknya sambil berkata, "Maafin Ibu juga ya. Tadi Ibu harus mengangkat telepon, jadi tidak menjaga Adi dengan baik." (Amel yang sibuk memotret pemandangan di taman, itulah mengapa Adi bisa lepas dari pengawasan.)

​Bagaskara, pria tua dengan pembawaan berwibawa, mengalihkan pandangannya ke arah Rama dan Agus.

​"Lalu, kalian berdua ini siapa? Aku melihat kalian berdua ingin berkelahi di depan cucu-cucuku. Apa kalian berdua ini anak muda yang tidak memiliki aturan?" Nada bicara pria tua itu tegas dan berbobot.

​"Mmz, Kakek... Ini namanya Kak Rama. Dialah yang telah membawa Adi ke sini. Sebelumnya Adi tersesat karena mengejar layangan putus," jelas Amelia.

​"Tuan, saya Rama. Saya minta maaf jika tadi sempat ada sedikit keributan di sini," ucap Rama.

​Bagaskara menatapnya beberapa saat lalu beralih pada Agus.

​"Nama saya Agus. Mengenai keributan tadi, sebetulnya disebabkan olehnya," ucapnya menunjuk ke arah Rama.

​"Apa yang kamu bicarakan? Jelas-jelas kamulah yang mencari masalah sebelumnya!" Amelia langsung angkat bicara, merasa muak dengan sifat tidak tahu malu pemuda urakan itu.

​"Ah, itu, Nona... Sepertinya Anda telah salah paham. Se-sebenarnya kejadian tadi hanyalah masalah sepele dan saya bercanda." Nada bicara Agus tiba-tiba berubah, menjadi lebih halus dan menjilat. Ia bukan orang bodoh. Jelas gadis ini bukan dari keluarga sembarangan. Apalagi tatapan Bagaskara membuatnya merinding.

​Rama dan Amelia saling mengerutkan kening mendengar ucapan Agus.

​Tepat saat Amelia hendak membuka suara kembali, Adi—sambil memegangi ujung pakaian ibunya—berkata, "Ayah, Ibu, Adi takut! Orang itu... dia-dia tadi mau nyakitin Kak Amel dan pukul Kak Rama!"

​Wajah polos namun tampak jelas nada ketakutan dari bocah itu membuat pandangan Kakek Bagaskara dan Pratama, serta istrinya, langsung mengarah tajam pada Agus.

​"Oh?" Bagaskara menoleh pada cucunya.

"Amel, coba kamu jelaskan."

​Amel pun langsung menceritakan semuanya, dari awal ia ditabrak hingga kedatangan Rama dan perkelahian barusan.

​Mendengar penjelasan dari Amel, Bagaskara dan Pratama langsung menatap Agus dengan tatapan membunuh. Sebagai seorang ayah, Pratama tentu saja emosinya langsung tersulut, apalagi mendengar Amelia dipaksa bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak ia lakukan.

​Bruk!

​Lutut Agus langsung menghantam tanah berbatu. "Tu-Tuan... Sa-salah paham. Itu hanyalah sebuah kesalahpahaman, sa-saya benar-benar hanya bercanda saja!"

​"Salah paham katamu?!" bentak Pratama. Ia langsung mendekati Agus, dan detik berikutnya, suara tamparan keras terdengar nyaring.

​Plak!

​"Berani menyentuh putriku dan menakutinya, kamu cukup berani juga, bocah!" bentaknya.

​Agus hanya memegangi wajahnya yang terasa panas, seolah baru saja bara api menempel di pipinya. Darah keluar dari sudut bibirnya. Tamparan itu mungkin tampak biasa, tetapi bagi Agus, rasanya puluhan kali lebih sakit dari semua pukulan yang pernah ia terima. Pratama adalah anggota militer, tamparannya jelas berbeda dari tamparan biasa.

​Beberapa pengunjung di taman itu hanya menyaksikan dari kejauhan, tidak ada yang mau ikut campur.

​"Semoga setelah ini kamu akan sadar, Gus," gumam Rama.

​Antara takut dan marah, Agus menatap Pratama dengan rahang mengeras.

​Tapi...

