ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN

"Akhir pekan Mia ikut pentas di sekolah. Mama datang ya...."

Thalia duduk tenang di mobil. Percakapannya dengan Jemia beberapa waktu yang lalu membuat kerinduan Thalia pada putrinya semakin kuat. Sosok kecil yang menjadi penghiburannya semenjak lima tahun ini, kini harus tinggal berjauhan dengannya.

Putri kecilnya yang di dalam tubuhnya terdapat sebagian darah pria yang paling ia benci.

Jemia Prameswari- sosok yang Thalia sembunyikan kehadirannya dari Bhumi dan keluarganya yang lain. Jemia-nya yang fisiknya ibarat Bhumi dalam bentuk perempuan. Jemia adalah satu-satunya alasan Thalia bertahan selama ini. Kini Thalia hanya bisa melihatnya dari ponsel saja dan mendengar suaranya dari rekaman yang dikirimkan pengasuhnya.

"Paper bag biru itu hadiah dari Pak Bhumi untuk Nona Thalia." Suara lembut Aji-asisten pribadi Bhumi menyentak kerinduan Thalia pada Jemia. "Hadiah ulang tahun Nona Thalia."

Thalia menoleh ke samping kanannya. Paper bag bertuliskan nama serta logo brand perhiasan mewah itu membuat Thalia tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak berminat menerima hadiah itu. Lagipula Thalia sendiri telah melupakan tanggal kelahirannya semenjak kehadirannya membuat maminya meninggal dunia.

"Itu Mas Aji yang beli, ya?" Thalia mengalihkan pandangannya. Ia benar-benar menolak hadiah itu.

Aji mengangguk. "Tapi Pak Bhumi yang pesankan khusus. Beliau sibuk akhir-akhir ini. Jadi minta saya yang mengambilkannya di toko perhiasan."

Thalia duduk tenang dengan melipatkan tangannya di depan dada. "Dia sibuk setiap hari. Tapi selalu meluangkan waktu untuk menemani perempuan itu. Saya bingung, kenapa atasan Mas Aji tidak menikahi perempuan itu saja daripada saya? Kan di darah kami berdua sama-sama terdapat darah Prasetyo Hakim."

Aji terdiam. Dari kaca spion depan, ia bisa melihat wajah tenang istri atasannya itu menyimpan banyak kebencian dan dendam pada orang-orang terdekatnya.

"Hari ini atasan Mas Aji itu pasti menjemput perempuan itu di bandara, kan?" tanya Thalia memecahkan keheningan di mobil itu.

"Saya tidak berhak menjawab itu, Nona. Pak Bhumi tidak mengatakan apapun selain memberi perintah untuk mengantarkan Nona Thalia hari ini."

Thalia menghela napasnya. Ia jelas tahu bahwa suaminya pasti sedang bersama perempuan itu. Namun, memaksa Aji untuk bicara sama saja bohong. Pria di depannya ini sangat setia pada suaminya. Entah apa yang diperbuat Bhumi sehingga Aji bisa sesetia ini pada Bhumi.

"Adik Mas Aji apa kabarnya? Sudah lama sekali Mas Aji tidak membicarakan dia." Tiba-tiba Thalia teringat dengan gadis muda yang pernah ditemui Aji di rumah sakit dulu.

Gadis muda itu juga yang pernah memberikan syal untuk Thalia yang sakit dulu.

"Dia baik. Nona Thalia ingat dia?"

Thalia mengulum senyum, lalu mengangguk. Dua bulan ini Aji lebih banyak diam dan menunduk saat berhadapan dengannya. Tentu saja itu membuat Thalia penasaran. Bisa dikatakan ini kali pertama Aji memberi pertanyaan seperti itu padanya. Di luar membahas Bhumi.

"Ingat. Dia pernah memberikan saya syal cantik sebagai hadiah. Kok bisa perempuan seceria itu punya kakak seperti Mas Aji yang pendiam?"

Aji tertawa pelan. Hal itu membuat Thalia tercengang. Asisten suaminya itu terlihat lebih manis saat tertawa. Tidak, Thalia tidak menyimpan perasaan apapun pada Aji. Perempuan itu hanya murni ingin berteman dengan Aji.

