Bab 2. Tanggung Jawab?

Tanggung jawab? Dalam bentuk apa? Kalau memang tidak bisa menikahinya.

Lidya menatap lekat kakak iparnya seraya otaknya berpikir mencari sebuah ide. Mau bagaimana pun ia punya harga diri yang harus dijaganya, meski berhadapan dengan pria yang sangat ia sukai.

“Katakan Kak, dalam bentuk apa tanggung jawabnya, jika tidak bisa menikahiku?” Suara Lidya agak tercekat.

“Aku akan memberikan uang sebanyak 300 juta. Cukup, kan, sebagai ganti rugi?”

Mata Lidya mengerjap berulang kali, ada sedikit kekehan pelan dari bibirnya yang cukup menggoda. “300 juta?” ulangnya, senyumannya seakan mengejek.

Bagaimana Lidya tidak mengejek Arjuna, ia tahu berapa profit perusahaan milik keluarga Adiwongso yang menguasai bisnis retail, properti hampir di seluruh Indonesia, setiap bulannya. Kemudian, harga dirinya hanya diganti sebanyak 300 juta. Namun, bukan berarti ia menilai harga dirinya dengan sejumlah uang.

“Kamu menertawakan aku, Lidya?” Sorot mata Arjuna menajam. Jika biasanya Lidya langsung sungkan, sekarang rasa sungkannya lenyap begitu saja.

Gadis itu tersenyum sembari membetulkan gagang kaca matanya. “Harga diriku yang selama ini aku jaga baik-baik untuk suamiku kelak, telah Kak Arjun ambil, dan itu pun tidak bisa tergantikan oleh uang sebanyak apa pun. Ya ... walau kita sama-sama dalam pengaruh obat, tetapi tetap saja sudah Kak Arjun hisap madunya. Kakak pikir aku bisa menerimanya? Kakak pikir aku tidak sakit ... mmm? Aku sudah hancur, Kak Arjun. Masa depanku, mimpiku untuk membangun rumah tanggaku langsung terhempaskan begitu saja.” Lidya berusaha bicara dengan tenangnya.

“Aku tahu Kakak tidak akan bisa menikahiku, dan aku pun sendiri tidak akan minta Kak Arjun menikahiku. Karena aku tidak ingin menghancurkan rumah tangga kakakku sendiri. Aku tidak ingin disebut atau dapat gelar sebagai adik ipar adalah maut,” lanjutnya.

Arjuna mendesah pelan sembari meletakkan cangkir kopinya. “Sudah, tidak perlu bertele-tele, Lidya. Aku tidak ingin mendengar curhatanmu. Pada intinya kamu tidak mau menerima uang sebanyak 300 juta itu, kan. Jadi, berapa yang kamu minta? Tapi, jangan lagi kamu mengungkit-ungkit kejadian ini,” desaknya dengan aura dinginnya.

Lidya meneguk minumnya terlebih dahulu, samar-samar ia tersenyum licik saat idenya terbesit. Mungkin hari ini ia harus memanfaatkan kakak iparnya demi masa depannya sendiri, bukan berarti ia perempuan matre. Hanya saja, hari esok tidak akan pernah ada yang tahu akan terjadi apa.

“Uang sebanyak 2 milyar, dan saham Grup Adiwongso 5%.”

Mata Arjuna semakin menajam, sudut bibirnya tersenyum miring. “Wow, tak disangka, ternyata kamu termasuk wanita matre juga,” sindirnya.

Lidya menarik napasnya dalam-dalam, tanpa melepas tatapannya pada pria yang kini berusia 32 tahun.

“Aku rasa wajar ya kalau perempuan itu agak matre, lagi pula aku hanya minta sedikit dari apa yang Kak Arjun miliki. Kalau merasa keberatan ... ya—“ Gadis itu tersenyum sinis, sembari berdiri. “Kak Arjun, sudah tahu jawabannya, tidak perlu aku jelaskan lagi.”

“Aku tidak mau hancur sendiri.”

Rahang Arjuna mengeras, giginya menggertak menahan emosi yang baru saja disulut oleh adik ipar sekaligus sekretarisnya. Baru kali ini ia melihat sisi Lidya yang sangat jauh berbeda.

“Aku harus kembali ke kamar, mau menyiapkan berkas yang harus Kak Arjun bawa ke tempat proyek jam 10 nanti,” pamit Lidya yang masih menunjukkan sikap profesional dalam bekerja.

Arjuna bergeming, menatap punggung gadis itu hingga menghilang dari pintu.

“Sialan!! Arjuna merutuk diri sendiri. Dibalik geramnya, ternyata ia pun tersulut gairah yang seharusnya tidak muncul lagi.

“Arrgh! Kenapa kamu menginginkannya lagi! Ingat lah ... dia adik iparmu!”

Arjuna tidak bisa menutupi dirinya kalau kejadian tadi malam membuat tubuhnya bereaksi sangat berbeda pada Lidya.

