Dipantau

Sampai di rumah, Shasa protes kepada bunda perkara abangnya yang menjadi dosen secara tiba-tiba.

"Bunda kok nggak ngasih tahu sih."

"Mana bunda tahu kalau abang ngajar di kelasmu. Lagian kenapa?"

"Nggak pa-pa sebenarnya, cuma kaget saja tadi. Apa lagi tadi Tania sempat telat karena macet. Tahu kan, apa yang dilakukan abang?"

"Hah, Tania diapain?"

"Untung Tania bisa jawab pertanyaan abang, jadi nggak dihukum."

"Syukurlah."

"Mana abang, belum datang?"

"Belum. Sana wudhu' dulu. Tuh ayah udah nungguin kita."

Satu jam kemudian, Saif sampai di rumah. Kebetulan orang tua dan adiknya sedang makan malam. Saif pun langsung bergabung dengan mereka. Ayah dan bunda tidak banyak bicara kepadanya. Mereka sangat mengerti dengan karakter anak pertamanya itu. Mereka makan dengan penuh hikmat. Bunda melayani suami dan putranya.

Setelah selesai makan, Shasa membantu bibi membereskan perabotan. Saif pamit masuk ke kamarnya karena ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Shasa pun begitu. Ia juga punya makalah yang harus diselesaikan. Akhirnya bunda dan ayah hanya duduk berdua di ruang tengah sambil nonton TV.

"Pada akhirnya kita berdua juga ya, yah."

"Iya, bun."

"Ayah, tadi abi telpon."

"Ada apa?"

"Ternyata diam-diam abi menyelidiki masalah Abang."

"Abi memang selalu penuh kejutan."

"Yah, ternyata putra kita itu sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Dia berusaha mengobati lukanya sendiri. Jadi tidak heran jika sikapnya semakin dingin."

Bunda menceritakan kejadian sebenarnya kepada ayah menurut cerita abi Tristan. Ayah pun tidak menyangka jika di balik sikap Saif yang dingin, ia menyimpan luka yang mendalam. Sebagai orang tua mereka hanya bisa berdo'a agar putranya segera sembuh dan mendapatkan pengganti yang lebih baik.

Di kamar Saif.

Ia menang sedang mengetik perangkat ajar untuk mahasiswanya. Namun di sela-sela pekerjaannya itu, tak jarang ia masih melihat story mantan istrinya. Ia dan Maya memang berjanji, meski keduanya sudah berpisah namun tidak akan memutus tapi silaturrahim. Kali ini ia melihat story Maya yang isinya foto Maya sedang duduk di pantai dengan caption penuh tanda tanya.

Saif langsung meletakkan kembali handphone nya. Ia tidak ingin berlarut-larut mengingat mantan istrinya. Ia memang tidak ingin memutus silaturahim. Tapi bukan berarti dia harus kei dengan kehidupan mantannya.

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Saif pun pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, ia naik ke atas tempat tidur.

Malam ini, hujan turun dengan begitu derasnya. Petir dan guntur saling bersahutan. Tania yang baru saja terlelap pun kini terbangun karena atap rumahnya bocor pas di atas tempat tidurnya. Ia segera mencari baskom untuk menampung tetesan air yang jatuh dari atap.

"Ya, Allah, hujannya deras banget. Semoga tidak banjir."

Biasanya gang di sekitar rumah Tania itu sering mengalami banjir karena di sana tidak ada tempat aliran air. Dan rumah di sana kebanyakan lebih rendah dibandingkan jalan. Makanya rawan terkena banjir.

30 menit kemudian, hujan tak kunjung reda. Tania tidak bisa tidur lagi karena keadaan tempat tidurnya sudah basah. Dan apa yang ditakutinya pun terjadi. Banjir melanda beberapa gang di sekitarnya. Memang masih 50 cm, namun sudah dipastikan Tania harus berada di atas tempat tidurnya yang sudah basah. Untungnya alat elektroniknya sudah ia pindahkan ke atas lemari. Saat ini Tania berharap banjirnya tidak semakin tinggi. Jika sudah begitu, hati Tania semakin tak karuan. Ia merasa benar-benar sebatang kara di dunia ini.

Sekitar jam 12 malam, hujan baru berhenti. Tania dan tetangga sekitarnya tidak serta langsung tidur. Mereka berusaha membersihkan sisa air yang mulai surut. Sekitar jam 2, Tania baru bisa tidur. Ia melapisi sepreynya dengan perlak agar bisa ditempati untuk tidur.

