KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN

"Kamu harus coba makanan ini, Mas. Menu barunya nggak pernah mengecewakan. Percaya deh sama aku." Adelia terus mengoceh di hadapan Bhumi.

Raut senang begitu tampak di wajah cantiknya. Iringan musik romantis menambah kesyahduan dinner mereka berdua saat ini. Ia sangat senang begitu Bhumi mengiyakan permintaannya minggu lalu untuk dinner berdua.

Biasanya akan banyak alasan yang dikemukakan pria itu. Apalagi semenjak ia menikah dengan Thalia. Kesibukan Bhumi semakin bertambah. Pria yang biasanya enggan turun langsung mengurusi sesuatu itu, jadi begitu sering menangani Thalia langsung jika adik tirinya berulah.

Thalia-penghancur kebahagiannya.

Perebut tunangannya dan membuat gagal pernikahan yang sudah ia impikan sejak awal pertunangannya dengan Bhumi.

"Del," panggil Bhumi. Tatapannya begitu antusias. Meski wajahnya tanpa ekspresi, sorot mata Bhumi masih sama sejak awal mereka bertemu. Hangat.

"Iya? Ada apa? Kamu perlu sesuatu?" Adelia merespon dengan tak kalah antusias.

"Thalia dan sahabatnya itu seberapa dekat?" Bhumi mendadak serius.

Deg!

Pertanyaan apa itu? Mood Adelia hancur seketika. Mengapa harus membawa nama tukang rebut itu di malam romantis ini?

"Kenapa Mas menanyakan itu? Cemburu ya sama Julian?"

Bhumi menggeleng. "Jangan pernah berpikiran seperti itu. Saya hanya penasaran mengapa Thalia yang jarang akrab dengan pria, jadi begitu akrab dengan sahabatnya itu."

Adelia tersenyum lega. Itu artinya Bhumi hanya penasaran, bukan berarti mulai mencintai Thalia.

"Mereka sudah kenal lama, Mas. Sejak SMP bahkan. Cuma sejak dulu, Julian memang selalu mengikuti Thalia ke manapun ia pergi."

"Memungkinkan jika mereka dekat hingga punya anak?"

"Hah?" Adelia dengan cepat menutup mulutnya. "Maaf, Mas. Aku kaget."

Bhumi mengulas senyum tipis.

"Aah, Mas pasti teringat dengan ucapan Julian kemarin sore di toko bunga, ya?" tebak Adelia memastikan dan membuat Bhumi mengangguk pelan.

Wajahnya masih tanpa ekspresi dan begitu tenang. Namun, siapa yang menyangka bahwa hatinya justru menanti jawaban Adelia dengan gugup.

"Mungkin aja. Dia sama Mas aja bisa tidur bersama dan langsung membuatnya hamil. Apalagi cuma sama Julian. Bagaimanapun mereka adalah orang dewasa yang bisa saja melakukan itu dan akhirnya membuat Thalia hamil," jawab Adelia enteng.

Kalau memang dengan perkataan buruk tentang Thalia bisa membuat Bhumi semakin membenci Thalia hingga menceraikan wanita itu, maka Adelia akan melakukan itu.

Meskipun kini Bhumi sudah menikahi Thalia, tetapi Adelia tahu betapa pria itu membenci adik tirinya itu. Bhumi yang sangat berharap anak pada saat itu, harus mendengar kabar bahwa Thalia dengan sengaja menggugurkan janinnya.

"Sampai punya anak?"

Adelia tersentak. Wajah Bhumi begitu serius membahas anak Thalia dan Julian.

"Bisa aja, Mas. Sudahlah. Kenapa kamu mesti sibuk banget ngurusin itu? Ingat ya, Mas. Thalia adalah pembunuh anak kamu. Dia itu jahat dan tukang buat ulah. Papi aja sampai pusing ngurusin dia. Makanya pas kuliah dia Papi kirim ke luar negeri."

Tangan Bhumi mengepal di atas meja. Fakta kalau Thalia mempertahankan buah hatinya dengan Julian, sementara membunuh calon anak mereka dulu membuat Bhumi emosi. Mukanya merah padam.

Jalang kecil itu sekali lagi telah menelanjangi harga dirinya.

"Mas?" raut cemas itu tampak di wajah Adelia.

Bhumi berdiri tiba-tiba. Ia segera melonggarkan dasinya dan membuka jasnya.

"Maaf, Adel. Saya pergi dulu. Nanti saya minta Aji untuk mengantarkan kamu pulang."

"Loh! Mas udah janji loh. Kenapa malah mendadak sih?"