***

Di balik pintu, Lidya mengusap ujung matanya yang kembali berair. Ia menarik napas panjangnya sedalam mungkin, meredam gejolak sakit hati yang masih menguasai dirinya. Gadis itu tak menyangka, se-rendah itu kakak iparnya memandang dirinya.

Pada dasarnya apa yang ia minta, bukan karena ia matre. Bahkan uang sebanyak itu tidak bisa mengembalikan kehormatannya, tapi setidaknya ia memiliki tabungan untuk masa depannya sendiri.

“Kamu harus kuat, Lidya. Kamu ... harus menerima apa yang telah terjadi,” gumamnya seorang diri.

Beberapa menit kemudian, Lidya mengganti pakaiannya dengan baju santainya, bukan memakai baju resmi untuk menemani Arjuna ke proyek yang ada di Yogyakarta. Ia butuh waktu, ia butuh sendiri. Setelah berkas yang dibutuhkan Arjuna siap, ia kembali ke kamar sebelah.

“Ini berkas yang harus Kak Arjuna bawa. Point penting yang harus dicek sudah aku tandai biar Kak Arjuna tidak bingung,” tunjuknya ke map file.

Arjuna yang sudah rapi menelisik penampilan adik iparnya yang tampak santai. “Kamu ke tempat proyek, yakin pakai baju kaya orang mau tidur?” Suaranya yang dingin terdengar ketus.

Lidya mengangkat wajahnya. “Mohon maaf Kak Arjun, hari ini aku ingin istirahat. Badan rasanya remuk ... kayak orang habis dihajar orang se-RT. Kalau mau dipotong gaji juga nggak pa-pa. Asal aku sudah dapat kepastian sebelum kita kembali ke Jakarta,” sindir Lidya dengan santainya.

Arjuna berdecak, lalu menarik kasar map file dari tangan gadis itu. “2 miliar, saham 5%. Apa bisa menjamin rahasia kita tidak akan kamu bongkar pada keluarga atau siapa pun itu?” Arjuna balik sindir.

“Aku rasa Kak Arjun bukan orang yang bodoh, kan? Kita bisa melakukan perjanjian di atas hukum. Aku siap,” tantangnya dengan seulas senyum pahitnya.

Pria itu lagi-lagi berdecak, hatinya mengakui di balik wajah adik iparnya yang tidak secantik kakaknya, otaknya sangat berguna.

“Kamu tidak bermaksud memanfaatkan aku, kan?”

Lidya memutar malas bola matanya. “Apakah Kak Arjun merasa dimanfaatkan sama aku? Ia balik bertanya.

Arjuna tak menjawab.

“Lebih tepatnya, aku hanya minta ganti rugi. Karena aku yang rugi, sedangkan Kak Arjun sudah menikmatinya. Bahkan, tidak ada barang Kak Arjun yang hilang, kan. Jadi ... sesuai permintaan Kak Arjun, aku akan kerja sama dengan baik,” jawabnya santai tapi serius, sembari mengerlingkan salah satu matanya.

“Aku permisi Kak Arjun, selamat bekerja,” pamitnya sebelum berbalik badan.

“Kamu yakin tidak menginginkan aku menikahimu sebagai tanggung jawabku?”

Langkah kaki Lidya berhenti.

“Apakah aku harus menjawabnya, Kak? Setelah sejak awal Kak Arjun menegaskan padaku untuk tidak menuntut minta dinikahi?”

“Aku hanya memastikan saja sebelum kita melakukan kesepakatan. Agar kedepannya, kamu tidak menuntut lebih,” tegas Arjuna.

“Jangan khawatir Kak Arjun, aku tidak akan meminta Kakak untuk menikahiku dalam keadaan apa pun. Aku menghormatimu sebagai kakak iparku. Dan, aku pun sadar diri ... dengan keadaanku yang sangat jauh berbeda dengan Kak Eliza,” ungkapnya begitu lirih. Lidya kembali berjalan dan pintu kamar itu kembali tertutup.

“Biarlah rasa ini aku simpan sedalam mungkin. Dan, hanya aku seorang yang tahu akan perasaanku padamu, Kak Arjun,” batinnya.

Bersambung ... ✍️

Terpopuler

Comments

tripledi

tripledi

suka lah kyk gini, realistis.. daripada cerita cerita cewe cewe yg pergi dg tangan kosong karna harga diri bilang nya, dikasih uang gak mau.. 😃😃

2026-07-19

1

Ria Gazali Dapson

Ria Gazali Dapson

nah gitu dong, ambil uang nya kitapun perlu hidup dg uang, karena kalo ada uang urusan lancar jaya tanpa kendala, ga kayak yg laen,

2026-07-22

0

Emily

Emily

suka tokoh utama ceweya kuat gak menye menye seperti cerita yg lain..mentang2 cinta mau aja di rugikan pihak pria

