Bab 4. Terluka

Tubuhnya terhempas ke belakang, matanya terbelalak, bibirnya mengeluarkan darah segar. Dalam sekejap, kakinya kehilangan tenaga, tubuhnya lunglai jatuh.

“LIDYAAAA!!” teriak Arjuna, panik. Ia berlari, menangkap tubuh adik iparnya sebelum menyentuh lantai.

Suasana restoran mendadak membeku. Para pengunjung menjerit, sebagian menutup mulut, sebagian lagi berlari keluar.

“Lidya! Bertahan!” Suara Arjuna bergetar, kedua tangannya mengguncang pelan tubuh gadis itu. “Tolong buka mata kamu, Lidya … dengar suara Kakak … jangan penjamkan matamu. Sadarlah, Lidya!”

Namun Lidya hanya mampu mengerang pelan. Darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Tangannya yang lemah sempat terangkat, seolah ingin menggenggam baju Arjuna, namun jatuh begitu saja.

Arjuna merasa seluruh dunianya runtuh.

“Apa yang sudah kamu lakukan?!” Arjuna menoleh dengan mata merah penuh amarah ke arah Tommy. “Dasar bajingan tak punya hati!”

Tommy terdiam, wajahnya pucat. Ia tidak pernah bermaksud mengenai Lidya. Untuk pertama kalinya, ekspresi percaya dirinya hilang, berganti ketakutan. Namun itu tidak membuat Arjuna berhenti menatapnya dengan kebencian murni.

“Cepat hubungi ambulans!” teriak salah satu staf hotel.

Beberapa waiter bergegas mengeluarkan ponsel, sementara yang lain mendekat, mencoba membantu. Namun Arjuna menepis.

“Tidak usah! Bantu saya bawa dia sekarang juga!” Suaranya pecah, nyaris seperti raungan.

Dengan penuh hati-hati, Arjuna mengangkat tubuh Lidya yang hampir tak sadarkan diri. Darah membasahi kemeja putihnya, tapi ia tidak peduli. Pandangannya hanya tertuju pada wajah pucat adik iparnya itu.

“Lidya, tolong bertahan … aku mohon … jangan bikin aku tambah kacau,” bisiknya lirih, matanya berkaca-kaca.

***

Beberapa staf segera membimbing Arjuna menuju mobil hotel yang sudah disiapkan. Dalam perjalanan keluar, semua mata menatap dengan ngeri, sebagian merekam dengan ponsel, sebagian lagi hanya terpaku.

Di belakang, Tommy masih berdiri terpaku. Tangan gemetar, wajah kaku, seakan baru menyadari betapa fatal tindakannya.

Saat pintu mobil ditutup, Arjuna menoleh sekilas, matanya menyalakan api dendam yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Tommy … kalau sampai Lidya kenapa-kenapa.” Suaranya serak, penuh sumpah serapah yang tertahan. “Aku pastikan kamu menyesal lahir ke dunia ini.”

Mobil pun melesat pergi, meninggalkan Tommy yang termangu di tengah kekacauan restoran.

***

Siang itu, sirine mobil hotel yang melaju kencang memecah kesunyian jalanan. Di dalam mobil, Arjuna terus mengguncang tubuh Lidya yang semakin lemah. Air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah, rasa bersalah dan panik bercampur jadi satu.

“Lidya, buka mata kamu … tolong dengar suara aku. Kamu kuat, kamu selalu kuat, jangan kalah sekarang.”

Namun tubuh itu tetap lemah dalam gendongannya.

Dan di dalam hati Arjuna, terpatri satu kenyataan pahit: ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri—maupun Tommy—jika Lidya sampai terluka parah.

***

“Cepat, segera siapkan ruang observasi!” Suara dokter jaga terdengar lantang begitu Lidya dibopong masuk ke ruang IGD dengan wajah pucat dan darah masih menetes dari sudut bibirnya.

Perawat segera mendorong brankar, sementara Arjuna berjalan di samping dengan wajah penuh kepanikan.

“Dok, tolong ... tolong selamatkan adik saya. Apa pun lakukan, saya mohon!” Suara Arjuna parau, hampir bergetar.

“Tenang, Pak. Kami sedang berusaha. Silakan tunggu di luar sebentar,” sahut salah satu perawat sambil menahan bahu Arjuna tampak tak sabar.

“Saya ... saya tidak bisa diam di luar. Saya harus lihat keadaannya!” Arjuna bersikeras, matanya merah menahan emosi dan rasa bersalah.

Dokter akhirnya menoleh sebentar. “Baik, asal tidak mengganggu, Anda boleh ikut. Tapi jangan panik, ya. Kami harus fokus.”

Arjuna mengangguk cepat, lalu berdiri tak jauh dari brankar tempat Lidya diperiksa.

Beberapa menit berlalu, terdengar suara stetoskop, instruksi perawat, dan bunyi alat medis. Dokter akhirnya menoleh pada Arjuna.

