Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?

Hari itu, Lidya memanfaatkan waktu untuk beristirahat, memulihkan dirinya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wib. Sedangkan Arjuna yang masih memantau proyek pembangunan apartemen tampak gelisah. Pikirannya mendadak bercabang ke mana-mana, terutama memikirkan Lidya yang seharusnya tidak ia pikirkan.

“Huft.” Arjuna menghela napas sembari mendongak ke langit-langit.

“Pak Arjuna, mau saya siapkan makan siang di sini atau bagaimana?” tanya Syamsul—mandor proyek.

Arjuna menoleh, “Saya kembali ke hotel saja. Pak Syamsul, saya tunggu laporan anggaran proyek yang telah digunakan, secepat mungkin. Dan, bahan-bahan tolong diperhatikan kualitasnya.”

“Baik Pak, segera akan saya siapkan. Nanti akan saya kirim email lewat Mbak Lidya.”

Arjuna melepas helm proyek, dan bergegas ke parkiran mobil. Tanpa menunggu waktu lama mandor proyek mengantarnya kembali ke hotel.

Begitu sampai di hotel yang tidak terlalu jauh jaraknya dari tempat proyek, ia langsung menuju lantai lima.

“Lidya! Lidya!” Berulang kali Arjuna memanggil, mengetuk pintu, dan memencet bel kamar, tapi tetap aja tidak ada jawaban dari dalam.

“Ke mana dia? Tidur ‘kah? Atau pergi?” gumamnya sendiri.

“Lidya!” Arjuna kembali memencet bel, sembari mengeluarkan ponselnya.

“Lidya, kamu ada di mana? Kamu ada di kamar, kan?” cecar Arjuna begitu panggilan teleponnya dijawab.

“Oh, Kak Arjun. Aku lagi makan,” jawab Lidya dengan santainya.

“Makan di mana?”

“Makan di restoran, ya kali makan di toko buku.”

“Aku serius tanyanya, Lidya! Tidak sedang bercanda!” Suara Arjuna mulai meninggi.

“Aku juga lagi nggak bercanda, Kak Arjun. Aku makan ya di restoran lah, ya kali bisa makan di toko buku. Emangnya buku bisa dimakan. Lagian, aneh amat ... tumben-tumbennya nanya aku ada di mana,” jawabnya agak ketus.

Mata Arjuna mengerjap, agak sedikit terkesiap mendengar jawaban adik iparnya yang agak lain. Mana pernah Lidya menjawab seperti ini, pasti selalu sopan dan suaranya begitu lemah lembut. Apakah Lidya mulai menjelma seseorang, atau jiwa Lidya tertukar?

Arjuna menarik napasnya dalam-dalam. Dan itu terdengar di telinga Lidya. “Aku ada di depan kamarmu. Hampir 10 menit aku memanggil, mengetuk, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Sekarang, aku bertanya, kamu jawabnya seperti ini? Kamu ini tidak menghormati aku!” tegasnya.

Kini, giliran Lidya yang menarik napas, sampai suara dentingan sendoknya terdengar jelas. “Mohon maaf sekali Pak Arjuna, kalau karyawannya mendadak tidak sopan seperti ini. Suatu kehormatan bagi saya ... Bapak sampai mencari saya. Apakah ada yang bisa saya bantu sampai-sampai Bapak mencari saya? Bukankah seharusnya Bapak masih berada di tempat proyek?” Suara Lidya berubah menjadi formal seperti komunikasi yang biasa ia lakukan bila di kantor.

“Aku mau ada di tempat proyek kek, mau di tempat lain, itu urusan aku bukan urusan kamu!” Suaranya mulai meninggi.

Lidya terdiam. Ia menundukkan kepalanya memandang makanan yang baru saja ia nikmati.

“Aku sangat tidak suka dengan jawaban kamu seperti tadi. Dan, jangan mentang-mentang kita telah melakukan hubungan intim, kamu tidak lagi menghormatiku, dan bersikap semena-mena seperti ini! Ingat, posisimu, Lidya!” sentak Arjuna, tiba-tiba emosi sendiri.

Gadis itu mengusap ujung matanya yang mulai berair. Ia bukan perempuan yang mudah menangis, tapi sejak tadi pagi hatinya sedang tidak baik-baik saja, dan sekarang Arjuna menambahkan kembali luka yang masih menganga.

“Maaf.” Suara Lidya begitu pelan, lalu tak lama ia putuskan sambungan teleponnya, ketimbang ia juga ikutan tersulut emosi.

