Bab 4

“Hah! Hah! Hah! Aw, sakit!”

Nalea tersentak bangun dari tidurnya yang singkat. Kepalanya pening, dan rasa sakit di kakinya masih terasa menusuk. Namun, ada yang berbeda.

Ia mengangkat tangan kirinya. Bagian yang semalam melepuh karena siraman teh panas kini terbungkus perban putih bersih, melingkari telapak hingga pergelangan tangannya. Aroma antiseptik tercium samar.

"Perban?" gumam Nalea, matanya menyapu sekeliling gudang.

Dia ingat semua. Pukulan Azlan dan Zavian, air dingin Lidya, dan yang terakhir, teh panas Sisilia. Saking lelahnya, dia tertidur lelap setelah pertengkaran terakhir.

"Siapa yang…?"

Nalea memikirkan Lidya? Tidak mungkin. Wanita itu terlalu membencinya. Ivander atau Mutiara? Lebih tidak mungkin lagi. Mereka bahkan tidak peduli dengan luka di kakinya.

Pikiran Nalea tertuju pada dua sosok kakaknya, Zavian dan Azlan.

"Mungkin… salah satu dari mereka?" Nalea bertanya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar. Ia teringat tatapan goyah Azlan saat memukulnya. Atau Kak Vian yang terlalu gengsi untuk menunjukkan kepeduliannya?

Meskipun logika Ratu Gangster-nya meragukan, jauh di dalam hatinya, Nalea merasakan gejolak aneh, setitik harapan bahwa kedua kakaknya diam-diam masih memiliki sedikit rasa sayang.

Walaupun tubuhnya terasa remuk redam dan langkahnya pincang, Nalea memaksakan diri untuk bangun. Rasa sakit tidak bisa menghentikannya. Ia mengambil handuk bersih, bergegas membersihkan diri dengan air dingin di kamar mandi kecil di sudut gudang. Dia harus terlihat pantas untuk menghadapi hari yang panjang ini.

“Hah, apa seperti ini penampilan seorang nona bangsawan? Wajah pucat, baju sopan?” gumamnya saat melihat penampilannya di cermin, tak ada riasan gelap yang mempertegas gurat di wajahnya. Tak ada lagi celana sobek atau jaket kulit sebagai ciri khasnya sebagai pimpinan gangster.

Suasana ruang makan keluarga Hersa pagi itu tampak hangat, kontras dengan hati Nalea yang dingin. Keluarga Hersa sudah berkumpul di meja panjang yang mewah. Sisilia duduk di antara Mutiara dan Azlan, wajahnya dihiasi plester kecil di pelipis, menarik perhatian semua orang.

“Kak Azlan, jadi tidak jadi kita liburan ke Milan?” tanya Sisilia manja, memainkan garpu perak. “Kata Mamah, tas keluaran terbaru di sana sangat bagus. Lilin di rumah ini juga harus diganti dengan lilin buatan Italia.”

Azlan tertawa kecil, mengelus rambut Sisilia. “Tentu saja, Putri. Kakak akan atur. Setelah Kak Vian menyelesaikan masalah di perusahaan.”

Zavian, yang duduk di ujung meja, menatap Sisilia dengan pandangan serius. “Liburan, Sisil? Baru bulan lalu kamu membeli tas Hermes edisi terbatas. Kondisi perusahaan sedang turun, Papa sedang pusing. Bersabar sebentar, ya?”

“Ah, Kak Vian selalu begitu!” Sisilia merengut. “Memangnya membeli tas mahal bisa membuat perusahaan bangkrut?”

“Bukan masalah bangkrutnya, Sisil,” potong Zavian tegas. “Ini masalah empati. Kamu tidak lihat betapa lelahnya Papa?”

Tepat saat ketegangan tipis itu menyelimuti meja, Nalea muncul di ambang pintu, berjalan perlahan dengan langkah yang jelas pincang. Ia mengenakan blus sederhana, berusaha terlihat serapi mungkin.

“Wah, lihat siapa yang datang,” sindir Azlan, matanya langsung tertuju pada Nalea. Nada suaranya sinis, seolah Nalea adalah tamu tak diundang. “Hanya tuan putri saja yang berani bangun siang dan membiarkan anggota keluarga yang lain menunggu.”

Nalea menunduk, jantungnya berdebar kencang. Ia menguatkan diri.

“Maafkan aku, Kak Azlan, Papa, Mamah. Aku terlambat bangun,” Nalea berkata pelan. “Tubuhku sedikit tidak sehat.”

“Tidak sehat? Kamu hanya pura-pura sakit agar tidak dihukum lebih keras,” sembur Mutiara, Mamah Nalea, tanpa menoleh.

Nalea mengabaikan sengatan di hatinya. Ia melangkah ke kursi kosong yang terletak paling jauh.

Sebelum duduk, Nalea memberanikan diri. “Aku ingin mengucapkan terima kasih.”

Semua mata menatapnya.

“Terima kasih karena semalam, salah satu dari kalian telah mengobati luka bakar di tanganku. Aku tidak tahu siapa, tapi… terima kasih.” Nalea menundukkan kepala.

Azlan dan Zavian saling berpandangan dengan kening berkerut.

“Aku tidak menyentuh tangannya.” Zavian Seolah memberikan kode kepada Azlan melalui raut wajahnya.

“Aku juga tidak,” balasnya dengan tatapan wajah yang sama, ekspresinya sedikit mengandung rasa bersalah yang tersembunyi. Mereka sama sekali tidak ingat bahwa Nalea terluka. Fokus mereka hanya pada memar di kepala Sisilia.