​Tepat pada saat itu, tiba-tiba saja sekitar tiga puluh orang berpakaian serba hitam—pakaian yang sama persis dengan yang Agus kenakan—muncul, berjalan cepat ke arah mereka.

​Rupanya, beberapa saat lalu, Bogel—teman Agus—datang mencari Agus. Saat ia menemukan Agus, ia justru melihat Agus ditampar oleh orang yang tak ia kenali. Bogel langsung menghubungi rekannya yang kebetulan sedang berada tak jauh dari Taman Desa Batu ini.

​Ketika mendapat panggilan singkat dari Bogel, mereka langsung bergegas menuju tempat di mana seseorang berani menampar Agus.

​"Agus!" panggil Bogel.

​Agus langsung menoleh, dan seketika wajahnya berbinar. Bogel datang, dan yang membuat matanya bersinar: Bogel tidak datang sendirian, melainkan bersama Bos Codet.

​"B-Bos... Anda datang," ucap Agus, air matanya mengalir deras begitu saja—ia melihat Bos Codet seolah melihat sosok pahlawan yang datang tepat saat ia membutuhkan bantuan.

​"Aku baru saja mendengar ada seseorang yang telah menampar salah satu bawahanku di tempat umum ini. Aku ingin melihat siapa orang yang begitu berani itu?" Bos Codet berhenti, tatapannya menyapu Pratama dan yang lainnya,

Terpopuler

Comments

Sang M

Sang M

system dancokk tahi..payah
sampah

2026-04-18

0

Hery S

Hery S

ko ad LG ini sistem taik

2026-08-26

0

Dirman Ha

Dirman Ha

ig gh kool

2026-03-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2 Kemunculan dari sistem
3 Bab 3 misi pertama dari sistem
4 Bab 4 Awal masalah yang panjang
5 Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6 Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7 Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8 Bab 8 Tentang Poin tukar
9 Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10 Bab 10 memasak nasi goreng
11 Bab 11 Pasar senja
12 Bab 12 Pil kultivator
13 Bab 13 masih tentang pil kultivator
14 Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15 Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16 Bab 16 menjadi kultivator
17 Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18 Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19 Bab 19 jabrig kembali berulah
20 Bab 20 ketegangan di pasar
21 Bab 21 Membelikan bela pakain
22 Bab 22 Pulang
23 Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24 Bab 24 Prihal sistemnya
25 Bab 25 Sekolah sma bakti
26 Bab 26 Kegemparan sekolah
27 Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28 Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29 Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30 Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31 Bab 31 Kekhawatiran bela
32 Bab 32 Kasus di desa
33 Bab 33 Kedatangan Sherline
34 Bab 24 menahan kesal
35 Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36 Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37 Bab 37 Sedikit ketegangan
38 Bab 38 Codet turun tangan
39 Bab 39 masih berlanjut
40 Bab 40 Deni yang ketakutan
41 Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42 Bab 42 Awal masalah besar
43 Bab 43 Menginterogasi mereka
44 Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45 Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46 Bab 46 di mintai keterangan
47 Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48 Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49 Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50 Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51 Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52 Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53 Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54 Bab 54 layar yang menyesatkan
55 Bab 55 Hari pertama di kota
56 Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57 Bab 57 Durjaya central mall
58 Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59 Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60 Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61 Bab 61 Di hadang oleh kevin
62 Bab 62 Menampar kevin dua kali
63 Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64 Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65 Bab 65 Hari pertama di apartemen
66 Bab 66 Misi dari sistem
67 Bab 67 Bertemu putri kembali
68 Bab 68 Rama angkat bicara
69 Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70 Bab 70 Bayangan malam
71 Bab 71 Membantu polisi
72 Bab 72 Menuju sekolah barunya
73 Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74 Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75 Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76 Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77 Bab 77 Bertemu pak mahendra
78 Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79 Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80 Bab 80 Meminta bantuan rega
81 Bab 81 Mencari masalah
82 Bab 82 Pulang bersama
83 Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84 Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85 Bab 85 Keluarga lambudi
86 Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87 Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88 Bab 88 Terjadi kecelakaan
89 Bab 89 Menolong korban
90 Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91 Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92 Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93 Bab 93 Tamu tak di undang
94 Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95 Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96 Bab 96 Rama mengikuti permainan
97 Bab 97 Kembali ke apartemen
98 Bab 98 Menolong gadis keracunan
99 Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100 Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101 Bab 101 Hadiah sebauh vila
102 Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103 Bab 103 Di sambut oleh Tio
104 Bab 104 lantai 2 sekolah
105 Bab 105 lantai tiga sekolah
106 Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107 Bab 107 menuju pelelangan
108 Bab 108 Di pelelangan
109 Bab 109 lelang selesai
110 Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111 Bab 111 Penculikan terhadap putri
112 Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113 Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114 Bab 114 Rega mulai bertindak
115 Bab 115 Rama Vs Rega
116 Bab 116 Bisikan para murid
117 Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118 Bab 118 memasuki sebuah bar
119 Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120 Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121 Bab 121 Rama vs Bram
122 Bab 122 Keluar dari bar
123 Bab 123 kematian para tahanan
124 Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125 Bab 125 Menikmati masakan rama
126 Bab 126 Mengungkap kebenaran
127 Bab 127 Masih ada kesempatan
128 Bab 128 Harapan besar untuk putri
129 Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130 Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131 Bab 131 Masih di rumah sakit
132 Bab 132 Perhatian rama
133 Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134 Bab 134 Rega yang meminta maaf
135 Bab 135 Putri di culik lagi
136 Bab 136 Menyelamatkan putri
137 Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138 Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri
Episodes