2026-08-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2 Bab 2. Tanggung Jawab?
3 Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4 Bab 4. Terluka
5 Bab 5. Jangan Main Hati
6 Bab 6. Lidya Marah
7 Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8 Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9 Bab 9. Penolakan Lidya
10 Bab 10. Tiba-tiba Datang
11 Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12 Bab 12. Poligami!?
13 Bab 13. Membujuk Istri
14 Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15 Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16 Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17 Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18 Bab 18. Kedatangan Eliza
19 Bab 19. Merenung
20 Bab 20. Pertengkaran
21 Bab 21. Transferan
22 Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23 Bab 23. Menjaga Jarak
24 Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25 Bab 25. Arjuna Penasaran
26 Bab 26. Temu Kangen
27 Bab 27. Ada Yang Gelisah
28 Bab 28. Kirain Pacar?
29 Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30 Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31 Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32 Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33 Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34 Bab 34. Lidya Pingsan
35 Bab 35. Mual?
36 Bab 36. Pamit Pulang
37 Bab 37. Alat Test Pack
38 Bab 38. Hasil Test Pack
39 Bab 39. Rencana Lidya
40 Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41 Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42 Bab 42. Terasa Berat
43 Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44 Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45 Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46 Bab 46. Kegelisahan Eliza
47 Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48 Bab 48. Cek Kandungan
49 Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50 Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51 Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52 Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53 Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54 Bab 54. Seperti Nyata
55 Bab 55. Tempat Kerja Baru
56 Bab 56. Datang Berkunjung
57 Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58 Bab 58. Kehamilan Simpatik
59 Bab 59. Menjenguk Arjuna
60 Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61 Bab 61. Memulangkan Eliza
62 Bab 62. CEO Baru
63 Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64 Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65 Bab 65. Ke Luar Kota
66 Bab 66. Tiba di Balikpapan
67 Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68 Bab 68. Tolong Rahasiakan
69 Bab 69. Azzam dan Azzuri
70 Bab 70. Haruskah Menyerah?
71 Bab 71. Melihatnya
72 Bab 72. Anak Siapa?
73 Bab 73. Anakku
74 Bab 74. Bertemu Kembali
75 Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76 Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77 Bab 77. Menunggumu
78 Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79 Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80 Bab 80. Kita Keluarga
81 Bab 81. Will You Marry Me?
82 Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83 Bab 83. Akad Nikah
84 Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85 Bab 85. Malam Pertama
86 Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87 Bab 87. Maafkan Aku
88 Bab 88. Telah Tiada
89 Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90 Bab 90. Happy Ending
91 Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92 Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2
Bab 2. Tanggung Jawab?
3
Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4
Bab 4. Terluka
5
Bab 5. Jangan Main Hati
6
Bab 6. Lidya Marah
7
Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8
Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9
Bab 9. Penolakan Lidya
10
Bab 10. Tiba-tiba Datang
11
Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12
Bab 12. Poligami!?
13
Bab 13. Membujuk Istri
14
Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15
Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16
Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17
Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18
Bab 18. Kedatangan Eliza
19
Bab 19. Merenung
20
Bab 20. Pertengkaran
21
Bab 21. Transferan
22
Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23
Bab 23. Menjaga Jarak
24
Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25
Bab 25. Arjuna Penasaran
26
Bab 26. Temu Kangen
27
Bab 27. Ada Yang Gelisah
28
Bab 28. Kirain Pacar?
29
Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30
Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31
Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32
Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33
Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34
Bab 34. Lidya Pingsan
35
Bab 35. Mual?
36
Bab 36. Pamit Pulang
37
Bab 37. Alat Test Pack
38
Bab 38. Hasil Test Pack
39
Bab 39. Rencana Lidya
40
Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41
Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42
Bab 42. Terasa Berat
43
Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44
Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45
Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46
Bab 46. Kegelisahan Eliza
47
Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48
Bab 48. Cek Kandungan
49
Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50
Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51
Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52
Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53
Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54
Bab 54. Seperti Nyata
55
Bab 55. Tempat Kerja Baru
56
Bab 56. Datang Berkunjung
57
Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58
Bab 58. Kehamilan Simpatik
59
Bab 59. Menjenguk Arjuna
60
Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61
Bab 61. Memulangkan Eliza
62
Bab 62. CEO Baru
63
Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64
Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65
Bab 65. Ke Luar Kota
66
Bab 66. Tiba di Balikpapan
67
Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68
Bab 68. Tolong Rahasiakan
69
Bab 69. Azzam dan Azzuri
70
Bab 70. Haruskah Menyerah?
71
Bab 71. Melihatnya
72
Bab 72. Anak Siapa?
73
Bab 73. Anakku
74
Bab 74. Bertemu Kembali
75
Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76
Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77
Bab 77. Menunggumu
78
Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79
Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80
Bab 80. Kita Keluarga
81
Bab 81. Will You Marry Me?
82
Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83
Bab 83. Akad Nikah
84
Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85
Bab 85. Malam Pertama
86
Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87
Bab 87. Maafkan Aku
88
Bab 88. Telah Tiada
89
Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90
Bab 90. Happy Ending
91
Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92
Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!