“Lidya ... Lidya!”

Arjuna mengeram sembari menatap layar ponselnya. “Berani sekali ia menutup telepon dariku!”

***

Gadis itu tak lagi bernafsu melanjutkan makan siangnya, padahal ia sengaja turun dari kamar ke restoran hotel karena perutnya sangat lapar. Sekarang rasanya ambyar gara-gara telepon Arjuna.

Sementara itu, Arjuna yang sudah terlanjur balik ke hotel, akhirnya memilih turun ke lobi menuju salah satu restoran yang ada di hotel tersebut. Untungnya saja bukan restoran yang sama.

“Lebih baik aku balik ke Jakarta saja, dari pada lama-lama emosi di sini,” gumam Lidya.

Setibanya di kamar, ia langsung mengemas baju dan barang-barangnya. Dan bergegas berganti pakaian, usai itu Lidya langsung turun ke lobi, padahal jadwal ia dan Arjuna akan kembali ke Jakarta esok hari.

***

Langkah-langkah Arjuna terdengar mantap saat memasuki restoran hotel siang itu. Napasnya terasa berat, pikirannya masih berputar tentang kejadian semalam yang membuat dadanya sesak. Ia tidak pernah menyangka akan terjebak dalam situasi yang begitu menjijikkan, tapi juga menikmatinya. Wajahnya muram, tatapan matanya tajam, seakan mencari sesuatu yang tidak kasatmata.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Di salah satu sudut restoran, duduklah seorang pria paruh baya dengan jas rapi, wajahnya penuh senyum puas sembari meneguk wine. Arjuna mengenali pria itu seketika—Tommy, relasi bisnisnya.

Darah Arjuna mendidih. Seluruh tubuhnya menegang, otaknya seolah meledak oleh ingatan semalam.

Dialah orangnya.

Tanpa pikir panjang, Arjuna menghampiri meja itu dengan langkah panjang, suaranya bergemuruh begitu ia membuka mulut.

“Berengsek!” Arjuna menggebrak meja hingga gelas bergetar dan sebagian minuman tumpah. “Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan?!”

Tommy hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak terkejut. “Arjuna, duduklah. Jangan membuat keributan. Kita bisa bicarakan ini dengan tenang.”

Namun ucapan itu justru menjadi bensin di atas api. Arjuna langsung mencengkeram kerah jas Tommy, wajahnya merah padam.

“Kamu menjebak aku! Semalam … semalam kamu—” Suaranya tercekat. Arjuna tidak sanggup melanjutkan, bayangan Lidya yang tak berdaya membuatnya semakin terguncang.

Tommy tertawa kecil, dingin dan penuh ejekan. “Kamu terlalu polos, Arjuna. Kamu menikmatinya, kan, bersama sekretarisku?"

Arjuna tidak bisa lagi menahan diri. Tinju kerasnya mendarat tepat di rahang Tommy. Brak! Suara dentuman membuat semua mata pengunjung restoran menoleh.

“Dasar iblis! Aku bunuh kamu!” Arjuna kembali melayangkan pukulan, kali ini lebih keras. Tommy terhuyung, namun dengan cepat membalas. Pertarungan sengit pun pecah di tengah restoran mewah itu. Kursi-kursi terbalik, piring pecah, suara teriakan para pengunjung bercampur dengan dentuman meja yang bergeser.

“Pak! Tolong hentikan!!” teriak beberapa waiter panik, mencoba melerai. Tapi Arjuna sudah dibutakan amarah. Baginya, hanya ada satu tujuan, menghancurkan pria yang telah merusak kehormatannya, dan—lebih parah lagi—kehormatan Lidya.

Tinju demi tinju saling bertukar. Tommy, meski tampak lebih tua, ternyata cukup gesit. Ia berhasil menendang keras ke arah perut Arjuna, membuat pria itu terhuyung beberapa langkah.

Sementara itu, Lidya yang sudah turun lobi dengan kopernya memperhatikan suara ribut dari sisi restoran. “Lho, bukannya itu.”

Lidya penasaran mencoba mendekat.

Sebelum Arjuna sempat bangkit lagi, suara yang begitu familiar menusuk telinganya.

“Kak Arjun …? Pak Tommy?!”

Arjuna menoleh cepat. Matanya terbelalak. Di lobi hotel yang terhubung langsung dengan area restoran, berdiri sosok yang begitu ia kenal—Lidya.

