Bab 5. Jangan Main Hati

Arjuna tak bisa langsung menjawab. Ia menunduk dalam. “Keduanya. Aku ... terlalu bodoh. Aku seharusnya melindungi kamu, bukan malah membuatmu sakit. Apa nanti kata kakakmu kalau tahu adiknya sakit.”

Lidya tetap tidak menoleh. “Aku tidak butuh perlindunganmu, Kak Arjun. Aku hanya butuh dihargai. Sejak tadi pagi kamu menyalahkan aku. Dan sekarang, lihat akibatnya.”

Arjuna terdiam, wajahnya menegang. “Aku ... aku hanya khawatir. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa khawatir itu. Semua jadi salah.”

“Khawatir tidak berarti mengendalikan hidup orang lain,” balas Lidya lirih, matanya tetap terpejam. “Kalau memang benar khawatir, Kakak seharusnya bicara baik-baik , bukan marah.”

 

Arjuna mendekat sedikit, suaranya lebih pelan. “Aku memang dingin ... aku tidak terbiasa menunjukkan perhatian. Tapi saat kamu jatuh tadi, aku benar-benar takut. Takut—.”

Mata Lidya terbuka, kini menatap lurus ke atas. “Takut apa? Aku ini siapa untukmu, Kak? Adik ipar. Hanya itu saja.”

Arjuna tercekat. Lidahnya kelu. Ia ingin mengatakan lebih, tapi bibirnya gemetar.

“Hanya itu,” ulang Lidya, kali ini menoleh perlahan, menatap Arjuna dengan mata berkaca-kaca. “Jadi jangan berlebihan, jangan juga main hati, ingat ... ada Kak Eliza yang menunggu Kakak di rumah. Bukankah Kakak bilang sendiri, tidak ingin rumah tangga Kakak hancur.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Arjuna menatapnya lama, lalu akhirnya duduk kembali, memeluk kepalanya dengan kedua tangan.

Di sudut ranjang, Lidya mengusap pelan punggungnya yang masih sakit, menahan isak yang nyaris pecah.

Arjuna menatapnya lagi, wajahnya penuh dilema. “Aku akan tetap di sini. Meski kamu tidak ingin melihatku ... aku tidak akan pergi sampai kamu benar-benar pulih.”

Lidya tidak menjawab, hanya menutup matanya lagi, mencoba mengabaikan keberadaan pria itu.

Namun, dalam diam, detak jantungnya terasa makin cepat—bukan hanya karena sakit, tapi juga karena konflik batin yang semakin sulit ia redam.

***

Jam digital di dinding ruang observasi menunjukkan pukul 18.00 wib lewat beberapa menit. Lidya sudah empat jam berbaring dengan selang infus, sesekali meringis karena nyeri punggung. Arjuna duduk di kursi, menatap tanpa henti, tapi tak satu pun kata keluar dari mulutnya.

Pintu diketuk pelan, lalu dokter masuk bersama perawat.

“Baik, Mbak Lidya. Setelah kami amati, kondisinya stabil. Tidak ada tanda pendarahan lanjutan,” ucap dokter tenang. “Saya rasa Anda bisa pulang malam ini. Namun, tetap harus istirahat total. Jangan melakukan gerakan berat.”

Arjuna langsung berdiri. “Syukurlah. Terima kasih, Dok.”

Perawat menyerahkan kantong berisi obat. “Ini obat nyeri. Ada salep untuk memar di punggung. Jangan lupa diminum sesuai aturan, ya.”

Lidya hanya mengangguk singkat. Arjuna menerima kantong obat itu, menggenggamnya erat seakan takut terlepas.

"Aku bantu," ujar Arjuna saat melihat Lidya akan beranjak dari atas brankar.

Gadis itu menepis tangan Arjuna, ia lebih memilih bantuan dokter.

***

Mobil hotel melaju di jalanan Yogyakarta yang mulai ramai lampu malam. Di dalam, suasana begitu hening. Lidya duduk bersandar ke kursi dengan mata memandang lurus ke luar jendela. Arjuna di sampingnya, menatap kosong ke depan. Tidak ada percakapan.

Suara mesin mobil dan detik jam digital di dashboard jadi satu-satunya pengisi ruang.

Arjuna beberapa kali membuka mulut, ingin bicara, tapi mengurungkan niat. Sementara Lidya menahan diri agar tidak meneteskan air mata.

Begitu mobil berhenti di pelataran hotel, staf membantu membukakan pintu. Lidya turun perlahan, tubuhnya masih lemah. Arjuna refleks ingin memegang lengannya, tapi Lidya menghindar halus, memilih berjalan sendiri.

Di dalam lobi yang terang, Arjuna akhirnya membuka suara.

“Lidya, sebelum kamu naik ke kamar … bagaimana kalau kita makan dulu? Supaya kamu bisa minum obat setelahnya.”