Keesokan harinya.

Tania bangun kesiangan. Ia telat shalat Shubuh. Namun ia tetap melakukannya. Setelah selesai shalat, Tania mengepel sisa sampah dan tanah yang terbawa air semalam. Dengan mata yang masih mengantuk, ia berusaha melakukan itu. Karena kalau tidak, ia tidak akan tenang saat berangkat bekerja.

Pagi ini Tania tidak memasak. Ia memilih untuk membeli nasi uduk di depan gang dengan harga 10 ribu per bungkus, laku dibawanya ke counter. Sambil menjaga counter, ia pun makan mumpung belum ada pelanggan.

Saat membuka jendela kamarnya Shasa baru sadar kalau semalam hujan lebat. Ia ingat kepada Tania dan langsung menelponnya.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

"Tania, kamu di mana?"

"Di counter. Ngantuk banget Sha. Semalem sibuk sama banjir."

"Sudah aku duga, Tania. Tapi kamu baik-baik saja kan?"

"Hem iya, ini lagi sarapan. Tapi kayaknya aku flu nih."

"Jangan lupa minum obat."

"Okey, makasih ya udah perhatian sama aku."

"Dih apaan sih. Kan, selalu begitu."

"Haha.... iya pokoknya makasih. Ya sudah ada pelanggan nih. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

Tania menutup telponnya lalu melayani pelanggan yang baru datang untuk membeli paket data.

Siang harinya.

Tania dan Shasa sedang duduk di taman menunggu dosen yang sepertinya telat datang. Mereka berdua ngobrol santai sambil ngemil kacang panggang. Mereka tidak tahu jika dari kejauhan ada yang sedang mengawasi. Tiba-tiba Eza datang menghampiri mereka. Eza salah laki-laki yang disukai oleh Shasa. Mereka beda angkatan tapi jurusan yang sama.

"Ehem... Hai Shasa, Tania."

"Eh, Kak Eza."

Mereka tersenyum dengan ramah.

Eza mengajak mereka ngobrol. Sebenarnya itu hanya sekedar basa-basinya. Sebenarnya Eza pun memiliki perasaan kepada Shasa. Namun ia tidak berani karena tahu status Shasa di kampus itu.

Dari jauh, Saif memicingkan mata melihatnya. Beruntung Shasa dan Tania dipanggil oleh salah satu teman sekelas mereka.

"Ayo, dosennya udah datang!"

"Ah iya."

"Kak, maaf kami masuk kelas dulu." Pamit Shasa.

"Oh iya, silahkan."

Tania dan Shasa buru-buru berjalan menuju kelas mereka.

Eza hanya bisa melihatnya dari belakang.

Sedangkan Saif, mulai menyusun rencana untuk mencari tahu tentang sosok Eza. Ia tidak ingin adiknya salah pergaulan.Karena yang Saif lihat dari kacamata seorang laki-laki, bahwa dari gerak-geriknya Eza memiliki ketertarikan kepada adiknya. Sekhawatir itu ia kepada saudaranya.

Di kelas, Shasa tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Tania sampai geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu. Padahal hanya sekedar obrolan biasa, bisa membuat Shasa melanglang buana.

"Woi... dengerin itu Bu Ana di depan. Malah senyum-senyum sendiri nggak jelas kamu, Sha. Awas ketahuan abangmu!" Bisik Tania.

"Ih, amit-amit. Ya Allah, jangan sampai."

Tania hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi lucu Shasa.

Besambung...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

secret

secret

sayangnyaa udh ketauan sm abangmu Sha😅 nexttt thorr ditunggu yaaa, semangaattt

2025-11-12

1

dewi rofiqoh

dewi rofiqoh

Abang yang baik selalu menjaga saudaranya 👍👍

2025-11-12

0

Novita Sari

Novita Sari

lanjut thor...kapan thor saif pdkt dengan tania..