"Ada urusan penting. Sekali lagi maaf." Tiba-tiba Bhumi mengambil sesuatu dari bawah. Sebuah paper bag berlogo butik mewah ia berikan kepada Adelia. "Selamat ulang tahun, Adelia. Selamat malam."

Tanpa menghiraukan Adelia yang masih terpaku di tempat, Bhumi pun pergi.

...***...

Thalia baru saja turun dari taksi. Kalau bukan karena suara panik Aji, Thalia sama sekali tidak peduli dengan Bhumi. Bagi Thalia tidak ada hal yang lebih buruk selain harus menemui Bhumi di saat ia sudah siap tidur. Namun, kini ia sudah berada di depan sebuah bar elite.

Sesampainya di sana, dua penjaga bar tersebut langsung mengangguk dan salah satunya langsung mengantarkan Thalia menuju tempat di mana Bhumi berada.

Suasana bar ini tidak seperti bar yang dulu sering Thalia datangi. Ya bedalah, ini bar orang berduit. Kebanyakan yang ke sini adalah bos-bos besar. Musiknya tidak terlalu berdentum karena kebanyakan yang datang memang untuk membahas pekerjaan.

"Syukurlah, Nona sudah datang." Aji membuka pintu pribadi ruangan yang di dominasi warna abu-abu gelap itu.

Raut lega terlihat jelas di wajahnya.

"Kenapa nggak langsung dibawa pulang aja, Mas Aji? Saya ke sini juga nggak ada gunanya. Dia mana mau saya sentuh." Thalia menatap Aji sekilas, lalu beralih pada Bhumi yang sudah tidak sadar di sofa panjang.

Bhumi memang tidak suka Thalia sentuh, tapi pria itu sangat suka menyentuh Thalia. Menjadikan Thalia pemuas nafsunya.

"Tapi sejak tadi Pak Bhumi menyebutkan nama Nona Thalia terus. Bagaimana kalau kita bawa ke kamar atas? Sebagai member VVIP di sini, Pak Bhumi dapat akses satu kamar di sini."

Thalia sebenarnya enggan. Setelah permainan kasar Bhumi tadi pagi, Thalia rasanya ingin membunuh Bhumi. Pria ini sama saja dengan papinya. Tuan Prasetyo Hakim, yang telah membuang anaknya sendiri demi istri baru dan anak haramnya.

"Bagaimana, Nona?" Aji menatap Thalia penuh harap.

"Ya sudah. Bawa saja." Thalia akhirnya menuruti saran Aji.

Toh sama Aji lebih tahu tentang Bhumi dibandingkan dirinya sendiri.

Aji lalu meminta bantuan dua penjaga bar untuk memapah tubuh Bhumi yang tinggi besar. Di belakangnya, Thalia mengikuti langkah para pria itu dengan malas.

Beberapa menit kemudian, barulah mereka sampai di kamar yang dimaksud Aji. Mata Thalia sempat takjub dengan interior kamar ini. Tidak terlalu besar, tetapi begitu mewah. Aroma ruangannya pun begitu wangi dan segar.

"Pak Bhumi sering ke sini, Mas Aji?" Mata Thalia menyapu beberapa sudut ruangan. Terdapat beberapa pakaian Bhumi di situ.

"Hmmmh... Tidak terlalu sering, Nona. Hanya saat ada meeting padat beliau ke sini." Aji baru saja membantu Bhumi berbaring.

Saat Aji hendak membuka pakaian dan sepatu Bhumi, Thalia lebih dulu menahan pergerakannya.

"Biar saya saja, Mas Aji. Biar ada gunanya saya di sini. Mas Aji boleh pulang." Thalia dengan cepat mendekati Bhumi yang kini kemungkinan sudah tertidur itu.

Aji ragu. Namun, saat Thalia benar-benar melakukan itu barulah ia pamit pulang. Thalia hanya berdehem pelan sebagai jawaban.

Begitu Aji keluar, Thalia segera melepaskan rompi jas Bhumi. Kemeja pria itu juga Thalia buka tiga kancing atasnya. Lalu Thalia bergerak ke bawah, membuka sepatu dan kaos kaki Bhumi.

Tubuh Bhumi yang besar itu membuat tubuhnya yang mungil kecapekan. Ia mengamati Bhumi yang sedang tertidur itu dari jarak dekat. Wajah pria itu tampak begitu damai dan... tampan.

"Kalau diam begini tampannya jadi bertambah," puji Thalia merapikan rambut Bhumi. Seulas senyum lembut menghiasi wajahnya.