Lidya tidak menjawab. Ia hanya melangkah pelan menuju restoran yang berada di sisi lobi. Arjuna mengembuskan napas berat, lalu mengikuti dari belakang.

Aroma sup panas dan roti panggang menyambut begitu mereka masuk. Lidya langsung memilih meja dekat kaca, kursinya menghadap keluar. Ia duduk tanpa menoleh, lalu memanggil pelayan.

“Saya pesan nasi sop iga, tempe mendoan, sama jus jeruk.”

Pelayan mencatat. “Baik, Mbak.”

Arjuna menunggu sebentar, lalu memesan untuk dirinya. “Saya … tenderloin steak medium, dan jus melon.”

Pelayan mengangguk lalu pergi.

Hening kembali. Arjuna menatap meja, jarinya mengetuk pelan permukaan kayu. Lidya sengaja sibuk dengan ponselnya, meski layar tidak benar-benar ia baca.

Tak kama kemudian, Arjuna akhirnya bersuara, nadanya dingin tapi berusaha terkendali.

“Lidya … ada hal yang harus kita bicarakan. Aku tahu kamu membenciku sekarang. Tapi kita tidak bisa pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.”

Lidya tetap menatap keluar jendela. “Kalau begitu, jangan dibicarakan. Lebih mudah begitu.”

“Tidak bisa.” Arjuna menggeleng tegas. “Aku harus pastikan ini tidak menghancurkan hidupmu … atau hidupku.”

Lidya tersenyum sinis. “Hidupku sudah hancur sejak tadi malam, Kak.”

Arjuna terdiam sejenak, menahan perih di dadanya. Kemudian, dengan suara berat ia berkata,

“Kalau memang itu yang kamu inginkan … aku akan kasih. Dua miliar. Begitu kita kembali ke Jakarta, aku akan langsung mengurusnya. Anggap itu sebagai cara menebus kesalahanku.”

Lidya menoleh sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangan. “Baik.” Suaranya datar, dingin, tanpa emosi.

Arjuna menghela napas. “Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat. Tentang malam itu … aku mohon, tidak seorang pun boleh tahu. Anggap saja itu tidak pernah terjadi.”

Lidya menatap lurus, matanya tajam meski wajahnya tetap pucat. “Aku tahu. Aku juga tidak ingin mengingatnya, apalagi menceritakannya. Jadi tenang saja, Kak. Rahasia itu aman.” Padahal hatinya sedang begitu sakit.

Arjuna menunduk, menekan pelipisnya. “Terima kasih. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi demi Eliza, demi keluarga kita … biarlah semua terkubur di sini.”

Arjuna menggenggam gelas air putih yang baru saja diantar pelayan.

“Kalau soal saham … aku belum bisa menjanjikan apa-apa. Bahkan Eliza, istriku sendiri, tidak dapat bagian. Jadi posisimu … lebih rumit.”

Lidya tidak menjawab lagi, hanya menarik napas panjang, lalu kembali menatap kaca. Ekspresinya tetap dingin, seolah setiap kata Arjuna barusan hanya lewat begitu saja tanpa menyentuh hatinya.

Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan. Sop iga panas beraroma gurih diletakkan di depan Lidya, bersama tempe mendoan yang masih mengepulkan asap.

Lidya langsung mengambil sendok, menyuap perlahan. “Hmm … enak.” Ia sengaja mengalihkan perhatian ke makanan, bukan ke Arjuna, ketimbang hatinya semakin sakit.

Arjuna hanya menatap sebentar, lalu fokus pada steak yang disajikan. Ia memotong perlahan, berusaha menahan emosi yang menekan.

Baru dua suapan masuk, ponsel Arjuna berdering nyaring. Layarnya menyala, menunjukkan nama Eliza-My Wife.

Bersambung ... ✍️

Terpopuler

Comments

Oma Gavin

Oma Gavin

cinta yg rumit buat lidya dan saat memutuskan pergi pastinya lidya sudah siap tidak dianggap keluarga lagi, arjuna boleh mimpi semua minta dikubur dan dilupakan tapi kecebong premium mu akan jadi bumerang pernikahan mu dgn eliza

2025-11-07

0

Kimo Miko

Kimo Miko

lidya setelah mengantongi 2M cobalah buat usaha sendiri yang tempatnya jauh dari jujun dan semua keluarga siapa tahu cebongnya jujun jadi janin. ini untuk menyelamatkanmu dari kata pelakor dan kata kata ipar adalah maut

2025-11-07

0

Teti Hayati

Teti Hayati

Gak sabar nunggu saat Lidya pergi dari kehidupan mereka...
apalagi rahasia besar yg dibawanya, apa itu tentang kehamilanmu Lidya..??
sabar bentar Lid, sampe uang 2M ditanganmu, abis itu go go... tinggalkan semuanya..