Tubuh gadis itu kaku, wajahnya pucat pasi, matanya melebar melihat kenyataan di depan mata.

Tidak … Lidya seharusnya tidak melihat ini.

“Kalian berdua … hentikan!” Lidya berlari mendekat, tangannya terangkat, seakan ingin menjadi penengah. Wajahnya penuh kecemasan, bibirnya bergetar menyebut nama keduanya.

Namun segalanya terjadi terlalu cepat.

Tommy, yang sudah kehilangan kendali, melancarkan tendangan keras ke arah Arjuna. Arjuna sempat menghindar, namun justru tubuh Lidya yang sedang berlari ke tengah pertarungan menjadi sasaran.

Bugh!

Tendangan itu mendarat telak di punggung Lidya.

Bersambung ... ✍️

Terpopuler

Comments

Inooy

Inooy

waduuuh jebakan nya makin parah aj nih s Tommy,,ini menyikapi gimana yaah..apa harus bilang beruntung g kejadian ama sekretaris nya Tommy, apa gimana niih?? tp yg jd korban jebakan nya Tommy justru adik ipar sendiiiri niih 🤔

2025-11-06

1

Kimo Miko

Kimo Miko

lanjut thor.. biarin si tomcat dihajar jujun sampe letoy tapi kok tomcatnya cukup lincah y. awas lid jangan dekat dekat ntar kena tendangan si jujun atau tomcat.....

2025-11-07

0

Nandi Ni

Nandi Ni

Ya Allah Jumanto,astaghfirullah,nyebut kang ojo grasa grusu gedebag gedebug ngono lho ! diomongke sit,sabar tohh ! kaaaaaan Lidya sek kena gebug,aduuuuh biyuuuung