"Eeeugh...." erangan Thalia terdengar. Matanya mulai kembali mengantuk. Matanya menangkap sofa beludru panjang tak jauh dari ranjang. "Tidur di sana lumayan kayaknya."

Namun, saat Thalia akan berdiri, tangannya lebih dulu Bhumi tarik. Tak ayal, tubuhnya pun terjatuh ke sisi tubuh Bhumi. Jarak mereka yang dekat, membuatnya bisa merasakan deru napas hangat Bhumi.

"Dasar Jalang Kecil!" desis Bhumi dengan mata terpejam. "Mengapa kamu setega itu membunuh anak saya tetapi begitu bahagia saat berbicara dengan anakmu dengan sahabat sialanmu itu."

Deg!

Jantung Thalia berdebar kencang. Pikirannya mulai aneh. Ketakutan ia akan Bhumi mengetahui tentang Jemia tiba-tiba hadir.

Suara lirih Bhumi terdengar kembali, kali ini benar-benar mengusik ketenangan Thalia.

"Kamu bahkan begitu bahagia saat anak itu memanggilmu mama...."

*

*

*

Terima kasih untuk dukungan kalian, ya. komentar kalian bagai moodbooster untuk ku.

Ada pesan untuk Adelia?

Terpopuler

Comments

Teti Hayati

Teti Hayati

Sssttt... udh mending diem, percuma jelekin Thalia. Bukannya dilepasin tapi malah makiin dijerat Thalianya, dapet capeny doang km..
🤭

2025-11-10

2

Suhainah Haris

Suhainah Haris

lain di mulut lain di hati,itulah kamu Bumi

2025-11-10

1

lihat semua
Episodes
1 HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2 ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3 DOMINASI RASA KEBENCIAN
4 ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5 KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6 PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7 GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8 BUKAN KARENA THALIA
9 JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10 PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11 SIAPA DIA?
12 TIDAK SUKA OM GALAK!
13 PARFUM ANAK-ANAK
14 ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15 SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16 TINGGALKAN DIA, THA
17 JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18 DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19 KABAR MENGEJUTKAN
20 NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21 HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22 PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23 AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24 PENOLAKAN PERTAMA
25 PENOLAKAN KEDUA
26 SAKIT TAK BERDARAH
27 MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28 KEALPAAN KEHADIRAN
29 MENCIPTAKAN MOMEN
30 TERSISIH
31 TITIK RASA CEMBURU
32 KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33 MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34 THALIA ISTRI SAYA
35 DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36 MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37 SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38 KEDATANGAN PENGGANGGU
39 DETIK-DETIK
40 TALI DI AMBANG PUTUS
41 DETIK-DETIK
42 PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43 PINDAH
44 PERTANYAAN JEMIA
45 BUKAN UPDATE
46 RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47 BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48 RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49 TAK SEREMEH ES KRIM
50 MODUS
51 RATU PICKME BERAKSI
52 AJI TUKANG PROVOKASI
53 GOSIP MURAHAN
54 GOSIP MURAHAN (2)
55 HADIR BERSAMA
56 PENGUMUMAN
57 ITU ADELIA
58 RENCANA AWAL
59 RUMAH TAK DIRINDUKAN
60 DIHANTAM KENYATAAN
61 BHUMI RANDOM
62 APA YANG KAMU TAHU?
63 TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64 CIUM DULU!
65 INI MEMALUKAN SEKALI
66 KABAR DARI DANU
67 KETAKUTAN ADELIA
68 PERTANYAAN HATI
69 TAK SETARA
70 DUA KABAR
71 PERGILAH SEKARANG!
72 HADIAH ISTIMEWA
73 KEBERANIAN
74 MENDEKATI KEHANCURAN
75 KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76 LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77 KERISAUAN HATI
78 SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79 DUA TITIK BERBEDA
80 TAMU ANEH
81 ANAK HARAM
82 DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83 KABAR BURUK
84 PERTENGKARAN
85 DIKHIANATI, LAGI
86 TERJADI BERSAMAAN
87 PERGI
88 BERDUKA DAN KABAR LAIN
89 DITANGKAP
90 KENYATAAN PAHIT
91 TAK BAIK-BAIK SAJA
92 TENTANG SEBUAH FAKTA
93 HILANGNYA KERAGUAN
94 KEMARAHAN
95 RODA BERPUTAR
96 PESAN TAK BERNAMA
97 PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98 MENDADAK VIRAL
99 JULIAN SIALAN!
100 BEBAS!
101 DARAH
102 SESAL DAN CEMBURU
103 RENCANA SELANJUTNYA?
104 SUDAH TAHU SEJAK AWAL
Episodes