"Mas Aji tampan kalau tertawa seperti itu." Tanpa basa-basi Thalia memuji Aji dengan terang-terangan.

Wajah Aji pucat seketika, seiring dengan berhentinya tawa Aji.

"Oh iya, hadiah ini berikan saja ke adik Mas Aji." Thalia mengabaikan wajah Aji yang semakin tegang. "Jangan khawatir. Pun jika atasannya Mas Aji marah, itu menjadi tanggung jawab saya. Lagipula hadiahnya sudah menjadi hak saya. Seharusnya dia tidak perlu marah."

Aji tanpa sadar menghela napas berat. Akhir-akhir ini ketenangannya memang sedang diuji dengan pasangan suami istri ini.

Sedangkan Thalia tanpak begitu tenang. Menjahili Aji sejenak bisa membuat pikirannya lebih ringan. Tampaknya tidak melibatkan Bhumi dalam hal apapun itu jauh lebih baik untuk kesehatan mental Thalia.

...***...

"Gila! Hasil fotonya bagus banget, Mbak!" seru Indah penuh semangat. "Kenapa nggak dari dulu aja ya Mbak Thalia kerja di sini. Akhir-akhir ini penjualan juga lagi naik-naiknya."

Thalia sedang menyesap minumannya dengan tenang. Ia hanya terkekeh saat melihat Indah-asistennya yang banyak membantunya selama menekuni dunia modeling tiga bulan ini. Lebih tepatnya saat dirinya ditawari oleh sahabatnya untuk menjadi brand ambassador produk kecantikan miliknya.

Setelah proses photoshoot selesai beberapa menit yang lalu, Thalia langsung istirahat di kursi cukup jauh dengan posisi Indah dan beberapa kru yang lain.

"Bukan hasil fotonya yang bagus. Tapi memang modelnya aja yang cantik. Iya nggak, Tha?" Julian dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Thalia.

Pria itu baru saja masuk dengan begitu santainya dan langsung duduk di kursi dekat Thalia.

Alih-alih tersipu dengan godaan Julian, Thalia justru berpura-pura merinding. Membuat Julian langsung memasang wajah masam.

"Happy nggak sekarang?" tanya Julian dengan lembut. Ia juga memberikan cardigan tipis untuk Thalia yang saat itu hanya memakai dress tanpa lengan.

"Thanks, ya. Seenggaknya aku punya kegiatan untuk mengalihkan pikiranku dari Bhumi," jawab Thalia dengan santai. Cardigan dari Julian langsung ia pakai.

"Aku bisa bantu kamu, Tha. Kamu nggak harus mengorbankan hidup kamu dan Jemia untuk Bhumi." Julian lalu duduk menghadap Thalia. Diraihnya tangan perempuan berwajah lembut itu. "Kamu punya aku, Thalia. Jangan semuanya dipendam sendiri."

Thalia tersenyum tulus pada Julian, sahabatnya sejak sekolah. Julian adalah orang yang mengetahui tentang Jemia. Sahabatnya inilah yang banyak membantunya saat ia memutuskan untuk pergi dari Bhumi lima tahun silam.

"Kamu itu harusnya sudah menikah, Jul. Jangan menyibukkan diri dengan mengurusiku terus. Bagaimanapun kamu juga berhak melanjutkan hidupmu sendiri."

"Masalahnya perempuan itu nggak menyadari itu."

Mata Thalia langsung membulat. Seingatnya sahabatnya ini tidak pernah bercerita tentang perempuan manapun selama lima tahun terakhir ini.

"Siapa dia?" tanya Thalia antusias. Thalia menarik tangannya yang digenggam Julian. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di bahu pria itu. "Pasti dia cantik banget, ya? Selera kamu kan pasti yang cantik-cantik. Minimal bisa mengalahkan kecantikan mantan-mantanmu yang dulu."

"Cantik. Cantik sekali." Julian menatap lurus ke arah Thalia. Namun, saat Thalia menatapnya begitu dalam, Julian buru-buru beranjak dari duduknya.

Matanya kemudian kembali menatap Thalia dengan begitu hangat. "Aku rindu Jemia. Mau menemaniku ke toko bunga? Setelah itu aku akan menemanimu bertemu dia."