2025-11-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2 Bab 2. Tanggung Jawab?
3 Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4 Bab 4. Terluka
5 Bab 5. Jangan Main Hati
6 Bab 6. Lidya Marah
7 Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8 Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9 Bab 9. Penolakan Lidya
10 Bab 10. Tiba-tiba Datang
11 Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12 Bab 12. Poligami!?
13 Bab 13. Membujuk Istri
14 Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15 Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16 Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17 Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18 Bab 18. Kedatangan Eliza
19 Bab 19. Merenung
20 Bab 20. Pertengkaran
21 Bab 21. Transferan
22 Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23 Bab 23. Menjaga Jarak
24 Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25 Bab 25. Arjuna Penasaran
26 Bab 26. Temu Kangen
27 Bab 27. Ada Yang Gelisah
28 Bab 28. Kirain Pacar?
29 Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30 Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31 Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32 Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33 Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34 Bab 34. Lidya Pingsan
35 Bab 35. Mual?
36 Bab 36. Pamit Pulang
37 Bab 37. Alat Test Pack
38 Bab 38. Hasil Test Pack
39 Bab 39. Rencana Lidya
40 Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41 Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42 Bab 42. Terasa Berat
43 Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44 Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45 Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46 Bab 46. Kegelisahan Eliza
47 Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48 Bab 48. Cek Kandungan
49 Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50 Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51 Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52 Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53 Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54 Bab 54. Seperti Nyata
55 Bab 55. Tempat Kerja Baru
56 Bab 56. Datang Berkunjung
57 Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58 Bab 58. Kehamilan Simpatik
59 Bab 59. Menjenguk Arjuna
60 Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61 Bab 61. Memulangkan Eliza
62 Bab 62. CEO Baru
63 Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64 Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65 Bab 65. Ke Luar Kota
66 Bab 66. Tiba di Balikpapan
67 Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68 Bab 68. Tolong Rahasiakan
69 Bab 69. Azzam dan Azzuri
70 Bab 70. Haruskah Menyerah?
71 Bab 71. Melihatnya
72 Bab 72. Anak Siapa?
73 Bab 73. Anakku
74 Bab 74. Bertemu Kembali
75 Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76 Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77 Bab 77. Menunggumu
78 Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79 Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80 Bab 80. Kita Keluarga
81 Bab 81. Will You Marry Me?
82 Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83 Bab 83. Akad Nikah
84 Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85 Bab 85. Malam Pertama
86 Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87 Bab 87. Maafkan Aku
88 Bab 88. Telah Tiada
89 Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90 Bab 90. Happy Ending
91 Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92 Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1. Kehilangan Kehormatan
2
Bab 2. Tanggung Jawab?
3
Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?
4
Bab 4. Terluka
5
Bab 5. Jangan Main Hati
6
Bab 6. Lidya Marah
7
Bab 7. Mencoba Menarik Perhatian Lidya
8
Bab 8. Harusnya Aku Tak Peduli
9
Bab 9. Penolakan Lidya
10
Bab 10. Tiba-tiba Datang
11
Bab 11. Tugas Kakak Ipar
12
Bab 12. Poligami!?
13
Bab 13. Membujuk Istri
14
Bab 14. Masih Kepikiran Kerjaan
15
Bab 15. Telepon Dari Mama Riri
16
Bab 16. Ditunggu Transferannya, Mas
17
Bab 17. Cukup Kak Arjun!
18
Bab 18. Kedatangan Eliza
19
Bab 19. Merenung
20
Bab 20. Pertengkaran
21
Bab 21. Transferan
22
Bab 22. Pikir-pikir Dulu, Lidya
23
Bab 23. Menjaga Jarak
24
Bab 24. Sudah Punya Pacar?
25
Bab 25. Arjuna Penasaran
26
Bab 26. Temu Kangen
27
Bab 27. Ada Yang Gelisah
28
Bab 28. Kirain Pacar?
29
Bab 29. Pagi-pagi Ada Yang Datang
30
Bab 30. Disangka Mau Membujuk
31
Bab 31. Kelak Jangan Menyesal, Eliza
32
Bab 32. Melupakan Bukan Berarti Tidak Peduli
33
Bab 33. Dua Minggu Berlalu
34
Bab 34. Lidya Pingsan
35
Bab 35. Mual?
36
Bab 36. Pamit Pulang
37
Bab 37. Alat Test Pack
38
Bab 38. Hasil Test Pack
39
Bab 39. Rencana Lidya
40
Bab 40. Hari Terakhir Bekerja
41
Bab 41. Kesedihan Seorang Ibu
42
Bab 42. Terasa Berat
43
Bab 43. Maafkan Aku, Ma
44
Bab 44. Selamat Tinggal Jakarta
45
Bab 45. Hasil Pemeriksaan
46
Bab 46. Kegelisahan Eliza
47
Bab 47. Malam Pertama Lidya di Balikpapan
48
Bab 48. Cek Kandungan
49
Bab 49. Arjuna Mencari Lidya
50
Bab 50. Mual yang Tak Bisa Dijelaskan
51
Bab 51. Yang Di Jakarta Sedih, Yang Di Balikpapan Happy
52
Bab 52. Arjuna Jatuh Sakit
53
Bab 53. Tamparan Dari Mama Mertua
54
Bab 54. Seperti Nyata
55
Bab 55. Tempat Kerja Baru
56
Bab 56. Datang Berkunjung
57
Bab 57. Konfrontasi Dengan Eliza
58
Bab 58. Kehamilan Simpatik
59
Bab 59. Menjenguk Arjuna
60
Bab 60. Rumah Tangga Yang Retak
61
Bab 61. Memulangkan Eliza
62
Bab 62. CEO Baru
63
Bab 63. Bukan Suami Saya, Bu
64
Bab 64. Kabar Dari Mama Riri
65
Bab 65. Ke Luar Kota
66
Bab 66. Tiba di Balikpapan
67
Bab 67. Kamu, Hamil Anak Siapa?
68
Bab 68. Tolong Rahasiakan
69
Bab 69. Azzam dan Azzuri
70
Bab 70. Haruskah Menyerah?
71
Bab 71. Melihatnya
72
Bab 72. Anak Siapa?
73
Bab 73. Anakku
74
Bab 74. Bertemu Kembali
75
Bab 75. Biarkan Takdir Yang Bekerja
76
Bab 76. Izin Bertanggungjawab
77
Bab 77. Menunggumu
78
Bab 78. Jangan Pikirkan Eliza
79
Bab 79. Daddy Alan-Alan Yuk
80
Bab 80. Kita Keluarga
81
Bab 81. Will You Marry Me?
82
Bab 82. Membagikan Kabar Baik
83
Bab 83. Akad Nikah
84
Bab 84. Aku Bahagia, Kak
85
Bab 85. Malam Pertama
86
Bab 86. Kabar Dari Jakarta
87
Bab 87. Maafkan Aku
88
Bab 88. Telah Tiada
89
Bab 89. Belajar Ikhlas Menerima Kenyataan
90
Bab 90. Happy Ending
91
Promo Karya Terbaru Mommy Ghina
92
Promosi: Kebaya Putih Yang Ternoda

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!