Updated 104 Episodes

1
HARGA DIRI YANG TAK ADA HARGANYA
2
ISTRI YANG DISEMBUNYIKAN
3
DOMINASI RASA KEBENCIAN
4
ADA YANG MEMANGGILNYA MAMA
5
KEKECEWAAN SUMBER KEBENCIAN
6
PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA
7
GENGSI BISA MEMBUAT GILA
8
BUKAN KARENA THALIA
9
JANGAN SEBUT NAMA MIA DI SINI
10
PIKIRAN YANG BISA SAJA SALAH
11
SIAPA DIA?
12
TIDAK SUKA OM GALAK!
13
PARFUM ANAK-ANAK
14
ANAK ITU NAMANYA JEMIA
15
SEHARUSNYA MEMANG BUKAN KAMU
16
TINGGALKAN DIA, THA
17
JANJIKU ADALAH LEPAS DARIMU!
18
DIA TAK SEPERTI BIASANYA
19
KABAR MENGEJUTKAN
20
NAMANYA JEMIA PRAMESWARI
21
HAMPIR RUNTUH ANGKUHNYA ITU
22
PERTEMUAN PERTAMA SEBAGAI AYAHNYA
23
AYO BAWA DIA KE RUMAH KITA!
24
PENOLAKAN PERTAMA
25
PENOLAKAN KEDUA
26
SAKIT TAK BERDARAH
27
MEMULAI LEMBARAN BARU, IYAKAH?
28
KEALPAAN KEHADIRAN
29
MENCIPTAKAN MOMEN
30
TERSISIH
31
TITIK RASA CEMBURU
32
KEDATANGAN SESEORANG YANG TAK DISANGKA
33
MANUSIA MEMANG SUKA BODOH SOAL PERASAAN
34
THALIA ISTRI SAYA
35
DIA KEMBALI JADI MANUSIA
36
MARI MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL
37
SEJAK AWAL DIA MILIKKU
38
KEDATANGAN PENGGANGGU
39
DETIK-DETIK
40
TALI DI AMBANG PUTUS
41
DETIK-DETIK
42
PERTEMUAN KELUARGA DENGAN JEMIA
43
PINDAH
44
PERTANYAAN JEMIA
45
BUKAN UPDATE
46
RAPUHNYA IA YANG TERLIHAT KUAT
47
BELUM SEPENUHNYA DITERIMA
48
RINDU ITU MEMANG MENYESAKKAN
49
TAK SEREMEH ES KRIM
50
MODUS
51
RATU PICKME BERAKSI
52
AJI TUKANG PROVOKASI
53
GOSIP MURAHAN
54
GOSIP MURAHAN (2)
55
HADIR BERSAMA
56
PENGUMUMAN
57
ITU ADELIA
58
RENCANA AWAL
59
RUMAH TAK DIRINDUKAN
60
DIHANTAM KENYATAAN
61
BHUMI RANDOM
62
APA YANG KAMU TAHU?
63
TERUNGKAPNYA SEBUAH RAHASIA
64
CIUM DULU!
65
INI MEMALUKAN SEKALI
66
KABAR DARI DANU
67
KETAKUTAN ADELIA
68
PERTANYAAN HATI
69
TAK SETARA
70
DUA KABAR
71
PERGILAH SEKARANG!
72
HADIAH ISTIMEWA
73
KEBERANIAN
74
MENDEKATI KEHANCURAN
75
KEHADIRAN YANG TAK DIHARAPKAN
76
LUKA YANG SEMAKIN MENGANGA
77
KERISAUAN HATI
78
SEBAB DARI SETIAP KEJADIAN
79
DUA TITIK BERBEDA
80
TAMU ANEH
81
ANAK HARAM
82
DIBUTAKAN NIKMAT SESAAT
83
KABAR BURUK
84
PERTENGKARAN
85
DIKHIANATI, LAGI
86
TERJADI BERSAMAAN
87
PERGI
88
BERDUKA DAN KABAR LAIN
89
DITANGKAP
90
KENYATAAN PAHIT
91
TAK BAIK-BAIK SAJA
92
TENTANG SEBUAH FAKTA
93
HILANGNYA KERAGUAN
94
KEMARAHAN
95
RODA BERPUTAR
96
PESAN TAK BERNAMA
97
PERINGATAN YANG DIABAIKAN
98
MENDADAK VIRAL
99
JULIAN SIALAN!
100
BEBAS!
101
DARAH
102
SESAL DAN CEMBURU
103
RENCANA SELANJUTNYA?
104
SUDAH TAHU SEJAK AWAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!