2025-11-12

0

lihat semua
Episodes
1 Abang
2 Kanebo kering
3 Tentang abang
4 Dosen baru
5 Dipantau
6 Menjadi Incaran
7 Rumah Tania
8 Pameran
9 Cinta
10 Tugas Saif
11 Ban bocor
12 Membantu Tania
13 Sakit
14 Opname
15 Darah abang
16 Ditinggal berdua
17 Mimpi
18 Pulang ke rumah
19 Obat nyamuk
20 Ada yang hilang
21 Pura-pura
22 Kecelakaan
23 Batin Tania
24 Cerita
25 Lapis kukus
26 Jujur
27 Senyum mahal
28 Pulang ke rumah bunda
29 Calon istri
30 Sah
31 Tidur bersama
32 Suamimu
33 Maaf
34 Kontrol
35 Pengalaman pertama
36 Mengajari
37 Coklat
38 Terapi
39 Baju haram
40 Berbuka
41 Hubby
42 Sore hari
43 Bertemu mantan
44 Hotel
45 Puasa lagi
46 Resepsi
47 Pertarungan panas
48 Posesif
49 Positif
50 Kebahagiaan keluarga
51 USG
52 Reuni
53 Menginap
54 Menjenguk
55 Empat bulanan
56 Bubur mutiara
57 Tentang Eza
58 Shasa vs Eza
59 Tengkurap
60 Wedang ronde
61 Lamaran
62 7 bulanan
63 Cobaan
64 Ngidam
65 Menara Kembar
66 Kediri
67 Berjuang
68 Baby boy
69 Hadiah
70 Aqiqah
71 Keputusan opa
72 Video call
73 KUA
74 Mengantar Eza
75 Drama pengantin baru
76 Ikan cupang
77 Ke kampus bersama
78 Dua minggu kemudian
79 Ada gangguan
80 Resepsi
81 Tanda-tanda
82 Test pack
83 Rumah mertua
84 Anniversary
85 Mual
86 Test pack untuk Tania
87 Syok
88 Salah sangka
89 3 bulan kemudian
90 Rani
91 Pertumbuhan Arfan
92 Terkabulnya do'a
93 Almira
94 Pindah
95 Terasa sepi
96 Ujian
97 Jujur
98 Nasihat
99 Wisuda
100 Kejutan
101 Novel baru
102 Akhir Cerita
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Abang
2
Kanebo kering
3
Tentang abang
4
Dosen baru
5
Dipantau
6
Menjadi Incaran
7
Rumah Tania
8
Pameran
9
Cinta
10
Tugas Saif
11
Ban bocor
12
Membantu Tania
13
Sakit
14
Opname
15
Darah abang
16
Ditinggal berdua
17
Mimpi
18
Pulang ke rumah
19
Obat nyamuk
20
Ada yang hilang
21
Pura-pura
22
Kecelakaan
23
Batin Tania
24
Cerita
25
Lapis kukus
26
Jujur
27
Senyum mahal
28
Pulang ke rumah bunda
29
Calon istri
30
Sah
31
Tidur bersama
32
Suamimu
33
Maaf
34
Kontrol
35
Pengalaman pertama
36
Mengajari
37
Coklat
38
Terapi
39
Baju haram
40
Berbuka
41
Hubby
42
Sore hari
43
Bertemu mantan
44
Hotel
45
Puasa lagi
46
Resepsi
47
Pertarungan panas
48
Posesif
49
Positif
50
Kebahagiaan keluarga
51
USG
52
Reuni
53
Menginap
54
Menjenguk
55
Empat bulanan
56
Bubur mutiara
57
Tentang Eza
58
Shasa vs Eza
59
Tengkurap
60
Wedang ronde
61
Lamaran
62
7 bulanan
63
Cobaan
64
Ngidam
65
Menara Kembar
66
Kediri
67
Berjuang
68
Baby boy
69
Hadiah
70
Aqiqah
71
Keputusan opa
72
Video call
73
KUA
74
Mengantar Eza
75
Drama pengantin baru
76
Ikan cupang
77
Ke kampus bersama
78
Dua minggu kemudian
79
Ada gangguan
80
Resepsi
81
Tanda-tanda
82
Test pack
83
Rumah mertua
84
Anniversary
85
Mual
86
Test pack untuk Tania
87
Syok
88
Salah sangka
89
3 bulan kemudian
90
Rani
91
Pertumbuhan Arfan
92
Terkabulnya do'a
93
Almira
94
Pindah
95
Terasa sepi
96
Ujian
97
Jujur
98
Nasihat
99
Wisuda
100
Kejutan
101
Novel baru
102
Akhir Cerita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!