2025-11-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2 Bab 2. Tanggung Jawab?
3 Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4 Bab 4. Terluka
5 Bab 5. Jangan Main Hati
6 Bab 6. Lidya Marah
7 Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8 Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9 Bab 9. Penolakan Lidya
10 Bab 10. Tiba-tiba Datang
11 Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12 Bab 12. Poligami!?
13 Bab 13. Membujuk Istri
14 Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15 Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16 Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17 Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18 Bab 18. Kedatangan Eliza
19 Bab 19. Merenung
20 Bab 20. Pertengkaran
21 Bab 21. Transferan
22 Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23 Bab 23. Menjaga Jarak
24 Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25 Bab 25. Arjuna Penasaran
26 Bab 26. Temu Kangen
27 Bab 27. Ada Yang Gelisah
28 Bab 28. Kirain Pacar?
29 Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30 Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31 Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32 Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33 Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34 Bab 34. Lidya Pingsan
35 Bab 35. Mual?
36 Bab 36. Pamit Pulang
37 Bab 37. Alat Test Pack
38 Bab 38. Hasil Test Pack
39 Bab 39. Rencana Lidya
40 Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41 Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42 Bab 42. Terasa Berat
43 Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44 Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45 Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46 Bab 46. Kegelisahan Eliza
47 Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48 Bab 48. Cek Kandungan
49 Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50 Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51 Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52 Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53 Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54 Bab 54. Seperti Nyata
55 Bab 55. Tempat Kerja Baru
56 Bab 56. Datang Berkunjung
57 Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58 Bab 58. Kehamilan Simpatik
59 Bab 59. Menjenguk Arjuna
60 Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61 Bab 61. Memulangkan Eliza
62 Bab 62. CEO Baru
63 Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64 Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65 Bab 65. Ke Luar Kota
66 Bab 66. Tiba di Balikpapan
67 Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68 Bab 68. Tolong Rahasiakan
69 Bab 69. Azzam dan Azzuri
70 Bab 70. Haruskah Menyerah?
71 Bab 71. Melihatnya
72 Bab 72. Anak Siapa?
73 Bab 73. Anakku
74 Bab 74. Bertemu Kembali
75 Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76 Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77 Bab 77. Menunggumu
78 Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79 Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80 Bab 80. Kita Keluarga
81 Bab 81. Will You Marry Me?
82 Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83 Bab 83. Akad Nikah
84 Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85 Bab 85. Malam Pertama
86 Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87 Bab 87. Maafkan Aku
88 Bab 88. Telah Tiada
89 Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90 Bab 90. Happy Ending
91 Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92 Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2
Bab 2. Tanggung Jawab?
3
Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4
Bab 4. Terluka
5
Bab 5. Jangan Main Hati
6
Bab 6. Lidya Marah
7
Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8
Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9
Bab 9. Penolakan Lidya
10
Bab 10. Tiba-tiba Datang
11
Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12
Bab 12. Poligami!?
13
Bab 13. Membujuk Istri
14
Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15
Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16
Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17
Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18
Bab 18. Kedatangan Eliza
19
Bab 19. Merenung
20
Bab 20. Pertengkaran
21
Bab 21. Transferan
22
Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23
Bab 23. Menjaga Jarak
24
Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25
Bab 25. Arjuna Penasaran
26
Bab 26. Temu Kangen
27
Bab 27. Ada Yang Gelisah
28
Bab 28. Kirain Pacar?
29
Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30
Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31
Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32
Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33
Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34
Bab 34. Lidya Pingsan
35
Bab 35. Mual?
36
Bab 36. Pamit Pulang
37
Bab 37. Alat Test Pack
38
Bab 38. Hasil Test Pack
39
Bab 39. Rencana Lidya
40
Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41
Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42
Bab 42. Terasa Berat
43
Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44
Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45
Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46
Bab 46. Kegelisahan Eliza
47
Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48
Bab 48. Cek Kandungan
49
Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50
Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51
Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52
Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53
Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54
Bab 54. Seperti Nyata
55
Bab 55. Tempat Kerja Baru
56
Bab 56. Datang Berkunjung
57
Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58
Bab 58. Kehamilan Simpatik
59
Bab 59. Menjenguk Arjuna
60
Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61
Bab 61. Memulangkan Eliza
62
Bab 62. CEO Baru
63
Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64
Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65
Bab 65. Ke Luar Kota
66
Bab 66. Tiba di Balikpapan
67
Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68
Bab 68. Tolong Rahasiakan
69
Bab 69. Azzam dan Azzuri
70
Bab 70. Haruskah Menyerah?
71
Bab 71. Melihatnya
72
Bab 72. Anak Siapa?
73
Bab 73. Anakku
74
Bab 74. Bertemu Kembali
75
Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76
Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77
Bab 77. Menunggumu
78
Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79
Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80
Bab 80. Kita Keluarga
81
Bab 81. Will You Marry Me?
82
Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83
Bab 83. Akad Nikah
84
Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85
Bab 85. Malam Pertama
86
Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87
Bab 87. Maafkan Aku
88
Bab 88. Telah Tiada
89
Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90
Bab 90. Happy Ending
91
Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92
Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!