Updated 138 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2 Kemunculan dari sistem
3
Bab 3 misi pertama dari sistem
4
Bab 4 Awal masalah yang panjang
5
Bab 5 Codet Dari Genk Abrag
6
Bab 6 Efek dari pil penguat tubuh
7
Bab 7 Perubahan pada tubuh Rama
8
Bab 8 Tentang Poin tukar
9
Bab 9 Hadiah dadakan dari sistem
10
Bab 10 memasak nasi goreng
11
Bab 11 Pasar senja
12
Bab 12 Pil kultivator
13
Bab 13 masih tentang pil kultivator
14
Bab 14 menunda keberangkatan ke kota
15
Bab 15 Rencana untuk makan pil kultivator
16
Bab 16 menjadi kultivator
17
Bab 17 Sepuluh hari telah berlalu
18
Bab 18 pergi ke pasar bersama bela
19
Bab 19 jabrig kembali berulah
20
Bab 20 ketegangan di pasar
21
Bab 21 Membelikan bela pakain
22
Bab 22 Pulang
23
Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak
24
Bab 24 Prihal sistemnya
25
Bab 25 Sekolah sma bakti
26
Bab 26 Kegemparan sekolah
27
Bab 27 Deni sangat perundung sekolah
28
Bab 28 memberi pelajaran pada deni
29
Bab 29 Tak ingin meperpanjang masalah
30
Bab 30 Di hampiri oleh seorang polisi
31
Bab 31 Kekhawatiran bela
32
Bab 32 Kasus di desa
33
Bab 33 Kedatangan Sherline
34
Bab 24 menahan kesal
35
Bab 35 Orang-orang tak di kenal
36
Bab 36 Ternyata mereka anggota genk abrag
37
Bab 37 Sedikit ketegangan
38
Bab 38 Codet turun tangan
39
Bab 39 masih berlanjut
40
Bab 40 Deni yang ketakutan
41
Bab 41 Suara kesakitan mengisi ruangan
42
Bab 42 Awal masalah besar
43
Bab 43 Menginterogasi mereka
44
Bab 44 Ke ahlian mata dewa
45
Bab 45 Pak guntur mendatangi Rama
46
Bab 46 di mintai keterangan
47
Bab 47 Codet meminta bantuan pada rama
48
Bab 48 Jabatan pak guntur yang terancam
49
Bab 49 Hari keberangkatan ke kota pun tiba
50
Bab 50 perjalanan menuju kota durjaya
51
Bab 51 Bertemu kembali dengan sherline
52
Bab 52 Memasuki dunia di dalam cincin ruang
53
Bab 53 Di ajak tinggal di apartemen milik sherline
54
Bab 54 layar yang menyesatkan
55
Bab 55 Hari pertama di kota
56
Bab 56 Menolong seseorang di sebrang jalan
57
Bab 57 Durjaya central mall
58
Bab 58 Tuan Muda dari keluarga Wijaya
59
Bab 59 Ikut dengan pengawal vania
60
Bab 60 Ucapan terimakasih dari vania
61
Bab 61 Di hadang oleh kevin
62
Bab 62 Menampar kevin dua kali
63
Bab 63 Kembali ke apartemen milik Sherline
64
Bab 64 Beberapa kasus yang terjadi di kota
65
Bab 65 Hari pertama di apartemen
66
Bab 66 Misi dari sistem
67
Bab 67 Bertemu putri kembali
68
Bab 68 Rama angkat bicara
69
Bab 69 Rico yang menyimpan dendam pada Rama
70