Thalia termangu menatap tangan yang terulur di depannya. Lalu tanpa banyak berpikir lagi, Thalia segera menyambut tangan pria itu. Sama seperti Julian, ia juga sangat merindukan Jemia.

Thalia beruntung hari ini karena begitu ia keluar studio, mobil milik suaminya tidak terparkir di tempat itu. Mungkin Aji sedang menemui Bhumi saat ini. Thalia segera ikut bersama Julian untuk ke toko bunga. Biarlah nantinya ia menanggung kemarahan Bhumi karena pulang terlambat.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di sebuah toko bunga langganan Thalia. Sesampainya mereka di sana, Julian langsung menggandeng tangan Thalia. Sekilas mereka lebih terlihat seperti pasangan yang harmonis.

"Aku lihat bunga untuk Mama dulu, ya. Kamu bisa pilih bunga untuk Jemia."

Thalia mengangguk. Sementara Julian segera menuju deretan tanaman sudut kanan, Thalia pun mulai menyusuri toko bunga tersebut hingga sampai di deretan aneka kaktus, favorit putrinya.

"Aku mau yang ini saja, ya. Menurut Mas gimana?"

Deg!

Suara itu begitu familiar di telinga Thalia. Benar saja, saat ia mengangkat wajahnya, matanya menangkap dua sosok yang ia benci di depannya.

"Mas? Kamu dengar aku?" Adelia-kakak tiri Thalia sedang menatap Bhumi dengan sibuk dengan ponselnya.

"Sebentar, Del, aku harus memastikan istriku tidak berulah hari ini."

Istriku? Thalia berdecih dalam hati. Kenyataannya, ia hanyalah istri yang Bhumi sembunyikan.

Thalia baru saja ingin sembunyi. Namun, mata tajam itu dengan cepat menemukan sosoknya. Raut terkejut begitu kentara di wajah tegas itu.

Bersamaan dengan itu, Julian datang lalu dengan santainya berkata, "Sepertinya ini cocok untuk putri kecil kita itu, Tha."

Saat itulah Thalia merasa wajah Bhumi berubah merah padam.

*

*

*

Mohon dukungannya, gaes :) Terima kasih

Jangan lupa kasih rating bagus juga, ya.

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Apa ini Jul...?? bukan cuma minyak yg disiram ke api... ini mh sama tangki-tangki nya
.. 😂

2025-11-09

2

lihat semua
Episodes
1 HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2 ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3 DOMINASI RASA KEBENCIAN
4 ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5 KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6 PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7 GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8 BUKAN KARENA THALIA
9 JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10 PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11 SIAPA DIA?
12 TIDAK SUKA OM GALAK!
13 PARFUM ANAK-ANAK
14 ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15 SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16 TINGGALKAN DIA, THA
17 JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18 DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19 KABAR MENGEJUTKAN
20 NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21 HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22 PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23 AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24 PENOLAKAN PERTAMA
25 PENOLAKAN KEDUA
26 SAKIT TAK BERDARAH
27 MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28 KEALPAAN KEHADIRAN
29 MENCIPTAKAN MOMEN
30 TERSISIH
31 TITIK RASA CEMBURU
32 KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33 MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34 THALIA ISTRI SAYA
35 DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36 MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37 SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38 KEDATANGAN PENGGANGGU
39 DETIK-DETIK
40 TALI DI AMBANG PUTUS
41 DETIK-DETIK
42 PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43 PINDAH
44 PERTANYAAN JEMIA
45 BUKAN UPDATE
46 RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47 BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48 RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49 TAK SEREMEH ES KRIM
50 MODUS
51 RATU PICKME BERAKSI
52 AJI TUKANG PROVOKASI
53 GOSIP MURAHAN
54 GOSIP MURAHAN (2)
55 HADIR BERSAMA
56 PENGUMUMAN
57 ITU ADELIA
58 RENCANA AWAL
59 RUMAH TAK DIRINDUKAN
60 DIHANTAM KENYATAAN
61 BHUMI RANDOM
62 APA YANG KAMU TAHU?
63 TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64 CIUM DULU!
65 INI MEMALUKAN SEKALI
66 KABAR DARI DANU
67 KETAKUTAN ADELIA
68 PERTANYAAN HATI
69 TAK SETARA
70 DUA KABAR
71 PERGILAH SEKARANG!
72 HADIAH ISTIMEWA
73 KEBERANIAN
74 MENDEKATI KEHANCURAN
75 KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76 LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77 KERISAUAN HATI
78 SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79 DUA TITIK BERBEDA
80 TAMU ANEH
81 ANAK HARAM
82 DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83 KABAR BURUK
84 PERTENGKARAN
85 DIKHIANATI, LAGI
86 TERJADI BERSAMAAN
87 PERGI
88 BERDUKA DAN KABAR LAIN
89 DITANGKAP
90 KENYATAAN PAHIT
91 TAK BAIK-BAIK SAJA
92 TENTANG SEBUAH FAKTA
93 HILANGNYA KERAGUAN
94 KEMARAHAN
95 RODA BERPUTAR
96 PESAN TAK BERNAMA
97 PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98 MENDADAK VIRAL
99 JULIAN SIALAN!
100 BEBAS!
101 DARAH
102 SESAL DAN CEMBURU
103 RENCANA SELANJUTNYA?
104 SUDAH TAHU SEJAK AWAL
Episodes