Nalea mengangkat wajahnya, terkejut.

Ivander, Papa Nalea, akhirnya angkat bicara, nadanya terdengar lelah. “Sudahlah, Nalea. Duduk dan makan. Jangan membuat drama di pagi hari.” Ivander menatap Nalea dengan keraguan. Sejak Sisilia terluka, ia merasa dilema.

“Baik, Papa.” Nalea menarik kursi.

Sisilia tersenyum kecut, namun dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi ramah dan ceria. “Duduk sini, Lea! Duduk di dekatku!”

Nalea terkejut. Sisilia sengaja menarik kursi di sebelahnya. Nalea tahu itu hanyalah akting.

“Terima kasih, Sisil,” jawab Nalea, berusaha terdengar natural.

Sisilia berbisik, cukup keras hanya untuk didengar Nalea. "Aku tahu kamu jijik padaku. Tapi di depan Papa dan Mamah, kita harus terlihat seperti saudara yang saling menyayangi, bukan?"

Nalea menahan napas, dadanya sesak oleh kebencian. Dia tahu Sisilia adalah manipulator ulung.

Nalea mulai menyantap makanannya. Setelah berminggu-minggu makan sendirian di gudang, kadang di dapur atau halaman belakang, bisa duduk di meja yang sama dengan keluarga kandungnya, walau penuh ketegangan rasanya… aneh.

Matanya mulai berkaca-kaca. Air mata yang selama ini dia tahan sejak semalam, kini mengalir tanpa bisa dicegah. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan keharuan kecil yang menyakitkan.

Melihat Nalea menangis, Azlan langsung bereaksi keras.

“Astaga, Nalea! Kenapa kamu cengeng sekali?” Azlan meletakkan garpunya dengan kasar. “Berhenti menangis seperti anak kecil! Kamu disuruh makan, bukan mencuri! Bersikap dewasa sedikit!”

Nalea buru-buru menyeka air matanya. "Maaf, Kak."

Mutiara Meisya Hadi menatap jijik pada Nalea.

“Zavian, Mamah sudah memutuskan. Mamah akan mengganti guru privat untuk Nalea. Mamah tidak mau keturunan Hersa ada yang bodoh dan cengeng. Kita tidak bisa membiarkannya kembali ke lingkungan lamanya.”

Zavian mengangguk setuju. “Baik, Mah. Aku akan carikan guru privat yang disiplin.”

Sisilia, di samping Nalea, tersenyum, namun dalam hatinya, ia membara. Sial!

"Aku sudah coba mengancam guru privat sebelumnya agar dia berhenti mengajar Nalea dan membuat gadis liat itu terlihat bodoh di mata Mamah! Kenapa Mamah malah mencarikan pengganti? Mereka tidak boleh menganggap Nalea pintar!" batin Sisilia geram.

Nalea, di sisi lain, merasakan secercah harapan. Belajar. Berarti ada kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dia pantas, bahwa dia tidak bodoh.

Nalea menatap Sisilia. Meskipun dia tidak bisa melihat isi hati Sisilia, dia merasakan aura kebencian yang kuat dari gadis itu. Tekadnya semakin kuat.

“Lihat saja, Sisilia.” Raut wajahnya mengatakan demikian.

Nalea mengambil roti di depannya. Tidak peduli dengan sindiran, ia harus tetap makan untuk mengumpulkan tenaga. Jika dia ingin mengambil kembali hidupnya, dia tidak boleh mati kelaparan di hadapan musuhnya.

Terpopuler

Comments

❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ

❤️⃟Wᵃf🥑⃟𝙉ልƁίĻԼልˢ⍣⃟ₛ zc❖🏡⃟ªʸ

sekuat apapun kamu bertahan, Cecilia akan terus memfitnah kamu Lea, sehingga kamu terus menerus merasakan sakit hati dan fisik yang tiasa abisnya 😭🥺, semangatmu hanya melipir sejenak dari rasa sakitmu yg tiada obatnya 🥺😭

2025-11-13

2

🍌 ᷢ ͩ❤️⃟Wᵃf⒋ⷨ͢⚤𝐀⃝🥀ᶫᶦᵃ

🍌 ᷢ ͩ❤️⃟Wᵃf⒋ⷨ͢⚤𝐀⃝🥀ᶫᶦᵃ

hah sekuat kuatnya orang bertahan di keluarga yg seperti itu, kayak percuma deh. pasti bakalan ada seseorang yg lagi dan lagi ada yg ingin memfitnah kita, ingin melihat seberapa menderitanya dan ingin kita menyerah

2025-11-19

0

❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸

❤️⃟WᵃfAlena ⍣⃝కꫝ🎸

mereka hanya melihat lea dengan sebelah mata sehingga apapun yg dilakukan lea pasti selalu salah..
dan mereka tidak bisa merasakan sedikit pun gimana perasaan lea saat makan bersama

2025-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101- Ending
102 KARYA BARU- TERTEMBAK CINTA NONA GANGSTER
103 KARYA BARU- SUAMIKU (BUKAN) ORANG GILA
104 KARYA BARU- BANGKITNYA SEKTE KUNO
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101- Ending
102
KARYA BARU- TERTEMBAK CINTA NONA GANGSTER
103
KARYA BARU- SUAMIKU (BUKAN) ORANG GILA
104
KARYA BARU- BANGKITNYA SEKTE KUNO

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!