“Pak, setelah pemeriksaan awal, pasien mengalami trauma di bagian punggung. Ada pendarahan akibat benturan keras, tapi syukurlah tidak mengenai organ vital. Kami sarankan untuk observasi selama beberapa jam ke depan. Kondisinya stabil, hanya pingsan karena benturan dan kelelahan.”

Arjuna menarik napas panjang, menunduk, lalu menekan pelipisnya. “Syukurlah.”

“Apakah saya boleh menemaninya di ruang observasi?” tanya Arjuna cepat.

“Boleh. Tapi ingat, pasien masih belum sadar. Jangan membuatnya stres saat nanti terbangun,” jelas dokter.

Arjuna mengangguk lagi. “Terima kasih, Dok. Saya janji.”

***

Suasana jauh lebih tenang. Hanya ada suara mesin monitor yang menunjukkan detak jantung Lidya. Tubuh gadis itu tampak lemah, berbaring dengan selang infus menempel di tangan.

Arjuna duduk di kursi tepat di samping brankar. Matanya terus menatap wajah Lidya. Jemarinya sempat terangkat, seakan ingin menyentuh tangan Lidya, tapi ia urungkan.

“Huft.” Arjuna menghela napas berat. “Kalau saja aku tidak terbawa emosi tadi ... kalau saja aku bisa menahan diri,” gumamnya lirih.

Tak lama kemudian, Lidya mulai menggerakkan jemarinya. Kelopak matanya perlahan terbuka, cahaya lampu membuatnya sedikit menyipitkan mata.

“Lidya ... Lidya, kamu sadar?” Arjuna langsung berdiri, wajahnya tegang. “Apa yang kamu rasakan? Masih sakit di bagian punggung?”

Lidya mengerjap, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari sorot mata kakak iparnya. Wajahnya dingin.

Arjuna cemas. “Aku panggil dokter sekarang. Tunggu sebentar.” Ia segera menekan tombol panggil di samping ranjang.

Tak lama, dokter dan dua perawat masuk. “Oh, pasien sudah sadar. Bagaimana perasaannya?”

Lidya membuka bibirnya pelan. “Punggung saya ... terasa sakit, Dok. Seperti ditusuk. Kepala saya juga pusing.”

Dokter mengangguk, mencatat. “Wajar, karena benturan cukup keras. Kami akan cek ulang tekanan darah dan kondisi syarafnya.”

Perawat sigap memeriksa ulang. Arjuna menatap lekat, ingin sekali ikut berbicara, namun Lidya sama sekali tidak menoleh padanya.

Dokter kembali menatap pasien. “Apakah ada keluhan lain, Mbak?”

“Mual sedikit ... tapi selebihnya, saya baik-baik saja.” Lidya berusaha terdengar tegar, meski wajahnya masih pucat.

Arjuna akhirnya tak tahan. “Dok, dia tadi sempat keluar darah dari mulut. Itu ... berbahaya, kan?”

Lidya menoleh cepat, menatap Arjuna dengan sorot kesal. “Aku yang ditanya dokter, Kak. Biarkan aku yang menjawab.”

Arjuna terdiam, matanya mengerjap. Dokter melirik singkat, lalu berusaha menjaga suasana.

“Keluar darah sedikit akibat benturan, Pak. Tapi tidak berbahaya. Kami akan tetap pantau. Jangan khawatir.”

“Terima kasih, Dok,” jawab Lidya singkat, tanpa menoleh ke Arjuna.

Dokter mengangguk, lalu meninggalkan ruangan setelah memberi instruksi pada perawat.

Kini, hanya tersisa mereka berdua. Keheningan menusuk, hanya suara monitor yang terdengar.

Arjuna mencoba membuka suara. “Lidya ... aku—”

“Tolong jangan bicara denganku,” potong Lidya cepat, masih menatap langit-langit, bukan ke arahnya.

Arjuna mendesah, tangannya mengepal di pangkuan. “Aku tahu kamu marah. Dan kamu berhak marah. Tapi ... aku sungguh menyesal.”

Lidya memejamkan mata, menahan air mata yang hampir jatuh. “Menyesal? Menyesal karena aku terluka? Atau menyesal karena kamu gagal mengendalikan emosi, sampai menyeret aku ke dalam masalahmu dengan orang lain?”

Bersambung ... ✍️

Terpopuler

Comments

Kimo Miko

Kimo Miko

waduh..... jujun adikmu mutung.... cepetan 2M nya dan saham cepat diputuskan dan lidya dipindah tugaskan jika lidya sampai hamil keluarganya tidak akan tahu apalagi kamu mau menghalalkannya. maaf thor pemikiran nethizen agak eror soalnya mereka berdua korban tapi yang bantak ruginya kan ludya

2025-11-07

0

Ila Lee

Ila Lee

selepas keluar dari s rumah sakit kau pergi sejauh mana yg kau mampu Lidya jgn pernah kembali. ladi kerana diluah mati emak ditelan mati bapak kerana Arjuna itu Ang ipar MU suami kakak MU 😭😭😭😭😭

2025-11-25

0

RiriChiew🌺

RiriChiew🌺

hehh menyesall? yakin kah atau hanya kasian Krena Lidya dalam keadaan Kya gitu?
Lidya pasti kecewa banget sama kamu loh tpi aku yakin dia kuat dan tangguh 💪