Updated 104 Episodes

1
HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2
ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3
DOMINASI RASA KEBENCIAN
4
ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5
KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6
PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7
GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8
BUKAN KARENA THALIA
9
JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10
PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11
SIAPA DIA?
12
TIDAK SUKA OM GALAK!
13
PARFUM ANAK-ANAK
14
ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15
SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16
TINGGALKAN DIA, THA
17
JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18
DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19
KABAR MENGEJUTKAN
20
NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21
HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22
PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23
AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24
PENOLAKAN PERTAMA
25
PENOLAKAN KEDUA
26
SAKIT TAK BERDARAH
27
MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28
KEALPAAN KEHADIRAN
29
MENCIPTAKAN MOMEN
30
TERSISIH
31
TITIK RASA CEMBURU
32
KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33
MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34
THALIA ISTRI SAYA
35
DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36
MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37
SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38
KEDATANGAN PENGGANGGU
39
DETIK-DETIK
40
TALI DI AMBANG PUTUS
41
DETIK-DETIK
42
PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43
PINDAH
44
PERTANYAAN JEMIA
45
BUKAN UPDATE
46
RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47
BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48
RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49
TAK SEREMEH ES KRIM
50
MODUS
51
RATU PICKME BERAKSI
52
AJI TUKANG PROVOKASI
53
GOSIP MURAHAN
54
GOSIP MURAHAN (2)
55
HADIR BERSAMA
56
PENGUMUMAN
57
ITU ADELIA
58
RENCANA AWAL
59
RUMAH TAK DIRINDUKAN
60
DIHANTAM KENYATAAN
61
BHUMI RANDOM
62
APA YANG KAMU TAHU?
63
TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64
CIUM DULU!
65
INI MEMALUKAN SEKALI
66
KABAR DARI DANU
67
KETAKUTAN ADELIA
68
PERTANYAAN HATI
69
TAK SETARA
70
DUA KABAR
71
PERGILAH SEKARANG!
72
HADIAH ISTIMEWA
73
KEBERANIAN
74
MENDEKATI KEHANCURAN
75
KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76
LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77
KERISAUAN HATI
78
SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79
DUA TITIK BERBEDA
80
TAMU ANEH
81
ANAK HARAM
82
DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83
KABAR BURUK
84
PERTENGKARAN
85
DIKHIANATI, LAGI
86
TERJADI BERSAMAAN
87
PERGI
88
BERDUKA DAN KABAR LAIN
89
DITANGKAP
90
KENYATAAN PAHIT
91
TAK BAIK-BAIK SAJA
92
TENTANG SEBUAH FAKTA
93
HILANGNYA KERAGUAN
94
KEMARAHAN
95
RODA BERPUTAR
96
PESAN TAK BERNAMA
97
PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98
MENDADAK VIRAL
99
JULIAN SIALAN!
100
BEBAS!
101
DARAH
102
SESAL DAN CEMBURU
103
RENCANA SELANJUTNYA?
104
SUDAH TAHU SEJAK AWAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!