Bab 70 Bayangan malam
71
Bab 71 Membantu polisi
72
Bab 72 Menuju sekolah barunya
73
Bab 73 Tiba di SMA garuda bangsa
74
Bab 74 Hari pertama di sekolah baru
75
Bab 75 kegemparan di sekolah baru
76
Bab 76 Di jemput oleh shelrine
77
Bab 77 Bertemu pak mahendra
78
Bab 78 Ternyata putri adalah anak codet
79
Bab 79 Intrkasi di pagi hari
80
Bab 80 Meminta bantuan rega
81
Bab 81 Mencari masalah
82
Bab 82 Pulang bersama
83
Bab 83 Belanja untuk kebutuhuan dapur
84
Bab 84 Makan malam bersama bu sarah dan Gani
85
Bab 85 Keluarga lambudi
86
Bab 86 Andre dan genk nya kembali mencari masalah
87
Bab 87 Memberi andre dan genk nya pelajaran
88
Bab 88 Terjadi kecelakaan
89
Bab 89 Menolong korban
90
Bab 90 Berhasil menolong dia korban yang keritis
91
Bab 91 mengunjungi kediaman lambudi
92
Bab 92 Randy adik sepupu sherline
93
Bab 93 Tamu tak di undang
94
Bab 94 Masih di keluarga lambudi
95
Bab 95 Ketegangan di keluarga lambudi
96
Bab 96 Rama mengikuti permainan
97
Bab 97 Kembali ke apartemen
98
Bab 98 Menolong gadis keracunan
99
Bab 99 Pengeroyok di sebuah taman
100
Bab 100 Sulistio dari sekolah yang sama
101
Bab 101 Hadiah sebauh vila
102
Bab 102 Resmi memiliki vila baru
103
Bab 103 Di sambut oleh Tio
104
Bab 104 lantai 2 sekolah
105
Bab 105 lantai tiga sekolah
106
Bab 106 Pulang di jemput oleh shelrine
107
Bab 107 menuju pelelangan
108
Bab 108 Di pelelangan
109
Bab 109 lelang selesai
110
Bab 110 Ternyata omongan Rama benar
111
Bab 111 Penculikan terhadap putri
112
Bab 112 Keluar dari kantor polisi
113
Bab 113 Pengintaian terhadap Rama
114
Bab 114 Rega mulai bertindak
115
Bab 115 Rama Vs Rega
116
Bab 116 Bisikan para murid
117
Bab 117 Tiga orang yang mengikuti
118
Bab 118 memasuki sebuah bar
119
Bab 119 Taruhan yang di ingkari
120
Bab 120 Keadaan di luar dugaan
121
Bab 121 Rama vs Bram
122
Bab 122 Keluar dari bar
123
Bab 123 kematian para tahanan
124
Bab 124 Mengajak putri dan celia ke apartemannya
125
Bab 125 Menikmati masakan rama
126
Bab 126 Mengungkap kebenaran
127
Bab 127 Masih ada kesempatan
128
Bab 128 Harapan besar untuk putri
129
Bab 129 Perdebatan di rumah sakit
130
Bab 130 Keajaiban yang mengejutkan
131
Bab 131 Masih di rumah sakit
132
Bab 132 Perhatian rama
133
Bab 133 Pulang dari rumah sakit
134
Bab 134 Rega yang meminta maaf
135
Bab 135 Putri di culik lagi
136
Bab 136 Menyelamatkan putri
137
Bab 137 Membalikan ke adaan dengan cepat
138
Bab 138 Berhasil menyelamatkan putri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!