2025-11-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2 Bab 2. Tanggung Jawab?
3 Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4 Bab 4. Terluka
5 Bab 5. Jangan Main Hati
6 Bab 6. Lidya Marah
7 Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8 Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9 Bab 9. Penolakan Lidya
10 Bab 10. Tiba-tiba Datang
11 Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12 Bab 12. Poligami!?
13 Bab 13. Membujuk Istri
14 Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15 Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16 Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17 Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18 Bab 18. Kedatangan Eliza
19 Bab 19. Merenung
20 Bab 20. Pertengkaran
21 Bab 21. Transferan
22 Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23 Bab 23. Menjaga Jarak
24 Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25 Bab 25. Arjuna Penasaran
26 Bab 26. Temu Kangen
27 Bab 27. Ada Yang Gelisah
28 Bab 28. Kirain Pacar?
29 Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30 Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31 Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32 Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33 Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34 Bab 34. Lidya Pingsan
35 Bab 35. Mual?
36 Bab 36. Pamit Pulang
37 Bab 37. Alat Test Pack
38 Bab 38. Hasil Test Pack
39 Bab 39. Rencana Lidya
40 Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41 Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42 Bab 42. Terasa Berat
43 Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44 Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45 Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46 Bab 46. Kegelisahan Eliza
47 Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48 Bab 48. Cek Kandungan
49 Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50 Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51 Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52 Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53 Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54 Bab 54. Seperti Nyata
55 Bab 55. Tempat Kerja Baru
56 Bab 56. Datang Berkunjung
57 Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58 Bab 58. Kehamilan Simpatik
59 Bab 59. Menjenguk Arjuna
60 Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61 Bab 61. Memulangkan Eliza
62 Bab 62. CEO Baru
63 Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64 Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65 Bab 65. Ke Luar Kota
66 Bab 66. Tiba di Balikpapan
67 Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68 Bab 68. Tolong Rahasiakan
69 Bab 69. Azzam dan Azzuri
70 Bab 70. Haruskah Menyerah?
71 Bab 71. Melihatnya
72 Bab 72. Anak Siapa?
73 Bab 73. Anakku
74 Bab 74. Bertemu Kembali
75 Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76 Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77 Bab 77. Menunggumu
78 Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79 Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80 Bab 80. Kita Keluarga
81 Bab 81. Will You Marry Me?
82 Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83 Bab 83. Akad Nikah
84 Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85 Bab 85. Malam Pertama
86 Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87 Bab 87. Maafkan Aku
88 Bab 88. Telah Tiada
89 Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90 Bab 90. Happy Ending
91 Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92 Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2
Bab 2. Tanggung Jawab?
3
Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4
Bab 4. Terluka
5
Bab 5. Jangan Main Hati
6
Bab 6. Lidya Marah
7
Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8
Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9
Bab 9. Penolakan Lidya
10
Bab 10. Tiba-tiba Datang
11
Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12
Bab 12. Poligami!?
13
Bab 13. Membujuk Istri
14
Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15
Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16
Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17
Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18
Bab 18. Kedatangan Eliza
19
Bab 19. Merenung
20
Bab 20. Pertengkaran
21
Bab 21. Transferan
22
Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23
Bab 23. Menjaga Jarak
24
Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25
Bab 25. Arjuna Penasaran
26
Bab 26. Temu Kangen
27
Bab 27. Ada Yang Gelisah
28
Bab 28. Kirain Pacar?
29
Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30
Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31
Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32
Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33
Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34
Bab 34. Lidya Pingsan
35
Bab 35. Mual?
36
Bab 36. Pamit Pulang
37
Bab 37. Alat Test Pack
38
Bab 38. Hasil Test Pack
39
Bab 39. Rencana Lidya
40
Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41
Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42
Bab 42. Terasa Berat
43
Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44
Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45
Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46
Bab 46. Kegelisahan Eliza
47
Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48
Bab 48. Cek Kandungan
49
Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50
Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51
Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52
Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53
Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54
Bab 54. Seperti Nyata
55
Bab 55. Tempat Kerja Baru
56
Bab 56. Datang Berkunjung
57
Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58
Bab 58. Kehamilan Simpatik
59
Bab 59. Menjenguk Arjuna
60
Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61
Bab 61. Memulangkan Eliza
62
Bab 62. CEO Baru
63
Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64
Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65
Bab 65. Ke Luar Kota
66
Bab 66. Tiba di Balikpapan
67
Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68
Bab 68. Tolong Rahasiakan
69
Bab 69. Azzam dan Azzuri
70
Bab 70. Haruskah Menyerah?
71
Bab 71. Melihatnya
72
Bab 72. Anak Siapa?
73
Bab 73. Anakku
74
Bab 74. Bertemu Kembali
75
Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76
Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77
Bab 77. Menunggumu
78
Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79
Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80
Bab 80. Kita Keluarga
81
Bab 81. Will You Marry Me?
82
Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83
Bab 83. Akad Nikah
84
Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85
Bab 85. Malam Pertama
86
Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87
Bab 87. Maafkan Aku
88
Bab 88. Telah Tiada
89
Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90
Bab 90. Happy Ending
91
Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92
Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!